Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Amarah Rusel dan kesadaran Sandra!


__ADS_3

Aroma obat-obatan ini begitu menyengat dengan suara percakapan orang di luar sana mengalun ke semua indra tubuhnya.


Selang infus yang tertancap di punggung tangan itu terlihat tak berdaya sama seperti sang empu yang sudah hampir mati di tengah jalan siang tadi.


Perlahan matanya berkerut dikala cahaya lampu ruangan sedikit mengusik. dahinya menyeringit dengan jemari tergerak pelan membuktikan jika ia sudah sadar dari sekian lamanya.


"Emm." geraman sedikit lolos di bibir pucat seksi yang bergetar dikala merasakan sakit yang menjalar di kepalanya. ia berusaha tenang dengan membuka mata perlahan mengitari setiap sudut ruangan ini dengan manik hitam miliknya.


Namun, di saat yang sama ia tertegun diam. kilatan ingatan itu terlintas dimana kenyataan pahit baru ia lihat dan itu sangat menyakitkan.


"Nona!"


Seorang Dokter wanita masuk dan ternyata itu adalah Dokter Nita yang biasa memeriksa Sandra.


"Nona! anda sadar?"


Sandra hanya diam. ia samar-samar melihat jika saat ia jatuh pingsan ada mobil yang langsung menghalang tabrakan itu di hadapannya.


"Nona! anda bisa mendengarku?"


Lagi-lagi Sandra hanya membisu. ia seakan terkurung dalam pikirannya sendiri membuat Dokter Nita menghela nafas halus.


"Mungkin anda syok dengan kejadian ini, tapi. lebih baik anda berhati-hati karna tak hanya satu yang ingin mencelakai."


"S..Sel!"


Lirih Sandra si saat melihat sosok gagah nan mempesona itu telah berdiri di depan pintu ruang rawat dengan tatapan mata membunuh dan begitu kelap.


"Saya permisi!"


Dokter Nita memilih mundur karna ia yakin pria ini tengah murka dan pasti akan menyeramkan jika melihatnya. disaat ia lewat di samping tubuh kekar itu, Dokter Nita bisa merasakan hawa dingin menyerap keberaniannya.


Keduanya saling menatap tapi Sandra memilih diam tahu akan kesalahannya.


"Sudah berapa kali kau seperti ini?!"


Suara berat yang begitu menekan. langkah kaki kokoh itu mendekat dengan tegas membawa kemarahan yang jelas terkobar di matanya.


"Apa semua yang ku lakukan kurang. ha?"


Sandra hanya diam tak mengeluarkan suara. ia paham apa yang di rasakan Rusel setiap kali ia melarikan diri dan berakhir pada tragedi seperti ini.


"Aku hampir saja mati melihatmu seperti itu. apa kau memang ingin membunuhku. ha???" bentak Rusel menyala-nyala. terlambat sedikit saja sudah ia pastikan kematian Sandra tak terelakan di depan matanya.


"SUDAH KU KATAKAN KAU JANGAN KEMANA-MANA. APA TAK BISA MENURUT SEKALI SAJA? PADAKU. APA TAK BISA, SANDRA??"


Bentakan sekeras baja itu membuat Sandra terperanjat mencengkram selimutnya. matanya mulai mengembun dengan kepala tertunduk.


"Menangis? cih."


"S..Sel!"


"Kau tak mau aku melindungimu. jadi untuk apa semua ini?" desis Rusel sudah kehabisan kesabaran. ia tak tahan lagi untuk diam dikala Sandra semakin tak bisa di kendalikan.


Sandra menangis bukan karna ia sakit hati di bentak dan di marahi. tapi, ia juga jijik dengan dirinya sendiri yang tak bisa apa-apa.


"Apa kau memang tak mau menganggapku?"

__ADS_1


"T..tidak.. aku.." Sandra menggeleng dengan bibir bergetar dan mata sudah berkaca-kaca.


"Setiap kali aku memintamu tinggal tapi kau tetap pergi. bukan?"


Sandra menggeleng ingin menyentuh lengan Rusel yang menepisnya pelan. sungguh rasanya Sandra benar-benar takut kehilangan.


"S..Sel!"


"Renungkan dirimu sendiri." berbalik pergi.


"S..Sel.. a..aku..a..***!"


Langkah Rusel langsung terhenti dikala mendengar ringisan Sandra. ia berbalik hingga wajahnya langsung cemas melihat wanita itu memeggangi perutnya.


"Kau.."


"P..perutku.."


Rusel menyibak selimut dan menaikan pakaian rumah sakit Sandra. ia memeggang perut yang sudah tampak berisi ini dengan lembut dan rasanya ini keram.


Pandangan Rusel beralih ke atas nakas dan disana ada mangkuk berisi air hangatnya tadi dan ada tisu yang bisa di gunakan untuk mengompres.


"S..Sel!"


Rusel hanya diam seakan tak mendengar. ia lebih memilih fokus mengompres perut keram Sandra yang terdiam menahan ringisan dikala melihat lengan pria ini tampak selesai di jahit.


"I..ini.."


"Berbaring dengan benar!" tegas Rusel dingin tak membiarkan Sandra melihat luka jahitan ini. ia tak sempat untuk menghindar karna langsung meloncat keluar menahan tubuh Sandra yang ingin jatuh ke aspal.


Sandra langsung bungkam saat tatapan menusuk Rusel menghunus jantunganya. tatapan mengerikan yang menekannya agar diam tak bersuara.


"S..Sel!"


Rusel hanya diam menyudahi kegiatannya lalu ia kembali menutupi perut Sandra dengan selimut yang ia sibak tadi.


"Istirahatlah."


"Tapi.."


"Terserah. mau keluar-pun itu urusanmu." acuh Rusel lalu melangkah pergi membawa tatapan sendu netra hitam Sandra yang semakin merasa sesak.


"A..aku tak bermaksud melukaimu. Sel!" lirih Sandra bergetar. ia tak tahu kalau misalnya di luar sana tengah ada kejadian seperti ini. jika ia tak menyusup keluar maka ia tak akan tahu apa yang tengah di tangani suaminya sendirian.


"San!"


Sandra langsung mengusap air matanya dikala Anya sudah masuk kesini. matanya masih merah dan sembab membuat Anya menghela nafas dalam.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Anya! apa yang terjadi pada Rusel?" tanya Sandra benar-benar ingin tahu.


Anya mendekat duduk di samping Sandra yang selalu di selamatkan Ketuanya walau nyawa pria itu terus diambang jurang hitam.


"L..lengannya terluka. tapi, dia marah padaku."


"Sudahlah. Ketua hanya perlu sendiri." bujuk Anya mengusap lengan Sandra yang tak tenang. pasti Rusel akan menghindarinya lagi. pria itu jika marah selalu tak pulang menemuinya.

__ADS_1


"Apa lukanya sudah baikan? atau masih sakit?"


"San! tenanglah, Ketua itu pria sejati. dia tak akan tumbang hanya karna luka seperti itu."


"Tapi, luka itu terlihat dalam. bisa saja nanti infeksi."


Anya mengambil nafas ringan tak bisa mengerti tentang dua mahluk tuhan ini. terkadang keduanya juga saling mencemaskan satu sama lain tapi pertengkaran itu sering menjadi hambatan.


"Kalau begitu temui Ketua dan katakan kalau kau menyesal."


"Anya! aku tahu Rusel itu bagaimana, dia akan diam sebelum rasa marahnya reda. apalagi kali ini kesalahanku fatal. Anya." decah Sandra begitu frustasi. ia yakin Rusel akan mengacuhkannya untuk beberapa hari ini.


"Ya sudah. kalau begitu kau jaga dirimu baik-baik, dengan begitu amarah Ketua reda dengan sendirinya."


"Tapi, aku.."


"Sutt!"


Anya menyela ucapan Sandra yang diam mencari solusi dari masalah ini. ia tak ingin Rusel mendiaminya secara terus menerus.


"Tadi dia membentakku. kau tahu dia tak pernah melakukan itu kalau tak marah besar."


"Yah. Ketua sangat mencintaimu, San! cobalah mengerti posisinya sekarang." ucap Anya mencoba membuat Sandra mengerti. Mobil yang tadi ingin menabrak Sandra seketika hancur di tabrak mobil Rusel yang saat itu menancap cepat.


"Aku tak bermaksud untuk melanggarnya. tapi, aku hanya penasaran. itu saja."


"Terserah! kau ini memang keras kepala." umpat Anya tak sesabar Rusel menghadapi rumut liar ini. ntah sampai kapan Sandra akan terus merasa dirinya benar.


"Aku keluar dulu. ya? mau cari makan."


"Hm."


Anya melangkah keluar kembali menghadirkan wajah murung Sandra. ia memejamkan matanya untuk segera mencari apa yang harus ia lakukan dan bagaimana caranya agar Rusel tak marah padanya.


"Tapi benar juga." gumam Sandra melihat wajahnya dari cermin yang ada di dinding rawat ini. ia ingat semua usaha Rusel untuk membawanya kembali ke kehidupan berwarna dan ia dengan mudahnya begitu ceroboh.


"Sandra! cukup jadi beban, apa tak bisa sehari saja kau tak membuatnya pusing. ha?" geram Sandra menceramahi dirinya sendiri.


"Lihat! sekarang dia marah besar padamu, dan apa kau mau tidur sendirian lagi? kau mau makan dan mandi sendiri? kalau tidak maka berubah. ayo berubah."


Omel Sandra mengakui dirinya memang berandal. tapi, tentu ia tak sebodoh itu dalam berfikir.


"Rusel pasti tak akan membiarkanku keluar sendirian. kalau di kawal terus aku tak akan bebas." gumam Sandra berusaha menyusun rencana. ia harus mencari tahu siapa pria yang tadi ingin menabraknya dan apa motifnya.


Masalah kasus pembunuhan ini sepertinya akan membutuhkan rencana lebih intens.


"Ayolah. berfikir, Sandra." desaknya terus memutar otak. ia harus membantu Rusel untuk memecahkan ini.


Tak berselang lama. Sandra tiba-tiba ingat akan satu kejadian di taman saat Karina dan Anju mencoba membulynya.


"Ponsel." gumam Sandra langsung menyibak selimut dan ingin mencabut selang infusnya paksa tapi belum sampai jari itu menekan ia sudah lebih dulu menciut saat mengingat amarah Rusel tadi.


"Tidak-tidak. aku tak mau mati sekarang." mengurungkan niat ingin keluar.


......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2