
Bersahabat bukan berarti kita mempercayainya, tetapi bersahabat bagaimana kita dapat dipercaya olehnya, kepercayaan itu penting.
Setibanya kami di Kantin, Indra mengajakku bergabung bersama teman-temannya, dimana disana sudah ada Reza, Adel dan Edgar. “Kak, kita bisa duduk di meja lain?” Ucapku berbisik di telinga Indra saat kamI sudah hampir mendekati meja teman-temannya di Kantin.
“Kenapa? Kamu jugakan udah kenal sama mereka?” Tanya Indra yang masih menggandeng tanganku. “Ndra! Kesini.” Teriak Reza, membuat Adel dan juga Edgar melihat kearah kami. Hal yang aku hindari selama ini, di waktu ini juga aku tidak bisa mengelak atau menghindarinya, saat mataku dan Edgar bertemu selama beberapa detik membuatku dengan cepat menundukkan kepalaku. Apa yang harus aku lakukan.
Saat aku dan Indra duduk bergabung bersama teman-temannya, aku lebih memilih duduk di sebelah kiri Indra yang membuat Indralah yang harus duduk berhadapan dengan Edgar. Aku tidak mau menatap kearah Edgar dan entah mengapa aku merasakan bahwa Edgar pun terlihat seperti tidak mengenalku dan seperti tidak merasa melakukan kesalahan apapun kepadaku.
“Kamu mau makan apa?” Tanya Indra yang membuatku sadar dari lamunanku. “Ehmm, aku beli sendiri saja Kak.” Ucapku yang sudah mau berangkat dari bangkuku. “Gak usah aku aja, kamu bilang aja mau makan apa?” Tanyanya lagi. “Ehmm gak usah Kak, gak pa-pa aku beli sendiri.” Ucapku yang maasih berusaha menolak dan ingin segera pergi dari meja ini untuk menenangkan pikiranku.
Indra mengenggam tanganku. “Kamu kenapa? Apa yang membuatmu takut? Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu.” Tanya Indra melihat lekat wajahku yang terlihat menyembunyikan ketakutanku. “Ndra, biar gua sama Sarah saja yang beli makanan buat kalian, hari ini aku ulang tahun, jadi aku yang traktir.” Ucap Adel yang duduk di sebelahku.
“Wah serius lo ulang tahun Del? Kok gua gak tahu, kalo gitu gua pe- Aww.” Ucap Reza yang terlihat senang, tetapi tiba-tiba meringis kesakitan pada kakinya, setelah ditendang oleh Adel. “Ayo Sar.” Adel langsung menarik tanganku dan membawaku menjauhi Indra, Edgar dan Reza.
__ADS_1
“Kak, aku izin ke Toilet dulu.” Aku langsung melepaskan tanganku dari genggaman Adel, dan sedikit berlari menuju Toilet yang berada dekat di sekitar Kantin. Sesampainya aku di Toilet, aku langsung membasuh wajahku menggunakan air yang keluar dari kran wastafel di Toilet tersebut. Aku menatap wajahku di depan cermin dengan perasaan yang bercampur aduk antara sedih, marah, kesal dan takut. Apa yang harus aku lakukan, seandainya Dave ada disini.
“Ini.” Tiba-tiba Adel sudah berada di dalam Toilet bersamaku memberikan tissue yang ada ditangannya kepadaku. Aku membersihkan wajahku menggunakan tissue tersebut. “Terima kasih, Kak.” Aku melihat bayangan Adel dari cermin di depanku, dimana dia sedang menyenderkan tubuhnya pada dinding dengan melipatkan tangan di depan dadanya.
“Lo ada hubungan apa sama Indra?” Tanya Adel to the point yang membuatku sedikit kaget. “Ha? Maksudnya Kak?” Tanyaku heran. “Gua gak pernah melihat kembali senyuman Indra lagi semenjak.” Ucap Adel yang menghentikan kata-katanya sendiri. “Semenjak apa Kak?” Tanyaku yang pura-pura tidak tahu, padahal aku sangat tahu bahwa Indra menjadi seorang yang pendiam dan muram semenjak kejadian Alisha yang menghebohkan satu Sekolah.
“Lo gak perlu tahu, intinya…” Adel berjalan mendekatiku dengan tangan yang masih terlipat di dadanya, dia melihatku dari atas sampai bawah. “Gua tidak tahu apa yang ada di diri lo yang membuat Indra bisa terlihat bahagia, tetapi gua akan mendukung apapun yang membuat Indra bisa tersenyum bahagia, jadi friend?” Lanjut Adel yang membuatku terkejut karena dia mengulurkan tangannya kepadaku untuk bersalaman dengan wajah tersenyum yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Aku langsung memeluknya dengan erat. “Terima kasih Kak, terima kasih sudah mau menjadi temanku, bukan karena Indra, tetapi karena masih mau menerimaku sebagai teman setelah berita yang tersebar di Sekolah.” Aku menahan air mataku agar tidak terjatuh lagi, karena aku sangat lelah meneteskan air mataku selama dua hari kemarin. Adel melepaskan pelukanku dan memegang kedua pundakku.
“Terima kasih, Kak.” Ucapku memeluknya sekali lagi. “Oke, sekarang lo cerita, kenapa lo ke Toilet ini dengan wajah sedih? Apa karena berita yang ada di Sekolah atau ada hal lain?” Tanya Adel yang membuatku gugup untuk menjawabnya. “Hmm itu.” Aku tidak ingin mengatakan bahwa aku ingin menghindari Edgar, karena aku takut akan menambah masalah lagi. “Tring! Tring!” Handphone Adel berbunyi yang memperlihatkan nama Indra pada layarnya. Huft selamat.
“Halo, kenapa Ndra?” Ucap Adel saat mengangkat telponnya, aku tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan Indra, hanya saja terlihat dari raut wajah Adel, menunjukkan bahwa Indra sedang marah-marah dan berteriak kepadanya.
__ADS_1
“Iya iya, ini kita kesana, jangan marah-marah juga kali, gak bakal gua culik juga Sarahnya, udah ya.” Ucap Adel dan dengan cepat dia langsung memutuskan sambungan telpon tersebut. “Ayo kita balik, bisa-bisa gua dimarah habis-habisan sama Indra.” Ucap Adel yang langsung menarik tanganku. Sebelum aku dan Adel balik bergabung dengan Indra dan teman-temannya, seperti janji Adel saat membawaku menjauhi yang lain, dia pun membeli beberapa makanan untukku dan Indra.
“Za, Edgar kemana?” Tanya Adel saat kami sudah duduk kembali di meja kami tadi. “Gak tahu, itu bocah tiba-tiba udah pergi aja gak ada ngomong apa-apa ke kita.” Ucap Reza. “Kamu gak pa-pa.” Tanya Indra setelah aku meletakkan makanan di depannya.
“Gak pa-pa kok Kak, oh iya Kakak suka es jerukkan?” Ucapku meletakkan es jeruk di depannya juga. Dia mengganguk tersenyum kepadaku dan mengusap kepalaku. “Ndra? Lo sehatkan?” Tanya Reza “Sehatlah, emang kenapa?” Ucap Indra yang sudah menyuapkan satu sendok bakso yang aku belikan ke dalam mulutnya dengan semangat.
“Gak biasa-biasanya lo, senyum sumringah gini, biasanya juga muka ditekuk terus.” Ucap Reza yang masih heran dengan kelakuan teman satunya ini. Sementara Indra hanya senyum-senyum tidak jelas dengan sesekali melihat kearahku, dan Adel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Oh iya Sar, lo kenal sama Rizkakan? Satu kelas sama lo kayaknya.” Tanya Reza yang langsung beralih melihat kearahku. “Kenal Kak, kenapa Kak?” Aku menghentikan makanku untuk berbicara dengan Reza. “Hmm, nanti kenalin gua ya, sama titip salam dari Kakak Kelasnya yang ganteng ini.” Ucap Reza dengan memainkan alisnya naik turun dengan senyum sumringahnya.
“Huuuu.” Adel melemparkan tissue kearah Reza. “Za Za, gak ada kapoknya apa modusin Adek Kelas terus.” Ucap Indra menatap tajam kearah Reza. “Lah lo sendiri apa Nyet.” Ucap Reza melihat kearah Indra dan sesekali melihat kearahku. Indra pun seperti tersenyum malu dan melahap makanannya lagi dengan semangat. Iya, kenapa Kak Indra jadi aneh gini.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!