Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#39 WP?S2


__ADS_3

Sarah POV.


Aku melihat jam yang tertempel di dinding kamar menunjukkan pukul tujuh malam. Kass, kamu kemana? Aku terbangun dari lamunanku saat mendengar suara ketukan pada pintu kamar. “Nyonya, maaf saya Charles ditugaskan untuk menjemput Nyonya ke acara makan malam.” Ucap Charles dari balik pintu kamarku. “Mohon tunggu sebentar, aku akan bersiap-siap.” Ucapku lesu.


Melihat diriku di depan cermin yang sudah menggunakan dress berwarna merah dengan lengan panjang sampai pergelangan tanganku dan motif bunga pada bagian rokku yang sedikit mengembang. Apakah ini pilihan bajumu untukku malam ini, Kass? aku memoles wajahku senatural mungkin karena aku tahu Kassa tidak terlalu menyukai dandanan ku yang terlalu berlebihan.


Saat itu juga aku merasa sedih lagi karena malam ini aku bukan menghabiskan malam ini bersamanya, melainkan bersama Dave. Apakah kamu ingin aku memastikan akan perasaanku, Kass? Setelah itu aku keluar dari kamar dan mendapatkan Charles yang sudah menunggu di ruang tamu. “Maafkan aku membuatmu menunggu terlalu lama, Charles.” Ucapku. “Tidak apa-apa Nyonya, memang sudah menjadi tugas saya.” Ucapnya sopan.


“Charles, apakah kamu tahu kemana Kassa?” Tanyaku penuh harap. “Maafkan saya Nyonya, saya tidak tahu, setelah Tuan Angkasa meminta saya untuk memesan makanan dan memberikan kotak kepada Nyonya, Tuan tidak memberitahu saya apa-apa, tetapi dapat saya yakinkan kalau Tuan pasti sedang baik-baik saja Nyonya.” Ucap Charles. Aku harap begitu. Aku dan Charles berangkat menuju ke sebuah tempat yang bernama Pur’ – Jean-Francois


Rouquette.


Aku menghembuskan napasku berat setelah Charles membukakan pintu mobil. “Selamat menikmati makan malam anda, Nyonya.” Ucap Charles saat aku sudah turun dari mobil. “Terima kasih, apakah kamu akan ikut masuk, Charles?” Tanyaku.


“Tidak Nyonya, saya akan menunggu disini saja sampai Nyonya selesai.” Ucap Charles yang aku jawab dengan anggukan ku. Aku berjalan masuk ke dalam restoran itu, saat berada di depan pintu masuk, seorang penjaga yang menggunakan jas lengkap berwarna hitam dengan sebuah tablet di tangannya


menanyakan nama reservasi ku. “Hmm atas nama Dave Franco?” Tanyaku kepadanya, penjaga itu pun mulai mengetikkan nama Dave Franco pada list reservasi. “Maaf Nyonya, sepertinya tidak ada reservasi atas nama Dave Franco.” Ucapnya yang membuatku sedikit bingung. Apakah atas nama Kassa?


“Maaf, apakah bisa dibantu reservasi dengan nama Angkasa Pratama?” Ucapku kepada penjaga itu, dia pun mengetikkan lagi nama Angkasa Pratama pada list reservasi restoran. “Oh atas nama Tuan Pratama, baik silahkan masuk Nyonya.” Ucap Penjaga itu.


Dia mengantarku sampai ke sebuah meja yang sudah duduk seorang laki-laki dengan menggunakan jas berwana biru navy senada dengan matanya. Dave. Dave berdiri saat melihatku mendekatinya dan menarik kursi untuk mempersilahkanku duduk, setelah itu dia duduk kembali di kursinya semula yang berhadapan denganku.


“Maaf, aku terlambat.” Ucapku kepada Dave. “Tidak apa-apa Sarah, aku bisa menunggu lebih lama daripada ini untuk kedatanganmu.” Ucapnya tulus kepadaku, tetapi entah mengapa aku sama sekali tidak merasakan apa-apa lagi. “Apakah masih sakit?” Ucapku melihat luka pada wajah Dave yang di sebabkan karena pukulan dari Angkasa tadi pagi.


“Hmm tidak, mungkin ini memang pantas aku dapatkan karena pernah melukaimu tanpa alasan.” Ucapnya menatapku lekat. Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan makanan yang mungkin sudah di pesan terlebih dahulu oleh Angkasa. Kami menikmati hidangan yang sudah disajikan oleh pelayan dalam diam, bahkan aku hanya menyentuh sedikit saja makanan itu karena tidak ada rasa lapar di perutku, sampai akhirnya piring kami di gantikan oleh dessert.

__ADS_1


.


“Dave, a…aku.” Ucapku tetapi di potong oleh Dave. “Jangan katakan apa-apa Sar.” Ucapnya tersenyum kepadaku. “Kalau kamu mencoba memintaku untuk berhenti mencintaimu dan mengejarmu aku tidak akan memenuhinya, karena aku akan terus membuatmu berada di sisiku dengan cara apapun itu.” Ucapnya yang membuatku sedikit terkejut.


“Tetapi.” Lanjutnya lagi dengan suara yang lebih lembut. “Untuk sekarang mungkin aku hanya dapat melihatmu dan melepasmu bahagia bersama dengan laki-laki itu.” Ucapnya penuh penekanan pada kata ‘laki-laki’ itu.


“Kamu menikah dengan laki-laki yang baik Sar, dapat aku lihat dia sangat mencintaimu, kalau aku menjadi dia untuk sekarang ini, mungkin aku akan bersikap egois dan tidak akan membiarkanmu bertemu dengan laki-laki lain bahkan seseorang yang dulu pernah mengisi hatimu.” Ucapnya membuatku meneteskan air mataku.


“Tetapi sekali saja dia menyakitimu dan membuatmu sedih, aku tidak akan tinggal diam, aku akan merebut mu kembali meskipun nyawaku sebagai taruhannya.” Ucapnya dengan rahang yang mengeras.


“Jadi.” Ucap Dave mengambil sebuah kertas dan menyerahkannya kepadaku. “Tolong segera menghubungiku, apabila kamu tersakiti atau bahkan membutuhkan pertolonganku.” Ucapnya dan menyerahkan kartu namanya.


“Te…terima kasih dan maaf.” Ucapku yang tidak dapat berkata apa-apa lagi. “Tidak ada yang harus dimaafkan darimu Sarah, aku lah yang seharusnya meminta maaf kepadamu.” Ucapnya lagi sambil berdiri dari kursinya.


“Boleh aku meminta satu permintaan terakhir?” Tanyanya berdiri di sampingku yang aku jawab dengan anggukan kepalaku. “Boleh aku memelukmu, mungkin untuk yang terakhir kalinya?” Tanyanya lagi yang aku jawab dengan anggukan ku lagi dan berdiri dari tempat dudukku.


Aku duduk kembali di tempat dudukku dan mengambil ponselku dan menekan salah satu nama pada list kontak teleponku. “Ha…halo.” Ucapku pelan menahan tangisku. “Kass, aku ingin pulang, aku ingin pulang bersamamu, jemput aku Kass.” Ucapku memohon. “Tu.” Ucapnya yang terpotong karena tiba-tiba penggilan itu berakhir. Hmm mungkin handphone Kassa habis daya. Aku pun menunggu Kassa dengan hati bahagia dan lega membuatku senyum-senyum dengan sendirinya.


Aku memang sudah gila, gila akan seorang Angkasa Pratama. Laki-laki yang pertama kali bertemu dengannya membuatku sangat ketakutan karena sikapnya yang arogan dan dengan mudahnya bersikap jahat. Sekarang laki-laki itu telah berubah, aku tidak menyangka akan perubahan sikapnya. Bahkan aku sangat merasakan rasa cinta dan sayangnya kepadaku. Angkasa Pratama aku benar-benar mencintaimu.


Aku memakan lagi desert di mejaku karena secara tiba-tiba perutku menjadi lapar. Jam dinding pada restoran menunjukkan jarum pendeknya ke angka 10 yang berarti aku sudah menunggu Angkasa selama dua jam lebih. Aku mencoba menghubungi ponsel Angkasa kembali tetapi masih tersambung kan dengan operator. Kamu kemana Kassa?


“Sorry Madame.” Suara seorang pelayan yang mengagetkanku. “Saya minta maaf Nyonya, apakah ada teman yang akan anda tunggu? Karena restoran kami akan segera tutup.” Ucap pelayan itu sopan. “Hmm, saya sedang menunggu suami saya, apakah saya masih bisa menunggu sebentar lagi?” Tanyaku.


“Baik Nyonya.” Ucap pelayan itu dan berlalu pergi meninggalkanku. Aku menunggu dengan gelisah dimana setiap beberapa menit sekali aku melihat ke arah jam menunggu kedatangan Angkasa dan setiap menit itu juga aku melihat kearah pintu untuk berharap pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Angkasa yang membentangkan tangannya untuk memelukku sekarang.

__ADS_1


Sampai semua pengunjung restoran ini benar-benar tidak ada lagi di meja mereka, aku berangkat dari tempat dudukku menuju ke pintu keluar dimana Charles sudah berdiri di samping mobil. “Apakah anda baik-baik saja Nyonya?” Tanya Charles kepadaku yang aku jawab dengan anggukan kepalaku.


Aku masuk ke dalam mobil dengan pintu yang telah dibuka oleh Charles. “Apakah anda ingin ke tempat yang lain, Nyonya?” Tanya Charles saat dirinya sudah duduk di belakang kemudi. “Aku ingin pulang Charles.” Ucapku dengan lesu. “Baik Nyonya.” Jawab Charles. Selama perjalanan menunju apartemen aku hanya memejamkan mataku, berusaha untuk menenangkan pikiranku tetapi tidak bisa. Apakah kamu membenciku Kass? Apakah rasa itu telah hilang?


“Charles?” Panggilku. “Iya, Nyonya.” Jawab Charles. “Apakah Kassa ada menghubungimu?” Tanyaku penuh harap untuk Charles mengatakan iya. “Maaf Nyonya, Tuan belum ada menghubungi saya lagi.” Jawab Charles yang membuat harapanku hilang.


Sesampainya aku di apartemen, aku langsung menidurkan tubuhku setelah mengecek setiap sudut ruangan untuk kehadiran sosok Angkasa, tetapi semuanya sia-sia, Angkasa sama sekali tidak ada di apartemen. Kemana kamu Kass?


“Sarah.” Terdengar suara seseorang memanggil namaku. “Sarah.” Panggilan kedua itu membuatku terbangun. “Pagi istriku.” Aku langsung duduk dari tidurku dan menatap ke arah sumber suara itu. “Kass!!!” Aku langsung memeluknya yang duduk di pinggiran tempat tidurku.


“Kamu kemana? Tolong jangan tinggalkan aku, maafkan aku…maafkan aku Kass.” Ucapku lirih memeluknya erat, tetapi aku tidak merasakan kehangatan pelukannya. Aku menatap wajahnya yang terlihat sedih. “Kass, kamu kenapa?” Tanyaku khawatir, dia hanya menggelengkan kepalanya dan menyentuh wajahku lembut. “Aku merindukanmu, Sar.” Ucapnya lembut. “Kass, kenapa kamu menangis?” Tanyaku yang langsung mengusap air matanya dengan ibu jariku.


Dia menggelengkan kepalanya kembali. “Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, aku mencintaimu Sarah


Gibran.” Ucapnya.


TOK! TOK! Aku terbangun dari tidurku dengan keringat yang membasahi tubuhku, bahkan baju yang sama saat aku makan malam dengan Dave belum sempat aku ganti. Aku bermimpi?


TOK! TOK! Terdengar lagi suara ketukan pintu kamarku. “Si…siapa?” Tanyaku. “Maaf Nyonya, saya Charles.” Jawab Charles dari balik pintu. Setelah menenangkan diriku, aku berangkat dari tempat tidurku dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi. Kassa belum pulang juga.


Aku membuka pintu dan melihat wajah Charles yang terlihat cemas. “Ada apa Charles?” Tanyaku. “Tu…Tuan Angkasa menghilang.” Ucapnya. “Apa?” Ucapku. “Iya Nyonya, mobil yang dikendarai Tuan Angkasa ditemukan terbakar, tetapi tubuh dari Tuan Angkasa sendiri tidak ditemukan disana.” Ucap Charles yang membuatku terkejut dan menutup mulutku dengan tanganku.


“Apakah kalian sudah coba menghubungi ponselnya atau melacaknya?” Tanyaku lagi. “Ponsel Tuan Angkasa juga ikut terbakar di mobilnya, Nyonya.” Ucapnya yang membuatku terduduk di lantai. Kassa. Tanpa terasa air mataku sudah membasahi pipiku.


“Nyonya baik-baik saja?” Tanya Charles kepadaku dan membantuku untuk berdiri. “Nyonya jangan khawatir kami akan berusaha untuk menemukan Tuan Angkasa.” Ucap Charles lagi. “Tolong kalau sudah ada berita tentang Angkasa segera hubungi saya Charles.” Ucapku memohon. “Baik Nyonya, saya izin pamit terlebih dahulu.” Ucap Charles dengan tergesa-gesa meninggalkanku untuk mencari keberadaan Angkasa.

__ADS_1


Aku mengambil air minum karena tiba-tiba saja tenggorokanku menjadi kering dan mendudukkan diriku sampai aku dikejutkan dengan ponselku yang berbunyi dari dalam kamar, dengan cepat aku sedikit berlari dan mengambil ponselku yang menampilkan nomor yang tidak aku kenal, aku pun menekan tombol hijau pada ponselku dan meletakkannya pada telingaku. “Halo…Sarah.” Suara itu membuatku ketakutan dan terduduk lemah di tepi tempat tidurku. Bara.


TAMAT.


__ADS_2