Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
KEHEBOHAN SEKOLAH


__ADS_3

“Dengan cinta orang bisa hidup bahkan tanpa kebahagiaan.” – Fyodor Dostoyevsky.


Selesainya liburan sekolah kemarin dikarenakan adanya tanggal merah pada tahun itu membuat semua siswa bersemangat kembali bersekolah untuk bertemu dengan teman-temannya, membicarakan tentang liburan mereka selama libur sekolah dan lain-lainnya, begitupun dengan suasana di kelas X 3 yang dari pagi sudah ribut membicarakan berita yang beredar di sekolah dimana berita tersebut bersumber dari kelas mereka, bagaimana tidak berita yang membuat heboh satu sekolah tersebut adalah  berita tentang Sang Idola Sekolah yang baru saja menjalin relationship dengan salah satu siswi di sekolah itu juga.


"Sar udah dengar berita yang lagi heboh belum?” Ucap Rizka teman sekelasku yang duduk didepanku. Aku hanya menggelengkan kepalaku, karena aku memang tidak terlalu peduli dengan berita-berita yang menurutku tidak terlalu penting. “Ehmm kamu ketinggalan update nih, beritanya sampai di buat di mading sekolah loh masa gak tahu?” Ucap Rizka.


“Gak tahu Riz, aku juga kan jarang baca mading sekolah.” Ucapku karena memang mading sekolah yang jaraknya jauh dari kelasku dimana posisinya berada didekat kantor para guru sehingga membuatku malas untuk kesana. “Iya iya, ini lihat aku ada fotoin kok beritanya.” Rizka yang menunjukkan berita tersebut dari handphonenya  yang sedari tadi tidak lepas dari tangannya.


”Sang Idola Sekolah Sudah Mendapatkan Pujaan Hati, Siapakah Wanita Itu?”


Isi Headline dari berita tersebut, dimana menampilkan foto Idola Sekolah tersebut yang ternyata adalah Dave, di foto tersebut terlihat Dave yang sedang bersama dengan seorang wanita, tetapi sosok dari wanita tersebut tidak terlalu terlihat karena tersamarkan dengan air terjun yang ada pada foto tersebut, semua orang mungkin tidak akan tahu siapa sosok dibalik foto tersebut, tetapi tidak untukku. Ha ini kan? Aduh kenapa jadi heboh gini.


Aku dan Dave resmi menjadi pasangan setelah melakukan perjalanan kami ke tempat wisata di Puncak Bogor kemarin, aku yakin dengan hatiku karena melihat dan merasakan hati dari Dave yang tulus menyayangiku, tetapi aku tidak menyangka dengan hubungan yang baru akan kami jalani ini harus membuat heboh satu sekolah.


“Lah kok bengong, tahu gak itu siapa ceweknya Dave? kan yang kita tahu kamu yang paling deket sama Dave, hmm tetapi Sabrina mengaku ke semua orang kalau dia yang ada di foto tersebut.” Ucap Rizka sambil melirik kearah Sabrina yang sedang sibuk memberitahukan ke teman sekelas yang lain bahwa dialah wanita yang ada di foto tersebut bersama Dave.


“Ehmm gak tahu juga Riz hehe nanti tanya ke Davenya aja langsung ya.” Jawabku gugup. “Iya Sar, tetapi Dave jam segini juga belum datang ya?” Ucapan Rizka itu membuatku baru menyadari juga bahwa Dave belum datang ke sekolah padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang tiga menit lagi. Dia kenapa belum datang ya? Apa sakit? aku coba telpon aja deh.

__ADS_1


“Halo? Dave.” Ucapku. “Halo, iya Sayang udah kangen ya.” Ucapnya. Hmm udah panggil sayang aja, tapi aku suka.


“Pagi-pagi udah gombal aja, kamu kenapa belum datang ke sekolah?” Tanyaku. “Aku hari ini izin gak masuk lagi gak enak badan.” Jawabnya. “Kamu sakit? Sakit apa?” Tanyaku sedikit panik. “Gak pa-pa Sayang, jangan terlalu khawatir cuma pegel-pegel doang kok,” Ucapnya dengan santai. “Gara-gara gendong aku kemarin ya? Maaf.” Ucapku.


“Sayang, bukan karena itu emang lagi gak enak badan aja, jangan sedih gitu, buat aku jadi pengen melukkan” Ucapnya. “Davee.” Teriakku pelan. “Haha iya iya, aku gak pa-pa kok beneran.” Ucap Dave. “Kamu di rumah sama siapa? Ada yang jagain?” Tanyaku lagi. “Ada Bi Iyem kok disini.” Ucapnya. “Nanti pulang sekolah aku ke rumah kamu ya, mau dibawain apa?” Ucapku.


“Beneran kamu mau kesini, asik gak usah bawa apa-apa, kamu mau dateng kesini aja aku udah seneng.” Ucap Dave yang terdengar senang. Aku tersipu malu mendengar perkataan Dave. “Beneran gak mau dibawa apa-apa?” Tanyaku lagi. “Iya Sayang, nanti aku kirim alamat rumahku ya, kamu hati-hati nanti kesininya ya.” Ucapnya. “Iya, ya udah kamu istirahat ya.” Ucapku. “Iya, love you.” Ucap Dave. “Love you too.”


Aku pun mematikan telponku dengan Dave. Aku melihat ke kursi kosong disebelahku yang biasa terisi dengan kecerewetan dan kejahilan laki-laki yang sekarang mulai mengisi hatiku. Aku kangen Dave.


Aku masih berada dikelasku memegang baju kerah berwarna hitam ragu-ragu untuk mengembalikan baju itu atau tidak, sementara semua teman-teman dikelasku sudah berhamburan keluar untuk mengisi perut mereka di Kantin Sekolah. Aku masih tidak mau untuk bertemu dengan orang itu, apa yang harus aku lakukan.


Aku berangkat perlahan dari kursiku, berjalan keluar kelas, setelah berada didepan pintu kelasku, aku melihat dari jauh kelas XI IPA 1 yang sudah terlihat sepi. Aku bingung, apa aku minta tolong sama dia aja ya.


Aku mengambil handphone dari kantung seragam sekolahku, mencari kontak nama di dalamnya. Kak Indra.


Aku berjalan di lorong lantai tiga yang sepi hanya berisikan meja dan kursi rusak di dalam setiap kelas. Kenapa dia disini, dasar aneh. Aku melihat di balkon sekolah berdiri seorang laki-laki yang sedang menghadap ke arah luar sekolah. “Kak Indra?” Dia menoleh kearahku dan memberikan isyarat untuk mendekatinya.

__ADS_1


“Kak Indra ngapain disini?” Tanyaku. “Lagi tenangin pikiran.” Ucapnya singkat. “Lagi ada masalah Kak?” Dia melihatku sebentar dan melihat kearah lain lagi. Dia kenapa?


“Mau minta tolong apa?” Tanyanya menghiraukan pertanyaanku. “Ehmm aku.” Aku menyerahkan baju berkerah warna hitam itu kearah Indra. “I-ini aku boleh titip ini buat dikasih ke Kak Edgar kak?” Suaraku terasa serak saat menyebut nama laki-laki kurang ajar itu. Dia pun mengambilnya. “Iya bakal aku kasih ke dia.” Untung dia gak tanya apa-apa.


“Sar.” Panggilnya kepadaku. “Iya Kak.” Dia menjeda pembicaraannya seperti sedang memikirkan kata-kata yang ingin dikeluarkannya. “Kamu, kamu sama Dave pacaran?” Deg!


Jantungku terasa berhenti, entah mengapa pertanyaan dari Indra itu membuat aku seperti orang yang berkhianat. Kenapa perasaanku menjadi bersalah seperti ini.“I-iya Kak.” Jawabku tertunduk tidak berani melihat kearahnya. Dia mengusap kepalaku.


“Kamu bahagia ya? awas saja kalau sampai dia berani buat kamu sedih.” Aku langsung mendongakkan kepalaku melihat ke wajah tampan dengan mata yang selalu dapat menghipnotisku itu. “Maksudnya Kak?” Tanyaku. “Gak pa-pa.” Dia mengalihkan lagi pandangannya kearah luar balkon sekolah itu. “Disini bagus ya.” Aku pun ikut melihat kearah luar balkon itu. “Apanya yang bagus Kak, cuma lihat siswa-siswa disini hilir mudik dibawah sana.” Ucapku heran. “Hahaha jangan lihat kebawah.” Eh aku baru pertama kali mendengar dia tertawa.


“Lihatlah ke depan sana, dibalik tembok sekolah ini terdapat hamparan langit yang luas disana, seakan mengatakan bahwa dunia tidaklah kecil tetapi sangat luas, jadi Sarah jangan memperkecilkan keinginanmu tetapi gapailah keinginan yang lebih luas lagi, karena disana masih banyak tempat yang bisa menerima kehadiran kita.” Ucapnya. “Iya Kak.” Kami menghabiskan waktu di jam istirahat itu hanya memandangi langit yang luas dengan awan putih dan sinar hangat matahari.


BERSAMBUNG.


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.


Terima kasih supportnya!!!

__ADS_1


__ADS_2