Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Aku akan menikahinya!


__ADS_3

Langkah kaki cepat pria itu begitu menerobos kearah lapangan tempat bermain bola biasa anak-anak desa disini. menurut informasi bawahannya, ada keributan disana dan bisa jadi Sandra tengah dalam bahaya.


"Disini! Ketua!!" teriak Anya yang tadinya berpencar. keduanya melangkah ke arah lapangan dimana rerumputan lembab itu terlihat segar dengan mentari pagi yang terbit diatas sana.


Ada beberapa anak-anak muda disini yang tengah berkerumun membentuk sebuah lingkaran yang cukup luas membuat Rusel menerobos diantara mereka.


"Jadi, kita bermain seperti yang ku contohkan tadi. kita bagi dua team. bagaimana?"


"Setuju!!!" jawab mereka semua bersemangat. tapi, segera mengurai saat Rusel sudah terlihat membelah keramaian berdiri di belakang Sandra yang masih berbicara seraya memeggang keranjang.


"Aku ikut Team ke 2 dan yang lain ke Team 1!"


"Ehmm.."


Rusel berdehem menyadarkan Sandra yang segera berbalik saat mendengar suaranya.


Whusss...


Tiba-tiba angin itu berhembus sedikit kencang menerbangkan rambut panjang Sandra yang di ikat kuda hingga terlihat sangat indah melahap wajah cantik itu.


Tatapan manik elang Rusel tak berkedip seakan semua ini lansung membius alam sadarnya.


Ia melihat dari sepatu olahraga Sandra sampai ke kedua kaki yang dibaluti Legging hitam dengan jaket olahraga berwarna senada. resletingnya sengaja Sandra buka memperlihatkan Thangtopnya berwarna kecoklatan.


"Kau datang?" tanya Sandra berbinar melihat Rusel yang terperangah tak berkedip. Walau tampilannya casual tapi menampilkan sosok muda dan sangat bertenaga.


Sandra heran melihat Rusel menatapnya sedalam itu. Ia melihat dirinya dari semua sudut apa begitu aneh? atau ia salah berpakaian seperti ini?


"Apa aku jelek?"


"Kau..."


"Kau sangat cantik!"


Sambar Anya bertepuk tangan di belakang Rusel yang segera sadar langsung merubah raut wajahnya kembali datar menatap Sandra dengan tajam.


"Kenapa kau pergi berkeliaran tanpa arahan disini?"


"Aku...aku hanya jalan-jalan. tapi aku melihat banyak warga yang membutuhkan tenaga di Perkebunan. jadi, aku bawa semua gadis-gadis kesini." jawab Sandra memang benar adanya. Para anak muda yang ada di sekitar Rusel tertunduk takut jika Ketua misterius ini marah.


"Kau tahu aturan desa. bukan?" tegas Rusel tak bisa bersikap seperti biasa di hadapan yang lain. Sandra mengerti hingga cukup memahami semua ini.


"Tahu! anak-anak muda disini memang tak dibolehkan keluar terlalu jauh dan lama. tapi, aku bertanggung jawab atas mereka."


"Iya. Ketua! jangan marahi Nona Sandra, kami suka melakukan ini." timpal yang lainnya membela. Sandra tersenyum penuh kemenagan pada Rusel yang tetap berwajah datar dan dingin tapi hatinya girang melihat Rumput liar satu ini.


"Apa jaminanmu?" Rusel terlihat benar-benar tak mengenal Sandra yang juga mendongakan wajahnya.


"Diriku sendiri!"


"Dia memang sangat nekat."


Batin Rusel merasa Sandra selalu saja membahayakan diri sendiri. kalau terjadi sesuatu pada anak-anak muda ini maka akan berakibat fatal nantinya.


"Ketua! kami ingin membantu ibu-ibu kami. kasihan mereka bekerja di kebun dan di rumah sekaligus." ucap salah seorang gadis seumuran dengan Anya yang tampak menunduk.


Rusel hanya diam hanya memandang Sandra yang juga menatapnya. Mereka menunggu keputusan Rusel memberi izin atau tidak.


"Bagaimana? kalau tidak-pun akan ku lakukan juga." tantang Sandra membuat para gadis di sekelilingnya memucat. berani sekali wanita ini pada Ketua mereka yang menjunjung tinggi aturan.

__ADS_1


"Kau menantangku?" Rusel menekan ucapannya.


"Tidak! tapi, suaramu hanya satu. sedangkan aku .." Sandra melirik yang lain hingga Rusel paham bagaimana kuatnya kemauan yang lain untuk bekerja di kebun.


"Lagi pula. ini untuk olahraga pagi, turun naik lereng dan angkat keranjang lalu petik daun tehnya. itu sangat mudah!" timpal Sandra senang membayangkannya.


"Yang lain!!" panggil Rusel.


"Yah. Ketua!!!"


Mereka menyiapkan dada untuk menerima keputusan. Mau bagaimanapun Sandra juga tak akan bisa membantah jika sudah di katakan TIDAK.


"Pergi kerjakan bagian kalian!"


"Apa????" mereka terpekik tak percaya. Anak-anak rumahan itu benar-benar merasa bahagia mendengar jawaban Rusel barusan.


"Kalian tak dengar?" tanya Rusel karna tak ada yang bergerak. melihat itu mereka semua mengangguk lalu berlarian ke arah perkebunan yang agak jauh dari sini.


Anak-anak umur belasan itu pasti senang bebas melakukan pekerjaan yang mereka suka namun dibatasi selama ini.


"Lihatlah! kalau di rumah terus, mereka akan terasa di kurung dalam sangkar." gumam Sandra menatap beberapa gadis muda yang ia bawa tadi. rata-rata semuanya anak sekolah yang selalu di paksa belajar tanpa diperbolehkan keluar melihat alam.


"Kau sudah menentang aturan Desa."


"Tapi, aku hanya tak ingin mereka hidup dalam paksaan." jawab Sandra siap menerima konsekuensinya. Anak sekolah bukan berarti harus terus belajar dan belajar. ia tak suka prinsip satu itu.


Rusel menghela nafas dalam mengerti maksud Sandra bagaimana.


"Mendekatlah!"


Dahi Sandra menyeringit menatap Rusel dengan penuh siaga. Anya yang ada di belakang sana memerah malu segera melangkah pergi.


"Kau mau apa?"


Sandra menelan ludahnya berat saat Rusel melangkah mendekatinya. Wajah datar tampan itu begitu misterius sama sekali tak bisa ia tebak maksudnya apa?


"K..kau.. itu .."


"Hm?" tanya Rusel semakin melesat pelan membuat Sandra kikuk berdiri di tempatnya.


"Kau jangan dekat-dekat!!" .


"Kenapa?" tanya Rusel berdiri di hadapan Sandra yang mengadah melihatnya. Rusel memang tinggi dari Sandra yang hanya sebatas dadanya.


"A..aku..."


"Aku?" Rusel mencondongkan tubuhnya beriringan dengan Sandra yang memundurkan wajahnya sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. bahkan, hembusan nafas itu saling berbenturan.


"K... kau.." gugup Sandra seakan mau mati berdiri. wajahnya sudah merah tomat melihat wajah tampan Rusel sedekat ini.


"Kita...sangat.." Rusel menjeda ucapannya langsung menarik pinggang Sandra merapat ke tubuhnya sampai Sandra memucat dengan jantung seakan mau berdisko di dalam sana.


"Apa dia akan menciumku lagi?" batin Sandra benar-benar gugup.


Satu tangan Rusel beralih meraba perut datar Sandra yang membulatkan matanya dengan rasa marah dan kesal beriringan menduga Rusel tengah berbuat cabul.


"Kauuu..."


Srett..

__ADS_1


Rusel menaikan Resleting jaket Sandra sampai keleher menutupi bagian dada yang agak terbuka tadi. Tak di situ saja, Rusel membuka jaketnya sendiri lalu mengikatkan benda itu ke pinggang Sandra untuk menutupi bokong bulat kenyalnya yang tercetak menggiurkan.


"Apa tak ada celana lain selain karet getah ini?" Rusel menarik karet pinggang Legging Sandra lalu melepasnya membuat Sandra mendesis sakit.


"Perih! jangan di tarik!" gerutu Sandra melihat pinggangnya merah di tepis begitu.


"Kau berkeliling desa dengan pakaian begini?!" geram Rusel membuat Sandra merenggut.


"Ini biasa. aku selalu memakainya di Kota."


"Sekarang kau dimana?"


Sandra diam. ia menunduk dengan memainkan batu-batu di atas tanah sana dengan ujung sepatunya. seperti anak kecil yang di marahi ibunya.


"Maaf!"


"Aku tak dengar. ulangi!" tegas Rusel membuat Sandra frustasi.


"Maaf, kau ini kenapa marah-marah tak jelas. lain kali aku mau pakai handuk keliling desa." ketus Sandra sinis.


"Pergilah! kalau memang ingin mencoba." jawab Rusel serius tapi Sandra langsung menginjak sepatunya lalu berlari ke arah jalan sana.


"Bweee!!! dasar Siluman maniaak!!!" teriak Sandra menjulurkan lidahnya mengejek Rusel yang diam menggeleng melihat kelakuaan kekanak-kanakan Sandra.


"Dia itu memang sesuatu."


"Sesuatu seperti apa?"


Rusel tersentak langsung diam. ia tahu suara siapa itu yang tiba-tiba hadir seperti biasa.


"Tetua!" Rusel menoleh menatap Tetua Herdan yang datang bersama Simob. keduanya menatap Rusel dengan pandangan malu tapi Rusel tetap diam dengan wajah datarnya seakan tak terjadi apa-apa.


"Kau sudah mulai mencair!"


"Tak ada hubungannya dengan dia." tegas Rusel serius membuat Tetua Herdan menghela nafas. Selalu saja tak ingin di ikut campuri orang lain.


"Bagaimana keadaan Nona Muda?"


"Dia baik-baik saja." jawab Rusel sama seperti biasanya.


"Baguslah. tapi, mungkin setelah ini dia tak akan baik."


Rusel terdiam sejenak. ia menatap Simob yang mengangguk angkat bicara.


"Tadi, Tuan Hatomo menghubungi kami. Dia menyatakan untuk membawa pulang Sandra kembali tapi hanya dalam beberapa waktu."


"Dengan kata lain. dia butuh Sandra untuk menghibur putrinya!"


Seketika kepalan Rusel menguat. Urat kemarahan itu terlihat jelas di wajahnya sampai Tetua Herdan saling pandangan Simob yang menggeleng jangan memancing amarah Ketuanya.


"Aku harap kau tak salah langkah. jangan terlalu dalam ikut campur urusan mereka. kau bisa binasa sendiri."


"Ketua! aku selalu mendukung keputusanmu." timpal Simob selalu berdiri dimanapun Rusel pergi.


Tetua Herdan melangkah pergi membuat Rusel memejamkan matanya sudah muak untuk memberikan luka pada wanita itu. baru saja Sandra terlihat ceria dan ia tak mungkin meredupkan api semangat itu.


"Aku akan menikahinya!"


Duarr...

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2