
"Ka...Kassa." Aku menarik wajahku dari wajahnya dan menarik nafas sebanyak-banyaknya setelah melepaskan ciuman hangat dan intim yang diberikan oleh Kassa. "Hmm." Dia hanya memberikan gumaman kepadaku dengan menyentuh dan mengusap wajahku lembut.
"Apa maksudmu dengan kamu menganggap mereka adalah Orang Tuamu? Bukankah mereka memang Orang Tuamu?" Tanyaku hati-hati dengan perkataanku. Aku melihat dia menghembuskan nafasnya berat. "Awalnya aku mengira seperti itu, tetapi ternyata aku tidaklah beda seperti seekor anjing yang dipungut dijalanan, di beri makan dan tempat berteduh sampai akhirnya dijadikan monster untuk dijadikan penerus Keluarga ini." Ucapnya.
" Ma...maksudmu? Dan...Orang Tua kandungmu?" Tanyaku lagi dia hanya diam tidak menjawab pertanyaanku. "Maafkan aku." Ucapku lagi karena merasa pertanyaanku menyakitinya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu adalah milikku, jadi kamu berhak tahu akan semua tentang duniaku." Ucapnya.
"Aku dipungut sewaktu aku masih bayi yang ditinggalkan oleh Orang Tua kandungnya sendiri yang bahkan tidak menginginkan kehadiranku di dunia ini yang tidak pernah tahu tentang keberadaan mereka seberapa keras pun aku mencari mereka, mungkin mereka sudah mati tersiksa itu harapanku." Ucapnya singkat membuatku mengusap kepalanya lagi. "Kassa, darimana kamu bisa tahu tentang semua ini?" Tanyaku. "Dari seorang monster yang melebihiku yang merupakan orang paling di hormati di Keluarga Pratama." Ucapnya.
"Sarah." Panggilnya membuat mata kami saling melihat dan terikat. "Aku mohon jangan tinggalkan aku walaupun aku sendiri yang memintanya, jangan pernah membuat dirimu pergi meninggalkanku walaupun pikiranmu memaksamu ingin pergi. Aku tahu hidup bersamaku adalah hal tersulit yang akan kamu alami, tetapi biarkan aku melindungimu, biarkan aku menjadi bagian dari duniamu, karena aku mencintaimu." Ucap Kassa lembut membuatku untuk pertama kalinya memberikan kecupan lembut di bibir hitamnya. Dia sedikit tersentak karena perlakuan pertama kali dariku kepadanya saat ini, tetapi setelah itu dia membalas kecupanku, dengan sebuah ciuman hangat dan intim.
Mungkin aku memang seorang Wanita yang lemah, bodoh, dan *****. Wanita yang mau saja menuruti apapun keinginan seorang Laki-Laki di hadapanku ini seperti seekor burung Beo. Melakukan sesuatu dan masuk ke dunia hitam seperti ini. Tetapi apa yang harus aku lakukan apabila hatiku yang tidak dapat menentukan dengan siapa aku menyukai seseorang yang sekarang berada di tepi jurang, meminta tolong kepada seorang Gadis yang dianggapnya seperti Malaikat, meminta sayapnya untuk dirinya sendiri agar dapat bahagia walau hanya sesaat.
Mata tajam dan sikap dingin ini tidaklah membuatku buta akan hatinya yang rapuh, aku merasakan kesepian, kehampaan dan kesendirian disana karena sesuatu dari masa lalunya yang seharusnya dapat dilalui dengan tawa canda layaknya anak-anak seumurannya. Aku ingin bersamanya, memberikan segaris senyum di wajahnya karena mungkin aku mulai mencintainya.
__ADS_1
Aku merasakan nafasku hampir habis saat Angkasa memagutkan lidahnya ke lidahku, aku menengadahkan kepalaku ke atas karena merasakan rasa geli yang belum pernah aku rasakan. "Ka...Kassa tempat apa ini?" Tanyaku tersengal untuk mengalihkan rasa yang aneh di dalam tubuhku sekarang.
"Mau aku tunjukkan tempat apa ini?" Tanyanya yang membuatku mengernyitkan dahiku, tanpa meminta izinku dia mengambil kedua tanganku dan memborgolnya pada dua buah tali di sisi kepala tempat tidur. "Seharusnya kamu tidak perlu untuk datang ke tempat ini, karena kamu akan benar-benar melihat sisi monsterku sekarang." Ucapnya dengan seringai yang sedikit membuat bulu halusku bergidik.
Aku yang berada di pangkuannya dapat mendengar dengusan nafas Angkasa yang berat, dia mulai memberikan tanda kemerahan pada leherku sebagai tanda kepemilikan. "Milikku." Ucapnya dengan masih terus menjamah bagian sensitif pada leherku.
Aku dengan spontan menggerakkann tubuhku karena rasa geli yang aku rasakan sekarang tanpa sengaja mengenai bagian yang keras di bawahku. "Engh." Aku mendengar geraman Angkasa di bawahku, tanganku hanya dapat terbuka dan tertutup pada ikatan tali di pergelangan tanganku.
Aku merasakan tangan Angkasa memegang erat pinggangku dan menggerakkannya maju mundur sehingga membuat pahanya mengencang setiap kali tubuhku menggesekkan sesuatu yang keras dibawahku. Jantungku berdegup kencang sampai aku hanya mendengar samar bisikan Angkasa pada telingaku. "Aku bergairah sekarang."
Aku merasakan pinggangku diremas kuat oleh Angkasa dan dengan perlahan aku membuka mataku untuk melihat wajah Angkasa, dapat aku lihat wajah dengan rahang kerasnya menahan sesuatu yang kapanpun akan siap untuk meledak.
Aku tidak menyadari bahwa resleting di belakang bajuku sudah turun sampai ke pinggulku dan memperlihatkan bagian atas tubuhku yang tidak tertutupi. Aku merasakan tangan Angkasa yang dingin menyentuh, meraba bagian sensitifku.
__ADS_1
"Akh!" Aku menghentikan ciumanku karena terkejut seperti merasakan sengatan listrik pada tubuhku. Aku melengkungkan tubuhku ke belakang karena merasakan sesuatu yang hangat dari bibir Angkasa pada dadaku. Perasaanku campur aduk saat ini, malu, gugup, cemas, nikmat dan nikmat. Aliran hangat menjalar di seluruh tubuhku membuatku menelan ludah.
"Ka...Kass." Ucapku tersengal. "Panggil aku Sayang." Ucap Angkasa mendesah berat. Bibir Angkasa mengecap hampir ke seluruh bagian dadaku, mengeluarkan bunyi saat dia mengecapnya. Aku menyipitkan mataku saat Angkasa membuka ikatan pada pergelangan tanganku.
Saat aku akan terjatuh ke tempat tidur, dia menahan tubuhku dengan tangan kekarnya, dia masih sibuk menjelajah setiap lekuk tubuhku sembari aku merasakan sesuatu yang sangat keras dibagian tubuhku. Aku dibaringkan perlahan oleh Angkasa di atas tempat tidur.
Tanpa terasa bajuku di lepaskan semua oleh Angkasa meninggalkan sesuatu yang menutupi bagian sensitif pada tubuh bawahku dan sepatu high heelsku. Angkasa membuka kemeja lengan panjang hitamnya dan memperlihatkan otot pada tubuh tegapnya dengan kulit berwarana kecoklatannya itu.
Kini wajah tampan Angkasa berada di antara kedua kakiku, dia mendongak melihat raut wajahku yang ketakutan. "A...aku belum pernah." Ucapku. "Akh, apa yang ingin kamu lakukan." Lanjutku lagi merasakan nafasnya di bagian bawahku.
Angkasa mendekatkan wajahnya, wajahnya sangat dekat kepada bagian sensitif tubuhku. Nafasku berembus panas, aku melihat tanpa kata ketika Angkasa mengecup paha bagian dalamku, aku tidak dapat mendengar apa pun saat ini, selain detak jantungku sendiri.
"Melakukan ini? Sejak bertemu denganmu, aku menahan semua hasrat hewanku ini, dan itu adalah hal tersulit untukku, aku tidak tahu melihatmu sekarang di depanku seperti ini membuatku masih dapat menahannya atau tidak." Ucapnya yang hampir mendekati bagian sensitifku. "Uh, tu...tunggu Kass, Sayang." Ucapku yang membuatnya tersenyum. "Tidak mau? Tubuhmu mengatakan hal yang berbeda dengan pikiranmu sekarang Sayang." Ucapnya membuatku tercekat dengan nafasku.
__ADS_1
Dengan sekujur tubuh berdenyut dan rasa geli yang aku rasakan sekarang, pertanyan Angkasa tadi adalah pertanyaan tersulit seumur hidupku. Malu, panas, aku menutup wajahku dan tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. "Ini pengalaman pertama buatku, aku hanya ingin memberikannya kepada seseorang yang berjanji di depan seorang penghulu untuk hidup bersamaku dalam keadaan sehat atau sakit, selalu bersama dalam keadaan susah atau pun senang, dan." Ucapanku terpotog karena jari telunjuk Angkasa menutup bibirku yang sedang berbicara. "Menikahlah denganku."
BERSAMBUNG.