
“Sahabat sejati bukanlah mereka yang memiliki banyak persamaan, tetapi mereka yang memiliki pengertian terhadap setiap perbedaan.”
“Aku belum memperkenalkan diriku waktu itu di Bandara, aku Bara.” Ucap Laki-Laki tersebut. “Eh iya aku Sarah.” Ucapku menerima jabatan tangannya untuk bersalaman dan dapat aku lihat ada tersirat senyuman di wajahnya. “Sarah, kamu sudah sadar.” Suara Rizka yang ada di balik punggung Bara, “Kamu gak pa-pa? kamu tadi jatuh pingsan, untung ada Kak Bara tadi yang nolongin.” Lanjut Rizka terlihat cemas saat dia sudah mendekat kearahku, sementara Bara sudah berdiri digantikan oleh Rizka yang duduk ditempat dia sebelumnya.
“Aku gak pa-pa Riz, mungkin hanya kelelahan saja.” Ucapku mengurut bagian keningku yang agak sedikit pusing. “Kamu minum ini dulu, ini air gula, aku rasa kamu mengalamin darah rendah.” Ucap Bara memberikan satu gelas air gula kepadaku. “Terima kasih Kak.” Aku pun mengambil gelas yang ada di tangannya. “Kamu sudah makan?” Tanyanya lagi dan aku hanya menggelengkan kepalaku setelah meminum habis satu gelas air gula tersebut.
“Kenapa kamu gak makan Sarah? Kamu ada masalah?” Tanya Rizka kepadaku, aku tersenyum kepada sahabat di depanku ini yang terlihat sangat cemas dengan keadaanku. “Gak pa-pa kok Riz.” Ucapku tidak mau membuatnya khawatir. “Sekarang jam berapa Riz?” Tanyaku. “Sekarang sudah jam lima sore, kamu tadi tidak sadarkan diri kurang lebih satu jam.” Ucap Rizka yang membuatku sedikit terkejut.
“Ha? terus yang lain gimana? Maafin aku.” Ucapku ke Rizka dan menanyakan keberadaan Vina dan Ivan, serta tUgas kelompok kami. “Sudah kamu gak usah pikirin masalah itu, tugas kelompoknya juga sudah selesai dan mereka juga sudah balik.” Ucap Rizka menenangkanku. “Maafkan aku ya Riz, sepertinya aku memang bisanya membuat susah orang lain.” Ucapku lirih. “Kalau gitu aku izin balik juga ya Riz.” Lanjutku dan saat aku mau berangkat dari tempat tidur aku merasakan kepalaku pusing lagi dan akan mau jatuh.
“Kamu gak pa-pa.” Ucap Bara yang menahan tubuhku lagi dan membuat mata kami bertemu selama beberapa detik. “Aku tidak apa-apa Kak, terima kasih.” Ucapku berusaha untuk berdiri sendiri. “Aku anterin pulang ya.” Ucap Bara dan aku melihat kearah Rizka yang terlihat tersenyum senang dan meggerakkan kepalanya mengganguk dengan cepat seakan memberitahuku untuk menyetujui usulan Bara.
__ADS_1
“Iya Kak.” Ucapku dan aku melihat Bara terlihat senang. Aku dan Rizka pun keluar dari Kamar Bara, sementara Bara sendiri mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum pergi mengantarkanku pulang. “Udah siap?” Ucap Bara yang sudah berdiri dengan tampilan casual yang menampilkan pesona kegagahannya. “Udah Kak.” Ucapku berdiri. “Kak, Sarah jangan di apa-apain, awas kalo Sarah sampe kenapa-kenapa.” Ucap Rizka menunjukkan genggaman tinju pada tangannya kearah Bara, yang membuat Bara tertawa. “Kakak janji bakalan jaga Sarah, walaupun itu harus dengan nyawa Kakak.” Ucap Bara, aku melihatnya sekilas dan dapat kulihat bahwa perkataan Bara terlihat serius dan tulus.
Setelah itu Bara berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya, aku pun izin pamit ke Rizka dan menyusul Bara masuk ke dalam mobilnya. “Kak Bara! Hati-hati.” Teriak Rizka dari depan Pintu Rumahnya. Setelah itu mobil Bara pun berjalan keluar dari area perkarangan rumahnya itu dan masuk ke dalam keramaian jalanan Jakarta. Di dalam mobil aku hanya menatap ke jendela, melihat hilir mudik kendaraan-kendaraan sekitar, tetapi dengan pikiran yang terbang entah kemana dan aku menghembuskan napasku berat. “Semua masalah pasti ada solusinya Sar, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri.” Ucap Bara yang sepertinya tahu apa yang ada di pikiranku.
Tak terasa air mataku menetes dalam tundukan kepalaku, aku terisak sendiri dengan tangisanku dan aku merasakan mobil kami berhenti di pinggiran jalan, tetapi aku tidak melihat kemanapun, aku hanya tertunduk masih dalam tangisanku. Aku merasakan tubuhku di dekap seseorang dalam sebuah pelukan. “Menangislah keluarkan semua keluh kesahmu.” Suara Laki-Laki itu entah mengapa membuatku menjadi semakin terisak.
“Aku salah apa? Apa yang telah aku lakukan sampai orang-orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku? Aku hanya mau bahagia dengan orang yang aku sayangi, apakah itu sulit?” Ucapku lirih dengan terisak, aku merasakan tangan yang mengelus lembut punggung dan kepalaku. “Kamu akan bahagia percayalah itu, Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa dilewati oleh Umat-Nya, percayalah.” Ucapnya, aku masih menangis dalam dekapannya, bahkan aku menggenggam baju kaos hitamnya itu.
Setelah hampir lima belas menit aku menangis dalam pelukan Bara, hatiku menjadi sedikit lebih lega. “Kita makan dulu ya, kamu belum makankan?” Ucap Bara masih menatap ke depan. “Ehm gak usah Kak.” Ucapku. “Kita makan dulu, aku gak mau kamu jadi sakit.” Ucapnya dengan sedikit memaksa dan aku pun menganggukkan kepalaku tanda menyutujuinya.
“Haha, kamu santai aja Sarah, aku lagi laper banget.” Ucapnya Bara tertawa geli karena melihat ekspresiku, setelah itu kami pun makan dan tidak ada yang bersuara, kadang-kadang aku melihat kearah Bara yang terlihat sangat lahap mengahabisi makanan di depannya dan berhasil membuat senyum pada wajahku.
__ADS_1
“Jangan dilihatin terus nanti suka.” Ucap Bara yang mengejutkanku. “Eh.” Aku pun langsung menundukkan kepalaku dan menghabisi makananku. Ketahuan lagi. Setelah aku dan Bara menghabiskan makanan kami tanpa sisa, Bara mengantarkanku pulang sampai depan Panti Asuhan.
“Terima kasih Kak.” Ucapku saat aku sudah turun dari mobil dan berjalan beriringan dengannya menuju ke dalam Panti. “Sarah!” Aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang yang membuatku dan Bara menoleh ke belakang. Indra.
Aku masih terdiam terpaku dan tertunduk tidak tahu harus berbuat apa. “Aku mencari kamu, teman-teman sekelas kamu bilang kalau kamu lagi kerja kelompok, kenapa kamu gak ada kabari aku? Kenapa tidak angkat telpon aku?” Ucap Indra saat sudah di depanku. “A-aku.” Ucapku gugup dan aku merasakan kedua pundakku di pegang oleh Indra.
“Kita bicarakan di dalam ya.” Ucap Indra menatapku lekat, setelah itu dia melihat kearah Bara yang menyadarkanku juga akan adanya sosok Bara disebelahku. “Eh.” Ucapku. “Saya Bara.” Ucap Bara mengulurkan tangannya ke Indra dan disambut oleh Indra. “Saya Indra.” Ucap Indra dan aku hanya melihat kedua Laki-Laki ini saling bersalaman dimana kedua Laki-Laki di depanku ini punya kharismanya masing-masing.
“Dia Kakaknya Rizka.” Ucapku saat mereka menyudahi jabatan tangan mereka. “Dan dia yang sudah mengantarkanku pulang.” Lanjutku. “Terima kasih sudah mengantarkan Sarah pulang.” Ucap Indra degan tulus dan dijawab senyuman oleh Bara. “Sama-sama, kalau begitu saya izin pulang dulu, Sarah aku izin pulang dulu ya.” Ucap Bara. “Iya Kak, terima kasih sudah mengantarkan aku pulang.” Ucapku, setelah itu Bara pergi meniggalkanku dan Indra di depan Pintu Panti dimana sebelum dia masuk mobil, aku dapat melihat senyuman dari wajahnya kepadaku. Terima kasih.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!