Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
HARAPAN


__ADS_3

"Harapan adalah kemampuan untuk melihat bahwa ada cahaya meskipun semua dalam kegelapan." - Desmond Tutu.


Disaat kami sedang mencemaskan keberadaan Indra, tiba-tiba Satpam yang menjaga Rumah Indra berlarian dari Pintu Utama dengan tergesa-gesa. "Maaf Tuan, Nyonya, Den Indra." Ucapnya dengan napas yang tersengal, kami semua langsung berdiri saat mendengar nama Indra. "Den Indra ada di depan Gerbang." Ucapnya yang membuat kami langsung melangkahkan kaki kami ke depan Gerbang. Indra.


Di Gerbang depan Rumah Indra udah dipenuhi oleh beberapa Asisten Rumah Tangga Indra dan beberapa Satpam yang membawa tubuh Indra yang lemah dan penuh darah. "Langsung bawa ke mobil." Teriak Papa Indra kepada Satpam yang membawa tubuh Indra yang penuh dengan darah tersebut, sementara Mamanya Indra dan Laura yang membawa kursi roda Mamanya hanya bisa menangis histeris melihat keadaan salah satu dari anggota Keluarga mereka.


Aku langsung berinisiatif untuk masuk ke dalam mobil, Indra di masukkan ke dalam mobil pada bagian tengah, aku langsung mengangkat kepala Indra ke atas pangkuanku, aku bahkan sulit untuk mengenali wajah Indra karena penuh dengan luka pukulan dan darah dimana-mana, kepala Indra penuh dengan darah dan aku melihat ada beberapa luka tusukan pada bagian perutnya. "Indra kamu harus bertahan, tolong demi aku." Ucapku bergetar menangis dan berusaha untuk menutup luka pada kepalanya yang masih mengeluarkan darah.


Papanya Indra dan Supirnya langsung menjalankan mobil yang kami naiki dengan kecepatan penuh menuju ke Rumah Sakit. Aku masih menatap sedih tubuh Indra yang sama sekali tidak ada gerakan sama sekali, napasnya pun hanya sesekali aku rasakan yang keluar dari hidung dan mulutnya. Bertahan Ndra.


Tidak lama kemudian mobil masuk ke area Rumah Sakit dan langsung menuju ke depan Ruangan Instalasi Gawat Darurat. Beberapa Perawat langsung membawa tandu troli Pasien, pintu di sebelahku pun langsung dibuka cepat, dan beberapa orang langsung mengangkat tubuh Indra dan membaringkannya diatas tandu troli Pasien.


Tubuh Indra langsung dibawa cepat menuju ke Ruangan IGD, aku yang masih bergetar hanya bisa berdiri di samping mobil dengan darah ditangan, baju dan celana jeansku. "Sar." Suara perempuan dari belakangku membuatku terkejut dan menoleh kearahnya, aku langsung memeluk tubuhnya dan menumpahkan semua air mataku pada tubuhnya. "Sha, Indra Sha." Ucapku terisak dengan tangisanku.

__ADS_1


"Sabar, semua pasti akan baik-baik saja." Ucap Alisha yang aku tahu terlihat ragu juga dengan perkataannya, dia mengusap punnggungku untuk menenangkanku, tetapi air mataku tidak henti-hentinya untuk mengalir, rasa takutku pun tidak kalah besarnya dengan rasa sakit dihatiku melihat orang yang kusayangi terluka seperti itu.


Aku menatap wajahku dicermin Toilet Rumah Sakit, membersihkan setiap tetes darah kental pada tangan dan beberapa bagian tubuhku, Alisha meminjamkan bajunya kepadaku yang ada di dalam mobilnya, sehingga aku dapat melepaskan bajuku yang kotor karena penuh dengan darah Indra.


Setiap tetes air yang mengalir dari kran wastafel, setiap tetes itu pula mungkin air mata yang mengalir dari mataku, ketakutanku sama sekali belum surut, aku semakin taut akan kehilangan orang yang kusayangi lagi, pikiranku melayang akan senyuman Ibu dan Om Alex yang menghilang meninggalkanku sendirian, kesepian tanpa tahu arah dan tujuanku untuk hidup.


Aku merindukan mereka, merindukan sentuhan Ibuku saat aku bangun tiap hari, sentuhan Om Alex yang selalu memelukku erat selepas dia pulang bekerja, dan aku merindukan sentuhan Indra di kepalaku, mengusapnya dengan lembut, sentuhan Indra pada pipiku yang selalu memberikan kehangatan, aku merindukan bau mint yang selalu menenangkanku dan membuatku terlindungi karena ada dia di sekitarku. Aku merindukanmu Ndra.


"Tetap berdoa Sar, semua pasti akan baik-baik saja, sekarang yang penting kita harus banyak-banyak berdoa agar Indra bisa segera pulih dan sadar." Ucap Alisha menenangkanku dan aku hanya dapat menganggukkan kepalaku tanpa berkata apa-apa.


Tidak lama kemudian Bara datang dengan napas yang tersengal-sengal yang mungkin dia berlari saat menuju kesini. "Sar, bagaimana keadaan Indra?" Tanya Bara dengan napas yang masih berat dan entah mengapa napas Bara ini terdengar tidak asing di telingaku.


"Sekarang Indra sedang di Ruangan IGD Mas, aku harap Indra bisa cepat segera sadar dan pulih kembali." Ucapku lemah, dia menggengam tanganku erat. "Semoga Indra baik-baik saja ya." Ucapnya, aku melihat Laura dan Orang Tuanya sedang berdiskusi tentang bagaimana kejadian sebenarnya saat Indra tiba-tiba sudah ada di depan Gerbang Rumahnya kepada dua orang Polisi.

__ADS_1


Ternyata saat itu ada mobil yang melaju sangat cepat dan berhenti secara mendadak di depan Gerbang Rumah Indra dan membuang tubuh Indra di pinggir jalan. Saksi yang melihat mobil tersebut adalah dua orang Satpam di Rumah Indra, mereka tidak bisa mengenali pemilik mobil karena kaca yang gelap, dan tidak dapat melihat plat dari mobil tersebut karena mobil tersebut langsung melaju dengan sangat cepat setelah melemparkan tubuh Indra yang penuh darah.


Sudah selama dua jam kami semua menunggu di Ruang Tunggu IGD, dua polisi tadi yang meminta keterangan sudah balik ke Kantor Kepolisian untuk melakukan tindakan lanjutan, tetapi seperti perkataan Laura kepadaku sebelumnya, bahwa kita tidak dapat berharap banyak dari Kepolisian apabila semua hal ini berhubungan dengan Angkasa Pratama.


Lampu diatas Pintu Ruang IGD yang tadi berwarna merah berubah menjadi hijau, membuat kami sembua berdiri mendekati Dokter dan Suster yang baru saja keluar dari Ruangan IGD. "Dok, bagaimana kondisi adik saya?" Tanya Laura penuh kekhawatiran.


"Kondisi Pasien saat ini sangat kritis, banyak darah yang keluar, dan banyak juga luka dalam pada tubuh Pasien beserta adanya gangguan pada saraf otak karena suatu pukulan." Ucap Dokter tersebut yang membuat wajah kami semua bersedih dan aku langsung memeluk Alisha di sebelahku.


"Untuk sekarang pasien belum bisa sadar, kita berharap saja pasien bisa segera sadar walaupun kemungkinannya kecil, jadi untuk sekarang kita hanya bisa berdoa menunggu mukjizat dari yang diatas." Lanjut Dokter itu, setelah itu dia izin pamit dan juga mengatakan bahwa Pasien hanya bisa dikunjungi oleh satu orang di dalam Ruangan, jadi apabila kami ingin melihat kondisi Indra kami harus masuk secara bergantian.


Papanya Dave masuk pertama kali untuk melihat kondisi anak Laki-Lakinya, aku hanya bisa terduduk lemas di bangku Ruang Tunggu, entah aku bisa atau tidak untuk melihat kondisi Indra saat itu, tubuhku lelah, kepalaku terasa sakit, bahkan air mataku pun kurasa sudah tidak dapat mengalir lagi, aku hanya bisa memejamkan mataku, berdoa dan berharap Indra akan segera sadar dan dapat tersenyum kepadaku karena aku merindukan senyuman itu. Sadarlah Ndra, aku menginginkanmu di sisiku sekarang.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2