Wanita Di Perasingan

Wanita Di Perasingan
Hamil di luar nikah!


__ADS_3

Suara riuh dari sebuah Forum bicara itu benar-benar terdengar sampai ke luar sini. tepat saat memarkirkan mobilnya di Gedung Pubilsh Pers, Sandra sudah di hadang awak media yang meringsek mendekat tak sabar untuk menghujami pertanyaan.


Kilatan kamera itu menerpa wajahnya. Team pengaman juga berusaha mengekang mereka tapi Sandra menolak halus.


"Nona! kenapa baru sekarang?"


"Apa yang terjadi pada anda?"


"Siapa pria ini?"


Tanya mereka beruntun. Rusel yang sempat memakai masker-pun hanya diam berdiri di samping Sandra yang tersenyum kecil.


"Kalian ingin tahu?"


"Yah! apa ini kekasih baru anda?"


Sandra melirik Rusel dari ekor matanya. ia mengukir bibir sebentar lalu kembali menatap mereka tegas.


"Kalau ingin bertanya. tunggu di dalam. kalian akan mendapat kesempatan."


Seketika raut wajah mereka hampa dan tak sabaran. tapi, apalah dayanya. itu adalah prosedur hukum yang harus di jalankan.


Melihat Sandra sudah datang. Kapten Juna dan bawahannya langsung mendekat menerobos keramaian ini.


"Kau datang?"


"Yah. sekarang kemana?"


Kapten Juna mengiring untuk masuk ke dalam Gedung. ia mengamankan suasana yang agak tenang dikala Rusel menghujami tatapan mematikan pada mereka.


Langkah kaki jenjang Sandra beriringan dengan kaki kokoh Rusel yang selalu meliarkan matanya melihat ke sekeliling. bisa saja disini musuh memanfaatkan keadaan dengan menembak atau menyusup diantara keramaian.


"Kenapa kau datang?" bisik Kapten Juna menormalkan wajahnya.


"Ntahlah. aku tak bersalah tapi kenapa harus bersembunyi."


"Kau yakin?"


Sandra hanya diam membuat Kapten Juna mau tak mau bungkam terus mengiring mereka ke dalam Gedung Pers. para anggota polisi sudah berkeliaran disini menatap Sandra dengan beragam arti.


Tapi, ntah kenapa tak ada yang berani memandangnya lama seakan kepala mereka selalu di tekan tunduk.


"Jadi ini Nona muda Hatomo?"


"Cantik. dan seksi." gumam mereka meloloskan pujian dikala Sandra melewatinya untuk pergi ke arah ruangan Forum.


Namun. langkah Sandra terhenti saat melihat Direktur Emberena yang menghampirinya dengan wajah ramah.


"Nona. Sandra!"


"Nyonya Ember!" sapa Sandra akrab memeluk elegan wanita paruh baya dengan wajah muda ini.


Rusel hanya diam walau ia cukup menyeringit melihat sikap Sandra yang lebih tenang dan begitu feminim.


"Apa kabarmu?"


"Baik. buktinya aku masih bernafas. Nyonya." kelakar Sandra membuat keduanya terkekeh kecil menciptakan suasana hening.


Para wartawan yang tadi mengiring juga ikut mengambil momen langka ini untuk pertama kalinya.


Direktur Emberena adalah pemilik Publish Pers. wanita ini kenal baik dengan Sandra yang saat itu sering membantunya untuk mencari berita-berita heboh.


"Tak di sangka. bocah tengil yang selama ini jadi Paparazi akhirnya membuat berita sendiri."


"Yah. aku bosan mengintip terus, apa salahnya ikut turun tangan." jawab Sandra setenang air tak luput memberi senyuman. Tentu Nyonya Ember sangat aneh dikala melihat Sandra seperti ini.


"Kau trauma?"


"Tidak."


"Kenapa tak seperti bocah pecicilan?"


Sandra langsung menyimpul senyum. ia bersusah payah untuk begini hanya demi sosok yang ada di sampingnya sekarang. Akan ia lakukan apapun untuk meringankannya.


"Aku sudah ada di tangan yang tepat. Nyonya!"


"Aku percaya."


Jawab tegas Nyonya Ember melirik Rusel dengan auranya sendiri. manik gradasi kehijauan itu membuatnya cukup untuk memberi salam hormat.


Setelah berbincang cukup lama. Sandra akhirnya di panggil petugas Pers untuk segera masuk karna semuanya sudah siap. tentu ia gugup karna baru pertama kali begini.


Tahu akan kegugupan Sandra. jemari kekar Rusel menelusup diantara jari lentik istrinya.


"Aku ada disini. kau tenang saja."


Sandra mengangguk mengeratkan genggaman ke tangan Rusel yang selalu menopangnya dimana tempat. langkah Sandra perlahan maju seiring dengan pintu ruangan yang di buka oleh Petugas.


"Shitt!"

__ADS_1


Batin Sandra mengumpat saat melihat ruangan luas ini di penuhi para wartawan dan aparat kepolisian. tatapan mata mereka seakan mempertanyakan sesuatu yang Sandra tahu artinya.


Disini ada Komnas hukum dan Team otopsi yang telah menunggu dengan laporannya. Tak lupa Letkol Traniaga yang sudah duduk di kursinya masing-masing.


"Kau yakin ingin melawan mereka?" bisik Nyonya Ember menakuti Sandra yang hanya tersenyum paksa.


"Kau mau taruhan. Nyonya."


"Boleh!"


Sandra berbinar mendengarnya. ia merapat ke arah Nyonya Ember yang menyeringai menunjukan kunci mobilnya.


"Tiger Bold!"


"Deal!" jawab Sandra langsung menarik tanda tanya di benak Rusel yang seperti orang bodoh mendengar bisikan-bisikan ini. ia masih menahan diri untuk tak ikut campur.


"Nona Sandra silahkan naik ke atas tempat yang di sediakan." ucap Dewan Pers mengumumkan.


"Silahkan. Nona! Tuan silahkan duduk di sini."


Ucap petugas mengiring Sandra untuk ke atas. pandangan Rusel terus mengamati langkah wanita itu yang menjauh darinya.


Simob yang sedia di belakang Rusel tengah memberikan kartu pengenal mereka ke Staf Publish.


"Ini dekat dengan Nona. Ketua."


"Hm."


Rusel duduk di kursi yang dekat dengan panggung. diatas sana sudah ada perwakilan dari Keluarga Wantara dan Banyuma yang terlihat menatap Sandra tak bersahabat.


Para Media juga sudah bersiap di tempatnya dengan sorotan kamera mengintai suasana panggung Pers kali ini.


"Baik! pertemuan ini di adakan guna untuk memperjelas dan membuktikan siapa yang bersalah dan kebenaran tuduhan dari masing-masing Keluarga."


Sandra diam terus mendengarkan. ia duduk dengan kedua kaki bertopang tindih tampak lebih santai di samping Direktur Ember yang jadi pihak netral disini.


"Yang terhormat pada Jendral Aguerdta dan Dapartemen penyidik SEPRA. Team otopsi serta Letkol Traniaga yang hadir di disini."


Dewan Pers terlihat fasih menyapa semuanya dengan kalimat politik yang mendukung menampakan seberapa profesional dirinya bicara.


"Silahkan kepada Dapartemen penyidik SEPRA untuk menjelaskan Kasus ini."


Kepala penyidik langsung mengangguk membuka lembaran hasil pengamatan hari itu. tentu Media menyorot langsung ke arahnya.


"Pembunuhan Nona Karina dan Nona Anju dari dua Keluarga, yaitu Wantara dan Banyuma di lakukan pada hari Rabu tanggal 3, bulan ini serta waktu kejadian tepat pukul 5 lewat 30 menit sore hari."


"Dari hasil laporan Team otopsi menyatakan, dua luka di bahu kanan dan kiri milik Nona Karina dan satu luka di punggung kaki Nona Anju, wajah mereka terlihat lebam seperti di tampar sesuai dalam Vidio yang beredar."


"Kau sangat berani. San!" bisik Nyonya Ember menakuti Sandra yang hanya diam tak menyahut apapun. ia hanya membawa kertas yang tadi sempat Rusel berikan padanya.


Jangan banyak bergerak atau menunjukan reaksi berlebihan. semua gerak-gerikmu akan di pantau kamera Media dan Team Struktural Psychologi di setiap sudut."


Sandra langsung melirik ke setiap sudut keramaian dan ia cukup terhenyak melihat beberapa orang berpakaian biasa yang tampak tak mengalihkan pandangan darinya.


"Apa ini rasanya di sidang satu Negara."


Batin Sandra tak menyangka. ia kembali melempar pandangan pada Rusel yang mengisyaratkan agar tetap tenang dan jangan banyak menunjukan kegelisahan.


"Setelah kejadian dari Vidio itu. 30 menit setelahnya kedua wanita ini di temukan tewas di rumah sakit tak jauh dari sana dengan luka sayatan di lidah dan matanya juga di congkel. bagian tangan keduanya patah dan ada sayatan di dekat telinga. total luka di masing-masing tubuh berjumplah 20 dan senjata yang di gunakan termasuk benda tajam."


"Yah! aku minta dia di hukum mati. Pak!" sambung Nyonya Ayani yang merupakan Ibu dari Anju. mata wanita itu terlihat sembab karna menangis.


"Aku tak terima. kematian putriku tak mendapat keadilan." timpal Nyonya Mira yang juga terlihat sama.


Keadaan Sandra sekarang semakin terpojok. semua bukti mengarah padanya karna hari itu Karina dan Anju terbunuh dan ia orang terakhir yang bertemu dengan mereka.


"Bagaimana Nona Sandra? ada yang ingin di bantah."


"Ada!"


Jawab Sandra tegas membuat semua pandangan mengarah padanya.


"Benar saat itu aku memukulnya."


"Dia mengakuinya."


"Yah. ini sudah terbukti."


Desas-desus media terlihat mengambil kesimpulan sendiri. tentu Sandra tetap tenang selalu melirik Rusel yang menghadirkan ke amanan.


"Hari itu dia menemuiku. dan mengatakan kalau aku tak bisa menunjukan Presentasi terbaik di depan Profesor kampus. dan.."


"Dan karna itu kau membunuhnya. kau benar-benar iblis." sambar Nyonya Ayani terlihat marah.


"Nyonya! apa kau memang begitu semenyedihkan ini?"


"Kauu!!"


"Dia menunjukan satu vidio padaku, dimana mereka tengah menganiaya temanku. tentu aku tak akan diam dengan dua anak kalian yang kurang ajar itu." desis Sandra berkata apa adanya.

__ADS_1


"Vidio apa. Nona? dalam pemeriksaan kami. CCTV disana sudah di rusak. jadi.."


"Atas dasar apa kalian menghakimiku jika saat itu tak ada yang melihat kejadiannya. Kalian anggota Pemerintah yang hanya buta mencari informasi kecil seperti ini. butuh berapa bulan lagi kalian bisa mengungkap kebenarannya. ha?"


Mereka diam. Anggota Penyidik SEPRA juga bungkam terlihat malu sendiri.


"Sekarang aku tanya. di saat kejadian pembunuhan itu berlangsung. ada yang tahu aku dimana?"


"Kau di..."


Mereka saling pandang mencari jawaban. Team Penyidik yang semula tak menemukan informasi segera angkat bicara.


"Seharusnya kami yang bertanya. kau tak hadir untuk di introgasi. apa karna takut?"


"Kepala SEPRA! kau pikir saja sekarang, aku yang selalu membuat keributan di kota ini lalu kenapa aku harus takut jika aku tak salah. aku tak datang karna saat itu aku belum tahu akan ada berita seperti ini dan lagi, kekasihku tak memperbolehkanku datang."


"Kekasih?" gumam mereka tak mengerti.


"Yah. dia tahu kalau aku tak suka di bentak, di kasari dan di bandingkan. apalagi kalian pasti akan menyulut emosi karna menuduhku, apa itu cukup?"


"Nona Sandra! lalu dimana anda saat kejadian berlangsung?" tanya Dewan Pers mewakili pertanyaan dari semuanya.


"Aku di kamar Hotel di pusat kota."


"Apa yang kau lakukan disana?"


"Kenapa aku harus memberi tahumu?!" tanya Sandra lagi melempar peluru tepat sasaran. Simob tersenyum kecut melihat Rumput Liar Ketuanya itu tak akan pernah kalah kalau sudah adu mulut.


"Kejadian pembunuhan di Rumah Sakit, saat itu aku di hotel. dan mungkinkah aku terbang ke sana dengan jarak hampir puluhan kilometer?"


Melihat semua orang yang mulai goyah. Nyonya Ayni dan Mira tak bisa diam, mereka tak mau menyianyiakan pengorbanan anak-anaknya.


"Bisa saja kau menyuruh orang lain. bukan?"


"Mana buktimu?" tanya Sandra tegas membuat Letkol Traniaga yang sedari tadi diam merasa Sandra menuruni sifat Nyonya besar Hatomo.


"Kau jangan asal bicara. kita bicara bukti, ada tidak sidik jariku di tubuh mereka? apa ada yang melihat aku melakukannya?"


"Kau jangan berkilah." bantah Nyonya Ayni memperpanas suasana. Para Media sana benar-benar menyukai susana mencekam seperti ini.


"Baik. akan ku buktikan."


"Dia mau apa?" mereka bertanya-tanya saat melihat Sandra menatap kearah Rusel yang diam melirik Guren yang tiba-tiba datang mendekat ke panggung.


"Kenapa Guren disini. Ketua?"


"Biarkan dia bekerja." jawab Rusel duduk bertopang kaki angkuh. ia sudah tahu jika Sandra meminta Guren untuk mencari barang bukti di sekitar taman dan tentu ia diam pura-pura tak tahu saja.


"Apa yang anda ingin buktikan? Nona!" Dewan Pers bingung.


"Kalian lihat saja sendiri."


Guren melangkah menuju layar monitor untuk memperlihatkan Vidio ini. tatapan mata mereka tertuju pada layar diatas panggung yang memperlihatkan Karina dan Anju dan sosok pria berkacamata.


"Itu apa?"


"Ntahlah. kita lihat saja."


Gumam para media terus menghidupkan kameranya. Sandra mengisyaratkan Guren untuk memutarnya Vidionya hingga Nyonya Ayni dan Nyonya Mira tersentak hebat.


"Mereka tengah membuly temanku. lalu menunjukan Vidio itu padaku, aku salah jika membalas mereka lalu bagaimana dengan tindakannya ini. apa di benarkan?"


Mereka mulai ragu di kala melihat Vidio itu. argumen yang tadi beredar seketika meredup lebih fokus pada pembelaan yang Sandra berikan.


"Dan lagi, kau menuduhku membunuhnya. apa tak salah. Nyonya? tak malu selama ini kau mengemis padaku?!" ketus Sandra mengeluarkan ucapan pedasnya membuat Nyonya Ayni dan Nyonya Mira bungkam.


"Jika seperti ini. dia bisa meloloskan diri."


Batin Nyonya Ayni mencari jalan keluar agar bisa kembali memojokan Sandra.


Namun. Nyonya Mira soal satu hal yang pasti akan mempermalukan Sandra. Karina sempat mengatakan aib Sandra yang selama ini di tutupi Kekuarga Hatomo.


"Kalian diam?"


"Aku tak percaya pada wanita BINAL SEPERTIMU."


"Nyonya." sambar Dewan Pers saat ucapan Nyonya Mira melanggar bahasa disini.


"Dia bisa saja membohongi kalian sesuai apa yang telah dia dan keluarganya sembunyikan selama ini."


Sandra terdiam. ia mulai berfikir akan apa yang ingin di nyatakan Nyonya Mira padanya. Para media sana juga terlihat menunggu.


"Dia sudah HAMIL DI LUAR NIKAH!"


Duarr...


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2