Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
RENCANA SANG PENGUASA?


__ADS_3

"Lantas hari-hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh menjadi dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur terluka, berharap hari segera berlalu. Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak pernah tahu kapan dia akan tiba mengetuk pintu. Kemarin kita masih tertawa,untuk besok lusa tergugu menangis. Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan." - Tere Liye.


Suara rintik hujan masih terdengar, bahkan suara katak yang memnta agar air dari langit dapat lebih banyak lagi tumpah ke bumi tidak dapat mengalahkan rasa risau dan kekhawatiran di hatiku. Sudah lima jam semenjak kepergian Indra belum ada sama sekali 25 pesanku di balas, belum ada sama sekali 15 kali teleponku diangkatnya. Kemana kamu Ndra?


Tiba-tiba teleponku berdering dan hanya dalam dua detik aku langsung menekan tombol berwarna hijau pada telepon genggamku. "Halo, Ndra?" Ucapku dengan keras. "Halo, Sar." Ucap suara Perempuan dari telepon genggamku yang membuatku langsung mengenali siapa yang menelponku.


"Iya Kak Laura, ada apa Kak?" Tanyaku lesu. "Indra ada disana?" Tanya Laura yang membuatku sedikit kaget. "Indra? Gak ada Kak, memangnya Indra belum sampai Rumah Kak?" Tanyaku risau. "Belum ada Sar, dan tumben-tumbennya dia tidak mengangkat telpon dari Papa atau Mama." Ucap Laura yang membuatku bertambah khawatir.


"Aku coba bantu cari ya Kak, seharusnya dia sudah sampai Rumah, karena Indra bilang dia ingin membicarakan sesuatu kepada Om dan Tante di Rumah, itu juga dia pulang sudah sekitar lima jam yang lalu." Ucapku khawatir. "Iya Sar, tolong bantu ya tanya ke teman-temannya yang kamu tahu, Kak Laura juga masih berusaha buat cari juga, karena Kak Laura takut." Ucap Laura terpotong dan takut akan mengatakan kata-kata selanjutnya kepadaku.


"Takut apa Kak?" Tanyaku, aku mendengar hembusan napas berat Laura. "Kak Laura takut dia pergi menemui Tuan Angkasa Pratama" Ucap Laura dengan suara serak saat menyebut nama Angkasa. Indra. "Ya sudah, mudah-mudahan ini hanya ketakutan Kakak saja, Kakak mau coba telpon Keluarga yang lain siapa tahu dia ada di tempat mereka, nanti kalau kamu ada informasi langsung infoin Kak Laura ya." Ucap Laura. "Iya Kak, nanti pasti langsung Sarah kasih tahu kalau ad informasi apapun itu." Ucapku setelah itu Laura pun menutup sambungan komunikasi kami tadi. Indra kemana kamu.


Aku meletakkan telpon genggamku di pinggirku, aku sedang duduk di depan Pintu Panti memejamkan mataku mencoba untuk berpikir positif dan berpikir semua akan baik-baik saja, hanya dapat berharap semoga Indra hanya menghentikan motornya di pinggir jalan dan berteduh di sebuah Rumah atau Toko dengan kondisi telepon genggamnya yang tidak mendapatkan sinyal. Aku harap.

__ADS_1


Setelah perasaanku tenang, aku mencoba untuk menelpon Edgar, pada dering pertama sampai dengan ketiga telponku belum juga diangkat, dan berharap semoga tidak diangkatnya ini karena Edgar sedang sibuk mengobrol dengan Indra. "Halo." Ucap Edgar dari ujung telpon tersebut.


"Halo, Gar ini Sarah." Ucapku dengan sedikit tergesa-gesa. "Apakah Indra bersama kamu sekarang?" Tanyaku tanpa menunggu jawaban dari Edgar. "Indra? Gak ada Sar, gua belum ada ketemu Indra hari ini, kenapa Sar? Dari suara lo kedengeran khawatir?" Tanya Edgar. "Hmm Indra belum ada kabar dari lima jam yang lalu, Kak Laura dan Orang Tuanya juga sedang mencarinya." Ucapku mencoba untuk tenang.


"Hmm, oke gua coba bantu cari nanyain ke temen-temen yang lain." Ucap Edgar dan langsung memutuskan sambungan telepon kami. Setelah itu tanpa menunggu waktu lama, aku juga ikut mencoba menghubungi beberapa teman yang lain dan hasilnya sama saja, tidak ada yang tahu dengan keberadaan Indra.


Tidak terasa air mataku jatuh, tubuhku bergetar karena kesedihan yang sangat sakit di hatiku. "Sarah kamu kenapa?" Suara Ibu Aisyah di belakangku yang sekarang sudah duduk di sampingku. "Bu...Indra Bu." Ucapku terisak dalam pelukan Ibu Aisyah. " Nak Indra kenapa?" Tanyanya mencoba menenangkanku dengan mengusap lembut pundakku.


Aku mencceritakan semuanya kepada Ibu Aisyah, dari waktu kejadi bersama Angkasa di Rumah Indra, firasat burukku yang tiba-tiba ada di hatiku hari ini, dan kabar menghilangnya Indra sampai sekarang. Ibu Aisyah memelukku lebih erat agar aku bisa lebih tenang.


Setelah itu aku dan Ibu Aisyah memutuskan untuk balik ke Kamar, aku melihat sebuah amplop coklat yang dibawa oleh Ibu Aisyah ditangan kanannya. Ibu Aisyah yang tahu saat aku memperhatikan amplop tersebut langsung mengangkatnya dan menyerahkannya padaku.


"Apa ini Bu?" Tanyaku kepada Ibu Aisyah. "Hmm, Ibu minta maaf sebelumnya sama kamu Nak." Ucap Ibu Aisyah dengan raut muka sedih. "Minta maaf kenapa Bu?" Tanyaku lagi, Ibu Aisyah mengambil waktu beberapa detik sebelum dia menceritakan hal yang membuatku terkejut.

__ADS_1


"Maaf Ibu tidak menceritakan kepadamu, Ibu dalam beberapa bulan terakhir ini mengaalami kesulitan untuk menjalani Panti Asuhan ini, Adik-Adikmu juga membutuhkan biaya lebih untuk sekolah mereka, dan penjualan nasi uduk Ibu pun kadang tidak terlalu laris seperti biasanya." Ucapnya sedih.


"Lima hari yang lalu, saat kamu liburan ke Bali, ada seorang Pengusaha yang tiba-tiba datang mau memberikan sebuah pinjaman dengan jumlah besar kepada Ibu, karena kondisi ibu sekarang dengan terpaksa Ibu menyetujui pinjaman tersebut dengan Rumah Panti Asuhan ini sebagai jaminannya, dan ini adalah surat perjanjiannya" Ucap Ibu Aisyah. Aku langsung membuka amplop coklat tersebut dan dengan sangat terkejut aku melihat nama orang yang memberikan pinjaman tersebut bernama ANGKASA PRATAMA.


Malam itu menjadi malam terburuk bagiku, aku sama sekali tidak dapat memejamkan mataku walau hanya dalam waktu sedetikpun, kepalaku memikirkan banyak hal, pertama aku memikirkan Indra yang belum ada kabar sama sekali dimana setiap menit aku selalu melihat handphoneku dan sesekali masih mencoba untuk menelpon Indra dengan handphonenya yang masih aktif.


Kedua aku memikirkan soal perjanjian Ibu Aisyah dengan Angkasa Pratama, aku tidak memberitahukan kepada Ibu Aisyah siapa sebenarnya sosok dari seorang Angkasa Pratama dan betapa kejamnya dia, aku tidak mau Ibu Aisyah bertambah pikirannya karena perjanjian yang dilakukannya bersama Angkasa adalah sebuah keputusan yang sangat buruk.


Aku jadi semakin berpikir, mengapa semua terjadi secara kebetulan, hal-hal yang berhubungan dengan Angkasa terjadi saat kami sedang liburan di Bali yang tiba-tiba aku menjadi teringat dengan percakapanku bersama Laura.


"Hmm, bagaimana ceritanya kita bisa dapat tiket dan voucher gratis Hotel semewah ini?" Tanyaku melihatnya yang sedang menggunakan kacamata hitam miliknya. "Hmm, itu ceritanya Bara dapat dari Atasannya." Ucap Laura.


Aku langsung duduk di tepi ranjangku dan mengambil handphoneku, aku mengecek di internet dengan handphoneku, mengecek sesuatu yang mungkin menurutku semua berhubungan dan betapa terkejutnya aku, semua fasilitas yang kami dapatkan selama liburan di Bali baik itu Hotel tempat kami menginap sampai dengan Perusahaan Pesawat yang kami naiki semuanya adalah properti milik Angkasa Pratama.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2