
Malam harinya Angkasa memelukku dengan posesif di atas tempat tidur besar di dalam Kamar di samping Kamar Kakeknya. Laki-Laki tampan itu memberikan kecupan-kecupan dan ciuman, juga sentuhan-sentuhan nakal pada tubuhku yang membuatku harus menutup mulutku rapat untuk menahan suara yang akan keluar dari mulutku.
Tubuhku terus menggeliat sejalan dengan sentuhan dan kecupan yang dilakukan oleh Angkasa, semakin aku menggeliat semakin juga tambah bersemangat Angkasa menjajahi tubuhku. "Sayang, hentikan aku tidak mau Kakek sampai mendengar apa yang kita lakukan sekarang." Ucapku dengan wajah yang aku buat sememelas mungkin.
"Hmm." Ucapnya dengan mengangkat kepalanya dari ceruk leherku dan akhirnya menghentikan aktifitasnya. Dia merebahkan tubuhnya di sebelahku dan memelukku dalam dekapannya dengan kepalaku yang aku senderkan pada dada bidangnya.
Dia mengusap lembut rambutku. "Aku seharusnya memberimu hukuman lebih dari ini." Ucapnya dengan penuh penekanan. "Sayang." Panggilku dengan mengusap dadanya lembut. "Kamu tidak perlu seperti ini, hmm maksudku aku suka dengan sifat cemburumu seperti ini, tetapi percayalah hatiku sekarang hanya ada kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir dan posesif seperti ini." Ucapku lembut kepadanya.
"Hmm, aku bukan tidak percaya denganmu, hanya saja aku tidak suka milikku dilihat oleh orang banyak apalagi dengan tatapan mengagumi dan penuh minat seperti tadi." Ucapnya dingin yang membuatku tidak bisa membantah perkataannya lagi, setelah itu kami tertidur dengan posisi yang saling berpelukan tanpa melakukan apa-apa hanya saling membagi kehangatan dan rasa sayang satu sama lain membuatku tidur dengan nyenyaknya.
Paginya aku membawa Kakek Angkasa dengan keadaannya yang sudah membaik berjalan-jalan ke taman belakang rumahnya dengan kursi roda. Aku dan Kakek menghirup udara pagi yang segar dan menatap hamparan bunga dengan berbagai warna dihadapan kami.
"Nak." Panggil Kakek Angkasa kepadaku yang sedang duduk di bangku taman. "Iya Kek." Jawabku. "Angkasa pasti sudah menimbulkan banyak kesusahan dan masalah untukmukan?" Tanyanya membuatku terdiam mendengar pertanyaannya.
__ADS_1
"Sejak kecil anak itu merasa kesepian, dia tidak punya teman dan dibesarkan dengan sangat keras untuk menjadi pewaris tahta Pratama, setelah kejadian mengerikan yang di alaminya karena anakku Mega, aku melakukan kesalahan lagi karena meminta Pamannya untuk membesarkannya." Ucap Kakek Angkasa menghembuskan napasnya berat.
"Anakku Royhan, Pamannya membesarkan Angkasa dengan metode yang sama denganku membesarkannya, metode yang merupakan cara kolot dan kasar. Anak itu memang mempunyai karakter yang dingin seperti itu, tetapi pada dasarnya anak itu adalah anak yang baik, dia hanya tidak tahu caranya memperlakukan orang lain dengan baik dan benar. Semoga kamu bisa bersabar menghadapinya dan hidup bahagia dengannya." Ucap Kakek Angkasa tersenyum penuh kehangatan kepadaku.
"Awalnya aku memang kesulitan menghadapiya Kek, tetapi entah mengapa aku merasakan bahwa dia sama sepertiku yang dulu." Ucapku yang sekarang sedang melihat kupu-kupu yang sedang beterbangan menghinggapi sebuah bunga berwarna kuning.
"Orang yang selalu merasa kosong, hampa dan kesepian karena tidak adanya orang yang bisa menjadi tempat bercerita dan mendengarkan keluh kesahku, jadi saat aku mengenalnya, aku merasa ingin membantunya sampai aku merasa hatiku terisi dengan dirinya secara tiba-tiba, jadi tanpa Kakek minta pun aku akan berusaha untuk membahagiakannya dan menemaninya sampai dia sendiri yang memintaku untuk menjauhi dirinya." Ucapku dengan senyuman hangat dan air mata yang aku tahan pada sudut mataku.
Aku dan Kakek masuk ke dalam Rumah besarnya dan melihat Angkasa yang terlihat tergesa-gesa dengan setelan jas lengkap. "Kassa, bbukankah kamu hari ini libur, besok adalah acara pertunanganmu." Ucap Kakek kepada Angkasa heran. "Tiba-tiba Perusahaan kita di Singapura memberitahukan bahwa ada masalah yang urgent dan membutuhkanku untuk kesana." Ucap Angkasa dengan wajah serius.
Di dalam mobil menuju ke Bandara, Angkasa memeluk pinggangku dengan posesif, wajah tampan pria itu terbenam di ceruk leherku dan menghirup aroma tubuhku. "Sayang, jangan lakukan disini, tidak bisakah kamu melepaskanku?" Tanyaku memohon karena ketidaknyamananku akan dilihat oleh Supir Pribadinya yang berada di belakang kemudi, walaupun Angkasa sudah memerintahkannya untuk tidak sama sekali melihat kearah belakang atau dia sama sekali tidak akan dapat melihat lagi.
"Tidak bisakah kamu ikut denganku?" Tanyanya lagi dengan nada lebih memohon dariku. "Tidak bisa, aku harus menjaga Kakek dan juga besok sudah acara pertunangan kita, masih banyak hal yang harus diurusi." Ucapku kepadanya. Dia menghela napasnya berat. "Aku akan sangat merindukanmu." Ucapnya dengan mendekapku lebih erat.
__ADS_1
Aku mengusap lembut kepalanya. "Kamu hanya akan pergi sebentar." Ucapku memejamkan mataku dan menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya. Setelah sampai di Bandara, dia memelukku kembali dengan erat dan mencium keningku dengan lembut. "Jaga dirimu baik-baik." Ucapku kepadanya yang membuatnya tersenyum. Dia melangkah pergi masuk ke dalam Bandara membuatku dapat menatap punggung kokohnya menjauh dariku. Cepat kembali.
Aku kembali ke Rumah Kakek, saat aku masuk ke dalam Rumah, di Ruang Tamu aku bertemu dengan orang yang aku takuti semenjak acara pertunangan Debora. Om Royhan. "Aku kira Angkasa hanya bermain dengan mainan barunya dan membuangnya segera setelah bosan, tetapi ternyata kamu menempel seperti lintah." Ucap Om Royhan penuh penekanan.
:Aku mencari ke sekeliling Ruangan, tetapi sama sekali tidak menemukan sosok Kakek. "Pergilah dari Angkasa, ini adalah peringatan terakhir untukmu." Ucapnya lagi. Dia mendekatiku membuat satu tetes keringat berhasil mengalir di pelipisku. Aku menunduk menghindari tatapan menghina darinya. "Maaf aku tidak bisa." Ucapku tertunduk.
"Berapa uang yang kamu inginkan, sebutkan dan pergilah setelah itu." Ucapnya menatapku tajam. "Maaf tetapi aku tidak menginginkan apapun dari anda, karena aku mencintai Kassa." Ucapku yang kini mencoba berani menatapnya. "Hmm, Wanita Murahan sepertimu ternyata mempunyai keinginan yang ambisius." Ucapnya yang sekarang duduk pada sofa di depanku.
"Aku sudah mengetahui asal usulmu, ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Ucapnya membuatku mengernyitkan dahiku. "A...apa maksud anda Tuan?" Tanyaku. "Aku tahu tentang Ibumu, Wanita Murahan yang menghancurkan kehidupan Kakakku, tetapi aku juga ingin berterima kasih dengan Ibumu, karena berkatnya aku bisa mendapatkan tahta yang aku inginkan." Ucapnya penuh penghinaan.
Aku hanya dapat menunduk mendengar perkataannya. "Sekarang Anaknya yang berdiri angkuh di depanku berniat untuk menghancurkan dan membuat malu nama Keluarga Pratama." Ucapnya yang sudah berdiri di depanku. "Aku akan memberimu waktu sampai besok." Ucapnya dan berlalu pergi meninggalkanku bersama para Bodyguardnya.
Setelah kepergiannya, aku melangkahkan kakiku lesu menuju ke Kamar Kakek Angkasa, saat aku membuka pintu Kamarnya, aku melihat Kakek sedang tertidur pulas dengan memeluk undangan pertunangan antara aku dan Angkasa membuatku terdiam menatapnya yang sedang tertidur. Aku menutup lagi pintu Kamarnya dan pergi menuju Kamarku dan duduk di tepi tempat tidurku, memandang dress putih yang sudah di design khusus oleh Debora untukku. Apa yang harus aku lakukan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.