
"Bagiku cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi terpendam dan keinginan untuk memiliki satu sama lain." - Santhy Agatha.
Aku mengambil minuman dalam gelas kaca yang ada di tangan Galang, cairan berwarna oranye itu memang seperti es jeruk saat aku mencium aromanya dengan es batu di dalamnya. Aku sedikit ragu untuk meminumnya, tetapi dengan mencoba sedikit berani aku memasukkan minuman itu ke mulutku secara perlahan. Es yang ada pada minuman itu menyegarkan tenggorokanku, asam manisnya membuatku sedikit membulatkan mataku karena sensasi yang ada pada minuman itu.
"Tidak buruk kan?" Tanya Galang kepadaku, aku meneguk lagi minuman itu sampai habis. "Oke, aku sudah meminumnya, sekarang aku pulang dulu." Ucapku ke Galang, aku pun berdiri bersama Rizka di sebelahku. "Oke hati-hati Sarah, terima kasih sudah mau datang." Ucap Galang dengan sedikit seringai yang dapat aku lihat pada wajahnya.
Saat berjalan keluar Butterfly, kepalaku terasa berat. "Riz, kepalaku terasa sedikit berat dan pusing." Ucapku, aku menyeka keringat di dahiku dengan punggung tanganku, aku merasakan sedikit panas pada tubuhku. "Kamu tidak apa-apa Sar?" Tanya Rizka. "Aku mau ke Toilet sebentar ya Riz, kamu bisa tunggu di Parkiran mobil sebentar?" Ucapku kepada Rizka, dia menganggukkan kepalanya sedikit ragu.
Rizka langsung pergi menuju pintu keluar, dan aku melangkahkan kakiku mencari Toilet di dalam Ruangan yang penuh dengan lampu warna-warni ini, yang membuat kepalaku semakin terasa berat. Dengan tidak sengaja aku menabrak seseorang dan menumpahkan minuman yang dipegangnya. "Shit." Aku mendengar dia sedikit mengumpat. "Ma...maaf, aku mau ke Toilet." Ucapku dengan mengurut kepalaku yang benar-benar semakin terasa berat, aku langsung berjalan melewati orang tersebut tanpa melihat kearahnya. "Bocah." Hanya kata-kata itu yang dapat aku dengar saat melewatinya.
"Sar, kamu tidak apa-apa." Aku mendengar suara Galang yang tiba-tiba sudah ada di sampingku dan melingkarkan tangannya di pinggangku. "Aku gak pa-pa Lang, aku cuma mau ke Toilet." Ucapku berjalan terhuyung dengan tubuhku yang sedikit panas. "Aku bantu." Ucapnya.
Galang membantuku masuk ke dalam Toilet, aku tidak tahu apakah itu Toilet untuk Wanita atau Laki-Laki karena Galang ikut masuk ke dalam Toilet. "Aku sudah lama menantikan ini Sarah, berdua denganmu dalam satu Ruangan." Ucap Galang berbisik di telingaku. "Tidak, lepaskan aku Lang." Ucapku berusaha melepaskan pelukannya yang sudah menjamah leherku sekarang.
__ADS_1
Pintu Toilet itu dibanting hingga tertutup, aku tersentak dan merasakan Galang melepaskan pelukannya dariku, setelah itu aku jatuh lemas di Lantai Toilet, aku hanya mendengar suara pukulan beberapa kali dan teriakan kesakitan dari Galang.
"Dasar Bocah, tempat hiburan seperti ini bukanlah untuk Bocah ingusan sepertimu." Suara seorang Laki-Laki yang berteriak kepadaku. Dia mengangkat tubuhku yang terduduk lemas di Lantai. "Jangan ada yang menyentuhnya." Teriaknya lagi. Aku merasakan sebuah tangan kuat dan kekar mengangkat tubuhku, terasa seperti melindungi dan menjagaku.
Aku merasakan hasrat yang aneh pada tubuhku, merasakan kulitku ingin bersentuhan dengan kulit siapa saja hingga membuatku nyaman. Aku meminta untuk diturunkan dan dilepaskan, tetapi dia mengabaikan semua permintaanku, aku dapat menghirup aroma tubuhnya yang berbau mint yang hampir sama dengan aroma tubuh Indra, hanya saja tubuh orang yang menggendongku ini ada sedikit bau rokok dan alkohol.
Aku dimasukkan ke dalam sebuah mobil, aku tidak tahu kemana Laki-Laki ini akan membawaku, aku hanya dapat mendengar beberapa kata dari bibirnya. "Apa yang sudah diberikan Pemuda bodoh itu kepadamu, Bocah." Ucapnya. Aku merasakan tanganku menyentuh wajah dengan rahang kerasnya itu, mengelus setiap lekuk dari hidungnya yang mancung. Dia menggenggam tanganku erat, membuatku mengerang pelan. "Aduh."
Aku mendengar suara lift dan juga suara pintu yang terbuka dengan otomatis. Aku merasakan tubuhku terbanting ke atas dan ke bawah pada sebuah kasur yang sangat empuk. "Berhenti untuk menggerakkan tubuhmu seperti itu Bocah, atau kamu mau aku membuatmu tidak akan bisa berjalan esok hari." Ucap Laki-Laki itu kepadaku karena aku yang merasakan sangat kepanasan dengan tubuhku sendiri.
"Kamu benar-benar berniat untuk memancingku Bocah, selamat datang di duniaku." Ucapnya setelah aku mendengar suara pintu yang tertutup. Aku merasakan seragam sekolahku dibuka oleh seseorang, aku merasakan sedikit nyaman karena uap panas tubuhku yang menguap setelah seragam sekolahku terlepas dari tubuhku.
Aku melihat laki-laki itu membuka jas yang digunakannnya dan seluruh atasan yang dikenakannya, menampilkan bagian atas tubuhnya yang terpahat sempurna dengan lekuk otot pada tangan, pundak bahkan perutnya. "I...Ini mimpi." Ucapku. "Iya, ini mimpi dan kamu akan melupakannya esok hari." Bisik pria itu, aku merasakan jarinya menyentuh lembut leher dan tulang selangka pada dadaku, membuatku menggeram karena terasa seperti sengatan listrik.
__ADS_1
Suara tempat tidur bergemuruh pelan, bersamaan dengan suara sumpah serapah dari Laki-Laki itu. Aroma mint bercampur dengan aroma body lotion yang biasa aku gunakan. "Shit, aroma tubuhmu benar-benar membuatku gila Bocah." Ucapnya menggeram, Saraf dibawah kulitku terasa haus akan disentuh, membuatku menelan ludahku sendiri.
Terasa seperti kehilangan kesadaran, aku mendorong dada Laki-Laki diatasku dan membuatnya terguling ke samping. Aku pindah untuk duduk diatas tubuh kekar Laki-Laki itu, aku menyentuhkan jari-jariku di sepanjang dada hingga perut berototnya dengan jari-jari yang gemetar, memberikan isyarat bahwa aku menginginkan perlakuan yang serupa.
Tetapi Laki-Laki itu tidak bergerak sama sekali, dia hanya menatapku tajam dengan tangan yang dijadikan sebagai sandaran kepalanya. Setelah beberapa detik kemudian, aku merasakan bahuku ditarik dan merasakan punggungku membentur kasur lagi.
Aku mengerang saat badanku terasa hangat kembali, karena sentuhan tangan dan gesekan kulit dari Laki-Laki itu. Naluriku membuat tubuhku bergerak-gerak di luar kesadaranku sendiri untuk mendapatkan gesekan yang paling memuaskan. Aku mengusap tubuhku ke tubuh Laki-Laki diatasku, ingin merasakan kehangatan yang lebih, hal itu membuatku mengigit bibir bawahku sendiri.
"Sarah." Desah Laki-Laki itu. "Kamu akan menyesalinya." Ucapnya lagi. Tanganku melayang ke punggung Laki-Laki itu, tetapi dia menahannya dan membawa tanganku ke atas kepalaku. Laki-Laki itu memegang satu sisi wajahku dan membelai lekuk leherku. Aku mengerang keras, mengangkat wajahku untuk memohon penekanan yang lebih dalam, dan tak terasa keringat mengalir dari alisku.
Samar-samar Laki-Laki itu menjulurkan lidahnya dan berbisik. "Aku tidak tahu apakah ini sebuah keuntungan atau kesialan untukku, setelah dua puluh tahun ini aku memendam dendam kepadamu dan sekarang aku malah bertemu denganmu, aku tidak tahu obsesi ini adalah obsesi ingin menghancurkanmu atau menginginkanmu, kamu membuatku gila, Bocah."
BERSAMBUNG.
__ADS_1