
"Melalui firasat kita belajar menerima diri, dan berdamai dengan hidup ini." - Dewi Lestari.
Aku menatap sedih sebuah pemakaman dihadapanku, selama tujuh hari diriku selalu menangis sendirian di pemakaman ini setiap paginya, selama tujuh hari ini juga aku tidak dapat tidur nyenyak dikarenakan terlalu banyaknya pikiran yang ada di kepalaku.
Selama tujuh hari ini juga aku tidak pernah menyentuh handphoneku yang selalu berdering baik itu dari teman-temanku, Edgar, Alisha, Keluarga Indra dan dari Bara yang paling banyak menghubungiku baik itu lewat telepon atau pesan singkat.
Aku masih takut dengan ancaman dari Sang Penguasa, Angkasa Pratama dan juga memikirkan soal pembunuhan Indra, hal itu membuatku selalu ketakutan berada di sekitar orang-orang disekitarku. Tidak ada isak tangis lagi pagi ini, aku hanya diam menatap kosong batu nisan yang bertuliskan Indra Gunawan.
"Sayang, aku hari ini ulang tahun, bukankah kamu berjanji akan ada bersamaku sekarang?" Lirihku, aku menyentuh dan mengusap lembut batu nisan itu, memejamkan mataku dan rasa sakit itu datang kembali, rasa sakit itu meremat ulu hatiku, dadaku menjadi sesak lagi.
"Aku lelah Ndra." Aku menangis terisak tanpa air mata yang bahkan sudah enggan untuk mengalir lagi dari mataku yang merah dan kantung mataku yang hitam. "Aku tidak meminta kado apapun Ndra, aku hanya memintamu memenuhi janjimu saja untuk tidak meninggalkanku dan selalu ada di sisiku." Ucapku Lirih dan tidak ada jawaban apapun darinya, hingga aku lelah dan memutuskan untuk kembali ke Panti.
Sesampainya aku di Panti, aku menyibukkan diriku dengan membantu Ibu Aisyah di Warung Nasi Uduknya, mengabaikan rasa sedihku tetapi apapun yang kulakukan tidak dapat membantuku sama sekali. "Nak." Panggil Ibu Aisyah dengan menyentuh pundakku yang sedang melamun di salah satu bangku Warung. Aku sedikit terhentak kaget dan langsung memaksakan senyumku kepada Ibu Aisyah.
__ADS_1
"Iya Bu." Ucapku pelan, Ibu Aisyah mengambil tempat duduk di sebelahku, dia mengusap punggungku dengan lembut. "Apakah kamu cukup tidur Nak?" Tanya Ibu Aisyah lembut. "Cukup kok Bu." Ucapku bohong. "Jangan bohong sama Ibu, Ibu tahu saat kamu sedang berbohong." Ucapnya dengan tersenyum membuatku menunduk tidak berani menatapnya.
Seketika aku terisak dalam tangisku, Ibu Aisyah langsung memelukku ke dalam pelukannya. "Aku merindukannya Bu, aku sangat rindu dia." Lirihku dalam pelukannya. "Sayang, Nak Indra akan sangat sedih melihat kamu seperti ini, Ibu yakin Nak Indra adalah orang yang baik, Ibu juga yakin Nak Indra akan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya, kamu tidak boleh seperti ini terus Nak, bersedih boleh tetapi jangan berlarut-larut, percayalah cobaan di hidupmu ini akan menjadikanmu orang yang kuat dan pasti akan ada hikmahnya." Ucap Ibu Aisyah memelukku.
Perasaanku sedikit menghangat mendengar perkataan Ibu Aisyah, memang benar aku tidak seharusnya sedih berlarut-larut seperti ini, aku harus bisa bangkit bukan hanya untukku tetapi untuk Indra. Setelah membantu Ibu Aisyah di Warungnya, aku melangkahkan kakiku menuju ke Kamarku, aku ingin membersihkan tubuhku dan menjernihkan pikiranku dengan air hangat.
Setelah hampir 15 menit aku membersihkan tubuhku, handphoneku berdering diatas meja belajarku, aku mengambilnya dan melihat nama Rizka pada layarnya. "Halo Riz." Ucapku mengangkat telepon dari Rizka. "Sar, apa kabarmu?" Tanya Rizka. "Aku baik Riz, terima kasih sudah tanya Riz, apa kabarmu Riz?" Tanyaku lagi kepadanya.
"Apa yang terjadi Riz, dan kenapa aku?" Tanyaku. "Hmm Mas Bara, selalu berteriak namamu di saat malam hari, untuk yang lainnya mungkin hanya bisa aku ceritakan kalau kamu bisa kesini." Ucap Rizka, aku berpikir sejenak apakah aku akan menolong Rizka atau tidak, tetapi aku berpikir lagi bahwa selama ini Bara sudah sangat baik kepadaku. "Oke Riz, aku akan kesana sebentar lagi." Ucapku. "Terima kasih Sar, terima kasih banyak, aku tunggu kamu di Rumah ya." Ucap Rizka dengan senang, setelah itu aku memutuskan sambungan teleponku bersama Rizka.
Saat aku sedang bersiap-siap, entah mengapa aku merasakan sedikit firasat tidak enak, aku mengambil handphoneku dan memastikan nomor dial daruratku sudah benar-benar aku setting di telepon genggamku. Setelah memastikan semua itu, aku langsung melangkahkan kakiku keluar Panti dan menaiki Angkutan Umum kearah Rumah Bara.
Sesampainya aku di depan Rumah Bara, aku langsung di sambut Rizka di depan Gerbang Rumahnya, dia memelukku erat dengan perasaan senang dan juga cemas. "Terima kasih sudah mau kesini Sar." Ucapnya, setelah itu kami masuk ke dalam Rumahnya dan duduk di Ruang Tamu.
__ADS_1
"Kamu mau minum apa Sar?" Tanya Rizka kepadaku. "Gak usah Riz, apa sebenarnya yang terjadi dengan Mas Bara Riz?" Tanyaku langsung kepada Rizka, terlihat dari wajahnya yang sedih dan berat untuk menceritakannya kepadaku, aku mendekatinya dan menggenggam tangannya.
"Mas Bara entah mengapa dalam satu minggu ini sangat tidak seperti biasanya Sar." Ucap Rizka. "Maksudnya Riz?" Tanyaku. "Iya, jadi Mas Bara dalam satu minggu ini sering minum minuman beralkohol padahal dia sangat tidak suka dengan minuman itu, dia sering mengurung diri di dalam kamar dan juga dia terlihat seperti orang ketakutan dan cemas, karena hal tersebut juga Mas Bara di keluarkan dari pekerjaannya karena pernah waktu itu dia mau menerbangkan pesawat dalam kondisi mabuk." Ucap Rizka sedih.
"Bagaimana dengan kedua Orang Tuamu Riz, apa mereka tahu dengan kondisi Mas Bara sekarang?" Tanyaku. "Mereka sudah tahu dengan kondisi Mas Bara, hanya saja mereka belum bisa kesini dalam waktu beberapa dekat ini." Ucap Rizka tertunduk dan hampir menangis, dia melihat kearahku dengan air mata yang sudah hampir mau jatuh ke pipinya.
"Aku takut Sar." Ucap Rizka dengan nada bergetar. "Aku takut dengan Mas Bara, dia seperti orang lain, setiap malam dia selalu bermimpi buruk dan selalu berteriak namamu, dan pernah juga suatu malam saat aku masuk ke Kamarnya, dan mendekatinya dia pernah langsung mencekik leherku dengan sorot mata yang ingin membunuhku." Rizka tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena terisak dengan tangisannya sendiri.
Aku menetapkan hatiku, karena entah mengapa firasatku mengatakan sesuatu tentang Bara, tetapi selalu aku hilangkan firasat itu, karena dari pertama aku bertemu Bara, dia sama sekali tidak pernah melakukan hal buruk di hadapanku, apakah benar kalau Bara sanggup untuk melakukan hal yang ada di pikiranku selama kurang lebih seminggu ini, semenjak Polisi yang bernama Taufan itu mengatakan bahwa kematian Indra adalah sebuah pembunuhan terencana dan kemungkinan yang melakukannya adalah orang-orang terdekat Indra. Apakah kamu Mas Bara?
"Mas Bara sudah makan Riz?" Tanyaku mencoba tenang di hadapan Rizka. "Belum Sar, makanan yang aku bawa selalu tidak dimakannya." Ucap Rizka. "Kamu bisa siapkan makanannya, aku coba untuk berbicara kepada Mas Bara." Ucapku yang membuat Rizka sedikit senang karena aku bersedia membantunya, dia langsung pergi ke dapur membawa sebuah nampan yang berisi makanan diatasnya, aku mengambilnya dan mendekati pintu depan Kamar Bara, aku meminta Rizka untuk tidak ikut denganku, biar aku sendiri yang berbicara dengan Bara untuk memastikan sesuatu. Aku harap firasatku salah.
BERSAMBUNG.
__ADS_1