Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Dendam yang membara!


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. para pelayan di Kediaman Hatomo terlihat berkeliaran di bagian belakang untuk memangkas rumput yang mulai rimbun. begitu juga dengan para pengawal yang tetap berdiri di tempat mereka menjaga.


Pagi ini tiba-tiba saja tak ada pertengkaran di Kediaman Hatomo. semuanya sunyi seakan hening menjadi asing. ntah itu hanya sesaat saja merekapun tak tahu.


"Erin!!! ayo turun, kau harus makan!!"


Suara Nyonya Tantri seperti biasa memanggil putrinya. ia duduk di atas kursi meja makan dengan Bibik Iyem yang menghidangkan segalanya.


"Bik! panggilkan Erina untuk sarapan!"


"Baik. Nyonya!"


Bibik Iyem melangkah ke arah tangga namun ia segera terhenti saat melihat Erina sudah berjalan turun ke bawah. pakaian wanita itu sudah rapi menenteng jas putih kebanggaannya.


"Selamat pagi. Nona!"


"Pagi, Bik." jawab Erina seadanya. ia melewati Bibik Iyem dengan segera mendekati Nyonya Tantri yang langsung menyodorkan makanan ke atas mejanya.


"Makanlah! kau ada jadwal operasi hari ini-bukan?"


"Iya. Ma!"


Erina terlihat begitu murung dan memaksakan diri. kemendungan di wajahnya begitu terlihat membuat Nyonya Tantri mulai menyentuh bahunya lembut.


"Ada apa?"


"Tidak ada. aku hanya merasa kurang sehat." keluh Erina menipiskan bibirnya.


"Kalau begitu kau istirahat saja. biarkan Dokter lain menggantikanmu." begitu perhatian.


"Ma! ini jadwalku, selama ini aku yang mengontrol kehamilannya. tak enak rasanya mundur."


"Erin! jika kau sakit maka operasinya juga tak akan berjalan lancar, kau akan membahayakan mereka juga, Nak." tegur Nyonya Tantri tapi Erina menggenggam tangan Nyonya Tantri yang ada di bahunya.


"Aku tak apa. Ma! lagi pula ini jadwal terakhir. setelah itu aku akan kembali ke Amerika."


"Apa?" Nyonya Tantri syok menepuk bahu Erina.


"Kenapa kau mengatakannya baru sekarang?"


"Ma! ini mendadak, Klien-ku disana juga mulai mendesak. mau tak mau aku harus kesana. Ma!" jawab Erina seraya memakan makananya.


Terlihat rasa tak terima itu terpancar dari mata tegas Nyonya Tantri yang menghela nafas dalam.


"Adikmu lama tak pulang bahkan hampir bertahun. dan sekarang kau juga akan pergi."


"Ma! Sandra ada disini, dia.."


"Jangan membahas tentang anak itu." gumam Nyonya Tantri malas. ia beralih meminum Jus jeruknya mengalihkan kegeraman.


"Ma! Nenek tak akan marah jika Mama.."


"Erina! kau tahu sendiri bagaimana Keluarga Papamu, mereka akan menyalahkan Mama karna tak bisa mendidik anak-anak dengan baik."


"Tapi, Ma.."


"Sudah. kau makan saja." sela Nyonya Tantri tak mau membantah. Namun, ia teringat soal janjinya dengan Keluarga Hardian yang selama ini berteman baik.


"Erin!"


"Iya. Ma?" tanya Erina seraya mengunyah makananya.


"Malam ini Mama ingin kamu datang ke Pesta Ulang Tahun. teman Mama."


Erina spontan berhenti mengunyah dengan wajah yang terlihat termenggu.


"Mama akan mengenalkan-mu pada seorang pria yang tak kau sangka siapa dia. Erin."


"Ma!" lirih Erin meletakan baik-baik garpu dan sendok-nya. ia menarik nafas dalam mencoba menetralkan hati.


"Aku mau fokus ke pekerjaanku. dan.."


"Erin! kau sudah berumur 27 tahun. Delina adikmu juga tak ada niatan untuk menikah, dan kau sekarang juga menolak?"


Erina diam. bahkan ia tak mampu mengeluarkan satu kata bantahan sama sekali.


"Mau. ya?"


"Ma! Erin mau fokus dulu."


"Nak. ini hanya pertemuan biasa, kalau cocok kalian menikah. jika tidak ya tak usah, Sayang." selanya lagi hingga Erina hanya diam. kebungkamannya di anggap persetujuan oleh Nyonya Tantri yang tersenyum mengusap kepala Erina.


"Mama akan usahakan yang terbaik untukmu. hm?"

__ADS_1


Erina hanya mengangguk dikala hati yang berkecamuk. ntah sampai kapan ia akan seperti ini Erina-pun tak tahu menahu.


"Kapan kau mau USG?"


"Memangnya kenapa? Tumben Papa mau bertanya. biasanya sok tak tahu."


Suara ketus Sandra yang tengah berbincang dengan Tuan Hatomo yang tadi tiba-tiba menghampirinya saat bersama Rusel.


"Papa punya waktu luang nanti. mungkin bisa menemuimu."


"Benarkah?" tanya Sandra mulai menggandeng lengan Tuan Hatomo yang baru kali ini melampaui batas dirinya dulu.


"Hm. apa sudah selesai kau USG?"


"Sudah. Rusel mengajakku kesana beberapa minggu ini dan dia yang tahu hasil pemeriksaanya." jawab Sandra mengingat-ingat.


Tuan Hatomo mengangguk membawa Sandra ke arah meja makan. tentu tatapan tak suka Nyonya Tantri langsung mencegat mereka tapi Sandra hanya acuh.


"Duduklah!"


"Papa juga."


Ucap Sandra menarik kursi untuk Papanya. Wajah cantik itu terlihat sangat berbeda dari biasa dan lebih senang memancarkan auranya.


"Bik! mana susu kedelainya?"


"Sebentar. Non!"


Bibik Iyem melangkah pergi ke dapur untuk mengambil segelas susu kedelai kesukaan Sandra yang masih menunggu. Ia mencomot paha ayam manis di tengah tatapan tajam Nyonya Tantri.


"Makan itu harus penuh etika." sindirnya seraya mengambilkan udang asam ke piring Erina yang kikuk.


"Makanlah. Nak!"


"I..iya. Ma!" jawab Erina mengangguk melanjutkan suapannya. ia melirik Sandra yang terlihat santai-santai saja memakan daging ayam manis enak itu.


"Kau mau yang mana lagi?"


"Papa tenang saja. ini tak akan ku sisakan."


Tuan Hatomo mengulum senyum simpul mendengar jawaban Sandra barusan. tangannya terulur ingin menyentuh kepala Sandra tapi seketika tertahan antara kaku dan canggung.


"Dia putriku. tapi rasanya aku sangat jauh darinya."


Tentu semua itu terlihat menyedihkan di mata elang Rusel yang baru turun setelah mandi tadi. ia melihat jika Tuan Hatomo masih canggung bersama Sandra.


"Pa!"


"A.. iya?"


Tuan Hatomo menurunkan tangannya yang beralih tersembunyi di bawah meja.


"Makanlah! atau nanti tak akan ke bagian." ucap Sandra seraya menerima segelas susu kedelai dari Bibik Iyem yang tersenyum melihat nafsu makan Nonanya selalu membara.


"Anak-anak jaman sekarang memang sangat tak berbudi. sudah jelas di meja ini tak hanya dia tetapi masih saja tak ada sopan santun." ketus Nyonya Tantri menghakimi.


"Jangan dengarkan Mamamu. makan saja." bisik Tuan Hatomo di angguki Sandra yang makan dengan lahap. ia terlihat sangat lapar karna semalam Rusel dan dirinya menghabiskan waktu panjang yang menggairahkan.


"Erin! malam ini kau harus datang. ya?"


"Iya. Ma!" berat hati Erina menjawab. Tuan Hatomo terdiam sesaat begitu juga Sandra yang mulai menuju ke arah dugaanya.


"Kau mau membawanya kemana?"


"Suamiku! aku juga ingin anakku memiliki seseorang yang bisa menjaganya, dan selalu ada bersamanya. tak seperti seseorang yang mendapatkan sesuatu dengan cara menyedihkan." jawab Nyonya Tantri melirik Sandra dengan tatapan tak bersahabat.


"Tantri! jangan memulai lagi."


"Aku tak memulai. apa ada yang tersinggung?" imbuhnya lagi santai dan tenang.


"Sayang!"


Sandra hampir saja mau tersedak mendengar suara berat milik seseorang di belakang sana mengalun seksi di telinganya. mata Sandra begitu membulat melihat Rusel yang dengan entengnya melangkah mendekatinya.


"Sayang! kau makan tak mengajakku."


"K..kau sakit?" lirih Sandra seakan masih tak mempercayainya. Rusel tak pernah memanggilnya dengan semanis itu selain kalau tak sedang bercinta.


"Makanlah yang banyak. malam nanti kita harus berangkat."


"Kemana?" tanya Tuan Hatomo menyambar. Erina yang menunduk-pun hanya diam merasa tak rela dan sakit hati.


Rusel melangkah duduk di samping Sandra dengan jarak satu dua kursi dari Erina yang gugup.

__ADS_1


"Bertemu keluargaku!"


"A..apa??" pekik Sandra hebat dengan wajah memucat. ia terlihat belum siap tapi apalah daya Rusel yang tadi mendapat panggilan dari Ibunya agar segera pulang.


"Ibu menyuruh kau datang secepatnya."


"S..Sel! yang benar saja, aku tak ada persiapan apapun." lirih Sandra gelisah dan cemas jika nanti Keluarga Rusel tak menyukainya.


"Cih! baru seperti ini saja kau mundur." ketus Nyonya Tantri memancing emosi Sandra.


"Kau kalau tak tahu apapun lebih baik diam."


"Apa begini caramu bicara pada Ibu Ratu Dezon nanti?"


"Tidak. ini khusus untukmu." jawab Sandra tak kalah pedas hingga Nyonya Tantri diam menahan kedongkolan. mungkin jika Sandra mau melunak, ia akan berberat hati menerimanya.


"Bagaimana kalau kau ajak Erina saja!"


"Ini bukan urusan kita. Tantri." sela Tuan Hatomo tajam.


"Suamiku. aku hanya bercanda, kau tak perlu terlalu serius."


"Kalau begitu. Erina dengan Simob saja!" sambar Sandra membuat Erina terperanjat begitu juga Simob yang sedikit tersedak di luar sana.


"Kau jangan membual."


"Jangan terlalu serius. Nyonya! aku hanya bercanda." timpal Sandra membalikan perkataan Nyonya Tantri tadi.


Keduanya saling pandang sengit sampai Tuan Hatomo mengambil nafas dalam lalu menatap Rusel dengan isyarat ingin bicara.


"Aku pergi dulu."


"Kemana?" tanya Sandra menahan paha Rusel yang ingin bangkit dari duduknya.


Letak tangan Sandra begitu intim ke paha kokoh pria ini membuat Erina menatapnya nanar dan sendu.


"Ada yang ingin ku bicarakan dengan Papamu."


"Jangan lama-lama. selesai bicara kalian harus makan."


"Hm."


Sandra memandangi kepergian Rusel dan Tuan Hatomo yang sepertinya begitu serius. ntah apa yang akan mereka bahas Sandra-pun tak tahu.


"Haiss! kenapa secepat ini? aku belum siap menemui mereka."


Batin Sandra frustasi. ia belum tahu bagaimana Keluarga Kerajaan Dezon dan bagaimana tradisi disana?! bisa saja nanti ia kembali di hempaskan.


..............


Para aparat tentara yang di kerahkan ke daerah Bukit Louncheng ini tampak mengepung pemukiman kecil yang sudah di ketahui sebagai sarang pemberontakan.


Para penjaga Pegunungan Kulfun juga ikut serta memimpin operasi penangkapan mereka yang sebagian tak lagi bisa melarikan diri.


"Tembakan pertama. Target satu keluar!!"


Suara Team Sniper yang tengah menginterupsi dari atas pohon sana. mereka membidik ke arah rumah tua yang di duga menjadi tempat persembunyian pria itu selama ini.


"Aleno!!! tempatmu kami kepung. dan segeralah keluar!!!" bagian penyergab yang sudah berdiri di setiap sudut luar Rumah sepetak di tengah hutan gersang ini.


Para warga pemukiman sudah di evakuasi dari semalam dengan beberapa bawahan Klan tato ular itu sudah di bekap aparat Tentara.


Pria yang mereka himbau dengan kasar itu nyatanya tengah duduk dengan santai di dalam rumah. Kepalannya menguat dengan sorot mata berubah kelam tak bersahabat.


"RUSEL." tekannya dengan suara benar-benar menyimpan kemurkaan. Ia melihat rongsokan peluru yang di tembakan kesini semalam membuat darah anak buahnya tertumpah na'as.


Oblin yang terkena tembakan di kaki di sudut sana hanya bisa diam tiarap diantara tumpukan mayat anggota mereka. ia sudah tak bisa memberi perlawanan karna tempat ini sudah di kepung.


"T. Tuan. a..anda harus pergi." lirih Oblin menatap sosok yang memiliki tubuh sangar itu. tentu dia juga terkena tembakan tapi fisiknya lebih kuat dari yang lainnya.


"Dia akan menerima balasan setimpal. itu sumpahku." geramnya membara mencengkram kaki meja yang langsung remuk karna tangannya.


"T..tuan. pergilah!"


Dia hanya diam tak bergeming. satu tembakan peringatan sudah terdengar diatas sana dan berarti mereka akan segera masuk ke dalam sini.


Rusel begitu licik sampai memberi tahu dimana saja letak senjata dan perangkapnya hingga aparat sialan ini bisa membobol semudah itu. Tapi, jelas ia tak akan melepaskan pria itu sampai keduanya saling menentukan hidup atau mati di tangan satu sama lain.


"Kau akan menangis darah karna ini. Ketua sialan!!"


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2