
Kapal kami berhenti di Verdon Gorge dimana merupakan tempat yang sedikit jauh di antara perbatasan Perancis dan Italia, di Verdon Gorge aku dapat melihat pepohonan berwarna hijau dengan tebing yang eksotis dan sinar matahari senja sore hari.
Aku dan Angkasa sedang menikmati air laut yang sedang membasahi kami, dimana Angkasa sedang meletakkan kepalanya pada area favoritnya sekarang di dadaku. “Sar.” Panggilnya membuatku melihat wajah tampannya yang basah. “Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, apapun yang terjadi.” Ucap Angkasa tatapan memohon yang baru pertama kalinya aku lihat.
“Aku tidak tahu apakah aku masih bisa bernafas tanpa kamu di sisiku, kamu benar-benar membuatku candu akan dirimu.” Ucap Angkasa menurunkanku dari tubuhnya sehingga membuatnya dapat ******* bibir bawahku. “Aku berjanji.” Ucapku dan membalas ciumannya. Hari itu kami lewati di pulau itu dan tidur di dalam kapal dimana semua kebutuhan yang kami perlukan sudah tersedia. Kami menghabiskan malam kami dengan penuh kehangatan di tempat sepi dan sunyi ini, malam yang tidak akan pernah aku lupakan bersama dengan Angkasa.
***
“Aku akan pergi sebentar ya, ada urusan yang harus aku selesaikan, kamu dapat memannggil supir apabila kamu ingin pergi untuk jalan-jalan.” Ucap Angkasa mencium keningku dimana aku masih tertidur dengan tubuh polos yang ditutupi oleh selimut setelah malam panjang dan panas yang kami lewati pada malam ketiga di Paris.
Aku sedikit menekuk wajahku karena setelah empat hari empat malam di Paris ini, baru kali ini Angkasa tidak akan berada di sisiku. “Jangan memasang wajah seperti itu, Sayang. Kamu membuatku ingin memakanmu lagi nanti.” Ucapnya menggodaku yang entah sejak kapan seorang Angkasa yang dikenal cuek dan arogan bisa bertingkah seperti ini.
“Kamu bisa menghubungiku kapan saja oke.” Ucapnya mencium pipiku lagi dan meninggalkanku yang masih sedikit kesal. Sejak bersama Angkasa entah mengapa aku menjadi seseorang yang sangat ingin di manja olehnya, Angkasa benar-benar sudah mengisi hidupku.
“Apa yang akan aku lakukan hari ini.” Gumamku sendiri, aku pun berinisiatif untuk membersihkan tubuhku terlebih dahulu, setelah selesai membersihkan tubuhku dan mempersiapkan diriku, aku melangkah keluar apartemen dimana sebuah mobil sudah terparkir di depanku dengan seorang pemuda yang sebelumnya pernah mengantarku dan Angkasa sewaktu kami pergi ke pesta di malam pertama kami sampai di Paris.
__ADS_1
“Selamat pagi, Nyonya.” Ucap pemuda itu. “Pagi.” Balasku dan masuk ke dalam mobil dengan pintu yang dibuka olehnya. Setelah pemuda itu masuk ke mobil dan mendudukkan diri di belakang kemudi supir, pemuda itu bertanya padaku. “Mau kemana hari ini kita, Nyonya? Tuan Angkasa memerintahkan saya mengantarkan Nyonya kemanapun Nyonya mau pergi.” Ucap pemuda itu. “Hmm aku ingin ke Ble Sucre." Ucapku kepadanya. “Baik Nyonya.”
Selama perjalanan aku masih dibuat kagum oleh keindahan bangunan di kota Paris ini sampai kami tiba di sebuah restoran yang sebelumnya sudah aku cek di internet dimana di restoran ini terkenal akan Croissantnya yang sangat enak. “Kamu mau ikut saya masuk ke dalam? Dan maaf boleh aku tahu namamu?” Tanyaku kepada pemuda itu sebelum turun. “Tidak, terima kasih Nyonya atas tawarannya, saya akan menunggu di sini saja, dan anda dapat memanggil saya Charles.” Ucapnya kepadaku.
“Oke, baiklah Charles, kalau begitu saya turun dulu.” Ucapku meninggalkannya dan segera masuk ke dalam restoran dengan papan nama yang bertuliskan Ble Sucre, dimana aroma panggangan roti sudah masuk ke dalam indra penciumanku dan membuat perutku menjadi lapar. “Sarah?” Suara seorang laki-laki memanggil namaku, aku menoleh ke arah sumber suara dan terkejut dengan apa yang aku lihat, mata biru itu dan senyuman itu. Dave.
Aku duduk dengan gelisah bahkan sampai tanganku basah akan keringat dingin yang aku keluarkan. “Silahkan.” Ucap Dave dan meletakkan satu piring croissant dan satu gelas black coffee yang masih mengeluarkan asap dari gelasnya. “Te…terima kasih.” Ucapku berusaha tersenyum.
Dave menyesap kopinya dengan tenang, tetapi dapat aku lihat adanya kegelisahan juga dari dirinya yang
mungkin sama dengan apa yang aku alami sekarang. “Dave.” Panggilku memecahkan keheningan di antara
kami.
__ADS_1
Dia meletakkan kopinya dan memfokuskan dirinya kepadaku. Tatapan teduh itu, a…aku merindukannya. “Iya.” Ucapnya. “Apa yang kamu lakukan disini?” Tanyaku kepadanya, dia memberikan senyumannya kembali. “Kamu ingat waktu kita bermain di pasar malam waktu itu?” Tanyanya yang membuat aktivitas di sekitarku tiba-tiba berhenti dengan seketika dan mengingatkanku akan kenangan itu.
Kenangan di pasar malam itu saat aku mendapatkan sebuah gantungan kunci menara Eiffel. “Nanti semoga kita bisa pergi ke Paris ya, biar kamu bisa lihat menara eiffelnya.” Kata-kata Dave teringat kembali di kepalaku.
“Aku selalu meluangkan waktu setiap tahunnya saat liburan untuk selalu pergi ke Paris, berharap akan bisa melihat Paris dan bertemu denganmu.” Ucapnya. “Maafkan karena ketidakmampuanku untuk balik kepadamu bahkan bertemu denganmu, aku benar-benar menyesal Sarah, a…aku merindukanmu.” Lanjutnya yang berusaha meraih tanganku di atas meja.
Saat tangan Dave menyentuh tanganku, aku melihat cincin pada jari manis ku dan langsung menarik tanganku. “Maafkan aku, tetapi aku tidak bisa.” Ucapku. “Aku mengerti kalau kamu membutuhkan waktu untuk memproses semua ini.” Ucapnya kembali tersenyum. “Aku akan menunggumu Sarah, aku tidak akan menghilang lagi dan meninggalkanmu lagi, aku akan berusaha lagi untuk mendapatkanmu kembali.” Ucapnya dengan nada serius. Apakah aku harus mengatakan kepadanya bahwa aku sudah menikah?
“Dave, a…aku.” Ucapku terpotong saat handphoneku berbunyi. Angkasa? “Ha…halo.” Ucapku mengangkat panggilan di handphoneku. “Kamu dimana?” Tanya Angkasa dengan nada penuh selidik. “A…aku di.” Ucapanku terpotong lagi. “Dengan siapa kamu sekarang?” Tanyanya lagi dengan nada yang berbeda sekarang. “Tunggu aku disana.” Ucapnya langsung menutup panggilan tanpa sempat aku menjawab satu pun pertanyaan.
“Apa yang terjadi Sarah? Mengapa wajahmu terlihat takut seperti itu?” Tanya Dave di depanku. Apa yang harus aku lakukan. Tidak sampai lima belas menit aku sudah mendengar sebuah decitan ban mobil di luar restoran. Dari pintu masuk aku melihat Angkasa disusul oleh Charles dan beberapa Bodyguard Angkasa yg lainnya berjalan dengan cepat dan raut wajah yang seperti akan membunuh seseorang.
Aku langsung berdiri dari tempat dudukku dan mendekatinya. “Kass.” Panggilku, tanpa melihatku dia menatap tajam ke arah Dave dan seketika suasana di dalam restoran ini yang sebelumnya hangat menjadi gelap dan dingin. “Maaf anda siapa Tuan?” Tanya Dave kepada Angkasa tanpa ada rasa takut sama sekali dengannya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1