Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#28 WP?S2


__ADS_3

Setelah aku dan Angkasa memberitahukan mereka bahwa kami akan segera menikah, keluarga Indra terlihat sangat bahagia akan berita yang kami sampaikan, tidak henti-hentinya mereka mengucapkan selamat dan doa sampai kami izin pamit untuk pulang. “Sar.” Panggil Kak Laura saat aku akan memasuki mobil.


“Sekali lagi Kakak senang banget akhirnya kamu menemukan jodoh kamu Sar, tetapi ada yang ingin Kakak sampaikan ke kamu.” Ucap Kak Laura sedikit berbisik di telingaku seperti ingin membuat Angkasa tidak dapat mendengar apa yang akan dikatakannya.


“Apa Kak?” Tanyaku. “Hmm, Kakak ingin kamu berhati-hati karena Kakak mendapatkan kabar tadi pagi bahwa Bara sudah keluar dari Penjara karena tiba-tiba ada yang membayar jaminan kebebasannya.” Ucap Kak Laura membuatku menutup mulutku dengan telapak tanganku karena terkejut. “Tetapi seharusnya kamu tidak perlu khawatir, melihat kekuasaan dari Tuan Angkasa, Kak Laura yakin kamu akan baik-baik saja, jadi enjoy your wedding tomorrow, oke.” Ucapnya memelukku dengan cepat dan segera pergi kembali ke dalam Rumah karena Angkasa sudah membuka jendela mobil di sebelahku.


Dalam perjalanan pulang setelah keluar dari perkarangan Rumah Keluarga Indra, aku masih memikirkan tentang perkataan Kak Laura tentang Bara yang sudah keluar dari Penjara. Aku menjadi teringat dengan kata-kata terakhir dari Bara kepadaku waktu di Kantor Polisi. “Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkannya, apabila kamu bertemu lagi dengan seseorang yang menyayangimu lebih dari aku, aku akan membunuh orang itu, karena hanya boleh aku yang menjadi Laki-Laki di dekatmu.”


“Kamu kenapa? Wajahmu terlihat pucat.” Ucap Angkasa yang membuatku tersadar dari lamunanku. “Ti…tidak apa-apa, mungkin aku hanya sedikit capek.” Ucapku bohong yang hanya dibalas senyuman oleh Angkasa.  Jujur aku merasa sangat khawatir, hanya saja aku tidak akan bohong bahwa dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Angkasa, Bara tidak akan bisa mendekatiku ataupun Angkasa satu centi pun  yang membuat hatiku sedikit lega.


Saat dalam perjalanan pulang aku melihat Pemakaman Umum yang masih dekat dengan daerah Rumah Keluarga

__ADS_1


Indra. “Sayang, bolehkah kita kesana.” Ucapku menunjuk ke arah Pemakaman Umum, Angkasa pun langsung membelokkan mobilnya dan masuk ke dalam Pemakaman Umum tersebut.


Aku bergegas turun saat Angkasa sudah memarkirkan mobilnya, Angkasa juga ikut turun dan mendekatiku, saat dia sudah mendekatiku, aku langsung menarik tangannya dan berjalan masuk ke dalam Pemakaman Umum. Aku mengingat-ingat dimana letak pemakaman yang ingin aku cari, melihat satu-satu nama pada setiap nisan di dalam Pemakaman Umum ini sampai mataku tertuju pada satu nisan yang letaknya paling ujung. Indra Gunawan.


Aku berlari sedikit cepat mendekat ke arah pemakaman itu. “Ha…halo Indra.” Ucapku dengan napas tersengal karena sedikit berlari tadi, aku memegang nisan itu kembali dan dengan sekejap ruang hatiku terisi dengan rasarinduu. “Maaf aku baru bisa menemuimu lagi.” Aku merasakan air mataku dengan sendirinya mengalir jatuh ke pipiku.


“Kamu yang tenang disana ya, di…disini aku sudah bahagia, sudah ada seseorang yang menjagaku sekarang, sudah ada seseorang yang akan mendengar dan menenangkanku saat aku menangis.” Ucapku lirih. “Terima kasih untuk semuanya, terima kasih untuk tawa, kenangan indah yang tidak akan pernah aku lupain, terima kasih banyak.” Lanjutku dengan bahu bergetar, aku tidak sanggup lagi untuk menahan tangisku sampai aku merasakan ada tangan mendekap tubuhku yang membuatku sedikit lupa akan keberadaan Angkasa bersamaku.


Dia, dia Ndra orangnya, dia yang aku percayakan sekali lagi untuk menjaga hatiku, kamu juga pasti akan menyukainya walaupun sikapnya dingin, tetapi aku percaya dengannya, jadi sekarang kamu tidak perlu menghawatirkan aku lagi ya dan terima kasih untuk semuanya, aku akan tetap mencintaimu selamanya.


Di dalam perjalanan dari Pemakaman Indra, aku hanya dapat tersenyum bahagia, entah mengapa hatiku benar-benar menjadi lega dan seakan-akan beban dan masalahku satu persatu mulai pergi meninggalkan pundakku, aku harap aku akan bisa hidup dengan bahagia setelah ini, bersama Laki-Laki yang aku cintai dan sayangi Angkasa Pratama. Aku percayakan sekali lagi hatiku kepadanya. “Kamu siap untuk menjadi Nyonya Pratama besok?” Ucap Angkasa menggenggam tanganku dan menciumnya. “Aku siap.” Jawabku dengan penuh senyuman bahagia.

__ADS_1


Keesokan harinya setelah tadi pagi Angkasa mengucapkan janji suci depan Penghulu dan para Saksi, akhirnya aku dan Angkasa resmi menjadi sepasang suami istri. Sekarang aku sedang duduk didepan cermin dimana Deborah sedang sibuknya menggunakan alat-alat make upnya yang sebagian besar sama sekali aku tidak tahu nama dan fungsinya.


“Kak Sarah, apakah Kakak gak tidur nyenyak semalaman? Lingkar mata Kak Sarah sangat terlihat jelas sekarang.” Ucap Deborah dengan wajah heran, aku hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan lemah. Semalam aku memang tidak dapat tidur dengan nyenyak, aku memikirkan akan acara hari ini, hari pernikahan yang entah mengapa membuatku benar-benar sangat bahagia sampai-sampai aku benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam.


Awalnya semalam Debora dan Kakek melarang aku dan Angkasa berada dalam satu Kamar agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, aku tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis atau apapun itu. Tetapi mungkin maksud dan tujuan agar aku dan Angkasa tidak berada dalam satu Kamar dulu agar aku ataupun Angkasa dapat benar-benar beristirahat dan bisa terlihat segar dan sehat di pagi harinya.


Usulan itu pun ditolak dengan tegas oleh Angkasa dan tidak ada siapapun yang bisa membantahnya, dia tetap ingin bersamaku, kemanapun langkahku pergi dia akan selalu mengikutinya. Alhasil semalam aku tetap berada satu Kamar dengan Angkasa, dia tetap mendekapku sampai pagi dimana membuatku heran bagaimana dia bisa tidur dengan keadaan dia memelukku dan tidak mengganti posisinya sama sekali semalaman. Apa Angkasa juga merasakan hal yang sama dengan aku semalam?


Untukk sekarangpun kalau saja Deborah tidak meminta tolong Samuel untuk menarik Angkasa pergi, maka Angkasa akan pasti berada satu Ruangan bersamaku saat ini. “Oke sudah selesai Kak.” Ucap Deborah menyadarkanku dari lamunanku. “Deb…” Ucapku tidak percaya dengan apa yang aku lihat di depan cermin, Deborah menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat. “Oke, sekarang Kak Sarah mau lihat gaun Kak Sarah?” Ucap Deborah dengan wajah yang terlihat sangat antusias.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2