
“Aku suami Sarah, dan apa yang kamu lakukan dengan istri saya disini?” Tanya Angkasa dengan genggaman tangan yang siap untuk didaratkannya kepada Dave. “Kass, aku bisa menjelaskannya.” Ucapku mencoba menenangkan Angkasa dan berusaha menariknya keluar dari restoran ini.
Dave melihatku heran, tetapi setelah itu dia kembali tersenyum kepadaku dan Angkasa. “Saya Dave, teman Sarah.” Ucap Dave mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Angkasa. “Jangan pernah sekali lagi kamu mendekati istriku atau kamu tidak akan pernah lagi dapat bernapas.” Ucap Angkasa dan langsung menarik ku keluar dari restoran ini.
“Saya sama sekali tidak takut dengan ancaman anda Tuan.” Ucap Dave tenang yang membuat Angkasa membalikkan tubuhnya dan langsung mendaratkan pukulannya di wajah Dave. “Kass!” Teriakku yang membuat semua pengunjung restoran mengalihkan perhatiannya kepada kami.
Beberapa bodyguard Angkasa berdatangan dan menarik tubuh Angkasa yang sedang berada dalam puncak kemarahannya. Tiba-tiba saja Angkasa mengambil sebuah pistol yang berada di salah satu bodyguardnya. “Kass, hentikan.” Teriakku langsung berada di antara Angkasa dan Dave.
Angkasa dengan emosi melepaskan pistol yang dipegangnya dan langsung menarik tanganku kasar membuatku sedikit meringis kesakitan. “Saya harap anda dapat membuat Sarah bahagia Tuan, sekali saja anda membuatnya sedih, saya akan datang untuk mengambilnya dari tangan anda.” Teriak Dave.
Angkasa membawaku masuk ke dalam mobil dan melajukannya cepat menuju ke jalanan di kota Paris. Aku sangat ketakutan saat Angkasa membawa mobil ini dengan cepat dengan kemarahan yang tidak pernah aku lihat lagi semenjak pertemuan pertama kami.
Mobil tiba-tiba saja berhenti di taman yang berada di depan menara besi Eiffel. Angkasa menarik kepalaku dan menciumku kasar, tangannya merobek pakaian yang aku gunakan dan menyentuh bagian- bagian sensitifku secara kasar. “Ka...Kass hentikan.” Mohonku berusaha untuk lepas darinya, tetapi dia sama sekali tidak menghiraukan permohonan ku. Aku sedikit merasakan kesakitan saat Angkasa memasukkan jarinya pada bagian sensitifku.
“Kass, aku mohon hentikan.” Mohonku lagi, tenagaku sangat kalah jauh dengan tenaga Angkasa yang sekarang sedang berada dalam puncak kemarahannya. Tidak terasa air mataku mengalir membasahi pipiku membuat Angkasa yang menyadari hal itu dan menghentikan perlakuannya kepadaku.
__ADS_1
Dengan kasar dia membuka pintu dan keluar dari mobil, meninggalkanku yang sekarang memeluk tubuhku, menutupi bagian-bagian bajuku yang telah di robek Angkasa. “Arghhh.” Teriak Angkasa yang membuat beberapa pengunjung taman itu melihat ke arahnya.
Sampai dia duduk pada sebuah bangku dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya membuatku merasa bersalah. Melihat Angkasa yang terpuruk seperti itu membuatku menyadari kesalahanku, seharusnya aku tahu bahwa ini semua adalah rasa cemburunya kepadaku.
Setelah menghapus air mataku dan menenangkan diriku, aku keluar dari mobil dan mendekatinya. Aku berdiri di depannya yang sedang duduk dan tertunduk menutup wajahnya dengan tangannya. Aku mendekapnya dalam pelukanku. “Jelaskan kepadaku Sarah atau aku akan benar-benar membunuh pemuda itu.” Ucapnya dengan nada penuh kemarahan.
“Bisakah kamu menenangkan dirimu terlebih dahulu?” Tanyaku lembut kepadanya dan mengusap rambutnya yang mulai sedikit panjang. Angkasa menghela napasnya berat dan membawa tubuhku untuk berpangku pada dirinya. Ciuman lembut yang berbeda dengan ciumannya tadi membuat hatiku menjadi ikut tenang dan hangat kembali saat bersamanya.
“Laki-laki itu bernama Dave.” Ucapku dengan tatapan melihat keindahan menara Eiffel di siang hari. “Di…dia adalah seseorang yang pertama kali membuatku dapat merasakan rasanya dicintai dan mencintai.” Lanjutku, aku merasakan tangan Angkasa terkepal kembali setelah aku mengatakan kalimat itu. Aku menyentuh wajahnya lembut, merasakan rahangnya yang mengeras karena cemburu.
“Aku tidak apa-apa.” Ucapku lembut dan berpindah duduk di sebelahnya. Aku melanjutkan cerita akan Dave kepada Angkasa. Cerita dimana aku merasakan rasanya di sayangi, disakiti, direndahkan dan ditinggalkan tanpa penjelasan apapun. “Apa yang kamu rasakan sekarang dengannya?” Tanya Angkasa setelah dia diam selama dua jam mendengarkan ku menceritakan masa laluku yang terkadang tersenyum sendiri dan sedih.
Aku terdiam dengan pertanyaan Angkasa. Apa yang aku rasakan sekarang, apakah aku masih mencintainya? Atau apakah rasa itu telah hilang? Aku menatap wajahnya, wajah seseorang yang sudah memberikan hidupnya untukku dan memalingkan lagi mataku menatap ke arah menara eiffel. “A…aku tidak tahu.” Ucapku membuat genggaman tangan Angkasa padaku terlepas. “Maafkan aku.” Ucapku tertunduk dan tidak terasa aku meneteskan air mataku.
“Selesaikan hal yang belum kamu selesaikan dengan laki-laki itu, aku akan meminta suruhan ku untuk meminta laki-laki itu menemuimu malam ini, sekarang baliklah dulu ke apartemen.” Ucap Angkasa yang segera berdiri dari tempat duduknya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dengan bahasa perancis.
__ADS_1
“Seseorang akan menjemputmu disini, tunggulah.” Ucapnya berlalu pergi. “Sarah, kamu tahu kalau kamu adalah hal terbaik yang pernah aku miliki, aku akan sangat bahagia melihatmu bisa bahagia dan selalu tersenyum, tetapi jika bahagiamu bukan ber…samaku, aku akan mencoba untuk melepasmu pergi dariku.” Ucap Angkasa sebelum benar-benar berlalu pergi meninggalkanku, menghilang bersama dengan mobilnya. Apa yang harus aku lakukan. Aku menutup wajahku dengan tanganku dan menangis akan kebodohanku.
“Permisi Nyonya.” Suara seseorang setelah aku menunggu di tempat duduk depan taman menara Eiffel selama 15 menit. “Saya Charles, suruhan dari Tuan Angkasa untuk menjemput Nyonya.” Ucapnya lagi, aku pun mengangukkan kepalaku dan segera berdiri dan mempererat jas Angkasa yang melekat padaku sehingga aku dapat menghirup bau tubuhnya.
Selama perjalanan menuju ke apartemen, tidak banyak kata atau perasaan yang aku rasakan, pikiranku menjadi kosong, bahkan bangunan-bangunan di kota Paris yang selalu membuatku terpukau menjadi tidak berarti lagi. “Nyonya, kita sudah sampai dan ini kunci apartemennya.” Ucap Charles dengan memberikan kunci apartemen milik Angkasa di tangannya. “Kemana Angkasa?” Tanyaku.
“Tuan Angkasa tidak berkata apa-apa, beliau hanya meminta saya untuk memberikan kunci ini kepada Nyonya.” Ucapnya lagi, dengan lesu aku mengambil kunci itu dan keluar dari mobil dan menuju ke lantai apartemen Angkasa.
Saat masuk ke dalam apartemen, aku membuka tirai apartemen dan membiarkan cahaya hangat matahari masuk ke dalam ruangan sepi di dalamnya. Aku melihat makanan yang tersedia dan mungkin baru saja disiapkan sebelum aku datang sama sekali tidak menggugah selera makanku, aku hanya ingin masuk ke kamar dan mengistirahatkan mataku.
Sesampainya aku di dalam kamar, aku melihat sebuah kotak dengan sebuah kertas di atasnya. “Pakailah ini untuk malam ini karena kamu akan terlihat sangat cantik. – Suamimu”
Kass.
BERSAMBUNG.
__ADS_1