
Haruskah Author buat cerita ini lebih panjang lagi? Karena Author masih mempunyai banyak konflik di dalam pikiran Author untuk cerita ini. Hanya saja sepertinya antusias teman-teman untuk cerita ini sedikit sekali karena kurangnya vote 🥺. Mohon pendapatnya dari teman-teman ya.
“Kass…” Ucapku terpotong. “Katakan kamu percaya padaku, dan untuk kali ini aku mohon ikuti semua yang aku ucapkan.” Potong Angkasa cepat sebelum aku menyelesaikan ucapanku. “Sarah.” Panggil Angkasa memperingatiku untuk menjawab pertanyaannya. “Iya.” Ucapku kepada Angkasa. Aku masih tidak tahu apa yang membuat Angkasa menjadi khawatir dan gelisah seperti ini, sebenarnya hal berbahaya apa yang akan dilakukan oleh Om Royhan.
Di dalam mobil menuju Panti Asuhan, tidak ada pembicaraan yang kami lakukan, hanya suara musik klasik yang diputar oleh Angkasa. Angkasa kali ini mengendarai mobilnya sendiri tidak menggunakan supir, mobil sport Lamborgini berwarna hitam itu melaju pelan melewati jalanan Ibukota yang sedikit ramai. “Maafkan aku.” Ucap Angkasa yang akhirnya memecahkan keheningan diantara kami berdua, aku masih dapat melihat rasa marah pada dirinya saat dia menggenggam erat kemudi supir mobilnya.
Aku hanya menganggukan kepalaku dan melihat kembali ke arah jendela mobil. Perasaan penasaran masih menggeluti isi kepalaku, aku memang tidak bertanya kepada Angkasa karena semua akan percuma. Angkasa pasti tidak akan menjawab pertanyaan yang akan aku tanyakan. Dikarenakan terlalu larutnya aku akan rasa penasaranku sampai aku tidak menyadari bahwa mobil Angkasa sudah sampai di depan Panti Asuhan.
Aku melihat Ibu Aisyah sedang duduk di Ruang Tamu Panti Asuhan dan berbicara kepada seseorang yang mungkin adalah salah satu donator untuk Adik-Adikku di Panti. Rasa rindu langsung memenuhi relung hatiku akan suasana dan Adik-Adikku di Panti, semenjak aku tinggal bersama Angkasa, aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke Panti Asuhan ini.
“Sarah.” Angkasa memanggilku saat aku akan membuka pintu mobil. Dapat kulihat raut kesedihan dan khawatir dari wajah Angkasa membuat hatiku merasa pilu melihatnya. Aku menariknya dalam pelukanku, ini pertama kalinya aku melihat sisi rapuh dari seorang Angkasa Pratama, seorang Laki-Laki yang biasanya bersikap dingin, datar dan kuat menjadi seseorang yang terlihat rapuh dan kosong.
“Aku mempercayaimu, aku akan melakukan apapun yang kamu ucapkan, jadi jangan bersedih dan khawatir lagi ya.” Ucapku mengusap pundaknya lembut. Dia mendongakkan kepalanya melihatku dengan wajah yang serius. “Berjanjilah, apapun yang terjadi kamu tidak akan pernah meninggalkanku.” Ucapnya yang membuatku tersenyum kepadanya. “Aku berjanji.” Ucapku yang membuatnya ikut tersenyum dan mengecup keningku singkat.
__ADS_1
Kami pun keluar dari mobil mewah Angkasa, aku merapikan kerah pada Polo Shirt berwarna merah marunnya yang sedikit berantakan, hal itu membuatnya tidak berhenti untuk tersenyum. Dia mengenggam tanganku dan tidak mau untuk melepaskannya sampai kami sudah bertemu dengan Ibu Aisyah di dalam Ruang Tamu.
Ibu Aisyah hanya dapat tersenyum senang melihat apa yang dilakukan oleh Angkasa kepadaku. “Bu.” Panggil Angkasa membuatku terkejut dengan panggilan Angkasa kepada Ibu Aisyah, dan dapat aku lihat juga keterkejutan pada wajah Ibu Aisyah. “Saya ingin meminta restu kepada Ibu Aisyah untuk menikahi Sarah.” Lanjut Angkasa yang membuat raut wajah Ibu Aisyah yang tadi terkejut berubah menjadi raut wajah bahagia.
“Alhamdulillah, Ibu sangat menunggu hal ini dari lama, dan akhirnya hari ini apa yang Ibu tunggu dikabulkan.” Ucap Ibu Aisyah dengan perasaan senang. “Ibu sangat merestui hubungan kalian, Ibu hanya dapat mendoakan yang terbaik untuk niat baik yang ingin kalian laksanakan.” Ucap Ibu Aisyah yang membuatku terharu dan menghampiri Ibu Aisyah dan memeluknya.
“Ibu, Sarah meminta maaf kalau selama ini Sarah banyak merepotkan Ibu, terima kasih sudah memberikan rasa cinta dan kasih sayang yang sangat-sangat cukup untuk Sarah, terima kasih Ibu sudah menganggap Sarah seperti anak Ibu sendiri. Terima kasih banyak untuk hal-hal yang telah Ibu Aisyah korbankan untuk Sarah, terima kasih banyak.” Ucapku yang sudah menangis dalam pelukan Ibu Aisyah.
Kami pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Panti Asuhan yang merupakan rumahku di saat tidak ada yang ingin menampung anak yang hidup sebatang kara, anak yang selalu dijauhi karena dianggap sebagai aib oleh orang lain karena mempunyai Ibu yang merupakan perebut Suami orang. Tetapi aku tidak pernah menyesal karena hal itu, karena berkat masalah itulah aku dapat merasakan kebahagiaan, kekuatan dan sandaran untukku berkeluh kesah dengan kehidupanku yang penuh dengan masalah. Terima kasih Ibu Aisyah.
Saat aku dan Angkasa sudah berada di dalam mobil yang masih terparkir di depan Panti Asuhan, aku melihat sosok Laki-Laki di sebelahku, sampai sekarang aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku akan bisa memiliki Laki-Laki seperti Angkasa, Laki-Laki yang dibalik sifat dinginnya merupakan sosok yang sangat perhatian dan melindungi walaupun terkadang terlalu protective dan keanak-anakan, tetapi entah mengapa sikapnya seperti itulah yang membuat hampir setiap Wanita akan rela bertekuk lutut di hadapannya dan rela melakukan apapun untuknya. Entah apa yang dilihatnya dariku, seorang Gadis biasa, miskin bahkan tidak punya Orang Tua.
__ADS_1
“Terimakasih.” Ucapku secara tiba-tiba. Angkasa menaikkan satu alisnya menatapku heran saat dia sedang memasangkan seat beltnya. “Buat apa?” Tanyanya dengan fokus yang dia berikan sepenuhnya kepadaku sekarang. Aku dengan berani mengambil tangannya yang ada pada kemudi setir. “Terima kasih karena telah membuatku dapat merasakan rasanya terlindungi dan disayangi.” Ucapku memandangi matanya yang selalu membua jantungku berdegup kencang.
Angkasa mencium tanganku lembut. “Aku yang sangat bersyukur memiliki dirimu Sayang, kamu yang banyak merubah diriku, merubah hidupku, merubah segalanya menjadi lebih baik untukku.” Ucap Angkasa, tangannya sudah berada di belakang kepalaku. “Aku lebih suka dengan rambutmu yang terurai.” Ucapnya dengan senyuman dan melepaskan ikatan rambutku.
Aku merasakan deru napasnya menyapu wajahku yang membuatku langsung memejamkan mata. “Apa yang kamu pikirkan?” Tanyanya membuatku langsung membuka mataku, aku melihat Angkasa sedang memegang kemudi setir mobilnya. Entah mengapa ada perasaan sedikit kecewa dalam hatiku yang membuatku menunduk. Tiba-tiba aku merasakan daguku ditarik dan bibirku merasakan sesuatu yang hangat menempel pada bibirku, sesaat aku tidak tahu harus melakukan apapun, aku terpaku. Aku hanya dapat terdiam saat merasakan lidah Angkasa yang mencoba masuk ke dalam mulutku.
Aku merasakan tangan Angkasa yang berada di belakang leherku sedikit menekan agar dia bisa lebih
leluasa untuk merasakan setiap inci mulutku. “Erngh.” Aku mengerang saat tangan Angkasa yang satu lagi mulai menyentuh lembut tulang selangkaku. Saat itulah Angkasa mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, mencoba bertaut dengan lidahku yang aku coba gerakkan untuk mengikuti permainan lidahnya.
Sampai kami melepaskan pertemuan bibir kami karena kehabisan napas. “Seandainya kita sudah melakukan janji suci dan kamu sudah menjadi milikku sepenuhnya, mungkin aku akan memakanmu saat ini juga di dalam mobil ini, bukankah itu akan terlihat panas?” Ucapnya dengan dahi kami yang saling bertemu dan tangannya yang menyapu bibirku dengan jari-jari tangan kanannya. Wajahku memerah saat itu juga, bukan karena marah tetapi lebih kearah malu dan panas.
BERSAMBUNG.
__ADS_1