
Kobaran api itu menyala-nyala tak bisa di kendalikan. Team pemadam sudah datang kesini di bantu beberapa masyarakat sekitar yang juga syok mendapati Kediaman Hatomo terbakar siang ini.
"Cari orang yang masih di dalam? siapa tahu ada Nyonya Tantri dan putrinya."
"Sudah di cari. tapi tak ada orang, para pelayannya juga sudah di evakuasi."
Desas-desus Warga yang ikut cemas. Mobil Aparat kepolisian berdatangan terutama Mobil Letkol Traniaga yang sungguh tak menyangka ini akan terjadi.
"Kenapa bisa?"
"Letkol! Nona Sandra dan Nyonya Tantri menghilang. Jendral tengah mencari mereka bersama anggota lain." jawab bawahan Letkol Traniaga yang berdiri diantara keramaian orang.
"Syukur mereka tak di dalam."
"Saya yakin ada yang ingin mencelakainya."
Tanpa buang waktu lagi. Letkol Traniaga masuk ke mobilnya untuk membantu pencarian. Ia cemas jika sampai terjadi sesuatu pada Nyonya atau Sandra bisa saja mereka akan terancam.
.........
Dua wanita yang tengah di ikat di dalam mobil itu memberontak dari cengkalan para anggota pria berbadan kekar yang tampak tengah mengemudi.
Ia begitu senang melihat obsesi nyatanya ini telah ia dapatkan walau mengorbankan 10 anak buahnya yang tadi menghadang pengawal Sandra.
"Kau mau apa. ha??" suara Sandra memekik keras. lebam biru di pelipisnya terlihat menyedihkan.
Bukannya marah. Pria bertato dengan luka jahitan di dagu itu bertambah gemas. ntah apa yang Sandra lakukan sampai otaknya sungguh begitu mendambakan sosok liar ini.
"Kau begitu seksi jika marah."
"Bajingan!!" maki Sandra menendang kursi mobil depan dengan kakinya. Kedua tangannya di tahan satu anggota Aleno dan satunya lagi membekap Nyonya Tantri yang tak sadarkan diri karna di bius.
Sandra tak bisa melihat ke sekitar jalan karna kaca Mobil di tutup kain hitam. Sungguh sekarang ia sangat cemas jika Aleno melakukan hal nekat bahkan sampai menyakiti bayinya.
"Sel!"
Batin Sandra hanya tahu nama itu. ia berharap jika Rusel datang dan menyelamatkan mereka, apalagi ia khawatir jika Ibunya di bunuh disini.
Tahu akan pikiran Sandra yang tertuju pada Pria itu. Aleno menyeringai membelokan kemudi. Sandra menatap kaca depan yang memaparkan jalan hutan rimbun tanpa aspal.
"Percuma. Sayang! kau tak akan bertemu suamimu."
"Kau mau apa. ha?" geram Sandra sungguh jijik. jika ia bebas ia ingin sekali meludahi wajah Aleno bahkan mencongkel matanya agar berhenti menatap nakal padanya.
"Aku sangat ingin menundukanmu."
"Kepalamu!!! kau pria terburuk yang pernah-ku temui!!" maki Sandra sangat menukik. Aleno terkekeh pelan terus membelokan kemudinya. Ia menikmati wajah galak Sandra yang terlihat sangat mempesona.
"Selain kau berguna. aku juga ingin kau menari diatasku."
"Sialan ini benar-benar menjijikan."
__ADS_1
Batin Sandra bergidik. darahnya seketika mendidih membayangkan bagaimana tadi Aleno membuat Kediamannya terbakar hingga bisa meloloskan diri dari kejaran anggota suaminya.
Sandra diam. dia melihat kelihaian Aleno mengemudi dan ia yakin pria ini sudah menyiapkan sesuatu untuk mereka.
"Bagaimana bisa aku lolos? perutku mulai nyeri."
Batin Sandra menatap perut besarnya. Ia tak sanggup berlari tapi tak mungkin ia pasrah begitu saja. Ibunya juga pingsan dan tak berdaya untuk berjalan.
"Tuan!" Oblin yang tengah duduk di samping Aleno terlihat menunjukan sesuatu di ponselnya. Raut wajah Aleno berubah kelam dan mendidih panas melihat pasukan Istana sudah bisa mengendalikan perang.
"Dia memang licik." desis Aleno memukul kemudinya geram. Sandra meliriknya tajam hingga matanya melebar melihat penampakan mayat-mayat di lingkungan Istana.
Apa itu pasukan musuh? bagaimana keadaan Istana sekarang? apa Rusel baik-baik saja.
Batin Sandra cemas. Melihat raut kepanikan itu Aleno mencengkram kemudi.
"Kau begitu mencemaskannya."
"Jelas! dia suamiku. dan kau hanya sampah!!"
"Tampar dia!!"
Plakkk..
Pipi Sandra di hantam tangan kasar pria di sampingnya. Tawa Aleno pecah melihat darah di sudut bibir Sandra bersama dengan pipi putih mulus itu lebam dan bengkak.
"Sakit. hm? Sakit!"
"Kau sangat ingin mati. ha?"
"Aku bahkan rela mati dari pada bersamamu." geram Sandra membuat Aleno bertambah murka. Pria itu melajukan mobil cepat seraya mengisyaratkan anak buahnya menyiksa Sandra di belakang Sandra.
"Buat dia menyesal!"
"Dengan senang hati." jawab pria itu menyeringai mengayunkan tangannya beberapa kali menampar wajah Sandra yang menahan semua rasa sakitnya. Rambutnya di tarik lalu di hantamkan ke kursi mobil membuat darah itu menjiprat keluar.
"M..Maaa uhukk!!"
Nyonya Tantri terusik saat aroma amis ini menusuk hidungnya. Perlahan mata itu terbuka dengan sayu melihat langit mobil yabg bergetar karna laju mobil.
"Pukul dengan keras!!"
Bughh..
"Sandraa!!!" teriak Nyonya Tantri terbelalak melihat Sandra di pukuli dengan kasar. Wanita itu menekuk kakinya berusaha melindungi perutnya agar tak terbentur.
"Hentikan!! hentikan. bajingan!!!"
"M..maa.." lirih Sandra dengan nafas terengah. Wajahnya sudah di penuhi lebam dan luka. belum lagi dengan darah di hidung dan pelipisnya yang di benturkan ke besi Mobil.
Nyonya Tantri diam dengan mata mengembun. Sandra berusaha mendorong Nyonya Tantri agar tak terkena pukulan itu.
__ADS_1
"S..Sandra!"
"A..aku tak akan mati secepat ini." jawab Sandra menyunggingkan senyum santainya. Ia melirik tajam Aleno yang semakin tertantang untuk membuat keangkuhan wanita ini jatuh.
"Dan kau... uhukk."
"Sandra." panik Nyonya Tantri melihat Sandra terbatuk darah. Pria yang tadi memukulinya melempar pandangan pada Aleno seakan mengatakan. apa ini tak masalah?
"Dia begitu percaya diri jika pria itu akan datang menyelamatkannya."
"A..Aku benar." jawab Sandra masih terlihat membatu. Tak perduli akan rasa sakit dan cengkraman di lengannya. Ia akan tetap melawan.
"Dia tak akan datang. perjalanan dari sana kesini memakan waktu 2 hari. Sayang."
Sandra hanya diam tersenyum simpul meneggakan kepalanya menatap tajam Aleno yang sesekali melihat jalan. hanya ia yang tahu tempat ini itu karnanya ia yang menyetir.
"Sampai aku mati-pun. aku tak akan menyerah padamu."
"Kita lihat. sampai kapan kau akan mempertahankan sikap keras kepalamu itu."
Aleno terlihat puas melihat keadaan Sandra yang mengenaskan. Ntah kelainan apa yang ia idap sampai menyukai sikap kasar dan memberontak Sandra.
.........
"Kau tak bisa cepat dari ini. ha?" geram Rusel mencengkram kerah baju Pilot Hellychopter yang membawa mereka kembali ke Indo. hanya dengan ini perjalanan mereka bisa mempersingkat waktu walau itu masih belum cukup.
Wajah Pilot itu sampai pucat pasih sedari tadi menahan amukan Princenya.
"Ketua!"
"Bawa benda ini lebih cepat!! kau mengerti!!"
"Ketua!" lerai Simon menarik lengan Rusel agar kembali ke tempat. Wajah tampan itu terlihat mendidih dan pucat terus melihat keluar dengan gebuan rasa cemas bahkan khawatir terjadi sesuatu pada Istrinya.
"Aaaaa Sssialan!!" Rusel mengusap wajahnya kasar. nafasnya memburu terus melihat pemandangan hutan di luar.
"Ketua! anggota kita sudah berpencar. Nona akan segera di temukan."
"Sekali.. sekali saja dia melukainya. aku bersumpah.." geram Rusel dengan tatapan membunuh dan sangat mengerikan. Lucas sampai terdiam merasakan kakinya beku menahan aura kelap Rusel.
"Aku tak akan melepaskannya." geram Rusel terus berusaha menahan emosi. Bagaimana bisa ia tenang dikala istrinya yang tengah hamil ada di tangan musuh? apalagi itu Aleno pria ular yang sangat menjijikan.
Simob terus memantau pesan anggotanya. Lucas salut melihat kerja Simob yang sangat terlatih melacak keberadaan anak-anak buah Aleno.
"Ketua!"
Rusel memejamkan matanya dengan mengambil ketenagan kembali. Ia terlihat tengah melakukan sesuatu yang tak di mengerti oleh Lucas yang seperti orang bodoh disini.
"Aku tahu kalian bisa merasakannya. jaga dia untukku." gumam Rusel lalu membuka matanya melempar pandangan keluar Helly. sekarang ia harus cepat atau semuanya akan terlambat.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..