Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
PERPISAHAN (1)


__ADS_3

“Awal, sebagaimana menurut peribahasa adalah sebagian dari seluruhnya.” – Aristoteles


Delapan tahun sebelumnya.


“Ayah!” Aku memeluk laki-laki yang sudah aku anggap sebagai Ayahku sendiri dengan sangat erat, yang akhirnya kembali ke Apartemen kami lagi setelah pergi selama satu minggu semenjak kedatangan Tante Mega waktu itu. “Ayah kenapa pergi gak bilang-bilang Sarah?” Tanyaku dengan cemberut. “Maaf ya Sayang, Ayah buru-buru kemarin harus pergi, kamu gak nakal kan?” Tanyanya. “Enggak Ayah, Ayah harus lihat nilai rapor Sarah, nilai Sarah bagus-bagus Yah.” Aku menarik tangannya untuk ikut denganku ke dalam kamar.


“Sarah, kamu duluan ke Kamar ya, nanti Ayah kesana, Ayah mau ngomong dulu sama Ibu.” Dia mengusap kepalaku, dan aku menganggukkan kepalaku dan bersegera berlari dengan senang menuju ke kamarku. “Gimana Mas?” Ucap Ibuku yang mendekati Om Alex dengan wajah yang gelisah.


“Kamu tidak perlu khawatir lagi, semua sudah Mas urusin.” Ucap Om Alex. “Aku takut Mas.” Ibuku memeluk tubuh Om Alex dengan erat dan menumpahkan air matanya pada dada Om Alex. “Jangan takut, selama ada Mas disini kamu dan Sarah akan aman, wanita itu tidak akan pernah lagi mengganggu kita, karena aku sudah menyewa seorang pengacara untuk memutuskan hubungan dengan wanita tersebut.” Om Alex mengusap kepala Ibuku yang sedang memeluknya dengan erat, saat dia sedang meluapkan perasaannya selama seminggu ini.


“Sarah pinterkan Yah?” Aku dengan senang menunjukkan hasil nilai raporku kepada Om Alex, yang duduk di sebelahku dalam kamarku. “Wah hebat anak Ayah, oh iya bentar lagi Sarah ulang tahun ya?” Ucapnya. “Ehmm iya Yah dua hari lagi.” Aku menunjukkan jari telunjukku dan jari tengahku kepada Om Alex yang mengartikan angka dua dengan tersenyum senang. “Sarah mau kado apa?” Tanyanya lagi.


“Ehmm Sarah gak mau apa-apa, Sarah mau Ayah sama Ibu selalu sama Sarah terus.” Aku memeluk Om Alex dengan erat dan dia mengusap kepalaku dengan penuh kehangatan. “Ayah sama Ibu akan selalu sama Sarah, Ayah janji.” Aku tersenyum bahagia dengan kasih sayang yang diberikan oleh Om Alex kepadaku dalam pelukannya. Tuhan aku ingin mereka selalu bersamaku.


Dua hari setelahnya.

__ADS_1


“Kita mau kemana Bu?” Tanyaku saat kami sedang berada di dalam mobil siang harinya menulusuri jalanan Ibukota yang dipenuhi dengan kendaraan bermotor. “Nanti Sarah juga tahu sendiri.” Ucap Ibuku dengan tersenyum Tidak lama kemudian, mobil kami pun tiba di sebuah Fast Food Restaurant, aku melihat ada beberapa teman-teman sekolahku disana.


“Ibu kok ada Adinda sama yang lainnya disini?” Aku mengernyitkan dahiku melihat ke luar jendela mobil, sementara Om Alex dan Ibuku hanya tersenyum melihat keheranan diriku. “Ayo turun dulu yuk.” Ucap Ibuku yang sudah membuka pintu mobil untukku.


Aku pun turun dari mobil dan saat aku masuk ke dalam Restoran, semua pengunjung Restoran tersebut bersama-sama menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang membuatku tersenyum dengan senang, aku menggenggam erat kedua tangan Ibuku dan Om Alex dengan sangat erat. Terima kasih Ibu, Ayah.


Pesta ulang tahunku pun dirayakan dengan meriah dengan adanya teman-teman sekolahku, dan terutama dengan adanya Om Alex dan Ibu di sampingku, ini adalah perayaan ulang tahunku yang pertama kali bersama Ibuku dan menjadi yang terakhir.


“Sarah seneng sama pestanya?” Tanya Ibuku. “Seneng Ibu.” Ucapku semangat saat kami sudah berada di dalam mobil menuju ke Apartemen kami, setelah merayakan pesta ulang tahunku sampai lewat waktu magrib. Ibu dan Om Alex pun tersenyum melihat kebahagiaanku, mereka berdua saling berpegangan tangan dengan sekali-kali Om Alex mencium punggung tangan Ibuku dengan penuh cinta.


“Iya Ayah, kenapa kita lewat jalan ini? Sarah takut, gelap banget.” Tanyaku ketakutan. “Gak pa-pa, Ayah sudah sering lewat jalan ini, ini jalan cepat ke Apartemen kita.” Tiba-tiba ada sebuah mobil dengan kecepatan yang melebihi mobil kami melewati kami dari sebelah kanan dan berhenti di depan mobil kami secara mendadak, sehingga membuat mobil kami pun mau tidak mau harus berhenti. Tiga orang laki-laki dengan wajah menakutkan keluar dari mobil tersebut. Dua orang mendekati mobil kami dan satu lagi hanya berdiri menyandarkan tubuhnya di belakang mobilnya dengan berlipat tangan didepan dadanya.


“KELUAR!” Teriak salah satu Laki-Laki menyeramkan tersebut. “Ayah Ibu, Sarah takut.” Aku sangat ketakutan sekali melihat ada dua orang laki-laki tersebut berteriak keras dengan membawa sebuah pistol di setiap tangan mereka. Dua orang pria itu memukul dengan keras jendela mobil di sebelah Ibu dan Om Alex. “KELUAR!” Salah satu dari pria tersebut berteriak lagi dari sebelah jendela Om Alex.


“Kalian tunggu disini.” Ucap Om Alex. “Mas kamu jangan keluar Mas.” Ucap Ibuku menarik tangan Om Alex. “Gak pa-pa Risty, kamu tunggu disini, jagain Sarah.” Om Alex membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobilnya. “Gua tahu kalian suruhan dia kan?” Ucap Om Alex dengan sedikit berteriak. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, hanya terdengar samar-samar ditelingaku dari dalam mobil. “Ibu, Sarah takut Bu.” Ucapku ketakutan. “Gak pa-pa ada Ibu disini Sayang, Sarah jangan takut.” Ibuku menenangkanku yang masih duduk di belakangnya dengan wajah yang terlihat cemas juga.

__ADS_1


Dan. “DORR!!!” Suara tembakan yang bersumber dari depan mobil kami. “AYAH!!!” Teriakku. “MAS ALEX!!!” Ibuku langsung keluar dari dalam mobil, berlari mendekati tubuh Om Alex yang terbaring lemah dengan darah yang keluar dari bagian dadanya. Ayah jangan tinggalin Sarah.


Satu orang lagi yang sedari tadi hanya berdiri menyenderkan badannya di belakang mobilnya dengan tato bergambar bintang di bagian pergelangan tangan sebelah kanannya mendekati Ibuku. Menarik paksa Ibuku untuk masuk ke dalam mobil mereka, aku melihat tiga orang laki-laki tersebut bergiliran masuk kedalam mobil mereka selama kurang lebih tiga puluh menit dan yang kudengar hanya suara teriakan kesakitan Ibuku yang terdengar samar-samar dari dalam mobil. “Tolong jangan, sakit, tolong.” Ibu.


Tidak lama kemudian mereka meninggalkan Ibuku di pinggir jalan dan melajukan mobil mereka menuju kegelapan jalanan sepi itu. Aku memberanikan diri keluar dari mobil mendekati Ibuku dengan baju yang sudah tersobek-sobek dan sedikit ada bercak darah pada bagian kakinya. “Ibu.” Aku menangis sejadi-jadinya melihat kondisi Ibuku yang terdiam dengan air mata yang terus mengalir dari matanya dan Om Alex yang terbaring tidak bernapas dengan darah yang membasahi kemeja biru langitnya. Ibu, Ayah.


Keesokan harinya, setelah kejadian mengerikan semalam, kami di tolong oleh beberapa orang yang melewati jalan sepi itu dan memanggil polisi untuk menginvestigasi kejadian tersebut. “Ayah, Sarah kangen Ayah, jangan tinggalin Sarah.” Aku menangis di kuburan Om Alex yang ditaburi bunga-bunga dan wewangian yang menghiasi tempat peristirahatan terakhirnya.


Ibuku dari semalam hanya membisu dengan air mata yang tidak pernah berhenti mengalir dari pelupuk matanya yang bengkak. Saat kami akan pulang, aku seperti melihat sosok wanita yang berdiri dari kejauhan dengan kaca mata hitamnya yang sangat aku kenal, memperhatikan kami sedari awal saat upacara pemakaman Om Alex. Tante Mega?


BERSAMBUNG.


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.


Terima kasih supportnya!!!

__ADS_1


__ADS_2