Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Sulit menahan diri!


__ADS_3

Keramaian yang tadi memenuhi Aula perlahan mengurai hingga hanya menyisakan beberapa orang yang terlihat masih berbincang-bincang.


Raja Wilson tak mau mengungkit tentang Pernikahan karna saat ini Sandra tengah membuat sejarah. akan sulit bagi putrinya untuk mengimbangi.


"Ini sudah begitu larut. dan pestanya juga berjalan lancar." ucap Raja Wilson agak segan pada Raja Mikes yang menganggukinya.


Ratu Christina sedari tadi berwajah masam dengan putri Anatasya. mereka terlihat enggan menatap Sandra yang tengah duduk di sofa sana di temani Rusel yang tak mau jauh dari wanita itu.


"Mom! aku tak suka padanya."


"Momy juga. tapi, jika kita terlalu memperlihatkan kebencian. maka bisa saja nasib kita sama dengan Nyonya Loure." jawab Ratu Christina meredam rasa muak.


"Terimaksih kalian sudah datang dan maaf atas keributan tadi." Ratu Bellarosa merendah.


"Tak apa. Ratu Bella! kami senang jika Kerajaan Dezon jadi Kerajaan yang damai dan bersih hingga kita bisa menjadi keluarga besar yang sempurna." jawab Ratu Christina begitu pandai bermain kata-kata. ia melirik Sandra dari ekor matanya tapi wanita itu terlihat asik berbicara dengan pengawalnya.


"Sutt!" kode Sandra pada Guren yang ada di belakangnya.


"Ada apa?" tanya Guren tak bersuara. Sandra melirik Rusel yang terlihat bermain ponsel dan sepertinya ada urusan yang penting.


"Aku mau makan itu." menunjuk Camilan pedas dari Cheken Stik yang terlihat menggiurkan di meja makan sana.


"Nona! itu pedas." bisik Guren membungkuk.


"Sudahlah. hanya sedikit!"


Guren terlihat bimbang. ia menatap Ketuanya yang terlihat masih di posisi yang sama tapi ia yakin pria ini tahu apa maksud Sandra.


"Cepatlah!" desakan Sandra mendorong lengan Guren.


"Nona! kenapa kau selalu membuatku diambang kematian?!"


Batin Guren mau tak mau melangkah ke meja makan tamu sana. ada beberapa pelayan yang tengah mengemas piring dan gelas menghampiri Guren.


"Apa yang anda butuhkan? Tuan!"


"Berikan aku satu piring kecil Cheken Stik itu."


"Baik. Tuan!"


Pelayan itu langsung mengambil piring kecil dan mengisinya dengan Cheken Stik yang tampak dibaluri saos cabai yang pedas.


Liur Sandra sudah hampir menetes melihat itu dari kejahuan dan sangat gelisah.


"Cepatlah!"


"Sabar!" decah Guren mulai kesal lalu membawa piring itu mendekati Sandra yang berbinar cerah perlahan sedikit menjauh dari Rusel yang tampak sibuk.


"Ini. Nona!"


"Kau ini lamban sekali." ketus Sandra menerima piringnya dengan semangat. Guren hanya membelokan mata jengah lalu kembali berdiri di belakang Sofa.


"Kau cicipi duluan!"


"Nona! kau..."


"Ayolah. cicipi ini, kalau enak aku makan."

__ADS_1


Mau tak mau Guren mulai mencicipinya. rasa pertama memang lezat dan renyah akan rasa kulit ayamnya tapi lama kelamaan Guren mulai terbelalak.


"N..Nona.."


"Apa?"


"P..pedas." gumam Guren meraih gelas air yang ada di atas meja dan meminumnya tandas. bibirnya merah dengan mata berair.


Sandra semakin di buat penasaran akan reaksi Guren. ia mulai mengambil satu potong Stik lalu ia angkat masuk ke mulutnya. Namun, belum sempat melewati bibirnya tangan kekar itu sudah menahan lengannya.


"Sel!" Sandra terkejut.


Tanpa suara atau kata, Rusel mengambil piring diatas paha Sandra dan meletakannya diatas meja diringi tatapan tak rela Sandra.


"Sel!"


"Makan yang lain!"


"Tapi, aku mau ini." ucap Sandra merengek. Rusel menggeleng tegas, melihat keadaan Guren yang tak berhenti minum sudah pasti Camilan ini hanya untuk permainan di Pesta.


"Yang lain! ini pedas."


"Sel! satu gigit saja, ya?" bujuk Sandra berusaha memakan potongan yang ia peggang tapi tangan Rusel begitu kuat menahannya.


"Ini pedas. tak baik bagimu dan baby."


"Begitu. ya?" gumam Sandra menghela lesu. tatapan matanya ke arah Stik itu membuat Rusel sungguh sulit menolak tapi ia tak mau terjadi hal buruk nantinya.


"Nona. kau...kau sebaiknya.." Guren kembali minum dengan keringat berjatuhan. sungguh rasa penasaran Sandra sudah tak mampu di bendung.


"Apa enak?"


Guren kembali mengisi air. ia tak menyangka cabai Kerajaan akan seperti ini. pastinya orang-orang tadi sudah berselancar ke Toilet.


"Kau begitu ingin memakannya?"


"Iya. Sel! aku penasaran." jawab Sandra terlihat tak bisa menepis itu.


Rusel sadar jika Sandra sedari saat pertama hamil memang begitu menyukai makanan pedas, mungkin itu karna bawaan bayi mereka yang selalu mencoba bahaya apapun.


"Kau ingin tahu rasanya?"


"Iya. Sel!"


Tanpa pikir panjang Rusel langsung mengigit potongan Stik di tangan Sandra yang terkejut begitu juga Guren.


"Ketua!"


"Sel!" gumam Sandra syok tapi Rusel terlihat mengunyah dengan tenang. pria itu menimbang-nimbang rasanya dengan rasa pedas yang mulai terasa.


"Sel!"


"Ini pedas." jawab Rusel tapi dengan mode tampannya. Memang pedas membuat bibir Rusel merah dengan keringat sedikit muncul.


"Sama sekali tak ada enaknya. kau jangan menobanya."


"Sel! jangan di telan. kau buang saja." panik Sandra mengambik tisu diatas meja mengusap keringat di kening dan leher Rusel yang terlihat seksi dengan keringat ini.

__ADS_1


Mata Putri Anastasya benar-benar jatuh dalam pesona pria itu. Jika Guren yang terlihat seperti cacing kepanasan maka Rusel terlihat Cool dan sangat keren.


"Ambilkan air putih!"


"B..Baik Nona!" Guren mengambilkan segelas air putih lalu memberikannya pada Sandra yang dengan cepat menyodorkannya ke bibir Rusel yang dengan tenang menegguknya.


"Kau ini jangan seenaknya. aku tak memintamu memakannya." omel Sandra sudah gelisah.


"Diamlah! jangan coba-coba memakannya. MENGERTI?" tekan Rusel lalu memejamkan matanya mencoba menetralkan rasa pedas ini.


"Sel! apa masih pedas?"


"Tidak." jawab Rusel lalu berdiri dengan wajah lebih tenang walau bibirnya merah tanpa polesan lipstik.


"Ayo ke kamar! ini sudah larut."


"Minum dulu!"


"Aku.."


"Minum!" tegas Sandra memberikan gelasnya lagi. tentu Rusel menurut meminumnya tandas lalu meletakannya diatas meja depan Sofa.


Ia membantu Sandra berdiri menghadap Raja Mikes yang sedari tadi melihat kelakuan anak dan menantunya itu. menantu? cihh... rasanya sangat tak mungkin.


"Feliks!" Ratu Bellarosa menyeringit melihat wajah Tampan putranya berkeringat.


"Yang Mulia! aku pamit bersama Istriku."


"Putra Mahkota. sedari tadi Putriku ingin bicara denganmu." Ratu Christina memulai rasa tak suka Rusel yang berwajah dingin.


"Putrimu seorang Bangswan. tentu dia tahu peraturan seorang Pria beristri."


"Tapi.."


"Permisi!"


Rusel langsung berbalik membelit pinggang Sandra melangkah ke arah pintu keluar Aula. Guren mengikuti dengan tisu yang masih melekat di bibirnya.


Sesampainya di luar Aula yang dipenuhi lampu dengan penjagaan ketat Pengawal Istana. Sandra tak tenang karna ia cemas jika Rusel hanya menahan rasa pedasnya.


"Sel! ayo minum lagi."


"Aku baik-baik saja." tukas Rusel tenang berjalan ke arah Istana Utama.


"Guren saja seperti cacing terpanggang. kau pasti juga.."


"Jangan bicara asal. cepatlah!" Rusel beralih menggendong Sandra agar lebih cepat. ini sudah jam 10 malam dan sudah sedikit melewati waktu tidur Sandra.


"Sel! apa memang tak pedas?" mengusap bibir Rusel dengan jempol halusnya.


"Hm."


"Tapi, kau berkeringat." gumam Sandra mengusap keringat di leher kekar ini. tentu Rusel masih normal dan tak bisa menahan diri terlalu lama.


Sudah sedari pesta tadi Sandra memancingnya tapi ia masih mencoba menahan diri. tapi sekarang, wanita itu mengelus leher dan jakunnya. siapa yang akan tahan?


Melihat gelagat aneh Ketuanya. Guren mundur perlahan lalu menghilang di balik pilar karna ia tak mau menjadi nyamuk penganggu dua pasangan halal ini.

__ADS_1


"Lebih baik aku mencari aman."


Vote and Like Sayang..


__ADS_2