
Seberapa tegar dirimu didasari seberapa kuat hatimu.
“Ibu makan dulu Bu.” Aku mengarahkan sendok yang berisikan nasi dan potongan ayam goreng ke mulut Ibuku yang terlihat sangat pucat. Dia membuka mulutnya dengan wajah dan tatapan yang kosong. “Ibu makan yang banyak ya, biar gak sakit, kan Ibu belum makan dari pagi tadi.” Tidak terasa air mataku yang aku tahan sejak kami sampai di Apartemen pada malam harinya setelah pemakaman Om Alex jatuh perlahan membasahi pipiku.
Aku tertunduk melihat kearah piring dengan nasi yang masih banyak, yang sudah aku siapkan untuk makan Ibuku terlihat seperti belum disentuh sama sekali. “Ibu jangan seperti ini, Sarah takut kalau Ibu ninggalin Sarah juga, Sarah gak mau sendiri Bu.” Air mataku terus mengalir dengan suara isak tangisku. Tiba-tiba aku merasakan adanya tangan yang menarik tubuhku ke dalam sebuah pelukan.
“Maafin Ibu yaa Nak, maafin Ibu.” Dia mengusap kepalaku berkali-kali dan memberikan kecupan di pucuk kepalaku berkali-kali, sehingga memberikan kehangatan dalam hatiku dan membuat air mataku perlahan berhenti. “Ibu gak akan buat kamu sedih lagi, Ibu janji, maafin Ibu ya.”
Keesokan harinya.
“Sarah Sayang, ayo bangun anak ibu nanti kesiangan loh ke sekolahnya.” Aku menggosok mataku dan merenggangkan badanku. “Ibu.” Aku memanggilnya dengan perasaan senang, wanita yang selalu menyayangiku itu pun mengusap kepalaku dan mencium keningku. Aku merasakan hari ini seperti hari-hari sebelumnya dengan kasih sayang dari Ibuku. “Kamu mandi, terus sarapan ya.” Ucap Ibuku lembut. “Iya Bu.”
Setelah aku mandi dan menggunakan seragam sekolahku, aku keluar dari kamarku dan sudah melihat Ibuku berpenampilan seperti biasanya dengan wajah dan senyuman yang cerah tidak seperti kemarin. Aku pun duduk di meja makan dan makan sarapan di meja makan yang sudah disiapkan oleh Ibuku. “Nasi gorengnya enak Bu, Sarah suka.” Dia mengusap kepalaku, lalu pergi lagi menyiapkan satu piring nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang.
“Sarah bangunin Ayah ya, kasih tahu telur ceplok setengah matang kesukaannya sudah siap, Ayah kamu pasti langsung.” Ibuku terdiam dengan piring yang berisikan nasi goreng dan telur ceplok setengah matang ditangannya. “Ibu.” Ucapku. “Eh maaf Sayang, kamu sudah selesai makan? Ayo siap-siap kita berangkat ke Sekolah ya, Ibu yang anterin.” Ibuku langsung membuang nasi goreng tadi ke tempat sampah dan aku melihat dia menghapus kristal air mata yang hampir jatuh dari matanya. Ibu.
Sudah tiga hari semenjak ketiadaan Om Alex di Apartemen kami. Selama tiga hari itu juga setiap tengah malam aku mendengar suara tangisan Ibuku di Kamar Mandi. Tetapi selama tiga hari itu juga setiap pagi Ibuku selalu tersenyum menatapku dengan penuh senyuman seakan mengatakan semua akan baik-baik saja.
“Ibu, Sarah udah selesai ngerjain PR nya, tetapi Sarah ragu soal yang ini bener gak Bu jawabannya.” Aku menunjukkan satu soal pada bukuku kepada Ibuku yang duduk di sampingku pada malam keempat semenjak pemakaman Om Alex. “Bu.”
__ADS_1
“Eh apa Sayang? Udah selesai PR nya.” Ucap Ibuku yang sedikit terkejut dari lamunannya. “Ibu melamunin apa?” Tanyaku. “Gak ada Nak, ya sudah yuk sekarang Sarah tidur, sekarang sudah jam sembilan malam juga.” Ucapnya lagi. “Iya Bu.” Aku pun menuruti Ibuku untuk tidur lebih cepat.
Saat Ibuku mengusap kepalaku yang sudah terbaring di atas tempat tidur, aku melihat raut kesedihan pada wajahnya yang berusaha dia tutupi. “Sarah, Sarah harus selalu inget ya, kalau Ibu selalu sayang sama Sarah, apapun yang Ibu lakuin semua untuk kebahagiaan Sarah.” Dia menghapus tetesan air mata yang jatuh di pipi putihnya itu.
“Sarah harus jadi anak yang kuat, harus jadi anak yang tegar, harus jadi anak yang pintar.” Air mata Ibuku tidak dapat lagi dia tahan, dia mencium keningku dengan dengan isakan tangsinya. “Ibu kenapa?” Dia hanya menggelengkan kepalanya dan masih tetap mencium keningku. “Kalau Sarah sedih, Sarah selalu inget Ibu ya, Ibu selalu ada untuk Sarah, dan maafin Ibu kalau Ibu ngecewain Sarah. Ibu sayang sama Sarah.” Itulah kata-kata terakhir yang aku dengar dari Ibuku pada malam itu.
Dia menidurkanku, menyelimutiku, mematikan lampu kamarku dan menutup pintu kamarku seperti biasanya tanpa ada yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Harusnya malam itu aku mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya. Harusnya aku mengucapkan terima kasih atas semua pengorbanannya untukku. Tetapi semua terlambat, dengan kepolosanku di umur delapan tahun itu aku tidak mengatakan apapun untuk Ibu yang selalu menyayangiku itu.
Keesokan harinya tepat di hari minggu pagi, aku terbangun dari tidurku dengan jam yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Pagi itu tidak seperti biasanya, dimana biasanya dapur di Apartemen itu sudah sibuk dengan kegiatan Ibuku yang menyiapkan sarapan untukku, tetapi dapur itu terlihat sepi. Aku membuka pintu kamar Ibuku, aku melihat Ibuku tertidur diatas tempat tidurnya tanpa ada gerakan apapun dari tubuhnya yang terganggu akan suaraku yang memanggilnya saat masuk ke dalam kamarnya.
“Ibu bangun Bu, Sarah laper.” Tubuh Ibuku masih dengan nyenyaknya tidur diatas tempat tidurnya. Aku pun naik ke atas tempat tidurnya. “Ibu bangun Bu.” Aku menggoyangkan badannya, tetapi sama sekali tidak ada gerakan dari tubuhnya. Saat aku menangkup wajahnya, aku melihat ada busa berwarna putih yang keluar dari mulutnya, dan terlihat di sebelah tempat tidurnya ada satu botol obat nyamuk yang tergeletak di lantai dengan isi yang kosong.
“Ibu bangun Bu.” Aku berusaha menepis semua hal-hal buruk yang ada di pikiranku. “Ibu bangun.” Satu tetes air mataku jatuh ke pipiku. “Ibu.” Aku merasakan tanganku mulai bergetar ketakutan akan kenyataan yang akan kuhadapi. “Ibu jangan tinggalin Sarah Bu.” Aku merasakan dadaku menjadi sakit. “Ibu jangan tinggalin Sarah.” Dan air mataku akhirnya tumpah dengan sendirinya. Ibu, Sarah sayang Ibu.
Aku mendengar percakapan orang-orang di sekitarku yang membicarakan tentang Ibuku dengan keburukannya tanpa ada yang tahu apakah Ibuku memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, karena kehilangan orang yang dicintainya atau trauma karena dia juga menjadi korban pemerkosaan di malam hari kelahiranku itu, tidak ada yang pernah tahu itu.
“Sarah, jangan dengerin tentang kejelekan Ibunya Sarah ya, Sarah sendiri tahu kalau Ibu Sarah sangat menyayangi Sarah.” Ucap seorang Ibu-Ibu yang menggunakan kerudung panjang berwarna hitam yang datang mengusap kepalaku. “Mulai hari ini Sarah tinggal sama Ibu, Sarah bisa panggil Ibu, Ibu Aisyah.” Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan masih melihat kuburan Ibuku yang penuh dengan bunga. Ibu Sarah kangen.
.....
__ADS_1
“Ini Kamar Sarah, tempat tidur Sarah yang sebelah sana ya.” Aku masuk ke dalam sebuah ruangan yang berisikan tempat tidur tingkat yang mungkin ada sekitar sepuluh tempat tidur dalam satu ruangan tersebut. Aku sekarang ada dalam sebuah Panti Asuhan yang bernama “Panti Asuhan Mutiara Bunda” yang aku lihat saat aku masuk ke dalam rumah ini.
“Terima kasih Bu.” Ibu Aisyah mengusap kepalaku dan tersenyum kepadaku. “Sekarang Sarah istirahat dulu, sebentar lagi sudah jam makan siang, nanti Sarah langsung gabung sama teman-teman yang lain ya di ruangan yang Ibu tunjukkan sebelumnya.” Ucapnya. “Iya Bu.” Setelah itu Ibu Aisyah pun meninggalkanku sendiri di kamar itu, aku mendekati tempat tidurku yang sebelumnya sudah ditunjuk Ibu Aisyah.
Aku menidurkan tubuhku dengan pakaian yang masih sama saat aku gunakan di kuburan Ibuku. Aku memiringkan tubuhku ke kanan dan tidak terasa air mataku yang aku tahan waktu di pemakaman tadi mengalir dengan sendirinya. Ibu, Sarah kangen Bu. Aku menangis dengan isakan tangisanku yang tertahan, aku menyadari bahwa aku akan menjalani semua kehidupanku dengan tanganku sendiri.
.....
Itulah aku seorang gadis kecil yang mulai menjalani kehidupannya di sebuah Panti Asuhan. Selama kurang lebih delapan tahun aku tinggal di Panti Asuhan tersebut, aku menguatkan hatiku untuk terus menjadi anak yang kuat dan tegar, dan dengan usahaku akhirnya aku bisa mendapatkan beasiswa untuk bersekolah dari aku SD sampai ke SMA, tanpa mau merepotkan Ibu Aisyah yang aku tahu dalam kondisi kesusahan juga dalam mengurusi Panti.
Aku tahu dengan kondisi aku tinggal di Panti Asuhan, biaya untuk aku bersekolah akan sulit aku dapatkan, sehingga dari itu aku harus mengusahakannya sendiri. Aku tidak pernah mempunyai teman dekat, selama aku tinggal di Panti, kegiatanku sehari-hari hanya sekitaran Sekolah, Panti, belajar dan membantu Ibu Aisyah mengurusi Panti, termasuk membantunya berjualan nasi uduk untuk memenuhi kebutuhan Panti.
Semua uang yang diberikan oleh Ibu Aisyah saat aku membantunya berjualan nasi uduk selalu aku tabung untuk kebutuhanku sendiri. Aku hanya memendam perasaanku sendiri selama delapan tahun itu, baik perasaan sedih, marah, kecewa ataupun senang.
Sampai aku bertemu dengan Dave lagi. Seseorang yang akhirnya dapat membuatku tertawa lepas. Seseorang yang setiap hari melunakkan hatiku. Seseorang yang hari ke hari selalu mengisi cinta dan kasih sayang ke dalam hatiku lagi yang lama tidak aku dapatkan lagi. Seseorang yang terlihat memandangku sebagai seseorang yang benar-benar dia sayangi, tidak melihat status ataupun keadaan sosialku.
Aku bukannya tidak mau jujur kepadanya ataupun malu dengan keadaanku, hanya aku belum siap apabila dia pergi meninggalkanku karena tahu dengan keadaanku yang sebenarnya. Tetapi sekarang semua sudah terungkap, aku tidak tahu siapa penyebar berita di satu Sekolah ini, yang aku pikirkan sekarang hanya laki-laki yang aku sayangi dengan sepenuh hatiku itu. Dave kamu dimana?
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!