Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Kedatangan Daniel!


__ADS_3

Masih di taman yang sama. panorama indah dari tatanan bunga-bunga sana menghadirkan kesan romantis penuh dengan misteri yang lengkap.


Keadaan tak lah berbeda dari sebelumnya. hanya saja deru nafas dan sentuhan dua mahluk itu semakin terasa dalam menyeruk ke jiwa masing-masing.


Rusel tak sadar begitu juga dengan Sandra yang larut dalam pergumulan mereka. bahkan, Rusel mengangkat paha Sandra keatas pangkuannya dengan bibir masih bertaut mesra tak ingin terlepas.


"Enggh!!" Sandra melenguh kecil saat gigitan gemas Rusel ke sudut bibirnya. hembusan nafas keduanya lebih berat bahkan tersengal karna dorongan hasrat yang kuat.


"S..Sel!"


lirihan lemah Sandra menggelijang saat bagian bokongnya di remas tangan besar Rusel yang tak bisa menahan untuk tak meraba segala yang begitu menggodanya.


"Kau selalu saja menyiksaku." serak Rusel menyatukan kening mereka dengan deru nafas saling menerpa wajah masing-masing. bibir yang basah bahkan tautan saliva itu masih menjadi penghubung.


"S..Sel!"


"Hm." gumam Rusel berat mencoba mengatur nafas. ia menarik kepala Sandra agar terbenam ke dadanya yang berdesir hebat.


Sungguh Sandra merasa panas dingin saat ada yang menjanggal di pahanya.ia tak pernah sebelumnya melihat pasak bumi laki-laki itu.


"S..Sel!"


"Hm." dengan mata terpejam mengontrol aliran darahnya yang menggebu.


"I..itumu..."


"Jangan bergerak!" serak Rusel menekan pinggang Sandra agar tak bergerak. tapi, Sandra masih saja tak nyaman sampai menekan pusaka hebatnya di dalam sana.


"S..Sel!" gugup Sandra menyembunyikan wajah merah tomatnya ke ceruk leher Rusel yang menghela nafas membuka matanya. gradasi kehijauan itu sudah lebih bisa mengontrol diri.


"Kau mau pulang sekarang?"


"T..tapi itu..."


"Ini tak masalah." ringan Rusel tak sejalan dengan wajahnya yang meradang merah. bahkan kuping pria ini terlihat dijalari hasrat keras.


"A..apa kau..."


"Kau mau menuntaskannya?!"


Glek...


Sandra menelan ludahnya berat langsung bangkit dari pangkuan Rusel. ia terlihat memucat dan salah tingkah dengan pertanyaan pria itu barusan.


"A...aku... k..kita..."


"Kau mau?" goda Rusel menatap tak berkedip wajah merah Sandra yang berusaha tak membahas itu.


"Es krim-ku!!!" pekik Sandra beralih menunjuk es krimnya yang sudah mencair diatas rumput sana.


"Lalu?"


"Ini gara-gara kau!!" geram Sandra melototkan matanya dengan bibir manyun membuat Rusel diam mengisyaratkan Sandra untuk membungkuk.


"A..Apa??" ketus Sandra tak mau.


"Ada sesuatu di wajahmu!"


"B..benarkah?"

__ADS_1


Sandra membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Rusel yang menatap setiap lekuk wajah cantik nakal ini.


"Apa ada kotoran di wajahku?"


Cup...


Mata Sandra melebar saat Rusel mengecup kilas bibirnya begitu saja.


"Kauu..."


"Kau mau pulang atau ingin keluar?!" tanya Rusel seakan tak berbuat apapun. ia melihat ke sekeliling mereka yang mulai didatangi orang lain.


"Kau ini mulai berani. ha?!" geram Sandra kembali berdiri.


"Kau sangat menikmati ciumanku. apa salahnya mencoba lagi. hm?"


Sandra langsung terbongkem diam. ia membuang muka tomatnya ke sembarang arah tak mau melihat tatapan datar menggoda Rusel padanya.


"A..ayo pulang!"


"Kau tak mau me.."


"Suttt! diam." tekan Sandra meletakan jari telunjuknya ke bibir Rusel agar diam jangan mengungkit soal itu lagi. Rusel hanya mengulum senyum samar berdiri di hadapan Sandra.


"Ayo pulang!"


"Kemana?"


"Kau mau ke jalanan?!"


Sandra langsung menekuk wajahnya kesal. pria ini terkadang sungguh membuatnya naik pitam tapi sayangnya ia tak mau membuat masalah lagi.


"Hm."


"Hm. lagi-lagi jawabannya itu." gerutu Sandra menghentikan langkah Rusel.


"Kau bicara sesuatu?"


"Tidak. Ketua! ayo pulang!" jawab Sandra menarik Rusel ke arah mobil Taksi tadi. Simob yang semula tengah berdiri di luar segera masuk kembali ke mobil agar Sandra tak curiga padanya.


"Apa sudah selesai. Nona?"


"Selesai kepalamu!!" ketus Sandra pada Simob yang diam hanya menggeleng memaklumi saja. Tapi, kalau Sandra yang mengatakan itu ia sama sekali tak sakit hati. karna sedari di penginapan ia tahu bagaimana sifat wanita ini.


"Mungkin ini ujian bagi Ketua!"


"Maksudmu apa? ha!!" sambar Sandra tersulut.


"Sudah! kau masuk!" titah Rusel membuka pintu mobil mendorong pelan Sandra masuk duduk kembali ke kursinya.


"Kau ganti saja bawahanmu. Sel!"


"Aku tak bisa di gantikan. Nona!"


"Seel!!!" rengek Sandra ingin sekali menjambaknya. Rusel hanya diam menggeleng mengisyaratkan Sandra untuk diam dan jangan banyak bicara.


"Apa kita pulang. Ketua?"


"Hm."

__ADS_1


Simob mengangguk dengan mobil yang melaju stabil kembali ke arah jalan pulang. suasana hati Sandra sedang baik hingga ia menyandarkan kepalanya ke dada bidang Rusel yang mengelus kepalanya hangat kembali memanjakannya.


"Tidurlah!"


"Emm." Sandra mengangguk memejamkan matanya karna staminanya sudah habis mengomel sedari tadi. tentu tak butuh waktu lama Sandra untuk tidur kalau sudah di koloni begini, dalam beberapa puluh menit saja ia sudah bernafas tenang.


"Ketua!"


"Hm."


Simob agak tak nyaman menyampaikan ini. tapi, ia tak mau menutupi apapun dari Ketuanya.


"Ada apa?"


"Di Kediaman Nona ada pria itu!"


Rusel diam. raut wajahnya tak memperlihatkan apapun selain ketenagan yang selalu jadi khasnya.


"Apa Ketua ingin kami..."


"Lanjutkan saja." tegas Rusel tak masalah. ia memandang wajah damai Sandra yang pastinya tak akan suka tapi Rusel tak ingin membuat semuanya buram begini.


"Baik!"


Simob menyanggupi. ia sangat paham bagaimana Rusel yang begitu Gentle, hal seperti ini tak akan mempengaruhinya.


Setelah beberapa lama di perjalanan. mereka akhirnya sampai ke depan Gerbang Kediaman Hatomo. dua penjaga gerbang sana mempersilahkan mereka masuk ke dalam lingkungan luas ini.


"Kau langsung saja pergi!"


"Bagaimana dengan data tadi. Ketua?!" tanya Simob menanyakan urusan mereka.


"Akan ku hubungi nanti."


Simob mengangguk turun saat mobil sudah berhenti membukakan pintu belakang. Rusel menggendong Sandra dengan ringan dan sangat hati-hati keluar mobil.


"Nona!"


Bibik Iyem yang keluar tertegun melihat Rusel menggendong Nonanya.


"Dia hanya tidur!"


"A.. maaf, Tuan! saya kira Nona pingsan."


Rusel melewati Bibik Iyem yang mengikuti dari belakang. ia masuk ke dalam Kediaman dimana tatapan para pelayan di sini menghunus dirinya.


"Tuan! sebaiknya langsung saja bawa Nona ke kamarnya." lirih Bibik Iyem khawatir jika nanti Daniel yang ada di ruang tamu sana tahu jika Sandra sudah kembali.


"Ehmm.. Sel!" lirih Sandra terganggu dengan suara-suara disini. ia menggeliat semakin membenamkan wajahnya ke ceruk leher kekar Rusel yang hanya diam setia dengan wajah datar mempesona itu.


"Tuan! sebaiknya anda..."


"Sandra!"


degg..


Mata bibik Iyem membulat mendengar suara itu. ia memandang reaksi Rusel yang tak bergurat apapun bahkan ia masih berdiri tegap.


........

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2