Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#34 WP?S2


__ADS_3

Tidak terasa mobil kami pun sudah berada di depan gedung apartemen milik Angkasa, aku dan Angkasa turun setelah pintu mobil dibuka oleh salah satu penjaga apartemen itu. Kami masuk ke dalam apartemen dan memasuki lift menuju ke lantai apartemen Angkasa, saat lift yang kami naiki bergerak ke atas menuju lantai tempat apartemen Angkasa berada perasaanku menjadi campur aduk, ada perasaan gugup, taku dan juga…senang.


Lampu-lampu di dalam apartemen masih terlihat gelap saat kami masuk dalamnya. “A…aku ingin ke kamar mandi.” Ucapku tergesa-gesa meninggalkan Angkasa yang masih menyalakan beberapa lampu di dalam apartemen itu. Aku masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di dalam kamar Angkasa. Apa yang harus aku lakukan?


Aku melihat diriku di depan cermin dengan tangan yang bergetar karena gugup. “Kamu bisa Sarah, kamu bisa.” Gumamku, aku mulai membersihkan diriku menyikat gigiku berkali-kali, setelah itu aku menggunakan kimono mandi yang tergantung di dalam kamar mandi.


Aku membuka pintu kamar mandi perlahan untuk melihat kondisi di dalam kamar dimana aku melihat Angkasa berdiri membelakangi ku menatap ke arah jendela yang langsung bertemu dengan pemandangan menara besi kebanggaan kota Paris.


“Kass.” Panggilku yang berhasil membuat Angkasa melihat ke belakang, dia menatapku berdiri kaku di hadapannya dan menatapku lekat dengan dua kancing kemeja yang sudah terbuka. Aku yang sedang menundukkan kepalaku mendengar Langkah kaki Angkasa yang semakin mendekat.


Hening selama beberapa detik saat Angkasa sudah berada di depanku, dia mengangkat daguku dan menyatukan kedua bibir kami, Angkasa merengkuh pinggangku, mengangkatnya dan bertumpu pada tubuhnya dengan tanganku yang melingkar di lehernya. Terdengar geraman rendah saat Angkasa menyesap leher putihku yang membuatku mendesis.


Bruk! Tubuhku terhempas pelan pada kasur berukuran King Size di dalam kamar ini. Angkasa menindih lekat pada tubuhku sehingga aku dapat mencium wangi tubuh Angkasa seutuhnya. “Katakan padaku kalau kamu kesakitan.” Ucap Angkasa di depan wajahku yang membuatku dapat melihat bibirnya yang terlihat basah dengan bulu-bulu halus di sekitar wajahnya.


Aku merasakan bibir Angkasa mulai menyapu daguku dan turun ke leherku. “Akh.” Erangan ku tak tertahankan dikarenakan adanya rasa geli pada bagian leherku saat Angkasa menyesap dan menggigit lembut disana. Bibir itu turun ke tulang selangka ku dan turun lagi menemui titik sensitif tubuhku . Aku meremas rambut pada kepala Angkasa saat muncul rasa geli yang benar-benar membuatku gelisah dan melengkungkan tubuhku.


Dada membusung dan pinggulku yang terus bergerak membuat bibir Angkasa bergerak sangat liar dengan napas yang terdengar sangat menggebu. Aku tidak tahu entah sejak kapan tali kimono ku terlepas saat merasakan jari-jari Angkasa mulai bermain pada bagian sensitif ku yang lain. “Akhh Kass.”


Suaraku membuat aktifitas Angkasa berhenti. “Sa…Sakit?” Tanya Angkasa dengan suara yang tercekat karena menahan sesuatu yang hanya dapat aku jawab dengan gelengan kepalaku. Setelah melihat gelengan kepalaku, dia melanjutkan kembali jari-jarinya bermain di bagian bawah sensitif tubuhku membuatku mencekram kemeja putihnya yang mungkin sudah kusut sekarang. Saat tangannya masih sibuk bermain di bawah sana, aku merasakan kecupan singkat pada keningku yang sudah basah oleh keringat.


“Akh!” Eranganku saat merasakan bibir Angkasa yang mulai bermain dengan lidahnya pada tonjolan bagian dadaku yang mulai mengeras. Tanganku sudah bergerak ke segala arah, tadinya mencekram kemeja putih Angkasa beralih mencekram sprei putih. Aku memalingkan wajahku dan merasakan tubuhku gemetar.

__ADS_1


“Ka…Kass aku menginginkanmu.” Ucapku yang membuat Angkasa menghentikan aktifitasnya. “Lakukan apa yang kamu mau.” Ucap Angkasa memposisikan tubuhnya tidur di sebelahku, aku naik keatas tubuhnya dan melepaskan kimono dari tubuhku seutuhnya. “Tubuhku adalah milikmu seutuhnya, Sarah.” Ucap Angkasa dengan suara berat.


Dengan tangan gemetar aku melepaskan kancing kemeja putih Angkasa seutuhnya, aku merasakan kulit yang hangat dan padat, dengan perlahan aku menyentuh dada bidang dan perut berotot yang basah oleh keringat sampai turun kepada celana hitam dengan bagian resleting yang menggembung membuatku menelan salivaku kasar.


Dengan sedikit bersusah payah aku membuka ikat pinggang Angkasa, kancing celana dan resleting yang terbuka membuatku melihat wajah Angkasa dan berusaha menyentuh hal paling intim dari tubuh Angkasa. “Aku harap kamu tidak takut, Sarah.” Ucap Angkasa dengan senyuman pada bibirnya. Dia menarik tengkukku dan mempertemukan kembali bibir kami dan mengganti posisinya menindihku, tanganku digenggamnya erat ke atas kepalaku membuatku tidak dapat menggerakkan tanganku dengan bebas.


Angkasa mulai menjelajahi leherku dengan bibirnya lagi membuatku terkesiap dengan rasa geli yang nikmat. Jari-jarinya mulai bergerak ke arah tonjolan mungil pada dadaku lanjut ke pusar dan terus ke bawah. Angkasa mempertemukan kembali bibirnya dengan bibirku dan sorot mata tajam yang beradu dengan mataku sekarang. Ciuman ini terasa lebih dalam dari sebelumnya, Angkasa memasukkan lidahnya seakan mengajak lidahku untuk ikut menari bersama lidahnya.


Ciuman itu pun berakhir dengan satu kecupan basah membuatku terengah-engah dan mengambil udara di sekitarku dengan cepat. Wajahnya mulai mendekatiku membuatku dapat merasakan hembusan napas hangat pada wajahku dengan bau mint yang selalu membius ku.


Aku merasakan jari-jarinya menyentuh lembut wajahku, mengelus turun sampai pada bibir merahku membuatku menatapnya dengan bingung sampai satu jari telunjuk Angkasa masuk ke dalam mulutku dan menyentuh lidahku. “Tunjukkan lagi wajahmu yang menginginkanku tadi.” Ucap Angkasa.


Aku sama sekali tidak mengerti dengan maksud perkataannya, tetapi aku berusaha membuat wajah senatural mungkin saat Angkasa mulai memaju-mundurkan jarinya di dalam mulutku. Aku dapat melihat senyuman dari wajahnya dan sebuah tatapan lapar penuh dengan nafsu membuatku berkeringat dingin.


Dengan sengaja ujung lutut Angkasa menekan selangkanganku yang sudah tanpa penutup lagi. “Akhh.”Rintihku. Angkasa menindihku lagi dengan sangat erotis, dapat aku rasakan Angkasa menggesekkan sesuatu miliknya dengan diriku yang membuatku geli dan…ketagihan.


Nafasku memburu dan terbakar nafsu, tangan Angkasa menangkup kedua bokongku sampai aku merasakan adanya denyutan pada bagian bawahku dan merasa basah sampai aku tidak menyadari wajah Angkasa sudah terbenam di bawahku diantara kakiku yang jenjang.


Napas memburu Angkasa dapat aku rasakan dengan lidah yang sudah dipenuhi oleh salivanya. “Akhh!!” Aku menggelinjang merintih nikmat berusaha menutup celah diantara kakiku tetapi tertahan oleh wajah Angkasa dibawah sana, aku merasakan pijatan-pijatan yang tidak dapat aku artikan lagi bagaimana rasanya.


Aku melihat cermin lebar di sampingku yang mengekspos tubuh dan wajahku dengan Angkasa yang berada di bawahku. Rona wajahku memerah dengan rasa malu tetapi menginginkan sesuatu yang lebih. “Akhh sakit.” Teriakku kecil saat aku merasakan ada sesuatu yang mencoba masuk pada lingkaran kecilku.

__ADS_1


“Maaf.” Ucap Angkasa. “Ti…tidak apa-apa hmm ka…kamu bisa melanjutkannya.” Ucapku malu dengan menggigit bibir bawahku membuat Angkasa mengangkat kepalanya dan tersenyum kepadaku, entah sejak kapan tubuhnya tidak tertutupi oleh sehelai benang satu pun, tetapi aku sangat mengagumi lekuk tubuh yang Angkasa tunjukkan kepadaku.


“Kalau kamu belum siap, kita masih bisa mundur dari malam ini, karena melihatmu berada di bawahku tanpa satu helai benang pada tubuh polosmu dan terlihat pasrah seperti ini benar-benar membuatku tidak dapat menahan sesuatu dari diriku untuk memasukimu Sarah.” Ucap Angkasa dengan peluh yang sudah memenuhi pelipisnya. “A…aku siap Kassa.” Ucapku. Aku didorong jatuh lagi ke tempat tidur dengan lengan kekar milik Angkasa. Kedua kakiku dibuka, digiring oleh Angkasa untuk siap menyatu dengan miliknya. “Lihat aku Sarah, lihat aku.” Ucapnya membuatku yang tadinya terpejam membuka mataku dan menatap matanya.


Saat aku merasakan sesuatu melesak masuk ke dalam tubuhku, aku memutus kontak mataku dengannya dan berpaling karena merasakan sesuatu yang sakit pada tubuh bagian bawahku, dapat aku dengar Angkasa menggeram. “Sarah.” Panggilan Angkasa yang terdengar berbeda di telingaku, panggilan itu membuatku merasa menjadi orang satu-satunya di hidupnya.


Membuatku melihat lagi matanya. “Lihat aku, hanya padaku.” Ucapnya yang terdengar seperti perintah yang tidak boleh aku langgar. “Akhh.” Aku tidak dapat menahan teriakan sakitku saat Angkasa mencoba masuk lebih dalam dan tanpa terasa satu tetes air mataku jatuh membasahi pipiku. “Sarah.” Panggil Angkasa yang terdengar berbeda dari sebelumnya karena panggilannya kali ini terdengar khawatir akan diriku.


“A…aku tidak apa-apa, teruskan kumohon, dan bolehkah aku memelukmu?” Ucapku dengan napas yang tertahan dan dijawab anggukan oleh Angkasa. Aku memeluk tubuhnya yang padat dan hangat dengan erat, meraba tengkuk kepalanya dan meremasnya, membuat Angkasa menggeram suka.


“Kamu kesakitan.” Ucap Angkasa menghentikan gerakannya, aku mengeratkan pelukanku berusaha meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja, sehingga Angkasa melanjutkan gerakannya dan bergerak pelan.


Tangannya yang satu menjelajahi dadaku membuatku menggeliat dengan dada yang membusung tanpa menyembunyikan lagi ekspresi wajahku yang merasakan sesuatu yang nikmat. Setelah beberapa menit aku merasakan tubuhku mulai terbiasa dengan sesuatu dari Angkasa yang berada di dalam diriku. “Ahhh.” Eranganku yang membuat Angkasa sedikit mempercepat gerakannya sehingga terdengar bunyi pertemuan antara kulit dan kulit dengan kakiku memeluk pinggul Angkasa untuk meminta lebih.


Angkasa yang seakan mengerti akan hal itu, menggerakan gerakan pinggulnya lebih cepat dan mulut yang mulai menerkam dadaku. Aku merasakan gerakan Angkasa meningkat, merasakan sesuatu di dalam tubuhku yang menabrak sesuatu dari diriku dan itu terasa sangat…nikmat. Pinggulku ditarik mendekat sampai tubuhku saling melekat dengan tubuhnya. “Kamu terlihat sangat seksi sekarang Sarah.” Suara berat Angkasa yang sudah dipenuhi dengan hasrat dari tubuhnya yang sudah sejak lama ditahannya.


Aku memutar tubuh Angkasa sehingga aku sekarang berada diatas tubuhnya. “Lakukan apa yang kamu mau lakukan pada tubuhku Sarah.” Ucap Angkasa membuatku dengan natural bergerak sendiri diatasnya, Angkasa menengadahkan kepalanya dengan geraman berat dan tangan yang tidak henti-hentinya bergerilya pada dadaku.


Sampai Angkasa membalikkan tubuhku lagi dan berada di atasku. Dia mempercepat tempo pergerakannya membuatku tidak dapat mengimbangi gerakannya, aku merasakan hentakan yang kuat dan dalam membuatku merintih yang mengisi ruangan kamar ini sekarang, menggema dan panas.


Sampai satu hentakan akhir yang menutupi malam pertama kami dengan suatu cairan hangat yang aku rasakan dalam tubuhku, memenuhi isi perutku yang entah mengapa membuatku terasa penuh. Angkasa masih bernapas dengan terengah-engah dan aku terkulai lemas di bawahnya dengan kondisi kami yang masih menyatu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2