
“Anak kecil itu tidak bisakah dia tidak menggangguku.” Ucap Angkasa terdengar kesal, aku menggunakan kembali pakaianku dan segera menuju pintu. “Deborah?” Tanyaku dengan heran melihat Deborah yang sudah ada di depan pintu membawa sebuah gaun berwarna hitam bersama tunangannya Samuel.
“Aku yakin sekali pasti Kak Kassa tidak memberitahukan Kak Sarah tentang acara malam hari ini.” Ucap Deborah dengan memasang wajah kesal saat masuk ke dalam apartemen diikuti oleh Samuel di belakangnya. “Kenapa kamu selalu menggangguku Deborah.” Ucap Angkasa menatap tajam Deborah dari tempat duduknya di sofa.
"Kak Kassa yang menyuruhku untuk menyiapkan semua keperluan Kakak Ipar malam ini, bagaimana Kak Massa bisa lupa?" Bantah Deborah tidak kalah tajam dengan Angkasa. Saat Angkasa akan berkata sesuatu untuk menjawab perkataan adik sepupunya, Deborah langsung menarikku masuk ke dalam kamar di dalam apartemen tersebut. "Honey, tolong jaga orang itu agar tidak menggangguku dan Kakak Ipar." Ucap Deborah kepada Samuel yang dijawab dua jempol kepada Deborah.
“Sejak kapan kamu tiba disini Deb? Terus ada acara apa sebenarnya malam ini?” Tanyaku kepada Deborah yang sudah mendudukkanku di depan sebuah cermin dan mulai mengeluarkan peralatan-peralatan make upnya. “Aku yakin Kak Kassa pasti lupa memberitahukan Kak Sarah atau mungkin dia memang sengaja melupakannya.” Ucap Deborah yang terlihat berpikir keras. “Malam ini Kak Kassa dan Kak Sarah diundang ke sebuah pesta yang dibuat khusus oleh teman dan rekan bisnis Kak Kassa disini, semua orang-orang penting di Paris bahkan para model dan selebriti terkenal akan datang di acara malam hari ini.” Ucap Deborah dengan tangannya bergerak kesana kemari pada wajahku.
Aku sedikit terkejut dengan ucapan Deborah. Tamu-tamu penting dan orang-orang terkenal akan
datang, apakah aku pantas untuk bertemu mereka. “Deb, hmm apakah aku harus datang ke acara ini?” Tanyaku kepada Deborah dengan ragu membuat Deborah menghentikan aktivitasnya. "Tentu saja Kak, kan Kak Sarah adalah istrinya Kak Massa, jadi Kakak sudah pasti harus datang ke acara ini." Ucap Deborah membuatku menghembuskan napas berat.
__ADS_1
“Kak Sarah gak perlu malu untuk bertemu mereka, tidak akan ada yang berani mengejek atau membuat malu Kak Sarah, kalau sampai itu terjadi Kak Kassa pasti akan memberikan perhitungan kepada mereka semua, jadi Kak Sarah tidak perlu takut oke dan tenang aja di tangan aku Kak Sarah tidak akan kalah dengan para selebriti disana nanti.” Ucap Deborah yang membuat perasaanku sedikit lega.
Setelah kurang lebih empat puluh lima menit Deborah mendadaniku, pintu kamar tempatku dan Debora berada terbuka, menampilkan sosok Angkasa yang sudah berpenampilan rapi dengan setelan jas yang terlihat sangat cocok pada tubuhnya. “Sudah selesaikah kamu menculik istriku, Deborah?” Ucap Angkasa yang menyenderkan tubuhnya pada pintu.
“Sudah selesai.” Ucap Deborah sedikit berteriak dengan raut wajah yang puas. “Kak Sarah, wajah Kak Sarah sangat cocok untuk menjadi seorang model, aku selalu sangat puas dengan apa yang aku lakukan terhadap Kak Sarah.” Lanjut Deborah.
“Terima kasih Deb.” Ucapku berdiri dan mendekati Angkasa yang langsung mendekapku dalam pelukannya. “Aku tidak ingin berlama-lama di pesta ini, kita harus segera cepat kembali ke apartemen ini lagi.” Ucap Angkasa dan mengecup bibirku lembut. “Dan kamu anak kecil, aku tidak mau melihatmu lagi saat aku kembali lagi ke sini setelah pesta itu selesai.” Ucap Angkasa dingin ke arah Deborah yang hanya di balas dengan gelak tawa oleh Deborah.
“Bersenang-senanglah disana Kak Sarah, dan kamu Kak Kassa jaga baik-baik Kakak Iparku.” Ucap Deborah penuh ancaman, membuat Angkasa memutar bola matanya. Aku hanya dapat tertawa melihat tingkah dua sepupu ini. Aku dan Kassa pun segera turun dari Lantai 47 dan menuju lobi dimana sebuah limosin hitam sudah berada tepat di depan Lobi. “Bonsoir mesdames et messiurs.” Ucap seorang pemuda menggunakan jas rapi berwarna hitam dan membukakan pintu mobil untuk kami.
“Mendekatlah.” Ucapnya yang terdengar seperti perintah, aku mendekatkan diriku dengan tangannya yang langsung melingkar pada pinggangku. “Kamu adalah orang yang sangat pantas dan paling pantas untuk berada di sisiku dan sekarang dirimu sudah menjadi Nyonya Pratama, jadi bangkitkan kepercayaan dirimu dan tegakkan kepalamu.” Ucap Angkasa yang membuatku hanya dapat mengangguk pelan. Aku harap aku tidak membuat masalah nanti.
__ADS_1
Limosin kami berhenti di sebuah bangunan besar dimana sorot kamera langsung menghujam dari segala sisi dan seketika membuat nyaliku yang tadi sudah kembali normal menjadi ciut kembali. Apa yang harus aku lakukan. Kakiku gemetar saat pintu limosin terbuka. “Kass, kenapa harus ada banyak wartawan dan kamera disini?” Tanyaku kepada Kassa yang hanya tersenyum tipis kepadaku dan membantuku keluar. Gelaran karpet merah di bawahku dengan jepretan silau dari kamera yang diarahkan kearah kami, membuatku menggenggam tanganku pada tangan Angkasa lebih erat.
Angkasa yang sepertinya mengerti dengan ketakutanku memberikan arahan tangan kepada beberapa
Laki-Laki berbadan besar di samping kami untuk mengusir para Wartawan yang mengambil gambar kami. “Jangan takut ada aku disini.” Ucap Kassa memantapkan lagi genggaman tangannya padaku.
Kami berjalan di gelaran karpet merah dimana semua orang disana menyapa Angkasa yang hanya di jawab dengan tatapan datar oleh Angkasa, aku melihat kanan kiri secara bergantian dimana para jajaran selebriti terkenal sedang menatap Angkasa dengan wajah kagum dan menatapku dengan raut wajah yang tidak dapat aku tebak. “Kassa.” Suara seorang Perempuan di depan kami yang membuat Angkasa berhenti berjalan. Wanita itu berjalan anggun mendekati kami dan langsung menciumi pipi Angkasa. Kassa tidak menolaknya?
“Kristal.” Ucap Angkasa menatap Wanita cantik dan anggun itu. Kristal menggunakan berwarna biru laut yang terlihat tembus pandang dengan rambut yang diikat satu, cantik itulah kesan pertamaku saat melihatnya. “Kemana saja kamu Kassa, kenapa tidak pernah menghubungiku lagi? Bahkan saat kamu tidak di Paris kamu tidak menelponku untuk menemanimu seperti biasanya.” Ucap Kristal yang berbicara kepada Angkasa, tetapi aku dapat melihat lirikan matanya yang mengarah kepadaku dengan senyuman tipisnya. Kristal? Inikah Kristal yang dibilang Blake waktu itu?
Dadaku terasa sedikit berdenyut seperti merasakan ada sayatan luka pada hatiku melihat kedekatan antara Angkasa dan Kristal di depan mataku, Kristal adalah wanita yang seharusnya lebih pantas untuk bersanding dengan ketampanan Angkasa. Aku merasakan tangan Angkasa sedikit melepaskan genggaman tangannya padaku saat Kristal menyentuh dasi yang digunakan oleh Angkasa. Aku ingin pergi dari sini.
__ADS_1
Aku menarik tanganku tetapi tertahan oleh genggaman erat Angkasa lagi. “Lepaskan tangan kotormu.” Ucap Angkasa dengan suara keras membuat orang-orang di sekitar kami berlalu pergi karena takut akan mendapat masalah besar apabila berurusan dengan seorang Angkasa Pratama. Angkasa menarikku mengikuti langkah besarnya dan meninggalkan Kristal yang menghentak-hentakkan kakinya dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
BERSAMBUNG.