
Melihat Angkasa yang hanya terdiam di belakangku membuatku dengan sedikit berani mencoba memecahkan keheningan di antara kami sekarang. "Kassa, seharusnya kamu tidak perlu mempermalukan dirimu sendiri di depan Keluargamu dan semua orang tadi." Ucapku pelan tertunduk.
"Kamu seharusnya tidak perlu mengakui bahwa aku Kekasihmu atau bahkan calon Istrimu." Ucapku menatap dirinya dengan ragu. "A..ku." Ucapanku terpotong dengan pelukan pada perutku yang semakin mengerat. "Kamu sendiri yang menyerahkan dirimu kepadaku, apa kamu pikir aku akan malu memperkenalkanmu di hadapan semua orang?" Ucap Angkasa memotong perkataanku.
Aku terdiam mendengar perkataannya. "Jika kamu berfikir seperti itu, artinya kamu memang benar-benar harus mengenalku lebih dalam Sayang." Ucapnya yang membuat semua bulu halusku berdiri karena perkataannya yang terdengar sangat intim.
Tatapan kami bertemu dengan jarak yang sangat dekat, membuatku menggigit bibir bawahku karena gugup. "Jangan gigit bibir bawahmu, Sarah." Ucapnya yang membuatku langsung melepaskan gigitan pada bibir bawahku. Banyak hal yang tidak aku mengerti, seperti sekarang saat aku hanya mengikuti semua keinginan Angkasa, aku hanya dapat diam dan pasrah, aku benar-benar seperti orang yang lemah, tidak dapat melawan atau pun berontak atas apapun yang dilakukan Angkasa kepadaku.
"Kass." Ucapku terpotong. "Sayang, panggil aku Sayang atau aku akan menghukummu." Ucapnya membuatku takut. "Sa...yang, siapa Laki-Laki tadi dan mengapa kamu memanggilnya Ayah?" Tanyaku kepada Angkasa yang sekarang memejamkan matanya.
"Dia adalah adik dari Mamaku, dia yang mengurusku setelah Mama tiriku itu mati di tanganku sendiri." Ucap Angkasa dengan nada penuh kemarahan. "Dan dia lah yang menjadikanku seorang monster seperti sekarang ini dan hanya dia lah yang tahu bahwa aku yang membunuh Mama tiriku karena semua itu adalah idenya." Lanjut Angkasa.
"Dia ingin menjadikanku sebagai penerus tahtanya sebagai seorang Pratama, karena tidak adanya lagi keturunan Laki-Laki darinya ataupun dari Keluargaku yang lain." Ucap Angkasa. "Dia sudah tahu akan adanya dirimu di sisiku, karena aku sudah memeberitahukannya untuk berhenti melakukan pekerjaan-pekerjaan kotornya selama ini." Ucap Angkasa yang membuatku merasa bersalah.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah untuk orang seperti dia atau seorang monster sepertiku." Ucapnya lagi yang sadar akan raut wajahku yang berubah sedih sekarang. Aku membalikkan tubuhku naik ke atas pangkuannya, mengecup sekali bibirnya tang tebal dan mempertemukan dahi kami.
__ADS_1
"Aku benar-benar bersedia untuk menjadi milikmu, aku akan belajar mencintaimu mulai dari sekarang, tapi bisakah kamu berjanji satu hal kepadaku?" Tanyaku kepada Angkasa melepaskan pertemuan dahi kami dan menatapnya lekat.
"Berhentilah untuk melakukan hal-hal yang membuatku khawatir, berjanjilah bahwa setelah kita menikah nanti aku ingin hanya ada kita berdua, tidak ada Bodyguardmu dan Pelayan-Pelayanmu. Hanya ada kita dan anak-anak kita nanti, kamu hanya perlu belajar bagaimana mencintai dengan benar, aku akan belajar mencintaimu dan sebaliknya, kamu juga harus belajar mencintaiku. Apa kamu bersedia mencintaiku dengan benar?" Lanjutku, aku melihat matanya dan sesaat aku merasakan kecupan singkat pada pipiku.
"Aku akan memenuhi semua keinginanmu dan tanpa kamu minta sendiri aku akan mencintaimu tetapi tetap dengan caraku sendiri." Ucapnya tanpa ada bantahan lagi. Detik berikutnya dengan berani aku mempertemukan bibirku dengannya.
"Jangan bergerak atau aku tidak akan bisa menahan sifat hewanku lagi kali ini." Ucapnya melepaskan ciuman kami. Tanpa mempedulikan kata-katanya, tanganku sudah turun ke bawah menyusuri dada bidang, perut berotot dan sesuatu yang sudah keras dan panas.
Angkasa melihatku dengan lekat, menunggu apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Tanganku yang sedikit bergetar menangkup sesuatu yang sudah keras itu dalam genggaman tanganku dengan ibu jariku naik turun, mengusap-usap dari ujung kepala turun ke pangkal.
Aku merasakan jari-jari Angkasa menyusuri leher jenjangku, mengusap lembut pada area itu. Tiba-tiba Angkasa duduk di tepi sisi bathtub dengan kedua tangannya berpegangan pada bathtub, membuat wajahku berada di antara kedua kaki Angkasa, seraya aku melihat ke wajahnya dengan raut muka yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Aku menggerakkan tanganku dibawah dagu, menatapnya diatasku. "Aku sebenarnya belum pernah." Ucapku pelan. "Kalau kamu tidak nyaman jangan lakukan, aku dapat menyelesaikan semua ini sendiri." Ucapnya lembut kepadaku.
Aku mendekatkan wajahku, wajah yang sangat dekat dengan milik Angkasa dimana napasku berhembus panas, bibirku hampir menyentuh pucuk kepala milik Angkasa dan beberap detik kemudian aku memejamkan mataku dengan bibir yang aku bawa dari pangkal menuju puncak.
__ADS_1
Bibirku menyapu bagian paling sensitif miliknya, dapat aku rasakan denyut nadi Angkasa yang mengencang. Tangan Angkasa berpindah ke pundakku dan meremas lembut. Ujung lidahku menyentuh pada bagian klimaks, bermain-main disana sampai aku merasakan kakinya bergetar.
Aku mendongakkan kepalaku melihat reaksi dari Angkasa yang sekarang memejamkan matanya, mendogak keatas dengan keringat yang menetes sepanjang lehernya dan bibir yang sedikit membuka. Aku dapat melihat Angkasa menahan rintihannya setiap kali aku mengecap miliknya.
Aku merasakan sesuatu yang bertumbuh besar di dalam mulutku atau mulutku yang menjadi sempit, entahlah tidak ada yang dapat aku pikirkan lagi sekarang. "Akh!" Lenguhan Angkasa dengan tubuh yang melengkung, tangannya menarik rambutku lembut membuatku menghentikan aktifitasku karena kehabisan napas.
"Sa...Sayang, hentikan atau aku benar-benar tidak dapat menahannya lagi." Ucap Angkasa dengan tangan yang terkepal keras pada bathtub. Tanpa menghiraukan ucapan Angkasa, aku masih melanjutkan hal yang sudah aku mulai tadi dengan jauh lebih intens dari sebelumnya. "Akhh."
Lenguhan kenikmatan Angkasa menggema di dalam Kamar Mandi itu, membuatku menggerus dengan bibirku kepada miliknya dengan lebih hangat dan cepat membuat wajahku belepotan karena cairan. Sesaat kemudian aku terkejut saat Angkasa tiba-tiba menarik tubuhku dengan posisi yang sekarang berhadapan dengannya.
Dia mengatur napasnya yang sekarang terdengar tergesa-gesa. "Jangan lakukan ini, aku tidak ingin merusak pendirianmu yang ingin memberikan tubuhmu setelah kamu menikah, walaupun aku tahu tubuhmu tetap akan menjadi milikku." Ucapnya yang sekarang mencoba menahan sesuatu yang sekarang sedang membakar panas tubuhnya dari bawah.
Aku membalikkan tubuhku, menahan sesuatu yang hampir keluar dari sudut mataku. "Maafkan aku, aku seperti Wanita murahan yang ingin menggodamu." Ucapku terisak. "Sayang." Panggilnya dan membalikkan tubuhku dan membawaku dalam pelukannya. "Aku tahu kamu melakukannya karena ingin menunjukkan rasa cintamu kepadaku, tetapi dengan kamu selalu ada di sisiku itu adalah hal yang sudah dan paling cukup untukku mengetahui bahwa kamu mencintaiku." Ucapnya, dia menghapus air mataku dengan ibu jarinnya.
"Sekarang kita bersihkan tubuh kita di bawah shower dan segera tidur, oke." Ucapnya yang hanya aku jawab dengan anggukan kepalaku. Kami membersihkan tubuh kami dari sisa busa sabun dibawah shower tanpa melakukan aktifitas intim bahkan aku merasakan bahwa Angkasa terlihat sangat enggan untuk menyentuh tubuhku seperti sebelum-sebelumnya, membuatku masih merasa malu dengan sikapku tadi, entah apa yang ada dalam pikiranku sehingga aku dapat dengan berani melakukan hal-hal seperti itu, sampai aku sendiri sekarang sama sekali tidak berani untuk menatap wajah Angkasa.
__ADS_1
BERSAMBUNG.