Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Masih misteri!


__ADS_3

Kebingungan Sandra yang tampak jelas tadi membuat Arnol diam berdiri di atas jembatan pemisah antara Fakultasnya dan Kampus milik Sandra, pikirannya berkelana mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya salah darinya.


"Apa aku berbuat salah? tapi, apa?" gumam Arnol menatap air di bawah jembatan ini. pemandangan indah di sekitarnya tampak suram dari balik kacamata ini.


Arnol mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya dan itu kado kecil sebesar kotak ponsel tapi isinya adalah sesuatu yang begitu di persiapkan oleh Arnol sendiri.


"Aku tak berani menyerahkan ini pada Sandra. nanti dia tambah benci padaku."


"Ehmm!"


Arnol langsung memasukan kembali Kado itu lalu berbalik dengan kepala tertunduk dan bahu menciut sangat idiot.


Disini sudah berdiri dua sosok wanita yang tak tahu menahu namanya oleh Arnol. apalagi tatapan keduanya tampak tak suka bahkan begitu merendahkannya.


"K..kalian siapa?"


"Apa yang kau simpan itu?" tanya Karina menatap penuh selidik.


"T..tidak ada. aku..aku pergi dulu."


"Etss!!"


Anju menghalangi jalannya. seketika Arnol gugup karna takut di jahili lagi oleh orang-orang disini.


"K..kalian mau apa?"


"Berikan kotak itu!"


Arnol langsung menggeleng mundur membuat Karina dan Anju saling pandang geram. memaksa pria idiot ini begitu membuat mereka naik pitam.


"Berikan!"


"Tidak. ini untuk Sandra." jawab Arnol memeluk tasnya. ia menatap Anju dan Karina dengan penolakan dan sangat tak ingin mendekat.


"Berikan!!" paksa Karina lagi.


"Tidak! kalian..kalian pasti jahat. kan? Sandra pasti tak suka dengan kalian, Sandra orang baik." bantah Arnol keras membuat Anju geram segera menarik tas yang di peluk lengan kokoh Arnol.


"Lepas!!!"


"Berikan padaku. sialan!!"


"Jangan!!" bantah Arnol menarik kembali hingga mereka saling memperebutkan. kekuatan Arnol yang begitu lemah membuat Anju mudah mendorong dadanya ke belakang sampai hampir terjatuh ke bawah tapi untung ia berpeggangan ke pinggir jembatan.


"B..berikan tasku!"


"Cih!" decah Karina lalu membongkar isi tas Arnol. mereka menutup hidung seakan begitu jijik melihat ada sapu tangan lalu buku-buku dan benda-benda aneh seperti mainan anak-anak.


"Apa-apaan ini? kau sudah besar tapi masih bermain benda sekecil ini." ejek Anju mengeluarkan segalanya dengan mengguncang tas Arnol hingga barang-barang itu jatuh ke bawah.


"Jangan!!"


"Kado?" gumam Karina melihat kotak tadi. Arnol ingin mengambilnya tapi Karina sudah memeggang benda itu membuat Arnol bingung.


"B..Berikan!"


"Kau membuat ini untuk wanita tak tahu diri itu?" sinis Anju jijik.


"Berikan! nanti Sandra lihat."


Anju dan Karina tertawa geli melihat Kertas Kado bergambar hello ketty yang menggelitik perut. apalagi tak jelas apa isinya di dalam sini.


"Kita lihat bagaiman respon Sandra melihat ini."


"Iya. Karin! dia pasti sangat syok penggemar beratnya begitu bekerja keras." jawab Anju mengeluarkan ponselnya. Karina menyeringai menatap Arnol yang sudah berkaca-kaca.


Srek..


"Ups!!"

__ADS_1


Karina sengaja mengoyaknya membuat Arnol terdiam dengan tatapan nanar ke arah benda itu. air matanya lolos begitu saja membuat Karina dan Anju bertambah senang.


"J..jangan!"


"Maaf, aku tak sengaja menyobeknya." jawab Karina lagi-lagi melakukannya sampai terlihatlah kotak botol minuman yang masih baru.


"Cih! ternyata benda murahan ini."


"Buang saja. yang penting aku sudah merekamnya." jawab Anju lalu melangkah pergi setelah memberikan kecupan jarak jauh pada Arnol yang sudah menangis.


"K..kalian jahat, hiks! kalian wanita jahat!!"


"Sutt! jangan berisik, dasar cupu." sinis Karina lalu melempar botol itu ke bawah jembatan membuat Anrol terkejut melihat semuanya sudah hancur berantakan.


"Bay!! bermimpilah agar kau bersama wanita tak tahu diri itu."


"Jahat!!! kalian jahat!!!" teriak Arnol dengan mata sembabnya. ia kembali mengemas barang-barangnya yang telah di jatuhkan dengan na'as begini.


..........


Sekelompok anggota musuh telah tertangkap dengan cepat oleh anggota Rusel yang membawa mereka ke Penginapan yang biasa di gunakan untuk tempat perundingan.


Simob tak meloloskan satu-pun manusia yang ikut dalam kejadian tadi termasuk semua mata-mata yang tadi telah di tentukan oleh Ketua mereka.


"Masuk!!"


Guren mendorong salah satu bawahan musuh yang sudah di rantai ke dalam jeruji besi yang sudah di penuhi para pria yang telah di tembak sebelumnya.


Ada 10 manusia disini dan kaki mereka sudah tertanam peluru ganas dari anggota Rusel yang tak main-main dalam menjalankan tugasnya.


"Tuan! semuanya sudah di kurung dan yang melakukan penembakan tadi ada di ruang introgasi."


"Apa Ketua sudah datang?" tanya Guren yang tengah berhadapan dengan anggota lainnya.


"Sudah. Tuan! Ketua ada disana."


"Baik."


Guren melangkah pergi ke ruangan yang biasa di gunakan oleh Ketuanya untuk menggali informasi.


Ruangan ini termasuk gelap dan tertutup hingga jarang yang akan menduga di penginapan terpencil ini ada tempat penampungan para manusia tahanan.


"Ampun!! Ampun!!"


Suara pria dari dalam sana terdengar menyedihkan. dinding kayu ini begitu rapat mengunci alunan mengerikan ini.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Simob yang tengah mengacungkan pistol ke kepala pria itu. darah yang keluar dari pelipis dan mulutnya tak bisa berhenti dengan kedua kaki tangan di rantai.


Rusel hanya diam. duduk di kursi tepat di hadapan tahanan satu ini, ia terlihat tenang tak mengalihkan pandangan tajamnya.


"Siapa??"


"A..aku.."


"Cepat katakan!" paksa Simob menginjak kakinya yang tadi di tembak membuat ringisan sakit itu tak bisa di elakan. apalagi sedari tadi hawa keberadaan Rusel memaksanya agar bicara.


"A..aku di..dipaksa."


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Simob semakin menginjak kuat membuat pria itu berkeringat dingin dengan wajah memucat.


"D..dia..dia .."


"KATAKAN!!"


Simob menampar wajahnya kuat sampai terlihat lebam dengan hidung berdarah. kesadarannya masih di pertahankan agar bisa mengatakan segalanya.


"T .tuan. j..jangan bunuh aku."


"Bicara atau MATI." tekan Simob mengerikan. ia bertindak sesuai dengan perintah Rusel yang tak ingin ikut memukul karna dampaknya akan buruk nanti.

__ADS_1


"D...dia itu..."


"Kau sangat lama." desis Rusel mengepalkan tangannya spontan membuat pria itu tercekik dengan mata melebar merasakan lehernya di cegat sesuatu.


"T...u..an.."


"Aku tak punya banyak waktu." ucap Rusel setenang air tanpa exspresi lalu menguatkan kepalannya sampai suara retakan tulangnya berbunyi nyilu. darah yang keluar di mulutnya terus mengalir deras dengan wajah pucat pasih nyaris seperti mayat hidup.


"A...ku...a.." ia memberontak karna susah bernafas, ia mengangkat kedua lengannya yang di rantai sebagai bukti tak tahan dan menyerah barulah Rusel melepaskannya.


Ia mengambil nafas begitu cepat bahkan terlihat seperti ikan di daratan. tapi, Rusel tak bergeming. ia masih diam dengan tatapan dinginnya.


"Katakan!"


"A..aku..aku di suruh seorang wanita. dia..dia mengancamku untuk melakukan semua itu kalau tidak, dia akan membunuh keluargaku." jawabnya dengan nafas terputus-putus dan sangat lemah.


Rusel terdiam sesaat. pria ini adalah warga biasa yang tinggal tak jauh dari Kediaman Hatomo, apalagi. pria ini juga mengenal Sandra.


"Kau kenal wajahnya?" tanya Simob menekan.


"T..tidak. dia..dia tak pernah menemuiku, hanya saja di malam itu dia..dia memberi pesan padaku, b..bahkan, a..adikku masuk rumah sakit kar..karna.."


Ia langsung tumbang karna tak mampu menahan sakit di tubuhnya. Simob memeriksa nadinya lalu menatap Rusel yang masih bungkam.


"Nadinya lemah. Ketua!"


"Obati lukanya."


"Baik!"


Simob memerintahkan anggota lain untuk membawa pria ini. Rusel memang selalu mengutamakan kebenaran yang ada, ia tak akan membunuh jika memang orang itu tak salah atau di bawah penekanan, sikapnya yang seperti itu membuat para anggotanya nyaman dan sangat patuh.


"Apa yang akan Ketua lakukan selanjutnya?" tanya Simob menunduk.


Rusel menatap datar ceceran darah di lantai dingin ini. pembawaanya selalu berkharisma dan sangat beraura.


"Lepaskan tawanan kembali ke asalnya!"


"Ketua! mereka tak ingin mengaku, dan kita masih belum mendapatkan bukti yang.."


"Maafkan aku. Ketua!" sambung Simob menunduk saat tatapan Rusel mencegat kerongkongannya.


"Budak harus kembali ke majikan, mereka yang memilih ini." gumam Rusel punya pikirannya sendiri. Guren yang melihat dari arah pintu menatap Simob yang mengangguk mengerti.


"Kami selalu siap menyerang."


"Tidak sekarang." jawab Rusel berdiri dengan hembusan angin terasa agak pekat. salah sedikit saja bisa jadi mereka akan kehilangan kesadaran.


"Biarkan dia mengatasinya sendiri." Rusel menyunggingkan seringaian aneh memainkan gejolak angin yang selalu tunduk padanya.


"Kami siap. Ketua!!"


"Hm."


"Ketua! Nona tadi menelfon anda." ucap Simob. Rusel segera memeriksa ponselnya dan benar saja ada beberapa panggilan tak terjawab dari wanita itu.


"Apa yang dia lakukan hari ini?"


"Nona belajar dengan keras, sepertinya Nona sangat serius untuk acara malam ini."


Rusel melihat vidio yang di kirimkan anggota yang mengawasi Sandra. wanita itu tengah belajar di taman Kampus, wajah cantiknya tampak menggemaskan ketika frustasi saat lupa hapalannya.


"Jangan ada yang mengganggunya."


"Baik!"


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2