Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#30 WP?S2


__ADS_3

“Wah aku baru tahu dengan sifat posesifmu seperti ini Angkasa, dulu saat bersama Kristal.” Ucap Blake yang tiba-tiba menutup mulutnya. “Segera kita selesaikan wawancara bodohmu ini, atau aku akan membuat perusahaanmu ini rata dengan tanah.” Ucap Angkasa langsung melangkahkan kakinya dengan masih menggenggam tanganku menuju ke dalam lift. Kristal?


Kami memasuki ruangan berkaca dimana terdapat sebuah sofa yang disampingnya langsung memperlihatkan keindahan Kota Paris dan Menara Eiffel. Aku dan Angkasa duduk dalam satu sofa dan Blake yang duduk di depan kami dipisahkan oleh sebuah meja persegi berwarna coklat.


Blake menyalakan sebuah Tape Recorder dan mengambil sebuah buku catatan. “Oke aku mulai pertanyaannya, dimana pertama kali kalian berkencan?” Tanya Blake yang berhasil membuatku meremat sofa kuat. Aku sama sekali tidak tahu dimana aku pertama kali berkencan, atau mungkin kami sama sekali tidak pernah berkencan?


Selama beberapa detik aku hanya terdiam melihat Angkasa yang terlihat sangat malas mendengar pertanyaan dari Blake. “Hmm, aku tidak tahu.” Jawabku pelan. “Ha? Serius kalian tidak pernah berkencan? Apakah benar kamu menikah atas dasar cinta Kakak Ipar?” Tanya Blake yang membuat rahang Angkasa mengeras. “Hati-hati dengan kata-kata yang keluar dari mulut bodohmu itu.” Ucapnya dingin membuat Blake takut dengan tatapan Angkasa sekarang.


“Hmm mungkin saat bersama Angkasa aku merasa seperti berkencan setiap hari.” Ucapku mengusap lembut tangan Angkasa untuk menenangkannya dan mencairkan suasana canggung ini. Angkasa mendekapku lebih erat dan mencium pipiku. “Kamu dengar sendiri bahwa dia sangat mencintaiku.” Ucap Angkasa tersenyum puas yang membuat Blake memutar bola matanya.


“Oke, pertanyaan selanjutnya, Apa yang kalian tidak sukai dari pasangan kalian?” Tanya Blake yang kali ini melihat ke arah Angkasa untuk menjawab pertanyaan itu pertama kali. “Aku menyukainya dengan segala kekurangannya.” Jawab Angkasa singkat. “Aku juga.” Ucapku tersenyum. “Serius tidak ada satupun?" Tanya Blake lagi dan kami pun mengangguk secara bersamaan.


Setelah itu wawancara berlanjut selama kurang lebih satu jam sampai Angkasa menghentikannya dan membawaku pergi dari Kantor Blake tanpa mempedulikan Blake yang bersikeras bahwa dia masih punya banyak pertanyaan untuk kami.


“Dia benar-benar menghabiskan waktu bulan maduku dengan sia-sia.” Ucap Angkasa dingin saat kami sudah berada di dalam mobil. “Kita mau kemana setelah ini?” Tanyaku kepada Angkasa. “Kita akan menuju apartemen, aku sudah tidak sabar untuk memakanmu.” Ucap Angkasa datar tetapi berhasil membuatku gugup. Aku masih merasa takut akan hal yang akan dilakukan oleh Angkasa nanti, aku dan Angkasa memang sudah sering berciuman, bahkan saling bersentuhan, atau Angkasa yang memangkuku dan saling menggesek-gesekkan paha satu sama lain hanya saja kami belum pernah melakukan hal lebih intim daripada itu semua. Aku bisa merasakan Angkasa selalu menahan hasratnya untuk melakukan aktivitas intim hanya saja karena ketidak siapanku membuatnya harus menahan Hasrat di dalam dirinya, tetapi apakah aku akan benar-benar siap melakukannya sekarang.

__ADS_1


“A…aku lapar.” Ucapku gugup, sebenarnya aku tidak terlalu lapar hanya saja aku ingin memperpanjang waktu sampai kami benar-benar tiba di apartemen Angkasa. “Oke kita makan dulu sebelum aku benar-benar akan menghabisimu di atas tempat tidur.” Ucap Angkasa yang membuat bulu-bulu halusku berdiri seketika.


Dia menghentikan mobilnya di sebuah Restoran yang terlihat mewah yang bernama Reffettorio Paris, saat aku dan Angkasa memasuki Restoran tersebut kami sudah di sambut oleh seseorang yang sepertinya sudah sangat dikenal oleh Angkasa. Atau ini juga salah satu Restoran milik Angkasa.


Kami diantar ke sebuah meja khusus oleh orang tersebut yang mungkin adalah pemilik dari Restoran ini. Aku dibuat kagum dengan desain dari Restoran ini yang terlihat sangat mewah dan unik, dengan dominasi warna coklat di setiap interior Ruangannya.


Saat kami berjalan setiap orang yang ada di dalam Restoran itu melihat ke arah Angkasa yang terlihat tampan dengan pakaian polo shirt berwarna putih slim fit, celana bahan berwarna abu-abu dengan kacamata hitam pada


wajahnya, tentu saja semua orang akan terpana dan tersihir dengan keberadaan Angkasa.


“Hmm a…aku mungkin belum terbiasa dengan orang-orang yang selalu memperhatikan kita seperti


sekarang.” Ucapku yang membuat Angkasa melihat ke sekitarnya dimana semua orang masih mengarahkan matanya ke arah kami, Angkasa mengalihkan lagi pandangannya ke arahku. “Kamu mau aku mengusir semua orang-orang disini?” Ucapnya lagi dengan masih memainkan beberapa helai rambutku. “Ti…tidak usah, aku akan membiasakan diri.” Ucapku kepadanya karena aku  tahu sekali, apabila Angkasa berpikir seperti itu dan aku mengiyakan dia pasti akan langsung melakukannya.


Kami pun memesan makanan, lebih tepatnya Angkasa yang memesankan makanan karena aku sendiri

__ADS_1


bingung dengan bahasa Perancis pada buku menu tersebut. Saat makanan disajikan di atas meja kami oleh chef dari restoran ini sendiri Angkasa mulai bersikap seperti anak kecil dimana dia selalu meminta suapan ke mulutnya setelah aku makan terlebih dahulu yang membuatku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Hmm Aku tidak keberatan kalau kita pergi ke apartemen sekarang.” Ucapku sedikit gugup. Angkasa melihatku lekat dengan sorot mata yang intens. “Kamu yakin dengan perkataanmu barusan?” Tanya Angkasa. “Kassa, aku menginginkannya.” Ucapku dengan raut wajah paling berani yang pernah aku buat.


Angkasa langsung berdiri dan mengulurkan tangannya. “Oke, sekarang kita per…” Ucapnya yang aku potong. “Tunggu, sebelumnya ada yang ingin aku bicarakan.” Ucapku yang membuatnya duduk kembali. “Aku belum pernah melakukan hal seperti itu dan aku tidak tahu bagaimana memulainya.” Ucapku menunduk malu dengan wajah memerah. “Aku tahu itu, kamu hanya tinggal memasrahkan dirimu dan terlentang di atas tempat tidur, jadi biarkan aku menjelajahi setiap inci tubuhmu, dan aku yakin aku tidak akan melewatkan satu incipun.” Ucap Angkasa melihatku seperti seseorang yang sangat kelaparan.


“Kamu harus membayangkan diriku seperti daging sapi yang sudah membeku dengan lama kurang lebih


hampir satu tahun, mungkin kondisiku sudah seperti itu sekarang.” Ucapnya lagi. “Maaf.” Ucapku. “Kamu tahu aku sudah mengenal banyak wanita di seluruh dunia ini, dan ya aku harus jujur bahwa aku sudah sangat berpengalaman dalam hal aktivitas di atas tempat tidur dan bergonta-ganti wanita, hanya saja saat melihatmu, aku tahu bahwa kamu adalah pasangan paling tepat untukku.” Ucap Angkasa yang membuatku tersenyum senang, walaupun ada sedikit rasa sedih saat mendengar begitu banyak wanita yang ada di sekitar Angkasa, tetapi itu masa lalu dan aku tidak dapat menyalahkan Angkasa akan hal itu.


“Aku mau ke Toilet dulu.” Ucapku dan langsung berdiri dan pergi menuju ke toilet di dalam Restoran ini. Aku membasuh tanganku pada wastafel di dalam toilet wanita yang hanya di khususkan untuk satu orang, sampai aku dibuat terkejut pada pintu toilet itu yang terbuka tiba-tiba dan menampilkan sosok Angkasa pada cermin di depanku.


Angkasa masuk dengan santai dan mengunci pintu tersebut dari dalam. “Hmm aku tidak tahu kalau kamu di toilet ini Sayang, untung aku yang masuk.” Ucap Angkasa mendekat kepadaku. Kamu yang salah toilet, bukannya ini toilet wanita. Angkasa sudah melingkarkan tangannya dan mendekapku dari belakang. “Pembicaraan tadi membuatku benar-benar sangat menginginkanmu sekarang, dan asal kamu tahu berhubungan di toilet publik itu sangat menggairahkan.” Bisik Angkasa kepadaku.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2