Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#6 WP?S2


__ADS_3

Aku merasakan usapan lembut dari kepalaku, berpindah ke pipiku yang memberikan kehangatan yang berbeda.


"Sarah." Panggil seseorang dengan lembut kepadaku. Aku masih memejamkan mataku karena masih merasakan kenyamanan. "Sarah." Panggilnya lagi sedikit lebih keras, aku masih memejamkan mataku menyerap kehangatan dari tangan itu.


"Bocah." Panggilnya, aku langsung membuka mataku dan mundur dari tempat dudukku. "Aww." Ringisku karena kepalaku membentur kaca jendela mobil. "Hati-hati Bocah." Dia mengusap kepalaku yang terbentur tadi dengan lembut.


"Kalau kamu memang ingin tidur di lenganku lebih lama, kamu hanya harus tinggal mengatakan iya pada pertanyaanku kemarin." Ucapnya datar, dia menatap mataku lekat membuat sedikit rona merah pada pipiku. "Kenapa pipimu merah Bocah." Ucapnya lagi dan aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Kita turun." Ucapnya, dia keluar dari mobilnya terlebih dahulu, dan setelah itu dia berjalan ke samping pintu mobilku dan membukanya. Aku melangkahkan kakiku keluar dari mobil. "Terima kasih." Ucapku pelan dan melihatnya sekilas dimana ada sedikit senyum di wajahnya.


Aku mengikuti langkah kaki Angkasa masuk ke dalam sebuah bangunan besar dan penuh dengan bunga di sekelilingnya. Aku merasakan udara yang lebih dingin dari biasanya. "Dimana kita?" Tanyaku kepada Angkasa yang berada di depanku.


"Kita berada di Puncak." Jawabnya. "Puncak? Kita mau apa?" Tanyaku lagi dan menghentikan langkah kakiku membuatnya menghentikan langkah kakinya juga. "Aku akan menghukummu ingat? Kalau alasanmu bagus, mungkin aku akan sedikit meringankan hukumanmu, tetapi bertemu seorang Laki-Laki dibelakangku itu tidak dapat dimaafkan Bocah." Ucapnya datar dan dingin.


Dia melangkahkan lagi kakinya untuk membuka sebuah pintu di depannya. "Masuk, kalau kamu tidak mau mati kedinginan." Ucapnya membuatku melangkahkan lagi kakiku untuk masuk ke dalam sebuah Villa di depanku yang dapat aku yakini milik Angkasa juga.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam dan merasakan kehangatan di dalam Villa tersebut. Angkasa melepaskan jas yang digunakannya dan menggulung kemaja hitamnya sampai ke siku, sedangkan aku duduk di sebuah sofa putih yang di depannya ada sebuah TV yang besar, sementara Angkasa pergi ke dapur mungkin mengambil sesuatu.


"Minum." Angkasa memberikanku sebuah minuman dengan es batu di dalam gelas tersebut dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang minuman yang sama, aku langsung memundurkan wajahku karena mencium bau alkohol di dalam minuman tersebut. "Maaf, aku tidak meminum alkohol, dan kamu juga harusnya berhenti meminum minuman seperti itu." Ucapku dangan nada sedikit menekankan.


Dia balik lagi ke dapur dan kembali dengan dua minuman botol mineral, aku tidak melihat lagi dia memegang gelas yang tadi berisikan alkohol di tangan kirinya. Aku mengambil botol air mineral tersebut dan langssung meminumnya karena aku merasakan tenggorokanku yang kering.


Air di dalam mulutku hampir keluar saat Angkasa tiba-tiba saja sudah duduk disebelahku dan menempel sangat dekat membuat kulit kami saling bersentuhan. "Satu cm saja kamu bergeser kamu akan tahu akibatnya." Ucapnya datar hanya memandang layar televisi yang sudah dinyalakannya membuatku mengurungkan niatku untuk bergeser lebih jauh.


"Sekarang katakan padaku, apa yang menjadi alasanmu bertemu dengan Dokter bodoh itu." Ucap Angkasa sekarang memberikan perhatian penuh kepadaku. Aku menundukkan kepalaku. "Aku tidak suka saat aku berbicara kepada seseorang dan dia tidak melihatku, terlebih kamu Sarah, aku ingin melihat mata indahmu saat berbicara denganku." Ucapnya dengan penuh penekanan.


Aku langsung menatapnya membuat senyuman tipis pada wajahnya, dia menyentuh pipiku lagi dan memberikan kehangatan dari dinginnya udara di Puncak ini, aku menghembuskan nafasku berat. "A...aku meminta bantuannya." Ucapku. "Bantuan? Kamu bisa meminta kepadaku bantuan apapun yang dapat aku berikan lebih dari Dokter bodoh itu." Ucapnya.


Aku mengambil tissue yang tadi diberikan oleh Fahmi, dan menyerahkannya kepada Angkasa. "Dokter bodoh itu." Ucap Angkasa geram, dia menggenggam tissue itu dan membuangnya, menatapku tajam. "Kamu benar-benar ingin melakukannya?" Tanya Angkasa kepadaku dan aku hanya dapat menganggukkan kepalaku.


Angkasa berdiri dari tempat duduknya dan pergi ke suatu Ruangan yang mungkin adalah Kamar Tidur, tidak lama kemudian dia keluar dengan membawa sebuah laptop di tangannya. Dia meletakkannya diatas meja di depan kami dan duduk lagi di sebelahku tanpa ada jarak, dia menyalakannya dan membuka sebuah website pada halaman internet.

__ADS_1


Dia menyenderkan lagi tubuhnya ke senderan sofa putih itu dan melihatku. "Lakukanlah." Ucapnya datar. Aku dengan sedikit ragu membungkukkan tubuhku dan mendekati laptop di depanku, aku mengetik Hiram Club pada halaman pencarian website itu. Tidak ada kata-kata lain di website itu, hanya terdapat beberapa kata-kata dan sebuah link.


Hiram Club. Tomorrow Night Party, Video Audition Submission 12 pm.


Aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 11.30 malam, berarti masih ada waktu setengah jam lagi untuk submit video yang dimaksud oleh website ini. Aku melihat Angkasa yang masih bermain dengan beberapa helai rambutku.


"Apa maksudnya?" Tanyaku kepada Angkasa, dia melihat kearah layar monitor laptop itu sekilas dan melihatku lagi. "Kamu harus mengirimkan sebuah video untuk masuk ke klub itu." Ucap Angkasa. "Video? Video apa?" Tanyaku heran.


Dia menghembuskan nafasnya berat, dan membuka sebuah video. Aku melihat dengan seksama video tersebut. Cassy. Video tersebut berisi seorang wanita yang pernah aku kenal, dia Cassy, wanita yang dahulu pernah menjadi salah satu perwakilan dari Australia National University saat aku melakukan wawancara. Apakah dia mempunyai hubungan khusus dengan Kassa.


Video tersebut menampilkan Cassy yang sedang menggunakan pakaian suster tetapi dibuat dengan seksi, lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas dan dalam menit ketiga dia membalikkan tubuhnya membelakangi kamera. Beberapa detik kemudian, dia melepaskan pakaian susternya tersebut secara perlahan dimulai dari bagian pundak terus turun sampai kebagian pinggul dan berhenti disana. Dia membalikkan tubuhnya pelan, dan menampilkan tubuh polosnya tanpa sehelai benang pun yang menutupinya lagi, video itu pun langsung menjadi gelap.


Aku hanya dapat meneguk ludahku dimana tenggorokanku menjadi kering secara tiba-tiba. Aku melihat sekilas kearah Angkasa yang ternyata tidak melihat video itu, dia hanya menatapku. "Apakah kamu yakin ingin melakukannya?" Tanya Kassa yang menyadari bahwa ada sedikit keraguan dari diriku.


"Kamu tahu bahwa aku tidak suka milikku dilihat orang lain, bahkan sampai disentuh orang lain." Dia sedikit menggeram dengan kata-katanya, raut wajahnya terlihat sangat keras. Entah mengapa tanganku secara spontan menyentuh wajahnya, membuatnya memejamkan mata dan menghilangkan raut marah pada wajahnya.

__ADS_1


Setelah itu aku mendekatkan diriku lagi di depan laptop, dan membuka sebuah aplikasi rekaman video dan memulai sebuah rekaman. Aku membalikkan laptop tersebut menghadap ke depan layar televisi, aku berdiri di depan layar laptop tersebut, menatap langsung kearah mata tajam milik Angkasa. Dia merentangkan kedua tangannya pada senderan kursi dan menekuk kaki kirinya di atas kaki kanannya. "Lakukanlah." Ucapnya memberi izin.


BERSAMBUNG.


__ADS_2