
Para masyarakat yang ada di sekitar Wilayah Amireu di amankan langsung oleh Penjaga daerah yang dulu Rusel bentuk.
Para anggota Kerajaan langsung menyerang para pemberontak yang terlihat masih sibuk membakar Rumah dan pemukiman disini.
"Jangan biarkan mereka lolos!!!"
Tegas Panglima Oskar langsung mengeluarkan pistolnya menembaki beberapa orang yang bersembunyi balik rumah-rumah warga.
Malam ini seperti kembang api akan warna si jago merah yang berkobar membakar lahan pertanian sampai kandang ternak disini. tentu ini sangatlah rumit di jelaskan.
"Tolong!!!" teriakan seorang wanita dari salah satu rumah yang terbakar menarik Panglima Oskar berlari mendobrak pintu yang separuh terbakar itu.
Asap yang mengepul mengaburkan pandangan. hampir semua lekuk bangunan ini terbakar hingga mendorong Panglima Oskar untuk meringsek masuk.
"Tolong!!!"
"Bertahanlah!!" jawab Panglima Oskar menuju asal suara. ia menendang beberapa balok kayu yang jatuh ke arahnya lalu pergi ke arah sudut ruang tamu rumah ini.
"T ..tolong.."
Panglima Oskar melihat wanita paruh baya yang tengah meringkuk di balik tirai sana bersama anaknya berusia 3 tahunan yang sudah tak sadarkan diri.
" Mrs!"
"Please! Help my son!" teriaknya dengan isak tangis tak terbendung. Panglima Oskar langsung melepas jaketnya dan segera mendekat menepis api dan kepulan asap membukit.
"Jahui tirai! berikan putramu!"
"To..tolong!"
Panglima Oskar menggendong si kecil itu ke dalam dekapan kokohnya seraya menutupinya dengan jaket. ia menarik lengan wanita itu untuk menunduk menghindari api.
Perjuangan yang singkat dramatis itu akhirnya di lalui ketiganya sampai di luar Rumah yang langsung terlahap api. Panglima Oskar memberikan anak itu ke Team Medis yang berdatangan bersama pasukan Putra Mahkota.
"Yang Mulia!" ia memberi hormat pada Rusel yang terlihat baru sampai setelah menyelesaikan daerah bagiannya.
Tatapan netra tajam itu menelan habis Pemukiman warganya yang terlihat sudah tak bisa tertolong. para aparat Pemadam sudah di kerahkan kesini tapi jelas ini menyangkut nyawa manusia.
"Ada yang terluka?" tanya Rusel dengan suara benar-benar geram.
"Dari laporan anggota pengintai! 20 orang luka berat dan 3 tewas di tempat. sedangkan yang lainnya sempat di amankan Penjaga disini. Prince!" jelas Panglima Oskar membuat Rusel benar-benar merasa tak berguna.
Disana ia sudah ia selesaikan masalah penembakan dan saat Rusel datang semua Pemberontak itu kabur tapi tentu Rusel tak membiarkannya. hampir semuanya sudah di tanggap dan di bawa menuju Gedung Exsekusi Istana.
"Mereka memang tak menyisakan apapun." imbuh Panglima Oskar lagi melihat keadaan daerah ini benar-benar tak tertolong.
"Suamiku!!! hiks, dia..dia tiada!!"
"Nyonya! kau tenanglah."
Pandangan mereka beralih pada seorang wanita muda yang terlihat menangis tersedu-sedu memandangi rumahnya yang sudah hangus terbakar.
Para pengawal Istana berusaha menenagkannya tapi tangisan itu tak berhenti.
"Suamiku!!!"
"Anakku juga terluka!! tolong dia!!!"
Rusel memejamkan matanya dengan kedua tangan terkepal erat. emosi, rasa kasihan dan rasa tak berguna itu membuatnya ingin segera menghilang dari dunia ini.
"Yang Mulia! anda jangan menyalahkan diri anda sendiri, ini semua bukanlah kesalahan anda." ujar Panglima Oskar karna tahu arti dari raut wajah Rusel bagaimana. apalagi pria ini selalu melakukan apapun yang terbaik untuk Rakyatnya tapi, sekarang mereka menangis.
"Jangan biarkan satu-pun dari mereka lolos!" geram Rusel menguatkan kepalan tangannya kuat. sekilat bayangan lewat di ujung netra tajamnya hingga Rusel segera menembak ke arah gelap semak sana.
Dorrr.....
"Aaaa!!!"
"Mundur kalian semua!!" titah Rusel menggerakan para pengawal Istana membawa para warganya ke Tenda yang di sediakan.
Ia membidik ke beberapa tempat dan benar saja di setiap lesatan timah panas itu maka akan ada manusia yang tumbang berjatuhan di tempatnya.
Lirikan mata Rusel sangat tajam bak serigala mengintai tahu dimana titik persembunyian musuh. Panglima Oskar sampai terdiam dengan tatapan mata kagum mewakili reaksi yang lain.
"Di atas pohon arah jam 9!"
"Siap!!"
Mereka menembak ke sana dan benar saja pria berpakaian hitam itu jatuh dengan kepala terpecah. semangat mereka di bakar habis malam ini mengikuti titahan Rusel yang tak bergerak di tempat tapi musuh sudah berjatuhan di depan sana.
"Sisakan yang di belakang tenda!"
"Apa ada? Yang Mulia!" tanya salah satu pengawal yang sedari tadi tak melihat apapun. Tapi, Rusel berbalik dengan pandangan mengerikannya seakan bisa menerawang diantara benda padat disini.
"Kau!"
"A..aku...aku bukan..bukan musuh!" ucap seorang pria paruh baya yang menggeleng memucat saat Rusel mengacungkan pistol kearahnya.
Wajah Rusel sangat datar dan dingin seakan benar-benar ingin menembaknya.
"Y..Yang Mulia! aku...aku tak..."
Dorr....
"Yang Mulia!!!" jerit mereka hebat tapi nyatanya yang tumbang ada seseorang di belakang pria paruh baya itu.
Mereka terperangah tak percaya jika ada musuh yang sedari tadi bersembunyi di area gelap di samping mereka. pandangan para pengawal sana mulai menyelidik pada orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
"Selesai! yang bertugas membakar hanya 5 orang dan 10 lainnya mengintai kalian."
"B..Bagaimana bisa Yang Mulia. tahu?" gumam mereka saling pandang tapi Simob yang sudah membekuk salah satu anggota musuh yang sengaja di tinggalkan Rusel tadi sangat paham kehebatan Ketuanya.
"Dia bersembunyi di balik Tenda!"
"Berikan padaku!" Panglima Oskar menyeret kasar pria itu kearah mobil Jips mereka. Simob menatap keadaan tempat ini dan nyatanya ini cukup parah karna tak ada tempat yang tersisa.
"Bawa mayat-mayat itu ke perbatasan 3 daerah ini. lalu bakar!"
"Baik. Yang Mulia!"
Jawab para anggota menyeret mayat-mayat anggota musuh ke perbatasan. tentu ini peringatan bagi musuh jika mereka tak gentar menyambut serangannya.
"Ketua! apa kau baik-baik saja?"
Tangan Simob saat Rusel begitu memperhatikan mayat-mayat yang tengah di seret tanpa kepala itu. 5 diantaranya memiliki Tato ular begitu juga dengan daerah yang ia selesaikan tadi.
"Berapa anggota musuh di daerah lain?"
"15. Ketua!" jawab Simob membuat Rusel terdiam. masing-masing daerah target di beri 15 anggota musuh dan mereka hanya membakar dan tak begitu banyak membantai. seakan-akan ini hanya...
"Shitt!!"
Umpat Rusel langsung berlari ke arah mobilnya. Ia melihat jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari dan pasti mereka sudah menyerang ke Istana.
"Ketua!"
"Cepat kembali ke Istana!" titah Rusel dengan jantung berdegup kencang. Ia tak akan pernah bisa hidup jika sampai terjadi sesuatu pada wanita itu. tak akan pernah.
..........
Suara baku tembak itu terdengar di luar Istana. Para pengawal tengah menghadang para penyusup yang masuk padahal semua pintu sudah di jaga ketat.
Suara pecahan jendela dan pertarungan itu membuat para pelayan yang ada di dalam Istana segera mengambil senjata mereka melindungi Keluarga Kerajaan.
"Jangan ada yang keluar!!!" suara Kepala Pelayan yang tengah ikut membalas tembakan para musuh ke dalam Istana.
Jumlah mereka sangat banyak hingga ada yang meloloskan diri masuk ke dalam Istana Utama tapi para pelayan wanita disini juga bisa berkelahi.
"Menyingkir!!!"
"Langkahi dulu mayat kami!!!" jawab mereka segera menyerang bersama hingga semuanya terlihat kacau dan penuh darah. sosok pria berpakaian serba hitam itu menyalip di sela-sela pilar menjahui arena pertarungan mereka.
Ia mengendap masuk ke suatu tempat yang ia tahu betul kemana tembusnya.
"Kali ini. kalian tak akan lolos." gumamnya menyeringai lalu melanjutkan langkahnya kembali. ia pergi ke arah Penjara bawah tanah di Istana sebelah utara hingga pergerakannya Tak ada satupun yang akan tahu.
Sebegitu kerasnya suara baku tembak dan perkelahian itu sampai terdengar ke lantai atas dimana sosok Bumil itu tengah berdiri diatas Balkon kamarnya menatap kilatan api dibawah sana.
"Nona!!" Guren masuk memastikan keadaan Sandra. ia terkejut melihat wanita itu di Balkon hingga ia segera menarik lengan Sandra kembali masuk ke kamar.
"Nona! sudah ku bilang jangan ke Balkon. bisa saja mereka punya Sneper yang akan membunuhmu." panik Guren segera menutup pintu Balkon rapat.
"Istana dalam bahaya. kita kekurangan bantuan."
"Nona! kau pikirkan keselamatanmu dan bayi kalian. aku tak ingin mati di tangan Putra Mahkota." cemas Guren terlihat sangat menjaganya.
Tapi, Sandra yakin penyerangan ini tak mengincarnya melainkan ada sesuatu yang mau mereka ambil.
"Guren! kau lihat mereka tak naik ke lantai atas Istana padahal mudah jika mereka mau. tapi, mereka berpencar sampai ke belakang Istana. kau pikirkan itu." jelas Sandra serius.
"Nona! tak perduli mereka mau apa tapi tugasku hanya menjagamu. jadi mengertilah." Guren memelas agar memahami posisinya.
"Jika mereka mau. sudah sedari tadi mereka menembakku di Balkon itu. tapi tidak, aku masih hidup! dan berarti mereka di pimpin oleh seseorang yang punya kepentingan dan dia.."
Sandra menjeda ucapannya dengan pandangan menajam. ia yakin betul siapa yang telah membocorkan data dan sampai tahu seluk beluk Kerajaan ini.
"Lucas sialan itu!" imbuhnya geram.
"Tapi...."
"Kau pergilah ke kamar Ibu Ratu!" titah Sandra menduga apa yang akan terjadi.
"Kenapa? apa Yang Mulia Ratu dalam bahaya?"
"Cepat pergi! pasti Ibu juga ikut bertarung."
Ucapan Sandra membuat Guren terpikir kesana. Ia memperingatkan Sandra jangan keluar lalu melangkah pergi seraya menutup pintu.
"Maaf, tapi aku tak bisa diam disini saja." gumam Sandra segera meraih Mantel diatas sofa lalu membawa pisau buah yang ia gunakan untuk berjaga.
Walau perutnya besar. tapi, Sandra cukup lues untuk pergi mengendap keluar kamar.
Ia sangat pandai bersembunyi di balik tirai dan pilar Istana yang sunyi karna para pengawalnya sudah turun tangan di luar sana.
Sandra turun ke tangga bawah sesekali melihat apa ada anggota musuh disini dan nyatanya ia tak menemukan apapun menarik rasa penasaran Sandra pada satu hal.
"Mereka hanya bertarung di bagian depan saja. berarti mereka tengah mengalihkan sifuasi agar bagian belakang itu kosong." gumam Sandra menebak-nebak keadaan.
Ia melangkah turun ke Koridor belakang yang sunyi dan gelap. sepertinya lampu disini sengaja di padamkan.
"Ada jejak disini! dan arahnya ke Penjara Bawah tanah." Sandra mengambil obor di samping tiang lalu segera menyusuri jejak sepatu berlumpur ini.
Tak mungkin di istana ada Lumpur. itu karnanya ini adalah jejak musuh yang pasti sudah masuk ke bawah sana.
Semakin melangkah ke arah Koridor belakang. Sandra memberanikan diri menapaki rumput basah di belakang yang mengantarnya menuju Pintu besi yang sudah terbuka.
__ADS_1
"Dia sudah masuk. tapi, apa itu Lucas?!"
Batin Sandra yang agak ragu tapi ia hanya tahu itu. Tak mau menebak-nebak. Sandra masuk ke dalam lorong gelap ini hingga aroma sumpek dan lembabnya membuat ia sulit bernafas.
"Jejaknya masih disini." gumam Sandra memutar obirnya menerangi jalan. agak pegal memang berjalan sejauh ini tapi itulah Sandra, ia tak akan menyerah sebelum rasa ingin tahunya terbebaskan.
Lama Sandra berjalan ia hanya menemukan kesunyian. ia tak begitu tahu tempat menjijikan ini tapi jejaknya menghilang tepat di beberapa pintu di dekat lorong.
"Jejaknya hilang?"
"Kau mencariku?"
Deggg...
Sandra tertegun saat suara itu mengalun di belakangnya. Bulu kuduk Sandra meremang dengan bunga api obor ini agak terhembus karna tarian angin di lorong sunyi ini.
Bayangan sosok itu terlihat di dinding karna cahaya Obor yang cukup menerangi.
"Kau begitu berani berjalan sampai kesini."
"Kau mau membebaskan Ibumu." jawab Sandra berbalik hingga matanya melebar dikala ujung pistol itu sudah menempel ke keningnya.
Ia melihat netra kecoklatan yang sama seperti Lucas dan dari suaranya juga sama. hanya saja wajah pria ini di tutupi masker.
"Kau takut?" tanyanya dengan remeh. tapi, manik hitam itu segera mengambil ketenagannya dengan tatapan tak gentar yang sangat di benci olehnya.
"Kau bersembunyi selayaknya pecundang." desis Sandra pedas.
"Mulutmu sangat berbisa. ingin rasanya ku menarik lidahmu."
Sandra menipiskan bibirnya. ia mendekatkan obor itu ke wajah sosok ini.
"Jangan asal bicara. aku juga bisa membakarmu disini."
"Kau hanya banyak membual seperti mereka." geram Lucas ingin menarik pelatuknya tapi ia ingat jika Aleno menekankan jangan sampai melukai Sandra. hanya pria itu yang boleh menahlukannya.
"Kenapa? kau ingin membunuhku. kan?"
"Kau bukan bagianku." jawab Lucas menurunkan pistolnya. dahi Sandra menyeringit mendengar itu.
"Lucas! apa kau memang sudah tak ingin hidup di Kerajaan ini?"
"DIAM KAU!!" bentak Lucas menyala-nyala. sorot matanya penuh akan dendam dan kebencian membuat Sandra tertegun.
"DIAM!"
"Kenapa? bukankah Ayahmu juga putra Kerajaan dan..."
"Tutup mulutmu!!" tekan Lucas kembali mengacungkan pistolnya. mata pria ini mengigil menahan rasa sakit dan luka yang bisa Sandra rasakan.
"Lucas!"
"Kau tahu apa?ha! kau hanya tahu jika Kerajaan ini begitu adil bahkan sangat makmur!! benarkan?" tanya Lucas dengan kekecewaan terlihat nyata.
"M..maksudmu apa?"
"Raja yang begitu kau hormati itu dan ayah dari suami kesayanganmu itu telah merenggut KEBAHAGIAAN MOMYKU!!" tekan Lucas semakin menjadi-jadi. ia mulai kehilangan kendali terbukti dengan menekan pistolnya ke kening Sandra.
"Apa? kebahagiaan yang bagaimana?"
"Dia membunuh Ayahku!"
Sandra langsung terdiam dengan tatapan kosongnya. Lucas melepas masker di wajahnya hingga senyum remehnya terkesan miris.
"Kau tak percaya-kan? Dia membunuh Ayahku karna ingin menguasai Kerajaan sendiri. dia sangat tamak dan menjijikan." geramnya lagi semakin menekan ujung pistolnya sampai melukai kening Sandra.
Namun. Sandra tak perduli, ucapan Lucas benar-benar tak bisa ia percayai tapi. raut wajah sendu keras Lucas bisa menjadi cerminan hati pria itu.
"Sampai kapanpun. aku tak akan melepaskannya sampai Kerajaan ini hancur dan mereka semua tiada!!"
"Siapa yang mengatakannya?" tanya Sandra datar membuat Lucas tersenyum remeh. lebam di kening Sandra membuktikan tekananya terlalu kuat.
"Momyku! dia sangat menderita dan siapa yang perduli. ha?"
"Lucas! aku tahu rasanya bagaimana."
"Kau tak tahu." bantah Lucas menurunkan pistolnya. matanya berair meruntuhkan jiwa lelakinya di hadapan Sandra.
"Kau tak akan tahu." imbuhnya lagi.
"Kau sangat menyayangi. Momymu! semua perkataanya akan kau anggap benar."
"Jadi, kau menyalahkannya?" tanya Lucas mendidih marah. Sandra menggeleng kembali membuat tanda tanya yang besar di benak Lucas.
"Selidiki lebih dulu. jangan kau telan mentah kenyataan abu itu."
"Kau..."
"Sandra!!" suara Raja Mikes di luar membuat Lucas terdiam. sepertinya pasukannya sudah di telak dan ia kehabisan waktu karna berbicara dengan wanita ini.
"Aku tak akan membiarkan kalian lolos. ingat itu." tekan Lucas lalu menerobos ke arah pintu di samping Sandra yang terdiam dengan pandangan kosongnya.
A..apa benar Raja Mikes sekejam itu?
...........
Vote and Like Sayang..
__ADS_1