
Sedari tadi Dosen Farman menjelaskan tentang E-business dan strategi pemasaran di depan para Mahasiswa dan siswinya yang tengah serius mendengarkan.
Pria dengan kacamata bulat dan rambut jarang diatas kepala itu terlihat sangat serius tapi juga begitu menakutkan.
Ia tak bisa melihat satu-pun anak didiknya yang bermalas-malasan seperti yang tengah memancingnya saat ini.
"Sandra!"
"Iya. Pak!" sahut Sandra spontan mengangkat tangan membuat semua perhatian tertuju padanya.
Pak Farman menatap tajam Sandra yang menelan ludahnya kasar merasa ia melamun terlalu panjang sampai tak menghiraukan bualan pria ini.
"Kau baru masuk 1 hari tapi sudah membuat masalah."
"Pak! aku kurang tidur." jawab Sandra asal dan tak bersemangat. rambut panjangnya juga terlihat tak di rapikan hingga penampilannya kali ini agak semberaut.
"Keluar!"
"Pak!" lirih Sandra begitu bosan duduk disini tapi ia dipaksa keadaan.
"Keluar dari kelasku!" geram Pak Farman marah terbukti dengan kumis lancip itu terangkat dengan mata mempelototi Sandra yang membuang nafas kasar.
"Pak! kau marah kalau aku tak masuk, tapi kau juga sangat menjengkelkan jika aku masuk. sebenarnya kau mau apa?"
"San!" lirih mereka semua sungguh takut melihat wajah kelam Pak Farman yang selalu saja marah setiap berhadapan dengan Sandra.
"Masih berani kau melawan Dosenmu!?!"
"Pak! aku diam tak menganggumu, jadi apa salahku?!" jengah Sandra berdiri dari duduknya dengan tatapan yang angkuh dan keras kepala.
Karina dan Anju yang ada di kursi depan sana saling tos melihat kekacauan yang Sandra ciptakan. mereka berharap wanita itu di keluarkan dari Kampus ini.
"Kau memang tak tahu malu. apa ini yang di ajarkan kedua orang tuamu?" desis Pak Farman yang selalu kekeh dengan aturannya.
Kepalan Sandra menguat dengan sorot mata benar-benar tak suka dengan perkataan pria tua ini barusan.
"Coba kau ulangi!"
"Lihat! dia masih belum mengaku salah." jengah Pak Farman menatap anak didiknya yang lain.
Tak mau membuat masalah semakin runyam. Sandra memilih mengemas barang-barangnya lalu melangkah turun ke bawah untuk keluar dari Kelas ini.
"Dimana sopan santunmu?!"
Sandra hanya diam masih mencoba tenang melewati Pak Farman yang sungguh merasa perlakuan Sandra sedari dulu memang tak ada toleransi sama sekali.
"Sekali kau keluar. jangan coba masuk di kelasku lagi!"
"Betul. Pak! dia itu menganggu kelas hari ini saja." timpal Karina mengadu domba.
Langkah Sandra terhenti tepat di depan pintu ruangan. ia yang tengah memakai Sweater abu dan celana Jeans itu tampak berdiri dengan sangat bergaya sesuai body yang sempurna.
"Aku sudah mengirim surat pencabutanmu. tapi, ntah apa yang Ayahmu lakukan sampai kau masih disini."
"Kau ingin tahu?" tanya Sandra berbalik menatap tajam Pak Firman yang sudah benar-benar merendahkannya. Amarah itu terlihat jelas di manik hitam Sandra yang tengah kacau dan pria ini menambah penderitaanya.
"Sepertinya pengaruh Ayahmu membuat kau selalu lancang!"
"Pak! terkadang kau juga butuh pencerahan." jawab Sandra mendekati salah satu meja pria yang ada di dekatnya. Ia menatap botol air itu dengan misterius.
"Apa kau tak malu pada para saudarimu yang selama ini menuai prestasi dan.."
"Tutup mulutmu!" geram Sandra lalu menyiram wajah Pak Firman dengan air yang ada di botol atas meja pria tadi yang syok berdiri di tempat di ikuti yang lainnya.
"S..Sandra!" lirih mereka dengan mata membulat dan mulut terbuka.
Sandra tak perduli. ia mendekati Pak Farman yang terlihat mengepal menatap Sandra dengan amukan yang nyata.
"Kau tak pantas mengkeritikku! PAHAM." ucap Sandra menekan kata-katanya.
"Dan satu lagi.."
Sandra beralih menatap mereka semua dengan pandangan tak bersahabat. Mereka tak berani mengusik Sandra yang selalu nekat dalam hal apapun.
"Jangan hanya membual di belakangku! itu hanya membuang tenaga. Cihh!" decih Sandra melirik Anju dan Karina yang hanya diam.
__ADS_1
"Kau jangan masuk ke kelas ini lagi."
"Apa hakmu menghentikanku?!" tanya Sandra pada Pak Farman yang terdiam, sungguh mengendalikan wanita ini sama saja dengan mengatur orang 1 kampus susahnya.
"Baik! aku akan mengirim surat pencabutanmu secepatnya."
"Aku tak perduli!" jawab Sandra lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan ini.
"Aku tak sabar melihat Sandra di hakimi 1 kampus." gumam Anju memandangi kepergian Sandra.
"Yah. dia sudah terlalu berani melakukan hal menjijikan itu pada kita." timpal Karina begitu dendam pada Sandra yang harus menerima balasan setimpal.
Sementara di luar sana. Sandra melangkah cepat ke arah teras atap gedung kampus untuk meredakan hatinya yang tengah di landa kegundahan. pikirannya kacau dan tak menentu sekarang.
"Minggir!!!" teriak Sandra pada beberapa Mahasiswi yang ada di dekat tangga atas. mereka semua pergi mengosongkan tempat itu hingga barulah Sandra bebas membuka pintu kasar dan berlari menapaki lantai atap.
"Aaaaaaaa!!!!!!"
Teriak Sandra sejadi-jadinya mengeluarkan semua unek-uenk dalam hatinya. ia seharian berusaha fokus dan tak memikirkan pria itu tapi semakin ia menekan maka ia akan terasa hampa.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku??? aku tak mau memikirkanmu. Sialan!!!!"
Sandra memaki Rusel dengan kasar sampai ia terduduk di lantai sini. pemandangan indah di bawah sana di abaikan Sandra yang tengah kelut.
"Aku tak mau. keluarlah dari kepalaku."
"Apa yang keluar?"
Sandra tersentak saat mendengar suara di belakangnya. Ia segera berbalik karna merasa itu Rusel.
"Sel!"
Deg...
Sandra tertegun saat yang ia lihat bukanlah Rusel melainkan Si Idiot itu. wajah Sandra yang semula berbinar seketika turun menjadi dingin dan ketus.
"Kau?"
"Hay!" sapanya tersenyum menatap Sandra dengan polos. kedua buku di tangannya begitu lekat di dada dengan tas di sandang agak tinggi.
"Itu.. aku menunggumu datang tapi kau tak ada ke Fakultas sebelah." jawabnya masih tersenyum seraya membetulkan letak kacamatanya.
Sandra membuang nafas kasar lalu memunggungi pria ini. ia sama sekali tak bersemangat sekarang.
"Namaku Arnol!"
"Hm." jawab Sandra tak berminat. tatapan kesalnya justru lebih dominan.
"Apa aku berbuat salah?"
"Bisa tidak kau jangan mengangguku?!" ketus Sandra jengah dan butuh waktu sendiri. Pria bernama Arnol itu terdiam seperti tak mengerti ucapan Sandra.
"Apa aku menganggumu. Nona?"
"Iya! dan sekarang pergilah." jawab Sandra sudah pusing. masalahnya hari ini begitu banyak membuat kepalanya hampir pecah.
"Nona! tapi, siapa namamu?"
"Kau..."
Sandra menggeram ingin menjambak Arnol yang terkejut tapi segera ia turunkan tangannya.
"Memangnya kenapa kau menanyaiku. ha?"
"Aku ingin berteman denganmu. apalagi kau baik."
Sandra langsung diam. dari sorot matanya tampak tulus dan tak ada niat tersembunyi apapun.
"Kau pikir aku mau berteman denganmu?"
"Nona! aku salah satu penggemarmu." jawab Arnol malu-malu menatap Sandra yang diam dengan rasa geli sedikit menjalar. ia baru kali ini melihat pria dungu yang sangat pemalu.
"Baiklah! aku akan memberi tahumu tapi traktir aku makan. bagaimana?"
"Mau! aku mau!!" jawabnnya begitu bersemangat bahkan senyum di bibir Arnol membuat Sandra menggeleng. lumayan makan geratis untuk hari ini.
__ADS_1
"Hm. kalau begitu ayo ke Kantin!"
"Kantin?" tanya Arnol yang diangguki Sandra. perutnya sudah keroncongan karna tadi pagi hanya makan roti tentu itu kerugian terbesarnya.
"Lalu kau mau kemana?"
"Keluar saja. ada Restoran punya paman ku di dekat sini."
Sandra terdiam sejenak lalu mengangguk melangkah duluan barulah Arnol mengikutinya. sesekali Arnol terlihat berjingkrat kesenagan di belakang Sandra.
Tentu sedari tadi Guren yang tengah memantau langsung menghubungi anggota di luar agar tetap waspada.
"Data pria ini tak di temukan. aku yakin dia bukan dari Fakultas Musik di sebelah." gumam Guren mencurigainya. memang secara gerak-gerik Arnol sudah alami tapi ia tak akan percaya begitu saja.
Drett...
Ponsel Guren berbunyi dan itu panggilam dari Ketuanya yang tengah menanagani masalah desa.
"Ketua!"
"Apa dia baik-baik saja?!"
Guren terdiam sejenak mulai melangkah mengikuti arah kepergian Sandra tadi.
"Nona tengah bersama pria yang dia ceritakan kemaren. Ketua!"
"Apa yang dia lakukan?"
"Mereka ingin makan bersama. dan sekarang tengah keluar."
"Kau awasi terus. pastikan dia tetap dalam keadaan baik."
"Siap Ketua!"
Jawab Guren dengan sambungan yang mati. Ia bergegas mengejar Sandra yang tampaknya sudah sampai ke lantai dasar.
..........
Rasa cemas itu memang menghantui dirinya tapi jika ia pergi sekarang keadaan Desa masih belum stabil. penyerangan yang di lancarkan Daerah gersang sana membuat Balai Desa hancur dan bagian timur Kulfun di taburi racun.
"Ketua! sebaiknya anda beristirahat." ucap Simob yang sudah menemani Rusel sedari tadi.
Sejak datang kesini Rusel sama sekali tak diam dan istirahat sejenak, ia langsung mengambil tindakan atas penyerangan yang di lancarkan.
"Bagaimana keadaan. Tetua?" tanya Rusel dengan suara masih tenang.
"Tetua sudah baik-baik saja. para warga yang terluka juga sudah di obati oleh pasukan Medis Desa."
Rusel menghela nafas dalam. ia tengah berdiri di tanah Timur Kulfun yang seperti habis di Bom. rawa-rawa yang biasanya subur di sekitar sini sudah tampak tak bisa di selamatkan.
"Bagaimana bisa mereka masuk ke sini?! bukankah seluruh penjuru Desa sudah di jaga ketat?!" gumam Simob berfikir.
Rusel hanya diam tapi otaknya selalu berjalan. ia harus cepat menemukan titik terang disini karna hatinya tak tenang meninggalkan Sandra di sana.
"Kumpulkan semua data penyerangan itu. berikan padaku secepatnya!"
"Baik. Ketua!" jawab Simob lalu melangkah pergi berkumpul kembali dengan pasukan penjaga Desa.
Sementara Rusel. ia tengah menatap datar keadaan tempat ini dengan pikiran menerawang.
"Terimakasih sudah datang. Ketua!"
Suara Guru Ikana di belakang sana memberi salam hormat pada Rusel yang hanya diam tak merespon sama sekali.
"Semenjak kepergian anda. Desa ini tak lagi stabil, Ketua begitu penting disini."
"Kau begitu tenang!" jawab Rusel tetap datar tak berintonasi lebih.
"Saya tenang karna Ketua kembali hingga.."
"Kemana kau saat penyerangan itu?"
Degg...
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang