Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
DEMI CINTA


__ADS_3

“Jika memang ini yang terbaik.


Untuk diriku dan dirinya.


Kan ku terima semua demi cinta.” Lirik lagu Demi Cinta – Kerispatih.


Satu minggu sudah aksi kampanye untuk Pemilihan Ketua Osis yang dilakukan oleh Indra dan Edgar di dalam lingkungan SMA XYZ. Hampir semua Siswa di Sekolah ikut terlibat dalam kegiatan tersebut, dari hasil jumlah tanda tangan dukungan untuk kedua belah pihak sangat terlihat jelas bahwa Indra yang akan memenangkan Pemilihan Ketua Osis yang akan dilakukan dua hari lagi dimana perbandingan kemenangan Indra dibandingkan dengan Edgar adalah 60 :40.


Dengan prediksi kemenangan Indra tersebut membuat hubungan persahabatan antara Indra dan Edgar juga semakin renggang, begitupun dengan tatapan ketidaksukaan Edgar kepadaku. Tetapi satu hal yang pasti dengan adanya kegiatan kampanye ini dimana aku ikut masuk dalam Tim Pemenang Indra yang di ketuai oleh Adel, membuat hubunganku dengan Indra menjadi semakin erat, karena semakin seringnya kami bertemu dan membuat perasaan cintaku kepada Laki-Laki tersebut menjadi semakin perlahan semakin besar dan dapat menyembuhkan luka yang pernah digoreskan oleh Dave.


Sikap Indra kepadaku pun berubah tiga ratus enam puluh derajat dari saat pertama kali aku bertemu dengannya, dimana saat pertama kali aku bertemu dengannya, Indra sangat cuek dengan aura disekitar tubuhnya yang menakutkan, tetapi sekarang saat dia bersamaku seolah-olah aku menemukan sosok Indra yang lain, dia sering tersenyum, memberikan perhatiannya secara penuh kepadaku, dan selalu menjagaku dari apapun yang selalu membuatku tenang dan aman saat bersamanya.


“Kak.” Panggilku ke Indra saat kami sedang berada di Kelasku untuk makan siang, karena sekarang Indra sangat suka dengan masakanku dan memintaku untuk selalu membawa bekal makan siang untuknya, yang membuatku terpaksa harus bangun lebih pagi.

__ADS_1


“Iya, Sayang.” Ucapnya setelah dia menelan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. “Apa yang membuat Kakak suka sama aku?” Ucapku mengaduk nasi dari tempat bekalku dan tidak berani melihat kearahnya karena malu dan dia pasti akan bisa melihat wajahku yang merona merah.


Tiba-tiba aku merasakan bibir hangatnya mengenai pipiku. “Kak.” Ucapku sedikit berteriak karena terkejut, dan aku melihat ke sekeliling kelas memastikan tidak ada yang melihat kejadian tadi. Aku langsung menatap Indra dengan tajam saat dia tertawa karena melihat reaksiku saat dia mendaratkan bibirnya di pipiku.


“Kamu tambah lucu kalau begini, itu yang membuatku suka sama kamu Sayang.” Ucapnya sambil mengusap kepalaku. “Kak Indra!” Ucapku dan memukul lengan kirinya yang membuatnya meringis kesakitan tetapi masih dengan tawanya yang mengejekku. “Awas ya, aku gak mau masak lagi nanti.” Ucapku berbohong, tidak mungkin juga aku tidak akan masak untuk Laki-Laki di depanku ini yang selalu membuatku nyaman dan aman saat bersamanya.


“Jangan-jangan, iya aku gak akan ketawa lagi.” Ucapnya dengan wajah yang terlihat sedikit cemas dengan gertakanku. Ternyata aku bisa juga membuat seorang Indra ketakutan seperti ini haha. “Sakit ya lengannya ya?” Ucapku saat melihat dia masih mengusap lengan kirinya. Dia tersenyum kepadaku dan melepaskan tangan kanannya dari lengan kirinya dan menyetuh lembut pipiku. “Ini tidak seberapa, aku akan lebih sakit kalau melihat kamu menangis.” Dia mendekatkan wajahnya kepadaku yang membuat bibirku dan bibirnya bertemu yang entah mengapa membuatku hatiku berdegup kencang tetapi enggan untuk melepaskan pautan lidah kami.


.....


“TENG! TENG! TENG!” Suara bel tanda pulang Sekolah, menyadarkanku dari lamunanku, aku sampai tidak menyadari sudah berapa lama aku melamun akan hal yang terjadi saat istirahat tadi, aku hanya tersenyum sendiri dengan isi pikiranku. Apa yang aku pikirkan.


Aku pun membereskan peralatan Sekolahku ke dalam tas ranselku. “Sar, mau bareng?” Ucap Rizka yang sudah berdiri menggunakan tas ranselnya. “Gak Riz, hari ini aku bareng Kak Indra.” Ucapku berdiri juga dengan masih memasukkan beberapa buku ke dalam tasku. “Oh Oke kalau begitu aku duluan ya, sampai ketemu besok ya.” Ucap Rizka sambil melambaikan tangannya yang aku jawab dengan anggukanku, setelah itu Rizka dan beberapa temanku keluar dari Kelas bersama Rizka.

__ADS_1


Tidak lama kemudian aku juga ikut keluar dari Kelas, saat tiba di depan Kelas, aku melihat ke sekitar tidak menemukan sosok yang membuatku melamun selama mata pelajaran akhir tadi. Kemana Kak Indra. Aku mengecek telpon genggamku, tetapi tidak ada pesan yang masuk ataupun telpon yang masuk. Aku pun berinsiatif menemui Kak Indra di Kelasnya, saat tiba di Kelas Indra aku masih tidak menemukan sosoknya, semua Siswa di Kelas tersebut pun sudah kosong, termasuk bangku yang biasa menjadi tempat duduk Indra. Apa aku langsung ke Parkiran aja ya.


Aku melangkahkan kakiku menuju Parkiran, saat hampir mendekati Parkiran, aku melihat beberapa Siswa berkumpul mengelilingi sesuatu, aku melihat mobil Indra masih terparkir di tempat yang sama saat tadi pagi kami sampai di Sekolah. Aku mendekati kearah kerumunan Siswa-Siswa tersebut, aku melihat Adel berteriak histeris di kerumunan tersebut, aku berjalan dengan cepat mendekati Adel. “Kak, Kakak kenapa?” Ucapku kepada Adel, dan aku melihat kearah pandangannya. “Kak Indra!” Aku berteriak kaget melihat Indra di depanku yang sedang memukul wajah Edgar yang sudah mengeluarkan darah dari mulutnya.


“Bangsat! Hapus video itu sekarang!” Ucap Indra dengan sangat keras dan penuh dengan emosi, tangannya kirinya memegang kerah seragam Edgar dengan tubuh Edgar yang sudah berada di tanah, tangan kanan Indra sudah siap memukul Edgar yang sudah terlihat tidak dapat bergerak lagi. Aku tidak pernah melihat wajah dan sikap Indra seperti sekarang ini, wajahnya terlihat sangat menakutkan dengan aura yang ingin membunuh. Aku harus menghentikannya, kalau tidak dia akan mendapatkan masalah besar.


Aku mendekati Indra, memegang dan menarik tangan kanannya. “Kak, sudah Kak, ini semua bisa dibicarakan baik-baik.” Ucapku masih menarik pergelangan tangannya. “Minggir!” Ucap Indra tanpa melihat kearahku dengan mendorong kuat tangannya dan mengenai wajahku yang membuatku terjatuh. “Ah.” Teriakku jatuh terduduk. “Sarah!” Teriak Adel mendekatiku dan membantuku untuk berdiri, dan Indra langsung menoleh kearahku.


“Sarah.” Ucapnya dan dia pun langsung melepaskan genggamannya dari seragam Edgar dan segera mendekatiku. “Maafkan aku.” Ucapnya lagi dengan wajah yang sangat terlihat menyesal, dia membantuku untuk berdiri. “Aku gak pa-pa Kak, kita pulang ya, sudah jangan berantem lagi, aku gak mau Kakak kenapa-kenapa.” Ucapku menarik tangannya dengan air mata yang sedikit berkumpul di pelupuk mataku. Dia membersihkannya dan mengangguk kepadaku.


“Kamu ingat Ndra, kalau kamu tidak mau mengikuti keinginanku.” Ucap Edgar yang membuat kami termasuk Siswa-Siswa lain meberikan perhatian penuh kearah Edgar. “Kamu akan tahu akibatnya.” Lanjutnya lagi mengangkat handphone ditangan kanannya dan tersenyum licik kearahku dan Indra. Ada apa ini?


BERSAMBUNG

__ADS_1


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.


Terima kasih supportnya!!!


__ADS_2