Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#31 WP?S2


__ADS_3

Angkasa mulai memainkan jarinya pada pinggiran kausku, pinggir bawah yang mulai bersentuhan langsung dengan kulit perutku. Aku merasakan hembusan napas Angkasa pada tengkuk leherku dengan seketika rasa panas memenuhi diriku dimana bibir Angkasa menyentuh tengkuk leher setelah menyingkirkan rambut panjangku.


Aku dengan tidak sadar melengkungkan punggungku, tanganku bertumpu pada wastafel di depanku, aku menengadahkan kepalaku ke atas bertumpu pada bahu tegap Angkasa saat bibirnya yang hangat dan lembut tidak berhenti-hentinya mengecup dimana rasa aneh aku rasakan pada bagian leher membuatku menggigit bibir bawah.


“Kassa.” Desahku, mendengar itu Angkasa memelukku lebih erat, perlakuan intim yang diberikan lebih liar dan lapar sampai bibirnya berhenti pada kulit terlunak pada leherku. “Akhh.” Desahku saat bibirnya mengulum dan menyesap.


Kakiku terasa lemas dan akan jatuh kalau saja Angksa tidak menahanku dengan pelukannya. Bibir Angkasa terasa menghisap seluruh darahku yang akan aku yakini akan ada tanda kemerahan di beberapa tempat pada leherku sebagai bentuk kepemilikan dari dirinya. Angkasa tidak henti-hentinya memberikan hisapan saat tahu salah satu bagian sensitifku, hal itu benar-benar membuatku bernapas berat.


Angkasa memutar tubuhku pelan-pelan dan mengangkat tubuhku berpangku pada wastafel dan menyandarkan tubuhku pada cermin. Dia memelukku dari depan dengan sangat lapar Angkasa melahap leherku yang terekspos. “Akhh.” Perlakuan Angkasa benar-benar membuatku panas, gelisah dengan bibir yang terbuka dan menyebut namanya berkali-kali.


Tanpa sadar kaus dan jaket jeansku terlepas, Angkasa melepaskannya secara perlahan dan kembali fokus pda leherku sampai meembut tubuhku tanpa sehelai benangpun pada bagian atasku, karena sudah berhasil lepaskan oleh Angkasa dengan sangat cepat.

__ADS_1


Di hadapan Angkasa untuk pertama kalinya aku memperlihatkan tubuhku, Angkasa adalah orang pertama yang melihat bahkan merasakannya. Bibir Angkasa meninggalkan leherku menjelajahi kulit pada bagian dadaku, menciuminya dengan geraman- geraman kasar.


Angkasa mengecupnya lembut satu persatu dan menghisapnya ke dalam mulut. “Akh Kass.” Aku mengangkat wajahku dan merintih keras, aku meliuk gelisah dan mencengkram lembut rambut belakang Angkasa. “Kass, Kassaa akhh erngh.” Ucapku berulang-ulang kali, aku dapat merasakan seringai lebar Angkasa pada dadaku dengan napasnya yang terengah pelan.


Aku melihat ke bawah melihat ke arah matanya yang menggelap, dia tidak berhenti meraba, jari-jarinya terlihat ahli membuka kancing celana jeansku. “TOK TOK TOK!!!” Terdengar suara ketukan dari balik pintu. Dengan cepat aku mendorong Angkasa dan turun dari atas wastafel.


Dengan cepat aku menggunakan pakaianku sedangkan Angkasa dengan wajah yang kesal sedang mencuci wajahnya dengan air dingin. Bagaimana kami akan keluar dari toilet ini. “TOK TOK TOK!!!” Sekali lagi pintu Toilet di ketuk dengan suara yang lebih keras. Angkasa menghembuskan napasnya berat dimana tersirat emosi pada wajahnya. “Sayang, bagaimana kita keluar?” Tanyaku sedikit takut kepada Angkasa.


“Maafkan atas kelalaian kami Tuan, seharusnya kami menutup restoran ini dan menjadikannya tempat privasi oleh Tuan Muda dan Nyonya Muda.” Ucap seorang Bapak-Bapak yang menyambut kami pertama kali di dalam Restoran ini dengan tertunduk takut. “Tidak apa-apa Mr. Mitchell, sebagai bentuk ketidaknyamanan hari ini, gratiskan saja semua makanan yang mereka pesan hari ini.” Ucap Angkasa tegas kepada orang tersebut yang baru aku tahu bernama Mr. Mitchell. “Ba…Baik Tuan, terima kasih.” Ucap Mr. Mitchell.


Setelah itu kami berlalu melewati Mr. Mitchell dan pergi menuju mobil Angkasa yang terparkir di depan restoran, aku merasa keheranan karena Angkasa tidak menarikku ke kursi penumpang, tetapi ke kursi kemudi dan Angkasa langsung menarikku ikut masuk ke dalam mobilnya, memangkuku dan menutup pintu mobil. “Kass, a…apa yang kamu lakukan?” Tanyaku gugup. “Aku tidak sabar untuk segera memakanmu, jadi jangan jauh-jauh dariku.” Ucapnya dan langsung menyalakan mesin mobil dan melajukannya masuk ke dalam jalanan Kota Paris.

__ADS_1


Gemerlap malam hari di Paris terlihat sangat indah di mataku, sementara Angkasa masih sibuk mengendarai mobilnya dengan gelisah, dapat aku lihat ada beberap bulir keringat yang jatuh dari dahinya. “Hmm Kass kalau kamu lelah memangkuku seperti ini, biarkan aku pindah.” Ucapku berusaha untuk berangkat dari pangkuan Angkasa, tetapi tubuhku ditahan oleh tangan tegap Angkasa yang memeluk perutku. Aku pun hanya dapat menghela napas dan membiarkannya melakukan hal yang diinginkannya sekali ini walaupun terkadang aku merasa geli saat bibirnya sesekali mengecup leher belakangku. Apa benda keras di bagian bawahku ini.


Paris di malam hari adalah kota sumber cahaya, mobilitas padat dengan arsitektur gedung yang menawan yang membuatku terkagum-kagum melihat pemandangan di luar jendela sampai mobil sport Angkasa berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah. Kami pun turun dari mobil dan memasuki gedung apartemen tersebut dan memasuki lift menuju ke lantai 47.


Sesampainya kami di Lantai 47, Angkasa langsung menggendongku layaknya sepasang pengantin baru yang membuatku berhasil memerahkan wajahku sendiri di karenakan malu akan perlakuan Angkasa. Pintu dibuka dan lampu di dalam apartemen itu menyala, belum sempat aku untuk melihat ke sekeliling ruangan tanpa sadar bibirku sudah mengeluarkan sebuah erangan. Aku dapat merasakan bibir Angkasa mulai memberikan kecupan dan gigitan lembut pada leherku. “Kass.” Panggilku tercekat, tetapi Angkasa tidak menghentikan aktivitasnya. Perasaanku bercampur aduk antara takut akan hal yang terjadi selanjutnya antara kami dan juga perasaan panas dari tubuhku yang membuatku tidak dapat menolak untuk meminta lebih dari Angkasa.


“Akh.” Tanpa sadar aku melengkungkan tubuhku saat Angkasa membawa tubuhku di atas sofa dan Angkasa yang memangkuku dengan kedua kakiku yang mengapit bagian bawah tubuhnya. Entah dari kapan bagian tubuh atasku hanya menyisakan satu helai penutup bagian sensitif tubuhku. Aku dapat mendengar geraman dari Angkasa saat dia dengan sedikit tergesa-gesa membuka kaitan penutup tubuh bagian atasku.


“Ting Tong!” Terdengar suara bel dari pintu apartemen tetapi hal itu tidak membuat Angkasa menghentikan aksinya. “Kass, i…itu siapa?” Tanyaku dengan suara tercekat karena tenggorokanku tiba-tiba saja mengering. “Ting Tong! Kak Kassa! jangan sampai Kakak lupa kalau malam ini ada acara untuk pernikahan Kakak dan Kak Sarah.” Mendengar teriakan itu membuatku langsung tersadar dan dengan cepat berdiri dari pangkuan Angkasa.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2