Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#1 WP?S2


__ADS_3

Tiga hari setelah kesepakatanku dengan Sang Penguasa, aku terbangun dengan keadaan yang mengerikan, kantung mataku semakin terlihat berwarna hitam karena terlalu banyak hal-hal yang ada dipikiranku terkait seorang Angkasa Pratama dan dengan bodohnya kenapa aku malah menawarkan diri untuk menolongnya. Sungguh bodoh kamu Sarah.


Surat yang menyatakan bahwa aku lolos untuk beasiswa ke Australia masih berada di atas meja belajarku. Banyak sekali keraguan yang ada di hati dan pikiranku untuk mengambil beasiswa itu, karena dari surat perjanjianku bersama Angkasa tertulis bahwa aku harus selalu berada di sekitarnya dan apapun yang aku lakukan harus diketahui olehnya.


Artinya aku harus tinggal, pergi bahkan untuk makan dan mandi pun harus berdasarkan persetujuannya, tidak dapat aku bayangkan bahwa aku akan merasakan itu semua di negeri orang lain tanpa ada sahabat-sahabatku, Ibu Aisyah dan Adik-Adikku di Panti yang dapat menghiburku.


Aku menghela nafas berat untuk kesekian kalinya dan melangkahkan kakiku menuju Kamar Mandi di dalam Kamarku, setelah selesai membersihkan tubuhku dengan sedikit cepat, aku menatap diriku di depan cermin dengan handuk putih yang masih terlilit di tubuhku. Apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini Angkasa.


Aku takut untuk mendekati sosok Angkasa pratama, tetapi tidak dapat akku pungkiri bahwa aku juga penasaran dengan sosoknya, apa yang menyebabkannya menjadi dingin dan kejam seperti sekarang ini, secara perlahan aku akan mencoba mencari tahu semua tentangnya.


Aku mengenakan baju yang harus terlihat sopan untuk hari ini, karena aku akan bertemu dengan Ibu Nur, Kepala Sekolah dari SMA XYZ. Aku ingin mencari tahu kebenaran dari perkataan Angkasa, bahwa beasiswa yang aku dapatkan selama ini adalah perintah dari Angkasa.


Aku bergegas keluar dari Panti setelah izin dengan Ibu Aisyah, tujuanku hanya satu menemui Ibu Kepala Sekolah di SMA XYZ karena Siswa/i Kelas X dan XI masih ada proses belajar mengajar di Sekolah. Setelah kurang lebih menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, aku sampai di SMA XYZ tempatku dulu menempul pendidikan selama tiga tahun.

__ADS_1


Aku menyapa beberapa Adik Kelasku yang aku kenal dengan masih tetap melangkahkan kakiku menuju ke Ruangan Kepala Sekolah. Di depan pintu Ruangan Kepala Sekolah, aku mengatur nafasku terlebih dahulu, aku ketuk pintunya sebanyak tiga kali sambil mengatur nafasku. "Masuk." Suara dari dalam Ruangan.


Aku membuka pintu di depanku secara perlahan. "Sarah?" Tanyanya heran. "Pagi Bu." Ucapku. "Pagi juga, duduk Sarah." Ucapnya. Aku sedikit menarik kursi di depanku dan duduk di depannya. "Ada apa Sarah, kenapa tiba-tiba kamu datang ke Sekolah hari ini, apa ada masalah dengan beasiswamu?" Tanyanya beruntun.


"Tiidak ada masalah dengan beasiswa saya Bu, hanya saja ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan." Ucapku dan dia meanggukkan kepalanya. "Silahkan." Ucapnya. "Saya ingin bertanya Bu, apakah benar selama ini beasiswa dan sekolah gratis yang saya dapatkan disini, itu adalah perintah dari Tuan Angkasa Pratama?" Tanyaku dalam satu kali nafas saat menyebut nama Sang Penguasa.


Ibu Nur menatapku lebih lekat. "Hmm apakah dia yang mengatakannya padamu?" Ucapnya dan aku menganggukkan kepalaku. "Sarah, jauhi dia." Ucapnya tegas membuatku sedikit terkejut. "Ta...tapi." Ucapku terpotong olehnya. "Ibu tahu kamu mendapatkan beasiswa untuk pendidikan selanjutnya juga dari dia, tetapi kamu sekarang berhadapan dengan seseorang yang bernama Angkasa Pratama, orang-orang yang ada di sekitarnya tidak pernah ada yang bisa hdup lama atau tenang, bahkan Ibu Kandungnya sendiri telah dibunuh olehnya." Ucap Ibu Nur membuatku terkejut. Tante Mega?


"Kematian dari Ibu Kandungnya, merupakan berita yang sudah tersebar di Kepolisian, tetapi mereka tidak pernah menyelesaikan kasus itu dan menganggap kematian dari Ibunya itu adalah sebuah kejadian bunuh diri, mereka menutupi semua hal itu karena takut akan kekuasaannya." Ucap Ibu Aisyah membuatku semakin takut, dalam pikiranku bagaimana seorang anak bisa membunuh Ibunya sendiri, seseorang yang melahirkan dan membesarkannya.


"Tidak baik membicarakan orang lain dari belakang." Suara dingin itu berhasil membuatku membeku dari tempat dudukku, aku tahu persis suara itu, aku sama sekali tidak berani untuk melihat kearahnya sampai dia duduk di kursi sebelahku.


Aku sekilas melihat Ibu Nur yang terlihat terkejut dan ketakutan. "Bisakah anda meninggalkan saya dan Bocah ini berdua Ibu Kepala Sekolah." Ucap Angkasa dengan nada tegas dan mengancam, tanpa menunggu waktu lama Ibu Nur langsung berangkat dari kursinya dan melangkah keluar dari Ruangannya dan menutup pintu, sehingga hanya menyisakanku berdua dengan Sang Penguasa di Ruangan ini.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan disini, Bocah?" Tanyanya. "Lihat aku." Ucapnya lagi sedikit keras, membuatku terkejut dan langsung menatapnya. "Apa yang kamu lakukan disini?" Tanyanya lagi. "A...aku." Ucapku gugup dengan suara yang sangat sulit keluar dari mulutku.


"Sudah aku bilang, akan sulit untukmu berada di sekitarku, tetapi kamu sendiri yang memintanya." Ucapnya menatapku tajam dengan mata kosongnya itu. "Aku tidak akan heran kalau kamu akan merubah pikiranmu." Ucapnya lagi.


Aku memejamkan mataku, dan secara tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita didalam pikiranku. "Sarah, seseorang yang jahat masih tetap ingin diakui, bukan diakui karena ulahnya, tetapi mereka ingin diakui keberadaannya, setiap orang punya sisi gelap dan kelam yang membuatnya melakukan sesuatu yang jahat, tetapi kamu harus selalu ingat Sayang, setiap orang juga punya sisi yang baik walaupun itu kecil jadi kamu harus bisa menemukan sisi baik dari setiap orang." Pesan Ibuku tiba-tiba muncul begitu saja di pikiranku, membuat aku membuka mataku dan menatap mata kosong dan kesepian itu.


"Aku tidak akan merubah pikiranku, hanya saja." Aku mengambil sebuah amplop di dalam tasku dan menyerahkannya kepada orang di depanku. "Aku tidak mau menerima ini, karena ini bukanlah hasil dari usahaku sendiri, aku mau melanjutkan pendidikanku dengan usahaku sendiri tanpa bantuan atau campur tanganmu." Ucapku tegas.


Aku melihat senyuman tipis pada wajahnya, dia berdiri di depanku dan mengambil surat itu. "Kamu akan menyesalinya Bocah, karena aku tidak akan melepaskanmu kali ini." Ucapnya penuh penekanan. "Aku terima permintaanmu, dengan satu syarat." Ucapnya membuat dahiku mengernyit. "Tinggallah bersamaku."


BERSAMBUNG.


VOTENYA JANGAN LUPA YA GUYS!

__ADS_1


__ADS_2