Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#24 WP?S2


__ADS_3

Satu jam aku berada di dalam Ruangan ini dengan jam dinding di depanku yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Apakah kamu benar-benar tidak akan datang Kassa. Jendela di sebelah kananku mulai menunjukkan rintik hujan yang turun dari langit gelap dengan petir yang mulai memperlihatkan kilatan cahaya putihnya yang membuatku dapat melihat bayangan wajahku pada jendela tersebut.


Aku tidak tahu apakah aliran air pada wajahku yang terpantul dari kaca jendela itu adalah tetesan air hujan di luar sana atau dari pelupuk mataku. Tiba-tiba pintu Kamarku terbuka dan memunculkan sosok dari Deborah yang menunjukkan raut wajah bingung, khawatir dan marah.


Aku mendekatkan diriku kepadanya dengan seribu pertanyaan dalam benakku, tetapi hanya satu kata yang keluar dari bibirku. “Kassa?” Tanyaku kepadanya, Deborah hanya menggelengkan kepalanya membuatku tidak dapat lagi menahan tangisku dan berlari melewati Deborah tanpa menghiraukan teriakan Deborah dari belakangku.


Saat aku berada dalam Ruangan dimana semua Keluarga Pratama sudah hadir di dalam Ruangan yang seharusnya menjadi tempatku dan Angkasa akan mengucapkan janji saling mencintai satu sama lain, mereka melihatku dengan penuh arti dan senyuman sinis, aku melihat kearah Om Royhan yang tersenyum penuh kemenangan.


Tanpa berkata apa-apa aku mempercepat langkahku, tidak peduli lagi dengan riasan wajah dan mungkin bajuku yang sudah kusut. BRUK! Aku menabrak tubuh seseorang, tubuh dengan lapisan jas hitam yang basah dan aroma tubuh yang mengingatkanku akan seseorang. Kassa. Aku menengadahkan wajahku ke atas untuk memastikan siapa orang yang aku tabrak ini.


Dia Kassa, Laki-Laki yang sekarang sedang mengatur napasnya yang terengah-engah seperti habis berlari. “Kamu jahat Kassa, kamu jahat.” Aku memukulnya dengan tanganku pada dada bidangnya membuatnya memelukku dengan erat dan berkali-kali memberikan kecupan pada kepalaku.


"Maafkan aku, maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi, aku berjanji dengan nyawaku.” Ucapnya dengan suara serak dan bergetar. Aku dapat merasakan adanya kemarahan pada suaranya, tetapi bukan itu yang menjadi pikiranku sekarang, aku masih memukulnya, menangis sejadi-jadinya di dadanya. “Jangan lakukan ini lagi kepadaku, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku tidak mau ditinggalkan lagi, aku tidak mau merasa kesepian lagi.” Ucapku dengan tersedu dan setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi, semuanya menjadi gelap dan hanya ada suara samar yang dapat aku dengarkan. “Aku tidak akan meninggalkanmu, sekarang ataupun selamanya.”


***


Aku mendengar samar suara seorang Laki-Laki yang sedang berbicara sendiri dengan nada tinggi dan penuh dengan kemarahan. Aku mencoba membuka mataku perlahan dan melihat ke sekeliling Ruangan dimana aku berada di dalam Kamar yang sebelumnya aku tempati sewaktu menunggu Kassa.

__ADS_1


Aku langsung terbangun dan terduduk di tempat tidur. “Kassa!” Ucapku sedikit berteriak. “Sarah, Sarah aku disini.” Suara Kassa dibelakangku membuatku langsung melihat kearahnya yang langsung memasukkan kembali Handphonenya ke dalam saku celananya.


Dia mendekatiku dan duduk di sebelahku yang sedang terduduk di tepi tempat tidur, dia mendekapku dalam pelukannya. “Maafkan aku Sarah, aku akan menjelaskannya nanti.” Ucapnya mencoba menenangkanku yang menangis tersedu.


Pintu Kamar yang kami tempati terbuka dan memperlihatkan sosok Deborah dari balik pintu itu. “Kak Kassa, mobilnya sudah di depan dan urusan pernikahan Kak Kassa dua hari lagi semua sudah siap dan sebaiknya Kak Sarah istirahat dulu di Rumah.” Ucap Deborah melihatku dan Angkasa bergantian.


Angkasa hanya menganggukkan kepalanya, dia membantuku berdiri dan berjalan dengan posisiku yang masih dalam dekapannya. Kami berjalan melewati Ruangan yang masih dipenuhi oleh Keluarga Pratama. “Jangan pernah ada yang mendekati Sarah satu centi pun, atau aku tidak akan segan-segan menyakiti kalian!” Ucapan Angkasa dengan suara lantang dan penuh penekanan membuat semua orang dalam Ruangan itu terdiam takut.


Angkasa tetap membawaku berjalan keluar menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Deborah untuk mengantarkan kami pulang. Di dalam mobil aku merasa sangat lelah, aku membiarkan tubuhku yang sekarang berada dalam pangkuan Angkasa, dia mendekapku erat membuatku merasa hangat dan nyaman.


***


“Ini semua gara-gara si Tua Bangka itu.” Ucap Angkasa dengan penuh kemarahan. “Dia yang sudah merencanakan perjalanan bisnis omong kosongku di Singapura, membuat semua penerbangan balik ke Indonesia diberhentikan karena alasan cuaca yang sedang buruk, bahkan aku tidak dapat menghubungi siapapun disini.” Lanjutnya lagi.


Aku menggigit bibirku dan menyandarkan kepalaku pada dada Angkasa, mencoba menahan tangisku kembali. Apakah memang aku seharusnya pergi dari kehidupan Angkasa agar dia dan Keluarganya tetap dalam hubungan yang baik-baik saja. Aku merasa bahwa akulah penyebab ketidak harmonisan di dalam Keluarga Pratama.


“Aku mempercepat pernikahan kita dua hari lagi, setelah itu kita akan berangkat ke Paris.” Ucap Angkasa yang membuatku langsung duduk di sebelahnya. “A…apa maksudmu?” Tanyaku kepadanya dan Angkasa pun memposisikan duduknya dan menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur.

__ADS_1


“Iya, aku rasa kamu sudah mendengarnya.” Ucap Angkasa dengan wajah datarnya. “Ta…tapi.” Ucapku terpotong karena tatapan tajam Angkasa yang membuatku takut. “Kamu tidak mau menikah denganku?” Tanyanya penuh penekanan.


“Bukan, bukan begitu.” Ucapku menunduk. “Tetapi aku belum mengatakan apapun soal pernikahan kita ke Ibu Aisyah dan juga.” Ucapku masih menunduk, daguku ditarik Angkasa dengan lembut sehingga mataku menatap mata hitamnya yang tajam.


“Sudah berapa kali aku bilang kepadamu, saat berbicara kepadaku tatap mataku.” Ucapnya penuh penegasan membuatku takut saat sosok dingin dari Angkasa keluar seperti saat ini. Dia menghela napasnya berat. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu takut.” Ucapnya lembut.


“Dan juga apa Sayang, aku akan memberikan apapun yang kamu mau bahkan nyawaku sendiri.” Ucapnya. “A…aku ingin kamu meminta izin kepada Ibu Aisyah dan...Keluarga Indra juga.” Ucapku sedikit berbisik pada kata-kata terakhirku, tetapi aku yakin bahwa Angkasa dapat mendengar perkataanku.


“Oke.” Ucapnya singkat yang membuatku membulatkan mataku melihat keseriusan pada wajahnya. Dia tersenyum dan menyentuh pipiku lembut. “Kamu tahu apapun akan aku lakukan untukmu, apapun itu.” Ucapnya membuatku memeluknya ingin merasakan kehangatan tubuhnya, tetapi dengan cepat aku melepaskan pelukanku dan menepuk lembut jas yang masih digunakannya.


"Kassa, kamu belum mengganti bajumu?” Tanyaku khawatir, tetapi dia hanya tersenyum menatapku. “Aku tidak dapat mengganti bajuku saat kamu memelukku sangat erat waktu kamu tidur tadi.” Ucapnya, aku melihat jam dinding di dalam Ruangan ini yang baru aku sadari ternyata kami sedang berada di dalam Kamar Angkasa. Waktu pada jam dinding tersebut menunjukkan pukul empat pagi, yang artinya Angkasa menggunakan jas yang lembab ini selama kurang lebih enam jam.


“Aku akan menyiapkan air hangat untuk mandimu sekarang, lepaskan bajumu sekarang, aku tidak mau kalau kamu sampai sakit.” Ucapku khawatir, aku langsung turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam Kamar Mandi. Saat aku sedang menyiapkan air hangat di dalam bathtub, aku baru menyadari bahwa pakaian yang aku gunakan sekarang sudah berganti dengan pakaian tidur berwarna merah marun dengan satu tali pada kedua pundakku. Siapa yang menggantikan bajuku.


BERSAMBUNG.


VOMEN YA READERS!!!

__ADS_1


__ADS_2