
"Telinga adalah perantara, mata adalah pencinta yang menyatu dengan sang kekasih; mata adalah karunia nyata, sedangkan telinga hanya memiliki kata-kata yang menjanjikannya."
Tidak terasa ternyata perjalanan kami menyusuri Pantai dan keindahannya yang ada di sekitar Bali memakan waktu selama kurang lebih tiga jam, sehingga saat kami tiba di Hotel lagi waktu sudah menunjukkan pukul empat sore hari. Aku mendudukkan tubuhku terlebih dahulu di atas sofa Lobi Utama, sementara Indra sedang menanyakan letak Private Pool di Hotel ini.
Aku melirik semua wisatawan yang datang dan pergi meninggalkan Hotel ini, sampai mataku dengan tidak sengaja melihat sekilas sosok Laki-Laki yang tadi pagi aku lihat di majalah berada di dalam mobil hitam mewah di depan Lobi Utama dengan jendela mobil tersebut yang terbuka. Angkasa Pratama? Dan entah disengaja atau tidak mata kami bertemu selama mungkin satu atau dua menit, kami sama-sama seperti ingin menyelidik sosok satu sama lain, aku sangat kenal sengan sorot mata tajam itu, hanya saja mata itu penuh dengan rasa kebencian, kemarahan dan sepi.
Tiba-tiba saja, sorot mata darinya yang tadi menyelidik berubah menjadi ingin membunuh seseorang yang membuatku terliputi oleh rasa takut, dengan spontan aku pun memutuskan kontak mata antara kami, saat aku melihat kembali Halaman Depan Lobi Utama tadi, mobil tersebut telh pergi meninggalkan Hotel. Mengapa aku seperti benar-benar mengenal dia.
"Kamu kenapa Sayang?" Ucap Indra yang langsung duduk di sebelahku dan menyerahkan satu botol air mineral dingin kepadaku. "Hmm enggak pa-pa." Ucapku berusaha tersenyum. "Kamu yakin? Kamu seperti habis melihat setan." Ucap Indra melihatkearahku khawatir. "Gak pa-pa kok Ndra, beneran." Ucapku memegang tangannya. "Apa karena kamu takut dengan rencana kita berikutnya?" Ucap Indra menggodaku. "Aku atau kamu yang takut nanti?" Tanyaku mengerjainya balik.
Setelah itu Indra menggandeng tanganku, menuntun langkah kami menuju ke tempat yang ingin kami tuju dengan degup jantungku yang berdegup kencang karena gugup. Saat sudah di depan Pintu Ruangan yan menjadi tujuan kami, Indra menghentikan langkahnya dan melihatku. "Kamu yakin? Karena aku tahu kamu sangat menjaga untuk melakukan hal-hal seperti ini, sebelum seseorang benar-benar serius dan berjanji untuk menjaga dan menyayangimu seumur hidup di depan seorang penghulu." Ucapnya melihat lekat kearahku.
__ADS_1
"Aku percaya kamu akan selalu menyayangiku." Ucapku dan membuka Pintu di depan kami dengan kunci yang ada di tangan Indra, aku masuk duluan ke dalam Ruangan tersebut dan melihat ke belakang Indra yang berdiri mematung di depan Pintu. "Kamu jadi masuk?" Tanyaku menggodanya yang membuat dia terbangun dari lamunannya, dia tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam Ruangan bersamaku dan menutup pintu di belakangnya.
Private Pool di Hotel ini berupa kolam berenang yang berukuran tidak terlalu besar dengan Ruangan yang tertutup dari luar, saat aku melihat Kolam Renang tersebut aku baru tersadar bahwa aku lupa membawa baju renangku. "Ndra, aku." Ucapanku terpotong karena melihat Indra yang sudah melepaskan kemeja dan celana jeans pendeknya yang hanya menyisakan boxer briefs pada tubuhnya.
"Ayo, aku udah gerah." Ucap Indra yang langsung menyeburkan dirinya, aku melhat sekitar memastikan lagi bahwa tidak ada siapapun di sekitar kami. Aku mulai melepaskan kaos putih dan rok jenis circle berwarna merah yang aku gunakan, menyisakan sesuatu yang menutup dua bagian inti tubuhku, aku melihat ke Kolam Renang dimana Indra memperhatikanku dengan seksama saat aku melepaskan satu persatu pakaian yang aku kenakan.
Setelh aku mengikatkan rambut panjangku, kakiku masuk secara perlahan kedalam melewati Tangga Marmer yang ada di dalam Kolam Renang, Indra mendekatiku dengan wajah yang tidak dapat kutebak, dia menggengam erat pinggangku dan memindahkan posisinya duduk di Tangga Marmer itu sehingga aku berada diatasnya, aku berinisiatif untuk menggodanya, tempurung lututku dengan tidak sengaja bersentuhan dengan milik Indra.
Indra mendorongku ke dinding Kolam Renang dan mnyergapku dengan tangan-tangan kekarnya, dadanya menabrak bagian atas tubuhku sehingga tidak menyisakan celah. Tangan Indra yang sebelumnya bersandar pada kedua lekuk pinggangku, bergeser turun ke pinggul dan paha dengan satu sentakan tiba-tiba, Indra menarik kakiku, mengangkat paha mulus dan rampingku untuk menjepit kedua sisi pahanya.
Indra meremas pelan bagian tubuh bawahku, mengabaikan keterkejutanku dan badannya yang menghentak. "Aku mencintaimu Sarah." Ucapnya dengan tercekat dan lembut, dia memajukan wajahnya sampai bibirnya mengecup lembut ceruk leherku yang membuatku merintih dan memejamkan mataku dengan seketika. "Ndra." Desahku ditelinganya, yang dapat membuatku menghirup wangi tubuhnya.
__ADS_1
Dan entah sejak kapan Indra mberhasil melepaskan kaitan pada pelindung bagian atasku, yang membuat matanya memerah karena terbawa suasana, dia mendekatkaan lagi wajahnya ke bagian inti atasku, yang mmebuatku merintih tertahan sampai terdengar suara handphone yang berbunyi didalam kantung celana jeans indra. Kami mengabaikannya untuk dering pertama pada telpon genggam tersebut hingga dering keenam yang membuat Indra terlihat sedikit marah, karena aktifitasnya terganggu pada bagian favorit barunya pada tubuhku.
Indra pun mendekati tempat dia meninggalkan celana jeansnya dan mengangkat telpon tersebut, saat aku mengambil pelindung bagian atasku yang dilempar Indra sedikit jauh dari tempatku berdiri sekarang dan memakainya kembali, aku mendengar Indra terlihat sedikit kesal saat menjawab telpon tersebut, dia mematikan telpon itu dengan sedikit kasar dan meletakkannya kembali ke dalam kantong celana jeansnya.
Aku berenang ke tepian Kolam, dengan Indra yang sudah duduk dengan raut wajah yang kesal dan kecewa. "Kenapa Ndra, telpon dari siapa tadi?" Tanyaku lembut kepadanya. "Hmm dari Kak Laura, dia bilang kita gak boleh macam-macam di tempat orang." Ucapnya dengan sedikit kesal, aku manariknya turun masuk ke dalam Kolam Renang lagi untuk menghiburnya. "It's okay Ndra, kita bisa melakukannya kapan-kapan nanti, jadi jangan kacaukan liburan kita ini dengan suasana hatimu yang sedang jelek sekarang." Ucapku dang mengecup lembut pipnya, sehingga dia dapat tersenyum lagi. Setelah itu kami hanya berenang dan bermain air di Kolarm Renang tersebut dengan penuh canda tawa dan perasaan hati yang semakin menyatu diantara kami. "Kamu tahu, setelah ini aku akan sering berkunjung ke tempat favorit terbaruku saat berada di dekatmu." Ucapnya berbisik di telingaku dan mengecup leherku memberikan tanda kepemilikan disana yang membuatku sedikit merintih tertahan.
BERSAMBUNG.
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!
__ADS_1
JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR!