
Cinta melahirkan pengorbanan, entah itu perasaan ataupun fisik dan akan selalu meminta pengorbanan, karena cinta penuh dengan rintangan.
Apa yang harus aku lakukan. “Kamu kenapa Sayang?” Ucap Dave masih memelukku. Aku hanya diam tidak tahu mau berkata-kata apa di depan laki-laki yang aku sayangi ini, aku tidak mau membuatnya sedih dan jujur hal yang aku lihat sebelumnya membuatku sedikit trauma dengan masa laluku. “Kamu kenapa? Apa yang terjadi?” Lanjutnya lagi.
Akhirnya aku berani melepaskan pelukanku di tubuhnya, dan dengan berani menatap wajahnya dengan senyuman. “Gak pa-pa Dave.” Ucapku berusaha bersikap biasa saja. “Kamu yakin?” Tanyanya lagi memegang pundakku dan aku menganggukkan kepalaku. “Ya udah kita masuk lagi yuk.” Dave pun menggandeng tanganku dan membawaku masuk lagi ke dalam Restoran tersebut berkumpul dengan keluarganya.
Saat aku akan duduk kembali di kursiku, aku melihat Om Albert baru datang juga dan akan duduk di kursinya dengan dasi yang sedikit kusut pada kemejanya, tidak lama kemudian Tante Sonia datang bergabung kembali dengan tatapan yang tajam kearahku. Apa dia melihatku?
Aku menundukkan wajahku dan itu disadari oleh Dave. “Kamu kenapa?” Ucap Dave memegang tanganku. “Gak pa-pa Dave, kayaknya aku agak gak enakan badan aja.” Ucapku bohong. “Ya udah kita balik sekarang ya, Ma, Sarah kayaknya lagi gak enak badan, aku balik duluan ya nganterin Sarah.” Ucap Dave “Sarah gak pa-pa?” Ucap Tante Rita sambil berdiri dari tempat duduknya menghampiriku. “Gak pa-pa Tante, mungkin Sarah agak kecapekan aja.” Ucapku sambil melirik kearah Tante Sonia yang masih menatap tajam kearahku.
“Dave, kamu ajak Sarah nginep di rumah aja ya, Sarah mau kan?” Ucap Tante Rita. “Gak perlu repot-repot Tante, gak pa-pa Sarah balik ke rumah aja.” Ucapku menolak dengan sopan. “Gak pa-pa, kasihan kamu jauh kan rumahnya dari sini, atau mau Tante yang ngomongin ke orang tua kamu?” Ucap Tante Rita lagi. “Ehmm biar Sarah aja yang ngomong ke orang tua Sarah Tante.” Ucapku gugup yang mungkin dapat terlihat oleh orang-orang di sekitarku terutama Tante Sonia. “Ya udah, Dave anterin Sarah balik ke rumah kita ya, kalian balik aja dulu gak pa-pa.” Ucap Tante Rita lagi. “Baik Tante, terima kasih.” Ucapku Setelah itu aku dan Dave pun izin pamit dengan semua orang yang ada di meja makan bersama kami. Mengapa perasaanku menjadi tidak enak begini.
Selama perjalanan di mobil aku hanya terdiam tidak berbicara satu kata pun, pikiranku berterbangan, melayang memikirkan kejadian yang baru saja aku lihat tadi sewaktu di Restoran. “Sayang, kamu beneran gak pa-pa? ada yang kamu pikirin sekarang?” Tanya Dave yang menyadarkanku dari lamunanku. “Gak pa-pa Dave, aku hanya kecapekan aja, kamu jangan khawatir ya.” Ucapku sambil mengelus tangannya yang sedari tadi menggenggam tanganku.
__ADS_1
Sesampainya kami di rumah Dave, aku mengikuti Dave masuk ke rumahnya dan aku dimintanya untuk duduk di sofa ruang tamu rumahnya. “Kamu duduk disini dulu ya, aku buatin teh panas dulu.” Dave mengecup keningku, setelah itu dia pergi meninggalkanku menuju ke dapur rumahnya. Apa aku katakan kepada Dave ya apa yang aku lihat tadi, tetapi bagaimana kalau hal itu malah membuat masalah untuk keluarga Dave, aku tidak mau membuatnya menjadi sedih.
Tidak lama kemudian Dave pun membawa satu gelas teh panas di tangannya. “Bi Iyem kemana Dave?” Tanyaku setelah menerima teh panas tersebut dari tangan Dave. “Bi Iyem jam segini sudah pasti tidur, gak pa-pa ini juga udah malem banget.” Aku langsung melihat jam di dinding rumah Dave yang sudah menunjukkan jam satu dini hari. “Udah malem juga ya Dave.” Dave sudah duduk di sebelahku setelah membuka jasnya dan satu kancing atas kemeja putihnya.
“Iya, kamu mau istirahat?” Tanya Dave. “Kita disini dulu ya, gak pa-pa kan? atau kamu udah ngantuk Dave?” Ucapku setelah menaruh teh panas yang diberikan Dave tadi di atas meja. “Gak pa-pa.” Dave memainkan rambutku dengan jarinya, dan terkadang dia mengusap kepalaku dengan sangat gemas. “Dave.” Ucapku lirih karena memikirkan apa yang akan aku ucapkan kepadanya. “Kenapa Sayang?” Tanya Dave. “Ehmm soal Tante Sonia.” Ucapku takut dan ragu-ragu untuk mengatakannya.
“Kenapa Tante Sonia?” Dave langsung membenarkan posisi duduknya seakan mau mendengar dengan seksama apa yang akan aku katakan selanjutnya. “Apakah kamu tahu kalau Om.” Ucapku tepotong. “Dave kok Sarahnya gak kamu ajak istirahat?” Ucap Tante Rita yang tiba-tiba sudah ada di belakang kami. “Mama.” Ucap Dave. “Eh Tante, udah pulang Tante, sekali lagi maaf ya Tante, Sarah tadi gak bisa sampe selesai acaranya disana.” Ucapku langsung berdiri dari tempat dudukku.
Delapan tahun sebelumnya.
“Sarah Sayang, ayo bangun anak ibu nanti kesiangan loh ke sekolahnya.” Aku menggosok mataku dan merenggangkan badanku. “Ibu.” Aku memanggilnya dengan perasaan senang, wanita yang selalu menyayangiku itu pun mengusap kepalaku dan mencium keningku. “Kamu mandi, terus sarapan ya, nanti dianterin sama Ayah.” Ucap ibuku. “Iya Bu.” Aku segera turun dari tempat tidurku dan keluar dari kamarku untuk menuju kamar mandi.
“BAA!!” Suara laki-laki yang sudah berada didepan pintu kamarku. “Anak ayah bangunnya kesiangan yah, ayah gelitikin ini biar gak kesiangan terus.” Lanjutnya menggelitik pinggangku “Ayah geli Ayah geli.” Aku tertawa bersama laki-laki yang dulu menyelamatkan nyawa Ibuku, membantu kehidupanku dengan Ibuku selama dua tahun ini yang sekarang aku panggil dengan panggilan Ayah dan dia adalah Om Alex.
__ADS_1
“Hahah Mas udah, nanti kesiangan loh.” Ucap Ibuku sambil tertawa. “Gak pa-pa, perusahaanya kan punya aku juga.” Ucap Om Alex yang masih menghujani pipi Ibuku dengan ciuman yang bertubi-tubi. “Ayah ayo, nanti Sarah kesiangan.” Aku yang telah selesai memakai sepatuku, sudah berpenampilan rapi dengan seragam sekolah dasarku untuk bersiap pergi ke sekolah.
“Iya anak kesayangan ayah, jangan ngambek gitu mukanya, nanti cantiknya hilang.” Ucap Om Alex. “Biarin, daripada nanti Sarah dimarahin Ibu Guru.” Om Alex pun mendekatiku dan mengusap kepalaku. “Iya jangan ngambek ya, ayo kita berangkat, salam dulu sama Ibu.” Aku pun mendekati Ibuku dan menyalaminya. “Anak Ibu belajar yang rajin ya di Sekolah, ini bekal makan siangnya ya.” Dia mencium pipiku lembut “Iya Bu.”
Aku mengambil bekal makan siang yang sudah disiapkan Ibuku dan mendekati Om Alex yang tersenyum melihat kedekatan antara aku dan Ibuku. “Ris, Mas berangkat kerja dulu ya.” Ibuku mendekati Om Alex dan menciumi punggung tangannya. “Hati-hati ya mas.” “Iya, kamu di rumah baik-baik ya.” Om Alex pun mencium pipi Ibuku. Setelah itu aku dan Om Alex meninggalkan Apartemen yang penuh dengan kehangatan kasih sayang itu.
“Sarah, belajar yang rajin ya di Sekolah, inget jangan nakal.” Ucap Om Alex. “Siap Ayah.” Ucapku bersemangat setelah kami sampai di depan gerbang sekolahku. Dia pun mengusap kepalaku. “PAPAA!!! Kassa kangen!!!” Aku melihat seorang anak kecil laki-laki datang dan memeluk dengan erat OM Alex. “Ha? Kassa kenapa kamu disini, Sarah kamu langsung ke kelas ya.” Ucap Om Alex yang terlihat panik. Aku pun menganggukkan kepalaku dan segera masuk ke dalam sekolahku, aku melihat ke belakang anak laki-laki yang umurnya mungkin diatasku beberapa tahun itu masih menatapku dengan kemarahan. Dia siapa?
BERSAMBUNG.
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!
__ADS_1