Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Mulai curiga!


__ADS_3

Menarik Sandra keluar dari kampusnya tentu membuat tanda tanya di benak wanita itu kemana mereka akan pergi. Rusel sama sekali tak memberitahunya soal apapun dan hanya mengajaknya masuk ke dalam Taksi yang melaju stabil kearah jalan yang menurutnya ini pergi ke arah Rumah Sakit.


"Sel! kita kemana?"


"Kau tenang saja." jawab Rusel menatap Sandra yang mengangguk menyandarkan kepalanya ke dada bidang Rusel yang membuatnya nyaman.


Karna bosan dengan keheningan ini. Sandra mengeluarkan ponselnya di dalam tas yang sudah dia ambil sebelum pergi ke mobil ini.


"Daniel?"


Batin Sandra saat melihat satu pesan dari Daniel di Whatsapnya. ada banyak pesan dari notif yang keluar tapi ia merasa enggan membuka.


Aku ingin mengatakan hal sebenarnya. San!


Satu kalimat itu membuat Sandra diam. sedari kemaren Daniel selalu mengatakan hal itu. seakan yang terjadi ini sebuah kesalahan yang tak di mengerti olehnya.


"Ada apa?"


"A..tak apa. hanya sedikit ngantuk!" jawab Sandra mengelak mematikan ponselnya. ia pura-pura memejamkan matanya dengan satu tangan ada di paha Rusel yang membelit pinggangnya. posisi ini sudah biasa bagi keduanya sendiri.


"Apa aku harus menemui Daniel? tapi. bagaimana kalau dia hanya berbohong?!"


Batin Sandra merasa sangat rumit. jujur ia sangat stres memikirkan ini apalagi semuanya selalu abu baginya.


"Kau ingin makan?"


"Ha?" tanya Sandra lagi karna tak fokus. Rusel terdiam sejenak melempar pandangan datar yang sungguh membuat Sandra menelan ludahnya.


"A..aku..."


"Ada yang sakit?" tanya Rusel memeggang kening Sandra yang tak panas.


"T..tidak. aku...aku hanya mau tidur."


"Tidurlah! kau tak perlu memaksakan diri."


"I..iya!"


Jawab Sandra kembali memejamkan matanya mencoba untuk tetap rileks walau ia sudah merasa dingin jika Rusel tahu ia memikirkan tentang pria itu ntah apa yang akan terjadi.


Drett...


Ponsel Sandra bergetar dengan layar menyala. dengan cepat Sandra mematikannya lagi membuat dahi Rusel mengkerut dengan pandangan masih tenang.


"Apa ada masalah?"


"T..tidak. ini...ini temanku yang dari Kampus. dia mengirim semua tugas yang selama ini tertunda." jawab Sandra tersenyum nanar tapi Rusel diam beberapa saat.


"Teman?"


"Em. Teman!" Sandra mengangguki.


"Hm."


"Oh iya. apa sudah dekat?" tanya Sandra mengalihkan suasana ini. Rusel hanya diam tapi Simob yang ada di depan menganggukinya.


"Iya. Nona! kita ke Dokter Kandungan!"


"Apa??" tanya Sandra dengan suara agak memekik.


"Ada apa. Nona?" tanya Simob keheranan tapi tidak dengan Rusel yang tahu jika Sandra takut dengan jarum suntik dan hal yang berbau runah sakit.


"S..Sel! kita pulang saja. ya?"


"Nona! kita sudah sampai!" sambar Simob membuat Sandra memucat melihat Rumah Sakit besar yang dulu ia datangi untuk mengetes kehamilan.


Seketika tubuhnya kaku dan dingin di tempat membuat Rusel menghela nafas menggenggam tangan Sandra.


"Ada aku disini!"


"T..tapi..."


"Pakai maskermu!"


Rusel mengeluarkam satu masker dari saku jaketnya lalu memakaikannya ke wajah Sandra dan barulah dirinya. Simob lebih dulu keluar membukakan pintu di sebelah Rusel yang menggenggam tangan dingin Sandra di hangatnya rengkuhan jari kokoh itu.


"S..Sel!"


"Tak ada orang lain disini." ucap Rusel menyadarkan Sandra untuk melihat ke sekeliling mereka yang hening. hanya ada dua penjaga di depan pintu rumah sakit besar ini tanpa ada orang lain.


Tentu Sandra kebingungan karna mustahil Rumah Sakit di pusat kota bisa selengang ini.


"Kemana semua orang disini?!"


"Ayo masuk!"


Rusel menarik Sandra untuk masuk ke arah pintu Rumah Sakit yang di buka untuk mereka. Sandra sungguh heran, kenapa setiap ia merasa Rusel ini orang menengah maka yang ia dapatkan itu sesuatu yang selalu di impikan setiap wanita?!


"Sel! kenapa bisa begini?!"

__ADS_1


"Yang punya rumah sakit ini. Temanku!"


"Benarkah?" syok Sandra menatap separuh wajah serius Rusel yang di tutupi Masker.


"Hm."


"Jadi, kau memintanya untuk mengosongkan Rumah sakit?"


"Tidak!"


"Lalu?" tanya Sandra begitu penasaran tapi Rusel tak ingin menjawabnya menarik rasa jengkel yang mendalam bagi Sandra.


"Kau selalu bicara tak sampai ke ujung!"


"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Rusel tapi Sandra hanya tersenyum terbukti dengan pelupuk matanya terangkat.


"Lupakan saja!"


"Hm."


"Kenapa dia ini tak berubah? selalu saja dingin.."


Batin Sandra menyentak tangannya dari genggaman Rusel yang hanya diam melangkah ke Lift sana.


Sandra masuk duluan membuang muka juteknya ke arah samping membuat Simob hanya menggeleng berdiri di belakang Ketuanya.


"Shitt! tanganku dingin."


Batin Sandra merasa tak enak berdiri di sini. ia sudah terbiasa di hangatkan oleh tubuh kekar Rusel yang memeluknya setiap saat. bisa di bilang ia jadi Bayi dalam kandungan.


"Ehmm!"


Sandra berdehem lalu dengan cepat memeluk Rusel yang hanya menarik sudut bibirnya kecil melihat kelakuan wanita ini.


"Hangatnya!"


Batin Sandra lega saat merasakan ini begitu nyaman. ia membenamkan wajahnya ke dada bidang itu tak memperdulikan Simob yang tersenyum malu.


"Naikan tanganmu!"


"Ha?" tanya Sandra tak mengerti. Rusel menaikan kedua tangan Sandra ke atas bahunya lalu mengangkat paha wanita itu sampai berkoala ke pinggangnya.


Sungguh wajah Sandra sudah semerah tomat menyembunyikan rona itu ke ceruk leher Rusel yang melangkah keluar saat Lift sudah terbuka.


"Ke ruangan ini. Ketua!" Simob mengarahkan ke ruangan sebelah kanan.


Rusel pergi ke sana melangkah tegas dan pasti. tentu Sandra yang tadinya gugup tak begitu merasa jantungan lagi ke tempat ini.


Rusel masuk dengan tenang hingga Dokter yang tengah memerika laporan di dalam sana langsung menoleh.


"Kau sudah datang?!"


"Hm!"


Jawab Rusel datar langsung mendudukan Sandra diatas ranjang USG setelah membuat Dokter itu terkejut bagaimana cara masuk dua mahluk ini.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Dokter wanita itu pada Sandra yang membenarkan letak maskernya.


"Silahkan periksa. Dokter!" Simob menyela agar Sandra tetap merasa nyaman disini.


"Baiklah. perkenalkan saya Dokter Nita khusus kandungan. kita mulai sekarang."


"Kau keluar!" tegas Rusel pada Simob yang mengangguk langsung menutup pintu dan ia berdiri di luar. tentu Rusel tak rela perut mulus lembut Sandra di lihat lelaki lain.


"Jangan tegang. Nona! ini sama sekali tak menyakitkan."


"Tak sakit kepalamu! aku hanya gugup kalau kau tahu aku siapa."


Batin Sandra frustasi. ia tak melepas genggamannya ke tangan Rusel yang hanya diam memperhatikan setiap pekerjaan Dokter Nita yang tengah mengoleskan gel seperti lendir ke perut Sandra.


"Perhatikan layar monitor. Nona!"


Keduanya langsung melihat ke layar sana dengan pandangan yang beragam. Sandra tak mengerti kenapa semuanya gelap dan ada bercak-bercaknya tapi Rusel hanya terpaku ke sana.


"Perhatikan baik-baik!" ucap Dokter Nita memutar alat sensor itu ke perut Sandra tepat di bagian rahimmya.


Tentu Rusel melihat ada kantung kecil di sana dan tampak sudah agak membesar menempel di rahim Istrinya.


"Kenapa semuanya gelap? apa perutku berisi tanah dengan pasir?!"


Batin Sandra kebingungan. maklum ia tak begitu serius dalam belajar apapun sampai otaknya tak sampai kesana.


"Kantung ini adalah janin anda. Nona!"


"Benarkah?" tanya Sandra tak menyangka. berarti kantung ini akan semakin besar nantinya seperti orang-orang hamil di luar sana.


"Sekarang usuianya 2 bulan lebih dari 3 minggu. hampir ke 3 bulan dan ini akan cukup merepotkan."


"Maksudnya?" tanya Sandra tak mengerti tapi Rusel fokus mendengarkan.

__ADS_1


"Di bulan-bulan ini anda harus berhati-hati karna rentan keguguran! jaga pola makan serta istirahat anda, jangan dulu beraktifitas berat karna akan berbahaya nantinya."


"Kerjaku hanya tidur." jawab Sandra membuat Dokter Nita mengulum senyum.


"Sesekali cobalah berolahraga. Nona!"


"Dia!!" Sandra mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam.


"Dia tak boleh aku olahraga!"


"Diamlah!" datar Rusel membuat wajah Sandra di tekuk masam. Dokter Nita tersenyum kecil kembali memutar alatnya di perut Sandra untuk memperjelas gambaran.


"Dilihat dari kondisinya. kandungan Nona baik-baik saja tapi.."


"Apa yang terjadi?" tanya Rusel dengan rasa cemas sedikit menjalar di hatinya. ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri sampai terjadi sesuatu yang buruk.


"Hanya saja fisik Nona agak lemah! sebaiknya perbanyak istirahat dan saya akan menyuntikan Vitamin!"


"S..Suntik?" lirih Sandra mulai berkeringat dingin. Rusel menghela nafas lega, memang benih itu sangat menguras tenaga yang mengandungnya.


"Lakukan saja!"


"S..Sel! aku.."


Rusel menatap tegas Sandra yang mau tak mau menurut. Ia terus menatap pergerakan Dokter Nita yang membersihkan Gel di perutnya setelah mengcopy hasil USG.


"Rileks. Nona!" mengambil alat injeksi.


"Sel!" lirih Sandra tak mau tapi Rusel enggan membuka suara. keputusan itu sudah di buat dan tak ada yang bisa menggoyahkannya.


"Lengan anda. Nona!"


"Sebentar!"


Sandra mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya untuk menenagkan jantung yang tengah bergetar di dalam sana. lama mereka menunggu tapi Sandra tetap melakukan pemanasan sampai Rusel jengah.


"Ini!"


"Sel!!" pekik Sandra saat tangannya di kunci Rusel yang menekan bahunya agar tetap berbaring.


"Jangan teggang. Nona!"


"Tidak!!! jangan!! jangan di suntik!!!" teriak Sandra membuat Dokter Nita susah untuk memasukan jarum. gerakan Sandra terlalu liar dan susah di kendalikan.


"Nona! tenanglah!"


"Sel!!! lepas!!! aku tak mau!!"


"Nona.. anda.."


Rusel dengan cepat mengambil jarum yang di peggang Dokter Nita lalu menekannya ke lengan Sandra yang segera berteriak hebat.


"Seel!!!!"


"Tak sakit bukan?!" tanya Rusel santai menarik kembali jarumnya kembali. Sandra langsung memukul lengannya meluapkan rasa kesal dan emosi.


"Kau mau membunuhku. ha??"


"Kau masih hidup!" jawab Rusel memberikan alat injeksi itu pada Dokter Nita yang terdiam tak percaya ada pasangan seperti ini. yang satunya begitu dingin dan yang satunya liar bak ular betina.


"Awas saja kau." umpat Sandra mengelus lengannya yang masih nyeri. ia tak bisa membayangkan rasa sakit awal di tusuk benda itu sampai ke nyawanya. itulah ucapan lebay Sandra yang terlintas.


"Baiklah! semua Vitamin dan obat lainnya akan ku resepkan!"


"Terimakasih!" ucap Rusel memang selalu bijaksana dalam melakukan apapun. ia tak arogan bahkan sikapnya selalu hangat pada orang-orang yang memang menghormatinya.


Sandra turun dari ranjang USG lalu melangkah keluar meninggalkan Rusel yang tengah berbicara dengan Dokter Nita soal kehamilannya.


"Nona!"


Simob memberikan tas Sandra yang segera mengambilnya. wajah masam wanita ini sudah membuktikan bagaimana suasana hatinya sekarang.


"Dia itu suka berubah-ubah.sangat menyebalkan." umpat Sandra seraya mengambil ponselnya. Mata Sandra terpaku akan satu notif yang terlihat panjang berderet di layar benda pipih itu.


"San! malam nanti aku tunggu kau di Club, aku akan jelaskan semuanya. aku bersumpah tak akan berbuat yang macam-macam."


Sandra terdiam sesaat. apa mungkin Daniel memang bukan ayah dari anaknya? tapi. hanya pria itu yang dekat dengannya selama ini.


"Apa aku setuju saja?!"


"Setuju apa?"


"Eh!" Sandra tersentak saat bahunya di peggang Rusel yang sudah berdiri di belakangnya. Wajah Sandra langsung pucat segera mematikan ponselnya.


"Sel!"


"Ada apa?" tanya Rusel lagi saat merasakan ada kegugupan di tatapan Sandra.


"A.. itu. aku lapar!"

__ADS_1


......


Vote and Like Sayang..


__ADS_2