
“Sahabat itu seperti bintang, dia memang tidak selalu terlihat, tetapi dia selalu ada untukmu.”
Aku mengajak Indra ke Taman dekat dengan Panti Asuhan, aku duduk di bangku dekat Taman tersebut dan Indra duduk disebelahku. “Kamu kenapa?” Ucap Indra, aku menghembuskan napasku berat. “Aku minta maaf.” Ucapku lirih dan aku dapat melihat Indra mengernyitkan dahinya.
“Minta maaf kenapa? Kamu salah apa?” Tanya Indra heran, aku menghembuskan napasku berat lagi. “Aku merasa aku yang menyebabkan persahabatan antara Kak Indra dan Kak Edgar, aku minta maaf.” Ucapku tertunduk sama sekali tidak berani melihat kearahnya, aku merasakan tanganku di pegang oleh Indra.
“Lihat aku.” Ucapnya tetapi aku masih menundukkan kepalaku. “Sarah.” Ucapnya lagi dan aku akhirnya melihat kearahnya, kulihat wajah putih dengan mata tajamnya itu yang selalu membuat hatiku luluh. “Tidak ada yang menyalahkanmu, ini keputusanku, tidak penting apakah ini aku melakukannya untukmu ataupun untuk diriku sendiri.” Ucap Indra aku merasakan tangan indra menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
“Kalau pun kamu meminta aku untuk mundur, aku akan mundur.” Ucapnya tersenyum dan aku merasakan air mataku jatuh dan Indra membersihkannya dengan ibu jarinya. “Jangan menangis, aku tidak pernah mau melihatmu menangis, hal itu akan membuat hatiku sakit.” Lanjutnya lagi melihat lekat mataku dengan jarak wajah kami yang
hanya berjarak lima cm.
“Cium aku.” Ucapku pelan dan aku merasakan Indra sedikit terkejut dengan perkataanku yang terlihat dari perubahan raut wajahnya, tetapi setelah beberapa detik dia tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku memejamkan mataku dan aku merasakan bibirnya mengenai kulit bibir bawahku, aku membuka mulutku dan membuat Indra memasukkan lidahnya yang membuat ciuman kami malam itu menjadi sangat intens dan penuh gairah.
Setelah napas kami sama-sama habis, kami menghentikan ciuman kami dan saling menatap dengan penuh senyuman. “Aku mau kamu menjadi pengisi hari-hariku Sarah, aku mau kamu selalu disampingku, hidupku terasa hampa saat kamu tidak ada di dekatku, maukah kamu menjadi pacarku Sarah Gibran?” Ucap Indra dengan tangannya yang masih menangkup wajahku dan aku pun menganggukkan kepalaku, Indra pun langsung memelukku dengan sangat erat. “Jadikan aku tempatmu untuk berkeluh kesah, kamu tidak perlu lagi berpura-pura tegar di depan orang lain padahal kamu sendiri sedang tersakiti dan sedih. menangislah jika kamu ingin menangis, teriaklah sekencang-kencangnya jika kamu ingin teriak, aku akan selalu menjagamu Sarah, aku tidak akan bisa melihat kamu disakiti orang lain lagi, aku berjanji akan selalu ada untukmu.”Ucap Indra yang selalu aku ingat dimana kata-katanya tersebut selalu membuatku nyaman dan terlindungi di dekatnya. Terima kasih.
Setelah pengungkapan dan penerimaan cinta itu, aku dan Indra memutuskan untuk balik ke Panti, Indra tidak masuk ke Panti dan izin pamit untuk pulang ke Rumah, karena memang waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. “Sampai ketemu besok Sayang.” Ucap Indra sebelum dia balik yang berhasil membuat wajahku merona merah, setelah itu pun Indra pergi meninggalkanku dengan perasaanku yang sudah tenang dan nyaman. Tuhan, jangan pisahkan aku dengannya, aku mohon.
Keesokan harinya, aku berangkat ke Sekolah bersama Indra lagi dan untuk sekarang saat aku bersama dengannya hidupku terasa lengkap, aku selalu tersenyum saat bersamanya, begitupun dengan dirinya dimana raut wajahnya selalu terlihat bahagia, berbanding terbalik dengan saat pertama kali aku bertemu dengannya yang selalu terlihat jutek, cuek dan pemarah. Sekarang dia selalu memperhatikanku, menjagaku dan menyayangiku.
“Sampai ketemu nanti di Kantin ya.” Ucapnya melepaskan genggaman tangannya pada tanganku saat kami sudah ada di depan Kelasku. “Iya Kak.” Ucapku, setelah itu Indra pun pergi meninggalkanku menuju ke Kelasnya.
“Pagi Riz.” Ucapku setelah aku duduk di bangkuku. “Pagi Sarah, gimana badan kamu udah enakan?” Tanya Rizka kepadaku. “Udah kok Riz, terima kasih ya soal kemarin, maaf jadi merepotkan kamu sama Kak Bara.” Ucapku. “Santai aja Sar, Kak Bara gak macam-macam sama kamukan?” Tanya Rizka penuh selidik dan aku tertawa geli mendengar pertanyaan Rizka. “Enggak kok Riz, Kak Bara baik banget, jangan lupa sampein terima kasihku ke Kak Bara ya.” Ucapku dan dijawab dengan ancungan jempol dari Rizka. Setelah itu kami pun mengikuti pelajaran pertama di Kelas kami, saat Guru kami sudah masuk ke Kelas.
__ADS_1
Bunyi bel Sekolah untuk istirahat sudah dibunyikan, saat aku sedang memasukkan buku-buku dan alat tulisku ke dalam Tas, teman-teman satu Kelasku terdengar heboh, aku masih belum melihat dan tidak mau mencari tahu apa yang membuat mereka semua heboh. “Ayo ke Kantin.” Terdengar suara Indra di sampingku yang membuatku mendongakkan kepalaku kearah sumber suara.
“Eh Kak Indra, kok disini.” Ucapku kaget dan aku melihat semua teman-teman sekelasku memperhatikan kami. Ternyata ini yang membuat mereka heboh. “Akukan mau jemput pacarku.” Ucap Indra yang dimana dapat kupastikan teman-teman satu Kelasku dapat mendengarkannya, termasuk Rizka yang duduk di depanku sambil menutup mulutnya kaget.
Wajahku berubah merah karena malu. “Ayo.” Indra mengulurkan tangannya, aku pun menyambut uluran tangan tersebut dan berdiri dari bangkuku, aku berjalan beriringan dengan Indra dengan menunduk tidak berani melihat ke sekitarku, sementara Indra terlihat cuek dengan tatapan-tatapan dari semua Siswa saat kami melewati mereka.
Saat tiba di Kantin, aku melihat Edgar beserta Tim Pemenangnya yang kebanyakan berasal dari Tim Basket Sekolah sudah sudah berkumpul di sisi Timur Kantin, dengan membagikan selembaran-selembaran Visi Misi Edgar untuk menjadi Ketua Osis, sementara di sisi Barat Kantin, sudah ada Adel yang mengetuai Tim Pemenang Indra dan beberapa Kakak Kelas lainnya yang belum aku kenal, yang juga ikut membagikan selembaran-selembaran visi misi Indra saat akan menjabat menjadi Ketua Osis Sekolah.
Benar apa kata Rizka, suasana di Kantin menjadi sangat menegangkan, baik dari Tim Pemenang Edgar maupun Tim Pemenang Indra sama-sama bersaing untuk memenangkan jagoan mereka, dilihat dari Siswa-Siswa yang berkumpul mendekat Posko Indra maupun Edgar, aku melihat lebih banyak Siswa-Siswa yang berkumpul di Posko Indra daripada Edgar. Itu dapat juga terlihat dari tanda tangan yang diberikan Siswa-Siswa untuk Indra.
“Sarah akhirnya kamu disini juga, kemarin kamu kemana?” Tanya Adel saat aku dan Indra sudah berada di Posko Kemenangan Indra. “Ehmm kemarin lagi gak enak badan Kak.” Ucapku sedikit berbohong, aku melihat kearah Indra yang tersenyum kearahku dan mengusap kepalaku. “Oh iya, Ndra aku punya ide.” Ucap Adel ke Indra dan membisikkan sesuatu ke telinga Indra dan Indra hanya tersenyum mendengarnya dengan sesekali melihat kearahku.
Setelah mereka berdua selesai berdiskusi, Indra mengajakku menjauhi sedikit Posko Kemenangannya, sementara Adel sedang sibuk mempersiapkan sesuatu di atas Paggung. Apa yang mereka rencanakan. “Sayang.” Ucap Indra memanggilku lembut. “Eh iya.” Aku tertunduk malu karena masih belum terbiasa dengan panggilan dari Indra tersebut. “Kamu mau bantu aku?” Ucap Indra lagi. “Bantu apa Kak?” Tanyaku heran. “Kamu mau nyanyi bareng aku?” Ucap Indra yang membuatku sedikit kaget. “Mau ya, aku yang main gitarnya kamu yang nyanyi.” Ucap Indra lagi.
Setelah itu aku dan Indra menuju Panggung yang tadi sudah disiapkan oleh Adel, Indra sudah memegang gitar ditangannya, membuatku teringat akan seseorang. Lupakan Sarah lupakan. Aku pun sudah menuju ke atas panggung. “Halo semua.” Ucapku yang membuat semua Siswa di Kantin memperhatikanku di atas Panggung. “Selamat makan siang buat temen-temen yang lagi makan siang, siang ini aku dan Indra akan menyanyikan satu buah lagu untuk kalian semua, jadi jangan lupa untuk dukung Indra menjadi Ketua Osis tahun ini!” Ucapku bersemangat dan melihat kearah Indra yang mengacungkan jempolnya.
Indra pun memulai petikan gitarnya membuat semua Siswa di Kantin terutama Siswa perempuanya berteriak histeris karena melihat Indra bermain dengan gitarnya. Aku pun mengambil napas untuk menyanyikan lagu yang sudah aku diskusikan dengan Indra sebelumnya.
“Fly me to the moon.
Let me play among the stars.
Let me see what spring is like on. A Jupiter and Mars.
__ADS_1
In other words, hold my hand.
In other words, baby, kiss me.”
“Fill my heart with song and let me sing forevermore.
You are all I long for.
All I worship and adore.
In other words, please be true.
In other words, I love you.”
Semua teman-temanku berteriak heboh setelah aku dan Indra tampil, dan kebanyakan dari mereka langsung menuju ke Posko Kemenangan Indra, Indra tiba-tiba sudah berdiri di sampingku dan mengecup keningku. “Terima kasih sayang.” Ucapnya yang membuatku malu, aku sekilas melihat kearah Posko Kemenangan Edgar, dimana terlihat Edgar berdiri menatap kearahku tajam yang membuatku sedikit takut dengan tatapannya tersebut. Semoga aku tidak membuat masalah lagi.
BERSAMBUNG
Referensi lagi Frank Sinatra – Fly Me To The Moon.
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!
__ADS_1