
Angkasa menatap tajam kearah Papanya Indra dengan tatapan yang membuat semua bulu halus setiap orang berdiri dengan seketika karena kekejaman dari tatapan tersebut. "Maafkan anak saya Tuan , tolong jangan ganggu dia, kalau pun Tuan mau menghukumnya hukumlah saya." Ucap Papanya Indra terbata-bata karena menahan rasa sakit pada tubuhnya, dia berusaha untuk bangkit dan dengan kekuatan yang tersisa pada dirinya, Papanya Indra mencium kaki Angkasa yang tertutupi sepatu pantofel berwarna hitam. Om Doni.
"Bapak Doni yang terhormat, seharusnya anda tahu apa resiko dari keterlambatan anda membayar uang yang anda pinjam ke saya untuk biaya berobat istri anda selama ini." Ucap Angkasa menatap rendah Papanya Indra yang sedang bersujud di kakinya.
"Dan sekarang, hutang tersebut bertambah dengan kelakuan dari anak anda sendiri yang saya akui adalah seorang anak muda yang cukup berani." Ucapnya lagi dengan tatapan yang beralih dari Papanya Indra ke Indra. "Saya mohon Tuan, saya akan memberikan seluruh harta yang saya punya untuk anda, tetapi tolong jangan ganggu keluarga saya." Ucap Papanya Indra.
Angkasa tertawa keras sendirian mendengar ucapan dari Papanya Indra, sedangkan orang di sekitarnya hanya ketakutan tidak berani mengeluarkan sepatah kata apapun. "Hmm saya rasa itu semua tidak cukup, tetapi boleh juga tawaran yang anda berikan dan ada satu tambahan lagi syarat apabila anda ingin melunasi hutang-hutang anda." Ucap Angkasa mencekam kepada Papanya Indra yang masih bersujud di kaki Angkasa.
"Saya akan lakukan apapun kemauan anda, Tuan." Ucap Papanya Indra. "Selain anda menyerahkan seluruh harta yang anda miliki dan ingat juga bahwa saya tahu apa saja yang anda miliki jadi jangan pernah terbesit di pikiran anda untuk menipu saya, kecuali harga diri anda yang saya tidak tahu apakah masih ada atau tidak." Ucapnya menyayat hati setiap orang yang mendengarnya.
"Saya ingin anda dan Keluarga anda pergi dari Kota ini, dan tinggalkan juga jabatan anda sekarang, apabila saya nanti masih melihat atau bahkan mendengar tentang Keluarga anda di Kota ini, anda tahu sendiri apa akibatnya." Ucapnya tegas dan terdengar tidak akan ada siapapun yang membantah.
"Dan kamu anak muda." Ucap Angkasa mendekati Indra yang mencoba untuk berontak tetapi berhenti setelah dia melihat Papanya yang melihatnya dengan tatapan memohon kepada anaknya sendiri agar tidak melakukan sesuatu yang akan menyebabkan masalah yang lebih besar lagi.
"Seandainya kamu bisa berkelakuan lebih baik lagi dan tidak bersikap kuraang ajar\, mungkin aku bisa menjadikanmu Anj***gku yang lain." Ucapnya kepada Indra tanpa ekspresi. Setelah itu Angkasa tanpa berkata apa-apa membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil\, Rafael langsung dengan sigap dan cepat membuka pintu mobil untuk Tuannya tersebut.
__ADS_1
Saat Angkasa ingin masuk ke dalam mobilnya, dia terdiam melihat kearahku dengan tatapan tajamnya, tatapan mata kami sempat beradu selama beberapa detik hingga aku yang memutuskan kontak mata tersebut karena aura dingin dan takut yan ada pada diriku sendiri setelah melihatnya.
Tidak lama kemudian semua orang-orang bawahannya Angkasa masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kesedihan dan luka bagi Keluarga Indra, aku mendekati mereka, membantu Papanya Indra untuk berdiri. "Om tidak apa-apa Om?" Tanyaku pelan yang hanya dijawab senyuman oleh Papanya Indra.
Aku dan Indra membantu Papanya untuk berjalan masuk ke dalam Rumah, setelah Papanya Indra duduk dengan nyaman di Ruang Tamu Rumahnya, aku sedikit berlari ke dapur untuk mengambil air putih dan kotak P3K. Aku menyerahkan air putih kepada Papanya Indra dan menyerahkan kotak P3K kepada Laura yang langsung mengambilnya dan membersihkan luka pada tubuh dan wajah Papanya.
Aku tahu betapa shocknya perasaan dan mental yang dialami oleh mereka, mereka hanya terdiam di Ruang Tamu dimana hanya terdengar suara detik jam dinding diatas tempat duduk Papanya Indra. Aku duduk di sebelah Indra, mengenggam tangannya yang gemetar untuk menenangkannya.
"Pa, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Mamanya Indra yang masih dengan air mata mengalir di pipinya. Papanya Indra menghembuskan napasnya berat. "Kita tinggalkan Kota ini, kita turuti apa saja keinginan yang dia minta, ini kesalahan Papa karena berurusan dengan orang seperti dia." Ucap Papanya Indra dengan nada sedih dan menyesal.
Indra langsung berdiri dan pergi menuju Kamarnya tanpa berkata apapun kepada Keluarganya. "Sar, Tante minta tolong untuk kamu coba tenangin Indra dulu ya, tolong untuk ingatkan dia jangan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri." Ucap Mamanya Indra kepadaku dengan nada sedih, aku pun menganggukkan kepalaku, dan langsung menyusul Indra ke Kamarnya.
Saat di depan Kamarnya, aku ingin membuka pintu Kamar Indra tetapi terkunci, aku mencoba mengetuk pintu Kamarnya. "Ndra, ini aku Sarah bisa bukain pintunya." Ucapku pelan, tidak lama kemudian pintu Kamarnya terbuka dan menunjukkan sosok Laki-Laki yang ada di hatiku dengan raut wajah sedih, kesal dan marah.
Aku menutup pintu Kamar Indra di belakangku, sedangkan Indra sudah duduk di tepi ranjangnya dengan tertunduk lesu. aku mendekatinya dan berdiri di depannya, memeluknya dan meletakkan kepalanya di perutku, aku mengusap lembut rambut kepalanya, membiarkan dia menangis di pelukanku. "Menangislah Sayang, hanya ada aku disini, menangislah sampai perasaanmu sedikit lega." Ucapku lembut.
__ADS_1
Setelah kurang lebih lima belas menit Indra meluapkan perasaannya di dalam pelukanku, dia menegakkan kepalanya dengan mata yang merah, aku mencium keningnya dan berpindah duduk di sebelahnya, tangan kanannya aku genggam untuk membuatnya tahu bahwa aku selalu ada bersamanya.
"Apa yang harus aku lakukan Sar?" Tanyanya terlihat frustasi dan kesal. "Aku tidak mungkin hanya berdiam diri melihat Keluargaku dihina seperti tadi." Ucapnya kesal. "Ndra, aku tahu perasaanmu, tetapi untuk sekarang ikuti dulu apa kata Papamu, aku yakin nanti pasti akan ada jalan keluarnya, apa yang Papamu bilang ada benarnya, kita tidak tahu apa yang dapat dilakukan oleh." Ucapanku terpotong karena saat ingin menyebut nama orang tersebut tiba-tiba suaraku tecekat.
"Kita tidak tahu apa yang dapat dilakukannya, jadi untuk sekarang kita hanya bisa mengikuti apa yang dia mau, sampai kita menemukan jalan keluarnya." Ucapku lagi mencoba menenangkannya walaupun dalam diriku sendiri merasa takut.
"Bagaimana dengan kita?" Tanyanya. "Kita?" Tanyaku kembali karena tidak mengerti dengan pertanyaannya. "Kalau aku sampai pindah ke Kota lain, ini akan lebih mempersulit hubungan kita." Ucapnya melihat kearahku, aku tersenyum kepadanya, mengusap lembut tangannya. "Aku tidak akan keberatan untuk setiap minggu menempuh perjalanan hanya untuk menemuimu." Ucapku tersenyum dan menggodanya yang hanya dibalas dengan wajah datar darinya.
"Maksudku, hubungan kita tidak akan terpengaruh dengan hal-hal seperti ini, aku percaya kamu dan kamu pun percaya aku, jadi tidak ada yang perlu dirisaukan." Ucapku dan tiba-tiba dia memelukku erat. "Oke, aku mengerti maafkan aku, dan aku hanya berharap kamu dapat menjaga dirimu selama aku tidak ada disini, aku harap kamu selalu bercerita kepadaku walaupun aku tidak ada bersama atau didekatmu ya." Ucap Indra yang masih memelukku tanpa kutahu apa yang ada dipikirannya sekarang, aku hanya berharap pikiran buruk yang ada di kepalaku tidak akan benar-benar terjadi, karena hatiku merasa sangat khawatir dengan Laki-Laki yang ada di dalam pelukanku sekarang.
BERSAMBUNG.
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!
__ADS_1