
Obor menyala agak redup itu ia bawa masuk ke dalam sebuah lorong sunyi dan berair. aroma sesak dan lembab di bawah ini benar-benar tak bisa membuatnya bernafas lega.
Namun. karna dorongan dari hati nurani seorang anak, ia harus melampaui semuanya termasuk diam-diam melewati jalan pembuangan air hanya untuk menemui sang Momy.
"Mom!" panggil Lucas saat sudah ada di sebuah pagar besi yang di kunci. ini hanya satu-satunya jalan tak di jaga ketat menuju penjara Gelap.
"Mom! kemana aku akan masuk?" Lucas sedikit mengetuk pagar itu hingga menyampaikan gelombang suara.
Tentu suaranya terdengar jelas karna dinding Penjara dan saluran pembuangan ini menyatu.
"L..Lucas!"
"Mom! Momy tenang saja. aku akan berusaha untuk..."
"Jangan pikirkan itu."
Lucas terdiam. matanya terlihat benar-benar sendu tak bisa membayangkan keadaan wanita itu di dalam sana.
"Mom!"
"Aku tak perduli jika aku hidup atau mati disini. tapi kau, .. kau harus menjadi seorang Raja Dezon apapun yang terjadi."
"Mom!" lirih Lucas mencengkram batang obornya. sebegitu ambisi Momynya untuk menjadikannya seorang raja sudah terkobar nyata sedari dulu. Lucas juga tak tahu artinya apa.
"Kau harus mengambil hak-mu."
"M..maksud? Momy!" tanya Lucas tersentak.
"Ayahmu di bunuh oleh Raja Mikes!"
Degg...
Lucas terkejut bukan main mendengar ucapan Nyonya Loure yang terkesan serak dan menahan sakit. Obor yang ada di tangannya terjatuh tapi tak padam ke bawah.
"M..Mom..."
"Ayahmu meninggal saat aku mengandungmu. di saat itu Raja Mikes langsung membunuhnya karna perebutan tahta."
Lucas hanya diam dengan hati yang berdenyut. apa Raja Mikes setega itu? tapi. bukankah Ayahnya menjnggal di mendan perang dan proses pemakamannya juga di laksanakan secara terhomat. itu yang di katakan Ratu Bellarosa padanya.
"Mom! t..tapi Ratu bilang kalau.."
__ADS_1
"Jangan mempercayainya!!" bantah Nyonya Loure terdengar emosi dan geram.
"Dia hanya ingin menjaga kestabilan Kerajaan! seorang Ratu harus bisa menyimpan aib dan semuah jalan buruk menjaga ketenagan rakyat. mereka belagak bisa menyelesaikan masalah tapi mereka mengorbankan orang lain."
Lucas tak mampu lagi berkata-kata. ia hanya berdiri menatap kilapan cahaya obor yang mulai meredup menyisakan bayang-bayang senja.
"Dia tak memikirkan wantia hamil tua yang di tinggal suaminya! aku tak butuh dia nikahi dan semua kehormatan ini tapi aku ingin mereka menghargai-mu." suaranya mulai bergetar dan serak. sungguh Lucas baru kali ini merasakan kesedihan Momynya yang selama ini terlihat sangat tangguh membesarkannya.
"M..Mom!"
"Ak..aku ingin kau bisa membuat mereka merasakan itu. mereka harus tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang begitu di cintai." ucap Nyonya Loure mendorong ego putranya. ia tak perduli harus mati disini tapi dendam itu terbalaskan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Lucas terkesan sudah lebih datar dan berkomitmen. tentu semua itulah yang sangat di nantikan Nyonya Loure yang ingin membalas rasa sakitnya.
"Buat Kerajaan diambang kehancuran hingga mereka hanya bisa memilih dua jalan yang sama-sama busuk."
............
Jam sudah menunjukan pukul 1 malam dan sedari waktu berputar ruangan megah yang elegan ini selalu di buat sesak dan panas oleh aksi yang di lakukan sepasang pasutri di atas sofa sana.
Nafas yang memburu mengiringi decipan kulit yang beradu kencang dengan pekikan tertahan dari sosok wanita cantik yang berpeggangan ke punggung Sofa itu.
"S...Sel!!!" jeritan kenikmatan tak tertahankan. hujaman menggila ini mampu membuat batin Sandra pecah berkali-kali di lempar ke nirwana sana.
"S..Saa.."
"K..kau... S..Sel!" racau Sandra tak jelas berpeggangan ke lengan kekar Rusel yang tengah bergerak cepat di belakang sana. kedua tangan kekar itu meremas dua daging kenyal yang tampak berguncang karna hentakan dahsyat darinya.
"A..aku.. S..Sel aku..." Sandra menggeleng mengigit bibir bawahnya di kala ia ingin mendahului.
"B..Bersama.. Sssayang!"
Rusel semakin menggila mengejar pencapaian Sandra membuat deritan sofa ini terdengar mengerikan. Rusel menyeringit di kala merasakan ia lagi-lagi akan melepaskan lahar panas menyiksa ini ke dalam sana.
"Sel!!" jerit Sandra hebat mencengkram lengannya kuat.
"Ss..Shittt!" erang Rusel menekan pusaka perkasa itu beberapa kali karna merasa tertarik ke dalamnya. tubuh Sandra bertekuk hebat menggelijang beberapa kali karna sensasi gila ini menjalar di setiap penjuru kulitnya.
"S..Sel!"
Lirih Sandra terengah. Rusel meraup tubuhnya ringan seraya mendudukan tubuh ke atas Sofa dengan Sandra yang ada di pangkuannya.
__ADS_1
Tubuh itu masih menyatu dengan keringat bercampur satu sama lain. Keduanya terlihat saling mengatur nafas dengan kepala Sandra tersandar ke bahu bidang berotot Sang suami.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Rusel mengusap perut bulat bengkak Sandra yang terlihat semakin menambah kesan Seksi di tubuh Sandra. kadang Rusel di buat Khilaf untuk terus berlanjut.
"Tidak. Sel! hanya saja pinggangku agak pegal."
"Terimakasih. kau selalu membuatku candu." bisik Rusel mengecup bahu polos Sandra yang tersenyum kecil. ia hanya memberi Sandra waktu untuk bernafas selama 15 menit di setiap ronde dan nyatanya Sandra-pun tak bisa lepas, ia juga menginginkannya.
"Tidurlah!"
"Sel! tubuh kita lengket, aku mau mandi dulu." ingin beranjak bangun tapi Rusel mencengkalnya.
"Tunggu sebentar. panas tubuhmu masih belum reda, nanti aku yang akan melakukannya." jawab Rusel membenamkan wajahnya ke ceruk leher jenjang Sandra yang di penuhi bekas kismark darinya.
"Kau tak usah mandi."
"Kenapa?" gumam Sandra sayu-sayu membuka matanya menatap langit kamar yang begitu megah dan mewah di penuhi relief dan lampu-lampu tidur yang remang.
"Aku suka aroma tubuhmu."
"Sel! kau jangan mulai lagi." decah Sandra saat Rusel mengendus lehernya. berawal dari endusan sampai pada hentakan di bawah sana menimbulkan percikan gairah.
"Kau lelah?"
"Hm.. lihat jam di sana!" Menunjuk ke arah jam di dinding hingga benar saja mereka sudah bercinta sangat lama tapi ntah kenapa masih saja terasa ingin lagi dan lagi.
"Baiklah. aku lepas!"
"Pelan-pelan!"
Rusel mengangkat paha Sandra hingga perlahan ular berbisa itu melepaskan diri cukup membuat Sandra meremang.
"Apa perutmu sakit?"
"Tidak. aku mau tidur. Sel!" gumam Sandra sudah tak mampu menahan kantuk.
Ntah masih dalam sihir cinta dan gairah itu. Rusel sangat enggan melepas Sandra dan bahkan rasanya ia ingin selalu menghabiskan waktu dengan wanita ini.
Setiap detikan jam beradu menghadirkan rasa khawatir baginya jika nanti ia tak bisa memeluk tubuh ini lagi bahkan menikmati setiap masa dengan seorang Sandra.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..