
"Tak ada yang lebih indah daripada hari-hari yang dinaungi cinta. Dan tak ada yang lebih menyakitkan, daripada malam-malam penuh ketakutan, karena ditinggalkan kekasih." - Khalil Gibran.
Aku memasuki Ruangan IGD setelah Laura keluar dari Ruangan itu dan mengatakan kondisi Indra masih belum sadar sama sekali, aku membuka Pintu Ruangan IGD secara perlahan, ada keraguan dari dalam hatiku untuk melihat kondisi Indra, apakah aku akan sanggup untuk melihatnya yang sedang menderita seperti ini, tetapi aku memaksakan tubuh dan kakiku untuk melangkah masuk menemui Kekasihku.
Aku melhat Indra yang terbaring lemah dengan perban hampir di seluruh tubuhnya, selang infus di tangan kanannya dan selang pernafasan pada hidungnya Aku belum menyentuh dan berbicara kepada Indra, tetapi air mataku sudah mengalir dengan sendirinya.
Ruangan itu terasa sunyi dengan tubuh Indra yang tidak bergerak sama sekali dan suara alat monitor jantung Indra yang hanya terdengar sedikit stabil mengisi kesunyian Ruangan IGD ini. Aku menggenggam tangannya lembut, tidak ada kehangatan disana, hanya rasa dingin yang kudapatkan, saat itulah aku benar-benar merindukan kehangatan pada telapak tangannya.
"Ndra, ini aku Sarah." Ucapku menahan tangis. "Kamu dengar aku kan Sayang." Ucapku tetap berusaha menahan tangisku. "Kamu harus bertahan untukku ya, kamu kan janji untuk selalu ada di sisiku." Satu tetes air mataku mengalir dan menetes mengenai telapak tangannya.
"Masih banyak tujuan kita yang belum kita penuhi Ndra, kamu bilang mau kita kuliah di Universitas yang sama, dan kamu janji juga akan mengajakku ke tempat-tempat terindah di dunia ini, dan aku lelah Ndra, aku butuh pundakmu untuk bersandar." Air mataku sudah jatuh membasahi pipiku kini.
"Tidakkah kamu ingin melihatku bisa menjadi contoh untuk Adik-Adikku di Panti? Oh iya Adit juga menanyakan kamu, dia kangen untuk main bersama kamu, nanti kita main lagi ke Panti ya, nanti kita juga bakal nyaksiin Tim Basket kesukaan kamu, kamu juga berharap suatu hari nanti bisa main disanakan?" Aku mendekatkan wajahku, tanganku menyentuh bagian pipinya yang tidak terluka.
__ADS_1
"Ndra aku rindu, penuhi janji-janjimu kepadaku atau aku akan marah, aku tidak akan membuatkanmu nasi goreng kesukaaanmu dengan dua telor ceplok yang biasa kamu minta." Aku menempelkan keningku dengannya. "Ndra bangun, aku takut sekarang, jangan tinggalkan aku tolong." Aku terisak dengan tangisanku.
"Aku mohon Ndra bangun, dadaku sakit sekarang Ndra, aku tidak tahu kenapa, terasa sakit sekarang, aku butuh kamu." Aku mengecup lembut bibirnya dan tiba-tiba aku merasakan tanganku disentuh oleh jari-jari Indra, aku langsung melihat kearah tangan Indra yang aku genggam, jari-jarinya bergerak.
"Ndra, Ndra ini aku Sarah." Ucapku dengan sedikit kelegaan di hatiku. Aku melihat matanya bergerak membuka secara perlahan. "Ndra." Ucapku melihat kearahnya. "Sa...Sar." Panggilnya lemah. "Iya aku disini Ndra, aku disini." Ucapku kepadanya dengan senyuman di wajahku.
Dia berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh wajahku, aku membantu mengarahkan tangannya ke wajahku, dia menghapus air mataku dengan perlahan yang ada pipiku. "Jangan menangis Sayang." Ucapnya lemah dan berusaha tersenyum. "Jangan menangis ya, aku selalu ada disisimu."
"Sar, Sarah." Panggil Alisha membangunkanku, membuatku dengan cepat membuka mataku dan melihat ke sekitar dengan kepalaku yang tiba-tiba menjadi sedikit sakit. "Aku ketiduran ya Sha, maaf." Ucapku mengurut pelipisku. "Sar, sepertinya terjadi sesuatu dengan Indra." Ucap Alisha yang membuatku langsung melihat kearah pintu Ruangan IGD.
"Indra Sar, Indra sudah tidak ada lagi." Ucap Laura yang membuat dunia di sekitarku diam, hancur seketika waktu itu, aku hanya dapat terdiam tidak membalas pelukan Laura, dadaku tiba-tiba menjadi sakit, bukan sesak karena tidak dapat bernapas, tetapi dadaku terasa seperti ada lubang besar yang tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Indra.
Aku hanya dapat mendengar suara tangisan di sekitarku, suara kemarahan dari Edgar yang menyebut nama Indra. "Ndra, lo gak boleh ninggalin gua, gak boleh." Teriak Edgar. "Gar, yang sabar Gar." Ucap Alisha terisak menangis dan memeluk Edgar.
__ADS_1
"Gua banyak salah sama dia Sha, gua banyak salah." Tangis Edgar dalam pelukan Alisha yang juga ikut menangis dalam pelukan Edgar. Laura melepaskan pelukannya dan masuk kembali ke dalam Ruangan IGD bersama Papanya setelah Dokter keluar dari Ruangan tersebut dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Sar." Suara Bara dari belakangku membuatku tersadar dari tubuhku yang hanya terdiam terpaku dari tempatku berdiri tidak menangis atau apapun, dia membalikkan tubuhku menghadapnya dan memelukku dengan hangat. "Menangislah, biarkan hatimu tenang, lepaskan kesedihanmu." Ucapnya
Saat itu, aku merasa alam sadarku tertarik kembali ke dunia nyataku, aku hanya terdiam dalam pelukan Bara dengan air mata yang mengalir dengan sendirinya. Kepalaku dipenuhi dengan kenangan-kenangan bersama Indra, tetapi semakin lama aku mengenangnya semakin kabur juga wajah Indra dalam ingatanku, aku langsung merasa takut bahwa aku tidak dapat mengingat lagi wajahnya, wajah tersenyumnya, wajah yang selalu membuatku tertawa lepas, wajah yang membuatku selalu merasa aman dan terlindungi, tetapi kini semua hanya tinggal kenangan, kenangan manis yang tidak mungkin kulupakan.
Keesokan harinya, suasana sepi menemaniku dan hatiku yang sedang berlipur lara, menatap sendu tempat peristirahatan terakhir orang yang selalu menemaniku disaatku sedih, orang yang benar-benar tulus menyayangiku, orang yang selalu menjagaku, tidak terasa air mataku mengalir dengan sendirinya, tanpa aku paksakan untuk mengalir, membasahi pipi dan wajahku.
"Kamu jahat, kenapa kamu tinggalin aku sendiri disini? Kamu yang beri harapan itu kepadakukan. Kamukan yang janji akan menjagaku. Sebelum kamu datang setiap hari aku pendam sendiri rasa sakit ini, rasa marah ini, rasa sedih ini sampai kamu datang dan bilang kepadaku."
"Jadikan aku tempatmu untuk berkeluh kesah, kamu tidak perlu lagi berpura-pura tegar di depan orang lain padahal kamu sendiri sedang tersakiti dan sedih. menangislah jika kamu ingin menangis, teriaklah sekencang-kencangnya jika kamu ingin teriak, aku akan selalu menjagamu Sarah, aku tidak akan bisa melihat kamu disakiti orang lain lagi, aku berjanji akan selalu ada untukmu."
"Sekarang dimana kamu, aku sedang sedih sekarang, aku sedang sakit, dadaku sesak, aku tidak sanggup menahannya. Aku butuh kamu, aku sedang menangis sekarang dimana pundakmu yang selalu aku gunakan untuk mengadu, dimana pelukanmu yang selalu menenangkanku. Jangan tinggalkan aku sendiri disini, aku mohon.” Ucapku dengan air mata yang terus mengalir tanpa hentinya. Aku pegang batu nisan yang bertuliskan namanya. "Aku butuh kamu." Ucapku lirih.
__ADS_1
Semua orang yang tadi menemani Indra menuju tempat peristirahatannya sudah kembali pulang, termasuk Keluarga Indra, hanya tinggal aku sendiri disini menatap batu nisan dengan penuh kesedihan, saat aku akan pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Indra, aku melihat sosok Laki-Laki dengan setelan jas berwarna hitam yang berdiri tidak jauh dari Tempat Pemakaman Umum. Entah mengapa kakiku melangkah dengan sendirinya berjalan dengan cepat mendekati Laki-Laki itu dengan perasaan yang penuh luapan emosi. Angkasa Pratama.
BERSAMBUNG.