Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
RINDU DALAM HATI


__ADS_3

"Bukankah hidup ini sebetulnya mudah? Jika rindu, datangi. Jika tidak senang, ungkapkan. Jika cemburu, tekankan. Jika lapar, makan. Jika mulas, buang air. Jika salah, betulkan. Jika suka, nyatakan. Jika sayang, tunjukkan. Manusianya yang sering kali mempersulit segala sesuatu. Ego mencegah seseorang mengucap "Aku membutuhkanmu"." - Fiersa Besari.


Malam harinya, aku dan Laura pergi ke Kantor Polisi memberikan laporan terkait kejadian yang kualami siang tadi di Rumah Bara. Polisi juga sebenarnya sudah ada kecurigaan terkait Bara sebagai tersangka pembunuhan Indra, tetapi karena belum ada bukti lebih lanjut, sehingga Polisi belum bisa menangkap Bara.


"Pak Taufan, apakah dia menceritakan bagaimana dia melakukan hal keji itu kepada Indra?" Tanya Laura, Polisi itu berpikir sebentar, dan bertanya kepadaku dan Laura. "Apa kalian akan baik-baik saja apabila saya menceritakan ini?" Tanya Polisi itu, aku dan Laura pun hanya dapat menganggukkan kepala kami lemah.


Polisi itu menceritakan bahwa Bara sudah merencanakan ini semenjak kepulangan kami sewaktu liburan di Bali. Awalnya Bara hanya berencana untuk menakuti Indra, dengan cara menabrakkan mobilnya ke motor Indra waktu itu dan menculiknya di sebuah Gubuk Tua di daerah Puncak.


Tetapi rencananya tidak berjalan lancar, karena Indra bersikeras untuk tidak mau menuruti kemauannya, sehingga membuat Bara menjadi lepas kendali dengan menusuk tubuh Indra beberapa kali, dan dengan tidak sengaja juga Bara memukulkan sebuah kayu ke kepala Indra, yang ternyata kayu tersebut terdapat dua buah paku yang tertancap disana, dimana saat Bara memukulkan kayu tersebut ke kepala Indra, paku itu menancap kedalam kepala Indra.


Aku menutup mulutku terkejut dengan cerita dari Polisi itu. "A...apa yang diinginkan Bara, Pak? Tanyaku dengan nada yang bergetar, Taufan menatapku dan menghembuskan napasnya berat. "Dia menginginkan Indra untuk meninggalkanmu, tetapi Indra tidak mau melakukannya, bisa kita katakan juga bahwa Bara mempunyai gangguan jiwa yang dinamakan Bipolar Disorder." Ucapnya.


"Bipolar Disorder yaitu gangguan otak yang dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang tidak biasa. tingkat aktivitas dan energi, dan juga kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari – hari. Perubahan suasana hati pada penderita sangat ekstrem dan menetap dalam waktu lama. Gangguan ini dapat merusak hubungan sosial, pekerjaan dan sekolah penderitanya. Hal ini juga dapat menyebabkan sesorang menjadi Psikopat." Lanjutnya lagi.


Terjadi keheningan diantara aku, Laura dan Taufan setelah mendengarkan penjelasan darinya. "Pak." Ucapku dengan sedikit ragu. "Apakah aku boleh bertemu dengannya?" Tanyaku. "Sar, kamu yakin?" Ucap Laura mengenggam tanganku. "Aku yakin Kak, aku ingin berbicara berdua dengannya." Ucapku meyakinkan diriku.

__ADS_1


Setelah berpikir cukup lama Taufan memperbolehkanku berbicara dengan Bara. Aku dibawa ke sebuah Ruangan yang hanya terdapat dua buah kursi dengan meja persegi ditengahnya, aku duduk di salah satu kursi itu dan tidak lama kemudian Bara datang dengan pakaian berwarna oranye dan tangan yang terborgol. Satu Polisi menunggu kami di salah satu sudut Ruangan di belakang Bara.


"Sayang, kamu akhirnya kesini." Ucap bara dengan tangan yang ingin menyentuhku diatas meja, aku langsung menarik tanganku membuat raut emosi pada wajahnya, dan seketika langsung berubah lagi menunjukkan senyuman pada wajahnya.


"Bar, apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Bara yang aku kenal adalah seseorang yang sudah aku anggap sebagai Abangku sendiri, yang aku yakini tidak akan pernah membuatku bersedih dan menangis, kemana Bara yang aku kenal." Ucapku tertunduk dengan air mata yang jatuh ke pipiku.


"Aku masih disini Sar, aku adalah Bara yang kamu kenal." Ucapnya. "Tetapi aku tidak suka apabila ada Laki-Laki berada di dekatmu dan bisa membuatmu bahagia dan tersenyum lebih dari yang aku berikan." Ucapnya dengan tegas dan sorot matanya yang tajam. "Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkannya, apabila kamu bertemu lagi dengan seseorang yang menyayangimu lebih dari aku, aku akan kembali Sarah, membunuh orang itu, karena hanya boleh aku yang menjadi Laki-Laki di dekatmu." Ucapnya membuatku takut dan segera berlalri keluar dari Ruangan dan Kantor Polisi. Mengapa harus seperti ini.


Laura yang menungguku di luar Kantor Polisi langsung memelukku. "Apakah semuanya baik-baik saja Sar?" Tanyanya. "Aku mau pulang Kak." Ucapku pelan menyembunyikan suara tangisku, setelah itu Laura pun tidak berkata apa-apa dan kami pun balik ke Panti tanpa ada yang bersuara sampai di Panti.


"Terima kasih karena mau menyayangi dan mencintai Adikku, terima kasih selalu berada di sisinya saat kami tidak ada bersamanya, terima kasih Sar." Laura memelukku erat, kami menangis di dalam mobil, aku juga baru menyadari akan rencana kepergian Keluarga Indra terkait hutang mereka dengan Angkasa Pratama, semua hal itu terlupakan olehku karena masalah-masalah yang kuhadapi dalam satu minggu ini.


"Semoga kita dapat bertemu lagi ya Sar." Ucap Laura melepaskan pelukannya. "Aku harap kita bisa bertemu lagi Kak." Ucapku sedih. "Aku juga titip salam kepada Om dan Tante ya Kak." Ucapku dan dia menganggukan kepalanya. Aku pun turun dari mobil Laura, dia tersenyum terakhir kalinya kepadaku sebelum menjalankan mobilnya.


Aku melihat kepergian Laura bersama kenangan-kenanganku bersama Indra, semua kenangan-kenangan saat aku pertama kali bertemu dengannya di Sekolah, saat kami tertawa di Lorong Lantai Tiga di Sekolah, saat aku melihatnya tersenyum senang menyaksikan Tim Basket favoritnya bermain, saat kami bermain di Lapangan Basket dan saat waktu yang berharga selama kami berada di Bali. Akankah aku dapat move on dari bayang-bayangmu Ndra, akankah aku bisa?

__ADS_1


1 hari kemudian.


Hari ini adalah hari pertama masuk Sekolah untuk SMA XYZ, setelah liburan panjang kenaikan kelas. Aku jatuh sakit, badanku merasakan demam tinggi sehingga tidak memungkinkan tubuhku untuk berangkat dari tempat tidurku.


Aku bersyukur karena masih ada Ibu Aisyah yang merawatku di Panti, teman-temanku datang menjengukku termasuk Wali Kelasku, tidak lama dari kepulangan mereka Alisha dan Edgar juga datang ke Panti, Alisha membawa makanan yang terasa hambar di mulutku.


2 hari kemudian.


Aku akan masuk ke Sekolah pada akhirnya, karena aku merasakan tubuhku sudah sedikit baikan. Aku melamun saat menunggu Angkutan Umum lewat di depan Panti, karena aku masih merasa menunggu seseorang yang nantinya akan membuka jendela mobilnya dan mengatakan "Pagi Sayang." Air mataku menetes.


Aku pun memutuskan untuk balik ke Panti lagi dan terpaksa berbohong kepada Ibu Aisyah bahwa tubuhku masih demam sedikit dan Ibu Aisyah pun memakluminya, aku langsung meletakkan bekal nasi goreng dengan dua telor ceplok yang aku bawa diatas meja makan.


3 hari kemudian.


Aku masuk ke Sekolah, duduk di bangku kosong yang masih ada di Pojok, Rizka sengaja mengosongkan tempat duduk itu untukku, agar aku bisa duduk di sebelahnya. Saat pelajaran dimulai, aku coba mengikuti setiap pelajaran dan mengejar ketinggalanku, tetapi pikiranku masih tidak disini. Hatiku terasa sakit kembali, di Sekolah ini malah menambahkan kerinduanku padanya. Aku merindukannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2