
“Permisi mau cari siapa?” Tanya Penjaga Gerbang Rumah Dave. “Ehmm saya temannya Dave pak , saya mau bertemu dengan Dave.” Jawabku. “Sudah buat janji Mbak?” Tanyanya lagi. “Sudah Pak.” Ucapku. “Baik tunggu sebentar ya Mbak.” Itulah percakapan yang terjadi saat aku berada di depan rumah Dave, dengan penjagaan yang ketat dari depan dan rumah yang sudah terlihat besar dari jalanan yang pasti membuat orang berpikir bahwa pemiliknya adalah orang yang sangat berada. Hmm harusnya aku mengganti seragam sekolahku yang bau ini tadi.
Tidak lama kemudian gerbang rumah tersebut pun terbuka, dan aku melihat sosok yang membuatku tersenyum itu berjalan mendekati kearahku dengan menggunakan baju kaos berwana putih dan celana pendek berwarna coklat yang tidak mengurangi sedikitpun ketampanannya.
“Udah lama kamu datang Sayang?” Tanya Dave. “Enggak kok.” Jawabku. “Pak Aryo ini pacar saya, diinget-inget ya, jadi kalo nanti-nanti dia kesini langsung dibukain dan disuruh masuk ke dalem ya.” Ucap Dave. “Baik Pak.” Ucap Pak Aryo. “Ayo masuk.”
Dave menggandeng tanganku tanpa menghiraukan wajahku yang kebingungan, tetapi aku hanya diam tidak menanyakan apa-apa kepada laki-laki disebelahku ini, karena aku hanya ingin meluapkan rasa kangenku yang sejak dari sekolah tadi aku tahan.
“Aku kangen Dave.” Dia mendengar itu mengecup dengan lembut keningku dan tidak melupakan kebiasaannya pada pucuk kepalaku. Aku dan Dave pun sudah masuk ke dalam rumahnya, dimana semua isi di dalamnya terlihat sangat mewah dimana didominasi dengan warna putih dan krem. “Kamu tunggu duduk disini dulu ya, aku panggilin Bi Iyem.” Aku hanya menganggukkan kepalaku dan duduk di sofa lembut yang berwarna krem itu. Kenapa aku merasa gak percaya diri ya berada di rumah ini.
“Non Sarah?” Tanya Bi Iyem. “Eh Bi Iyem.” Aku langsung bangkit dari tempat dudukku dan memeluk erat Bi Iyem. “Sarah kangen Bi, Bi Iyem apa kabar?” Ucapku lagi. “Bi Iyem baik Non, Non Sarah apa kabar, udah jadi cantik banget ya sekarang, pantes Aden Dave jatuh cinta gitu sama Non.” Ucap Bi Iyem.
“Biii.” Ucap Dave yang dari tadi berdiri di belakang Bi Iyem. “Hehehe maaf Den, oh iya Non Sarah makan malam disinikan? nanti Bibi masakin yang enak-enak pokoknya ya.” Aku pun melirik kearah Dave dan dia menganggukkan kepalanya. “Iya Bi, Sarah makan disini nanti.” Ucapku.
“Ya udah Bibi balik ke belakang dulu ya, nanti Bi Iyem bawain kue putu kesukaan Non Sarah, Bibi seneng banget waktu denger Non Sarah mau kesini.” Ucap Bi Iyem. “Iya Bi.” Ucapku. “Ya udah Bibi ke belakang ya, permisi Non Den.” Bi Iyem pun pergi meninggalkan aku dan Dave.
__ADS_1
“Kita ke atas yuk.” Aku menganggukkan kepalaku dan Dave langsung menggandeng tanganku dan membawaku ke lantai atas rumahnya.Di lantai atas, Dave membawaku masuk ke dalam kamarnya yang luas dimana terdapat tempat tidur yang mungkin cukup untuk tiga orang diatasnya, satu perangkat komputer dan ada beberapa alat olahraga di dalamnya juga. Entah mengapa pemandangan yang ada di setiap sudut ruangan kamar Dave ini membuat perasaanku menjadi tidak percaya lagi. Aku siapa bisa dekat sama orang seperti Dave.
“Sayang kok diem.” Dave berada di depanku menyadari tingkahku yang berubah semenjak pertama kali aku masuk ke rumahnya. “Gak pa-pa, badan kamu masih sakit.” Aku meletakkan punggung tanganku pada dahinya, dan merasakan sedikit panas pada suhu tubuhnya. “Aku gak pa-pa, udah ada kamu disini buat aku jadi tambah sehat.” Ucapnya menggenggam tanganku yang ada di dahinya dan memberikan cium lembut pada tanganku.
Tidak lama kemudian Bi Iyem datang membawa kue putu dan satu es jeruk, diletakkannya di meja di sebelah kasur Dave. “Makasih ya Bi.” Ucapku. “Iya Non, nanti Bibi panggilin kalo makan malamnya udah siap ya.”Ucap Bi Iyem. “Iya Bi.” Ucapku. “Bibi permisi.” Bi Iyem pun pergi meninggalkanku dan Dave di dalam kamar dan menutup pintu kamar Dave.
“Enakk bangett.” Ucapku setelah makan satu buah kue putu buatan Bi Iyem dan Dave hanya tersenyum melihatku. “Kamu mau?” Dave menganggukkan kepalanya aku pun menyodorkan piring yang berisikan kue putu tersebut kearahnya. “Suapin.” Aku melihatnya tajam, tetapi tetap menyuapinya dengan tangan kananku membuat dia terlihat bahagia. “Makan dari tangan kamu lebih enak.” Ucapnya.
“Dasar, kamu udah minum obat Dave?” Tanyaku melihat ada beberapa obat pada meja disebelah kasurnya. “Udah Sayang.” Jawabnya “Kalo kamu masih gak enak badan, gak pa-pa kalo kamu mau istirahat dulu.” Ucapku. “Gak mau mumpung kamu disini jadi kita berduaan dulu, sini.” Dia memintaku untuk tiduran disebelah kirinya, dengan tangan kirinya sebagai alas kepalaku.
“Sar, Dave.” Aku dan Dave berbicara secara bersamaan sehingga membuat kami berpandangan satu sama lain dan tertawa. “Hahah ya udah kamu mau ngomong apa Dave.” Ucapku. “Kamu dulu aja.” Ucap Dave. “Kamu dulu.” Ucapku tidak mau kalah. Dia mengusap kepalaku dengan telapak tangan kirinya, sehingga membuatku terpaksa lebih mendekat lagi ke tubuhnya. Tubuh Dave wangi banget.
“Kamu gak usah minder melihat semua yang ada di rumahku, ini semua punya orang tuaku, bukan punyaku, aku tidak mau kamu menjadi tidak percaya diri dan menjadi tidak nyaman saat bersamaku karena melihat semua ini.” Ucap Dave yang membuatku memiringkan tubuhku dan menyembunyikan wajahku dipinggiran dadanya.
“Jadi jangan kamu pikirin soal semua ini ya.” Ucapnya lagi. “Iya maaf.” Ucapku. “Gak pa-pa.” Aku mendekatkan lagi tubuhku ke tubuh Dave, meletakkan kepalaku di dada bidangnya. Nyaman sekali.
__ADS_1
“Sar.” Panggil Dave. “Iya?” Jawabku. “Jangan tambah deket lagi nanti yang dibawah bangun tanggung jawab loh.” Ucapnya. “Dave!!!” Aku memukul perutnya sampai dia meringis kesakitan. Setelah itu kami berdua tertawa bersama.
“Dave.” Panggilku. “Iya.” Jawabnya. “Kenapa kamu bisa pindah lagi kesini? Kamu ada masalah dengan orang tuamu?” Tanyaku. Aku mendengar dia menghembuskan napasnya dan memejamkan matanya seakan memikirkan sesuatu. “Kalo kamu belum siap certain ke aku gak pa-pa Dave.” Ucapku mengelus dadanya lembut.
“Orang tuaku sangat mempedulikan status sosial mereka, kehidupan sosial mereka harus mereka jaga dengan baik, mereka tidak ingin nama baik yang mereka bangun selama ini hancur karena hal-hal kecil yang tidak penting menurut mereka, aku sebagai anak tunggal dari keluarga ini dituntut untuk mengikuti setiap apapun kemauan mereka karena itulah aku bersikeras untuk pindah lagi ke negeri ini karena ingin hidup sesuai kemauanku, sesuai passion hidupku bukan berdasarkan keinginan mereka.” Ucap Dave.
“Apakah sekarang hubungan kalian baik-baik aja?” Tanyaku. “Hubungan kami baik-baik saja sayang, walaupun aku tahu mereka selalu mengawasi gerak-gerikku disini.” Ucapnya. “Dave apakah mereka akan menyukaiku?” Tanyaku ragu-ragu. Dave mengubah posisi tidurnya menghadapku, mengelus lembut pipiku dan mengecup keningku.
“Aku pastikan mereka akan menyukaimu Sarah, aku pastikan itu.” Dave mendekatkan wajahnya kearahku, jarinya mengelus lembut bibir tipisku. “Aku mencintaimu Sarah.” Dengan lembut Dave mencium bibirku, lidahnya berusaha untuk masuk ke dalam mulutku, aku membuka perlahan mulutku membuat lidah Dave yang sedari tadi ingin masuk langsung mengabsen satu persatu gigiku.
Tangan Dave mulai turun perlahan dari wajahku kearah leherku dan kancing seragam sekolah yang masih aku gunakan. Wajahnya pun turun ke leherku, menyerukkan wajahnya disana, menghisapnya sehingga menimbulkan kemerahan sebagai tanda kepemilikan, sementara tanganku ikut meremas rambut yang ada di kepalanya. “Dave, akh.” Tangan Dave ternyata sudah berhasil membuka dua kancing seragam sekolahku. Dan tiba-tiba.
“TOK! TOK!, Den Non makan malamnya sudah siap.” Dave yang mendengarkan itu langsung menjatuhkan kepalanya di dadaku dan menghembuskan napasnya kecewa, aku hanya tersenyum melihatnya dan mengusap lembut kepalanya. “Udah yuk makan dulu.” Dia menegakkan kepalanya melihat kearahku dan membisikkan sesuatu ke telingaku. “Nanti lanjut lagi ya.”
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!