
“Sarah kamu mau kemana?” Teriak Rizka. Aku melangkahkan kakiku dengan cepat keluar Kelas, setelah membaca isi pesan yang ada di handphone Rizka yang mungkin juga tersebar hampir ke seluruh Siswa di Sekolahku. “Sarah mau kemana? godain kita yuk. Iya, kita ada uang nih, bisalah lihat kamu goyang dikit hahaha. Ih itu cewek centil yang suka ngegodain laki orang ya, jangan deket-deket lah.” Aku menutup telingaku saat mendengar suara-suara dari Siswa-Siswi yang meneriakiku dengan kata-kata yang menyakitkan hatiku. Aku menahan kristal air mata yang sudah terbentuk di pelupuk mataku. Jangan menangis Sarah, jangan menangis.
Aku semakin cepat melangkahkan kakiku hingga sampai di depan Gerbang Sekolah, menghentikan satu taksi, hanya satu tujuanku sekarang yaitu Dave. Aku butuh kamu Dave. Taksi yang aku tumpangi terasa lama sekali berjalan saat air mataku perlahan-lahan mulai membasahi pipiku. “Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah sesaat lagi.”
Berkali-kali aku mencoba menelpon Dave, tetapi nomor handphonenya selalu tidak aktif. Kamu kemana Dave. Akhirnya setelah memakan waktu hampir sekitar satu jam lebih, taksi yang aku tumpangi sampai di depan Gerbang Rumah Dave. “Pak tunggu disini sebentar ya Pak.” Ucapku ke Supir Taksi yang aku tumpangi. “Iya Bu.” Aku keluar dari mobil taksi itu dan langsung membunyikan bel di depan gerbang tersebut dengan tergesa-gesa.
“Pak Aryo, permisi Pak saya mau bertemu Dave.” Ucapku dengan sedikit berteriak dan menyembunyikan suara serak tangisku. “Maaf Mbak, Mbak sudah tidak boleh bertemu lagi dengan Aden Dave.” Ucap Pak Aryo penjaga Gerbang Rumah Dave tersebut. “Kenapa Pak? Pak Aryo kenal sayakan? Saya sering kesini sama Dave.” Ucapku dengan sedikit lirih. “Maafkan saya Mbak Sarah, saya hanya menjalankan perintah dari Tuan dan Nyonya Besar.” Ucap pak Aryo yang juga terlihat ikut prihatin melihatku. Aku terdiam dan tertunduk. Apa yang harus aku lakukan.
Tiba-tiba Gerbang Rumah Dave sedikit terbuka, dan munculah sosok Bi Iyem. “Bi.” Aku langsung memeluk Bi Iyem dengan erat dengan air mata yang sudah membasahi pipiku. “Bi, tolongin Sarah Bi, Sarah mau ketemu Dave.” Bi Iyem mengusap punggungku untuk menenangkanku. “Maaf Non, Bi Iyem gak bisa bantu apa-apa.”
“Tolong Bi, Sarah mau ngejelasin semuanya ke Dave, Dave ada di dalamkan Bi? Sarah mau ketemu sebentar aja.” Aku memohon dengan tangisku yang sudah tidak dapat kubendung lagi. “Aden Dave sudah pergi Non, sekitar satu jam yang lalu sama Tuan dan Nyonya Besar.” Aku mengusap air mataku dan melepas pelukanku ke Bi Iyem.
“Kemana Bi? Kasih tahu Sarah.” Tanyaku. “Mereka sudah pergi ke Bandara untuk bawa Dave tinggal bersama mereka.” Ucap Bi Iyem membuatku kaget. “Ha? Kenapa Bi? Kenapa mendadak?” Badanku terasa lemas saat mendengar perkataan Bi Iyem yang mengatakan bahwa Dave akan pergi meninggalkanku dan mungkin aku tidak akan ada kesempatan bertemu lagi dengannya untuk menjelaskan semuanya.
__ADS_1
“Bi Iyem kurang tahu Non, Tuan dan Nyonya Besar semalam tiba-tiba datang mencari Aden Dave, dan mereka sempat terlihat bertengkar setelah Aden Dave pulang ke Rumah, dan pagi ini mereka membawa Aden Dave ke Bandara untuk tinggal bersama mereka.” Aku yang mendengarkan penjelasan dari Bi Iyem, langsung bergegas masuk lagi ke mobil taksi yang menungguku tadi. “Non Sarah mau kemana?” Aku tidak menjawab teriakan Bi Iyem dan langsung meminta Supir Taksi tadi untuk mengantarkanku ke Bandara. Dave tunggu aku.
Di perjalanan menuju Bandara aku masih berusaha untuk menelpon ke handphone Dave, tetapi nomornya masih saja tetap tidak aktif. Sesampainya di Bandara aku langsung membayar taksiku tadi, dan melangkahkan kakiku dengan cepat menuju ke Penerbangan Luar Negeri. Aku mencari di sekeliling area didepan pintu masuk untuk Penerbangan Luar Negeri, tetapi aku masih tidak menemukan sosok Dave.
Aku melangkahkan kakiku untuk mencoba masuk ke dalam. “Maaf Mbak, Mbak tidak boleh masuk.” Ucap Penjaga pintu masuk Bandara yang menghalangi badanku dengan tangannya. “Pak tolong izinkan saya masuk, saya ingin bertemu seseorang Pak.” Aku sedikit berteriak kepada Penjaga Bandara tersebut yang membuat orang-orang di sekitar kami mengalihkan perhatian mereka kearah kami.
“Maaf Mbak, Mbak tetap tidak bisa masuk, yang boleh masuk hanya yang mempunyai tiket keberangkatan dan paspor.” Ucap Penjaga itu dengan tegas. “Saya mohon Pak, saya mohon izinkan saya masuk, saya mohon.” Aku sedikit memaksa dan mendorong tangannya untuk membiarkanku masuk kedalam dengan air mata yang sudah membasahi wajahku.
“Maaf tetap tidak bisa Mbak, Mbak pergi sekarang atau saya akan bawa Mbak pergi dengan paksa karena telah mengganggu antrian masuk.” Ucap Penjaga tersebut keras dengan wajah yang sudah terlihat kesal. Aku terdiam saat mendengar teriakan kerasnya dan hanya dapat menundukkan kepalaku dengan air mata yang terus mengalir tanpa hentinya. Dave.
Dia melihatku yang berdiri terdiam dan tertunduk dengan isak tangis yang tertahan. “Biarkan dia masuk, saya yang bertanggung jawab.” Ucap Laki-Laki tersebut kepada Penjaga Pintu itu. “Baik Pak.” Aku menegakkan kepalaku dan melihat kearah Laki-Laki tersebut yang baru aku tahu ternyata adalah seorang pilot dengan seragam yang digunakannya.
“Ayo masuk.” Ucapnya pelan dengan tangannya yang mempersilahkanku masuk.
__ADS_1
Aku langsung masuk melewati jalur pemeriksaan logam oleh seorang petugas, dengan mataku yang menyapu ke sekeliling area di dalam Bandara itu. “Kamu mencari siapa?” Tanya Pilot itu karena melihatku yang kebingungan. “Aku mencari temanku Pak, dia akan berangkat ke Australia pagi ini.” Ucapku dengan masih melihat ke semua arah untuk mencari sosok Dave.
“Ikut saya.” Dia menuntunku menuju ke sebuah tempat pusat informasi. “Pagi Desi.” Ucap Pilot tersebut ramah ke Penjaga Wanita yang menjaga pusat informasi tersebut. “Eh Mas Bara, pagi juga Mas, pagi-pagi gini saya udah dikasih yang manis-manis aja ini.” Ucap Penjaga Pusat Informasi tersebut sedikit centil. Pilot tersebut hanya tersenyum, sedangkan aku tidak terlalu memperhatikan percakapan mereka dengan mataku yang terus melihat kesana kemari dengan perasaan cemas. Dave dimana kamu.
“Des, saya mau tanya, untuk schedule penerbangan hari ini ke Australia ada berapa?” Tanya Pilot tersebut yang ternyata bernama Bara. “Ehmm bentar saya cek dulu ya Mas.” Desi si Penjaga Pusat Informasi tersebut sibuk mengetikkan jari-jari lentiknya di keyboard computer didepannya dan aku akhirnya memfokuskan diriku ke percakapan mereka dengan perasaan gelisah dan cemas. “Hari ini penerbangan ke Australia hanya satu Mas, dan itu sudah berangkat sekitar setengah jam yang lalu.” Ucap Wanita Penjaga Pusat Informasi tersebut yang membuatku berdiri lemas dan tertunduk. Dave.
“Kamu mau duduk dulu.” Ucap Pilot tersebut cemas karena melihatku yang tertunduk dan menangis. Dia mendekatkan tangannya dan secara reflek aku menepisnya. “Maaf.” Ucapku dengan masih tertunduk. Aku langsung berjalan meninggalkan Pilot tersebut tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun. Dadaku terasa sesak, air mataku tiada hentinya untuk mengalir.
Maafkan aku Dave. Maafkan aku yang tidak sempat untuk menjelaskan semuanya. Terima kasih karena kamu telah mau mencintaiku yang bahkan diriku sendiri tidak tahu apakah aku pantas untuk dicintai. Terima kasih karena telah mengisi hari-hariku dengan penuh tawa dan cinta. Terima kasih*.*
“Halo Sarah.” Aku menegakkan kepalaku dan terkejut melihat sosok perempuan yang ada di depanku, berdiri dengan angkuhnya yang menggunakan seragam sekolah yang sama denganku. “Sabrina.”
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!