
FOLLOW AUTHOR DAN TETAP VOTE YA!!!
"Apa sebenarnya yang terjadi Sarah?" Ucap Bara saat dia sudah duduk kembali di kursinya, aku menghembuskan napasku dengan berat. "Apakah kebahagiaan harus selalu ada pengorbanan ya?" Ucapku pelan tetapi aku yakin Bara dapat mendengar perkataanku walaupun di selingi dengan suara rintik hujan di sekitar kami. "Sar, kita hidup di dunia ini selalu mempunyai pilihan, dan setiap pilihan pasti akan selalu ada hal yang dikorbankan." Ucap Bara yang membuatku melihat kearahnya.
"Begitu pun dengan kebahagiaan dan kesedihan, kita sebagai manusia punya pilihan untuk kedua hal tersebut, tetapi apapun pilihannya, semua tergantung pada diri kita masing-masing, apakah kita mau berkorban untuk orang yang kita sayangi bahagia, atau justru mereka yang rela berkorban untuk kebahagian kita?" Ucap Bara yang membuatku sedikit bingung. "Maksudnya Mas?" Tanyaku.
"Begini, apabila kamu akan menikah dengan seseorang yang kamu sayangi, apa yang kamu korbankan dari dirimu sendiri?" Tanya Bara. "Hmm, kebebasanku dalam beberapa hal yang mungkin tidak bisa aku lakukan lagi saat aku sudah menikah dengan orang itu." Jawabku yang membuat Bara tersenyum.
"Apakah kamu merasa pengorbananmu sia-sia?" Tanya Bara lagi kepadaku. "Tidak." Jawabku cepat. "Kenapa?" Tanya Bara lagi. "Karena aku melakukannya untuk kebahagiaanku dan orang yang aku sayangi." Ucapku. "Jadi, lakukan apa yang hatimu katakan benar, dan jangan pernah menyesal apabila pilihan kamu salah, jadikan itu sebagai pengalamanmu untuk maju kedepan meraih kehidupan yang lebih baik lagi." Ucap Bara.
"Tetapi aku tidak mau melihat Indra mengorbankan dan menyakiti Keluarganya untukku." Ucapku tertunduk. "Indra Kenapa dia harus mengorbankan keluarganya untukmu Sarah?" Tanya Bara yang terlihat serius melihat kearahku. Aku pun menceritakan masalah yang aku alami sekarang dengan ketidaksukaannya Keluarga Indra dengan kehadiranku di dekatnya.
__ADS_1
"Jika Indra tidak mau mengorbankan hal itu untuk mendapatkan kamu, aku akan lebih bersedia mengorbankan semua yang aku punya untuk berada di di sampingmu Sar." Ucap Bara yang membuatku sedikit terkejut dengan perkataannya. Maksudnya? Dia hanya tersenyum melihat keheranan pada raut wajahku.
"Oke, seperti hujan sudah mulai sedikit reda, kamu mau kemana setelah dari sini?" Tanya Bara. "A...aku." Ucapku bingung kemana tujuanku untuk pergi. "Kamu mau menemui Keluarga Indra lagi?" Tanya Bara yang membuat hatiku mengingat sosok yang aku butuhkan sekarang. "Aku belum siap untuk menemui mereka dulu Mas." Ucapku.
"Kamu mau pulang?" Tanya Bara lagi dan aku pun menganggukkn kepalaku, karena untuk sekarang mungkin sebaiknya aku pulang dulu mengistirahatkan pikiranku dan memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Setelah itu aku dan Bara pun keluar dari Food Court Rumah Sakit, dan berjalan menuju ke Parkiran Mobil Bara.
Di dalam mobil hanya suara radio yang terdengar diantara aku dan Bara. "Apa yang Mas Bara Lakukan sendiri di Rumah Sakit?" Tanyaku memecahkan keheningan diantara kami. "Aku melakukan cek rutin kondisi kesehatanku Sar." Ucap Bara tersenyum dan membuatku bertanya-tanya apa sakit yang di deritanya, sehingga dia harus melakukan cek rutin di Rumah Sakit tersebut, tatpi aku tidak berani bertanya pertanyaan yang terlalu pribadi kepadanya.
"Sar, hidup bahagialah, karena kita tidak pernah tahu kapan dan berapa lama kita berada di dunia ini, lakukan apa kata hatimu benar, jangan ragu apabila hal itu akan membuatmu bahagia di kemudian hari." Ucapnya tetap memegang setir kemudi mobilnya dengan erat dan memandang lurus ke depan. "Iya Mas." Ucapku singkat melihat kearahnya dengan senyum di bibirnya.
Aku pun masuk ke dalam Panti, dan saat masuk ke dalam Kamar, aku baru teringat akan jaket yang aku gunakan. Kenapa aku bisa lupa untuk mengembalikannya lagi. Aku pun melepaskan jaket tersebut dan berniat untuk mencuci jaket itu terlebih dahulu dan mengembalikannya besok sepulang Sekolah, saat aku memeriksa kantong jaket tersebut untuk mengeluarkan apabila masih ada barang yang tertinggal di jaket tersebut saat ingin mencucinya, aku menemukan sebuah buku kecil di saku kanan jaket tersebut. Apa ini?
Saat aku membuka satu per satu halaman dari buku tersebut yang kebanyakan berisi tentang nomor telepon orang dan beberapa koordinat penerbangan, aku menemukan sebuah catatan kecil yang ada tulisan namaku di catatan tersebut. Ini curhatan hati Mas Bara?
__ADS_1
Gadis itu menangis di depan Pintu Masuk Bandara, wajah manisnya ya basah karena air matanya langsung membuat darahku mengalir dengan cepat memompa dengan cepat jantungku, dia mencari seseorang dengan schedulepenerbangan yang sudah terlewatkan dan dia pun pergi setelah mengetahui hal itu tanpa aku tahu nama Gadis Manis tersebut, aku berjanji pada diriku sendiri apabila aku bertemu dengan dirinya lagi aku harus bertemu dengannya.
Setelah lelah dari penerbanganku dari Parishari itu, entah mengapa aku bermimpi bertemu dengan Gadis Manis tersebut, membuatku terbangun dari tidurku, saat aku membuka pintu Kamarku, aku melihat Gadis itu lagi di depan Kamarku dengan wajahnya yang terlihat pucat dan dia jatuh pingsan dalam dekapanku yang membuat jantungku berdegup kencang menatap wajah Gadis Manis itu lagi.
*Aku meletakkannya di tempat tidurku, membuatku bisa melihat lebih jelas wajahnya, tetapi entah mengapa wajahnya selalu menyiratkan kesedihan, seharusnya Gadis Manis seperti dirimu hidup dengan bahagia dan tawa yang selalu muncul di wajahmu, dan saat itulah aku mengetahui nama yang selalu kukenang dalam hati dan pikiranku *SARAH.
Aku terkejut saat membaca catatan kecil ini, aku terkejut dengan isi hati dari Bara. Apa yang harus aku lakukan. "TRING! TRING!" handphoneku tiba-tiba berdering, aku bergegas menuju keatas meja belajarku, menari handphoneku dalam isi tasku. Kak Indra.
"Halo, Kak." Ucapku menjawab telpon itu. "Kamu sudah di Rumah?" Tanyanya dengan sedikit bernada marah. "Sudah Kak." Jawabku sedikit takut. "Besok sepulang sekolah, ada yang mau aku bicarakan." Ucapnya. "Kak, are you okay?" Tanyaku khawatir, aku mendengar hembusan napasnya berat. "Kamu istirahat saja dulu, besok kita bicarakan lagi, good night." Ucap Indra dan mematikan sambungan telepon tersebut. Tuhan, aku harap semua baik-baik saja.
BERSAMBUNG.
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
__ADS_1
Terima kasih supportnya!!!