
“Aku telah tahu kita memang tak mungkin.
Tapi mengapa kita selalu bertemu.
Aku telah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan aku tak bisa.
Maafkan aku , terlanjur mencinta.”
Lirik lagu Terlanjur Mencinta oleh Lyodra, Tiara dan Ziva.
Saat kami sedang beristirahat di Kantin yang penuh dengan keriuhan Siswa-Siswi SMA XYZ tersebut, tiba-tiba terdengar sebuah pengumuman oleh seorang Guru Sekolah kami, pengumuman tersebut mengatakan bahwa SMA XYZ akan mengadakan pemilihan Ketua Osis yang baru, dimana yang boleh mendaftar hanya untuk Siswa-Siswi kelas XI saja.
“Ndra, lo ikutan aja gih jadi Ketua Osis.” Ucap Reza tiba-tiba kepada Indra. “Iya Ndra, ikut aja, biar Edgar ada saingannya, itu anak pasti seratus persen ikut.” Tambah Adel kepada Indra. “Hmm.” Indra menatap tajam kearah kedua temannya yang membuat kedua temannya menciut takut.
“Sar, suruh Indra ikut untuk pemilihan Ketua Osis, karena kepimimpinan Indra lebih bagus dibandingkan Edgar.” Bisik Adel ditelingaku tanpa sepengetahuan Indra. “Lah? Kenapa aku Kak?” Tanyaku berbisik juga. “Kalo sama lo udah pasti dia mau, Sekolah kita kalo Indra yang jadi Ketua Osisnya pasti bakal lebih maju daripada sekarang.” Bisik Adel lagi membuatku menjadi berpikir. Aku coba aja apa ya.
__ADS_1
Setelah lima menit sebelum istirahat selesai, kami semua balik ke Kelas, tetapi Indra berpisah dengan teman-temannya karena ingin mengantarkanku terlebih dahulu ke Kelasku. “Hmmm Kak.” Panggilku dengan takut, saat kami sudah berhenti di depan Pintu Kelasku. “Iya, kenapa?” Tanya Indra. “Hmmm, Kakak beneran gak mau ikut pemilihan Ketua Osis?” Tanyaku ke Indra. “Hmmm,kenapa memangnya?” Tanya Indra lagi terlihat serius kearahku dan menatap tajam mataku. Perasaan ini lagi.
“Dulukan Kak Indra pernah bilang, orang tua Kak Indra mau Kakak mengikuti jejak mereka, mungkin Kak Indra bisa mulai dari Ketua Osis ini.” Ucapku menunduk tidak berani melihatnya. Dia menarik daguku, untuk membuat mataku bertemu dengan matanya lagi, yang selalu membuat hatiku berdegup kencang, dan aku dapat melihat senyum tulus yang terpancar dari wajahnya.
“Kamu mau dukung aku?” Tanyanya dengan serius. “Iya dong, aku pasti dukung Kak Indra, dan Kak Indra pasti menang pastinya.” Aku tersenyum kearahnya. Dia mengusap kepalaku dan tertawa melihat tingkahku yang seperti anak kecil. “Ya sudah kamu masuk dulu, nanti pulang aku jemput disini lagi.” Setelah itu dia pergi meninggalkanku dengan sesekali melihat kebelakang kearahku dengan tersenyum. Hatiku merasa sangat senang dengan perlakuan yang diberikan Indra kepadaku, hanya saja masih ada rasa yang mengganjal di hatiku dan itu terasa aneh. Dave.
Bel pulang Sekolah sudah dibunyikan, seperti perkataan Indra, dia sudah berada di depan Pintu Kelasku, menungguku untuk balik ke Panti bersamanya. Dan benar apa kata Adel dan Rizka, semua orang di Sekolah akan berhenti membicarakan berita tentang diriku yang menghebohkan satu Sekolah, apabila sudah mendapatkan berita yang lebih menghebohkan lagi.
Berita itu adalah tentang sosok Indra yang dikenal misterius oleh satu SMA XYZ, menjadi seorang sosok yang penuh dengan senyuman, yang dimana dia dengan semangatnya menunggu seseorang di depan Pintu Adik Kelasnya. “Ayo.” Ucap Indra dengan senyumannya yang benar-benar aku lihat hari ini, dan senyumannya itu terasa hangat untukku. “Kak.” Ucapku ragu-ragu. “Iya, kenapa?” Tanyanya dengan lembut.
Dia mengusap kepalaku lembut. “Ayo, aku ambil bola basketnya dulu ya, kamu ke Lapangan Basket dulu.” Ucapnya dengan semangat. Aku mengangguk kepadanya, dan dia pun meninggalkanku ke Ruang Peralatan Olahraga untuk mengambil bola bundar merah tersebut disana. Aku melangkahkan kakiku berat dengan rasa yang masih mengganjal di hatiku melewati Lorong Sekolah yang sudah sepi dari keriuhan Siswa-Siswi SMA XYZ, karena memang hari yang sudah menunjukkan pukul dua siang.
Aku sudah berdiri di tengah-tengah Lapangan Basket, yang dulu menjadi saksi bisu akan seorang Siswa yang sangat handal bermain dengan bola bundar merah itu, yang sekarang sudah tidak pernah lagi meneteskan keringatnya di Lapangan ini. Aku melihat ke sebelah kananku setelah mendengar suara sepatu memasuki Lapangan Basket, aku tersenyum senang melihat sosok laki-laki datang membawa bola basket ditangannya, dia tersenyum kearahku dengan mata birunya itu. Dave.
Tetapi semakin dekat sosok yang tadi kulihat adalah Dave berubah menjadi sosok Indra yang merubah suasana hatiku yang sebelumnya senang menjadi merasa bersalah. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak boleh seperti ini.
“Sarah?” Indra menatapku heran karena memandangnya dengan wajah yang sedih. Setelah tepat dia berada persis di depanku, aku memberanikan diriku mendekatinya lebih dekat, aku sedikit menjijit karena tinggi Indra yang lebih tinggi dariku. Aku mempertemukan bibirku dengan bibir Indra. Dapat kurasakan Indra sedikit terkejut dengan apa yang kulakukan sekarang, tetapi dia tidak menjauhkan dirinya dari diriku.
__ADS_1
Dia melepaskan bola basket ditangannya ke lantai Lapangan Basket yang sepi itu, dia menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya dan membalas ciuman yang kuberikan. Dan entah mengapa, aku merasakan air mataku jatuh membasahiku, sehingga membuat ciuman spontan kami itu basah oleh air mataku. “Kamu kenapa?” Tanya Indra melepaskan ciumannya, karena merasakan air mata yang membasahi tangannya juga.
Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan wajahku di dada bidangnya itu. “Maafkan aku Kak.” Aku menangis tersedak di dadanya. “Aku minta maaf tidak bisa membalas perasaan Kak Indra, maafkan aku, aku tahu hatiku harus menghindar dan melupakannya, tetapi aku tidak bisa Kak, aku terlanjur…terlanjur mencintainya.” Indra memelukku erat, aku merasakan dia mencium kepalaku lembut.
Aku merasakan getaran pada napas Indra, yang membuatku yakin bahwa dia juga sedang merasakan sakit di hatinya. “Aku akan menunggu, aku akan menunggu kamu, sampai kamu benar-benar bisa melupakannya dan siap menerimaku.” Dia memelukku lebih erat dan dia mencium kepalaku berkali-kali. “Aku akan menunggu kamu.”
Setelah kami melepaskan dan meluapkan perasaan kami masing-masing, kami tetap melakukan rencana awal kami, dimana Indra tetap mengajariku bermain dengan bola bundar merah itu, walaupun pada akhirnya kami hanya bercanda dan tertawa lepas, karena lemaparanku yang tidak pernah masuk ke dalam ring basket tersebut.
Setidaknya perasaanku menjadi lega, karena berani jujur akan perasaanku terhadap sosok yang selalu melindungiku ini. Aku melihat dia dengan lincahnya bermain dengan bola bundar merah tersebut, dengan senyuman yang selalu terpancar dari wajah tampannya itu. Aku akan berusaha Kak, aku akan berusaha belajar mencintaimu.
Setelah kami puas bermain di lapangan Basket itu dan hari sudah menunjukkan pukul empat sore, aku dan Indra memutuskan untuk pulang. Saat aku berada di dalam mobil Indra yang terpakir di Parkiran Sekolah, aku melihat satu mobil hitam yang sangat aku kenal. Edgar?
BERSAMBUNG
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!
__ADS_1