Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#8 WP?S2


__ADS_3

Angkasa POV, flashback on.


Tidak ada yang pernah tahu dengan apa yang terjadi di balik pintu kamarku saat aku berumur mulai 16 tahun. Seorang wanita merangkak naik di atas tempat tidurku, sepasang kaki polos duduk menjepit tubuhku. Jari-jari dengan kuku panjang itu menggaruk pinggulku dan dadaku yang terkadang menimbulkan darah dan luka yang membekas.


Tidak ada yang pernah tahu, aku tercekik baik leherku ataupun bagian tubuhku lainnya yang kaku. Aku dibuat merintih tanpa bersuara dengan kulit membiru dan wajah pucat. Wanita itu menikmati hal itu, menikmati setiap rintihan dan kesakitan yang aku dapatkan dari perlakuannya. Dia adalah Mamaku, Ibu kandungku sendiri.


Saat Papaku memutuskan untuk pergi dari Rumahku waktu aku berumur urang lebih sembilan tahun, meninggalkan Mama dan aku untuk seorang Wanita yang lebih di cintainya. Suatu malam pada saat terakhir kalinya Papaku kembali ke Rumah, setelah aku dan Mama pergi melihat Wanita yang dicintai oleh Papaku, Wanita yang mempunyai seorang anak perempuan dengan mata bulat dan senyuman manis itu.


"Papa, Papa kembali." Aku memeluk kaki Laki-Laki itu, dia menggendongku dan mencium berkali-kali pipiku membuatku tertawa geli. "Papa bakalan tinggal disini lagikan sama Kassa? Iyakan Pa?" Tanyaku yang hanya dijawab senyuman olehnya.


"Dimana Mama kamu, Kassa?" Tanyanya, aku menunjuk Kamar Utama tempat Mama dan Papaku tidur. Aku pun diturunkan oleh Papaku dari gendongannya. Papaku masuk ke dalam Kamar itu, tidak lama kemudian aku mendengarkan suara teriakan dan suara barang-barang yang terlempar.


"Izinkan aku membawa Kassa, kamu tidak akan pernah becus untuk merawatnya. Aku tidak mencintaimu Mega, kalau saja bukan karena hutang Orang Tuaku dulu kepada Orang Tuamu, aku tidak akan pernah sudi hidup seperti neraka bersamamu di Rumah ini dan Keluargamu yang merupakan Keluarga kriminal." Ucap Papaku yang dapat aku dengar dalam pertengkaran mereka, tetapi setelah pertengkaran itu Papaku tidak pernah pulang kembali.


Dia keluar dari Rumah besar Mamaku sendirian tanpa membawaku. "Kassa, Papa minta maaf belum bisa membawamu pergi dan tinggal bersama Papa. Tetapi Papa janji suatu saat nanti Papa akan membawa Kassa tinggal bersama Papa, jadi selama Papa tidak ada Kassa harus menjadi anak yang baik ya." Ucap Papaku untuk terakhir kalinya, tetapi dia tidak pernah kembali lagi.

__ADS_1


Aku melihat Papaku pergi dengan Mama di sebelahku, tangannya berada di pundakku dengan kuku panjang yang selalu membuatku takut dan tidak dapat tidur nyenyak semenjak hari itu. "Kamu harus bisa menjadi Laki-Laki yang kuat Kassa, buat semua orang takut kepadamu, buat mereka semua tunduk kepadamu dan Mama akan mengajarinya kepadamu." Ucap Mamaku di saat aku memandang punggung Papaku untuk terakhir kalinya.


Semenjak hari itu Mamaku sering masuk ke Kamarku, memukulku disaat dia sedang ingin memukul, dia bahkan memintaku memukulnya, melukainya dengan sebuah pisau bahkan membakar kulitnya dengan rokok yang selalu terselip di bibirnya.


Sampai umurku berusia 17 tahun, di saat itu lah mimpi-mimpi burukku semakin mencekam. Suatu malam Wanita itu mengepaskan pahanya pada bagian diriku yang kaku, lalu mengajariku tentang kuasa tubuh seorang Wanita. Aku diminta tidak boleh basah dengan cepat seperti seorang Wanita.


Kalau aku membantah satu kali pun, dia akan menyulutkan rokok di dadaku. Dia selalu menikmati raut wajahku yang kesakitan dan sesak tak berdaya. Situasi ini terjadi setiap malam, tubuhku penuh dengan luka hampir di seluruh bagian tubuhku. Dia mengatakan bahwa aku harus menjadi Laki-Laki dengan harga diri yang tinggi dan tidak boleh banyak mengeluh.


Sampai suatu malam, aku ingin membalaskan dendam dan rasa sakitku selama 17 belas tahun ini. Aku menekannya ke dinding, membantingnya ke tempat tidur. Aku menjadikannya sebuah barang yang dapat aku gunakan untuk memuaskan hasratku.


Di luar dugaan, dia sama sekali tidak mengalami kesakitan atau marah. Dia hanya tersenyum puas, dia akhirnya membuat diriku menjadi hewan buas berdarah dingin. Aku melakukannya dengan kasar, tawanya semakin kencang membuatku menjadi marah. "Hiduplah seperti ini Kassa, tundukkan semua orang dibawah kakimu, buat mereka ketakutan, apabila perlu untuk melukai mereka lakukan itu." Ucapnya saat aku sedang dengan kasarnya melepaskan hasratku padanya.


Flashback off, Sarah POV.


Aku terbangun dari tidurku dan langsung mencium bau mint kesukaanku. Aku membuka mataku secara perlahan dan langsung memundurkan tubuhku, karena pagi ini tanpa sadar aku tidur diatas lengan yang kekar dan memeluk tubuh hangat dari seseorang tanpa pakaian yang menutup bagian atas tubuhnya.

__ADS_1


Aku mendudukkan diriku, melihat wajah damai yang sedang tertidur dengan nafas yang teratur di sebelahku, tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi cemas, takut dan gelisah. "Too...long aku." Suara lirih meminta tolongnya masih terdengar olehku.


Aku menyentuh wajahnya lembut. "Kassa, Kassa bangun." Ucapku lembut membuatnya langsung membuka mata dan duduk dari tempat tidurnya membelakangiku. Tanganku ingin menyentuh pundaknya, tetapi aku membatalkan niatku.


"Bersiap-siaplah, aku akan mengantarmu pulang." Ucapnya tanpa memandangku, dia berjalan keluar dari Kamar Tidur ini, aku terus memandang punggung kokohnya yang berwarna kecoklatan itu sampai menghilang dari pandanganku.


Aku pun segera masuk ke dalam Kamar Mandi di dalam Ruangan itu, membersihkan tubuhku di bawah shower dengan air hangat. selama tubuhku terbasahi oleh air hangat, aku memikirkan cerita dari Angkasa tentang masa kelamnya. Aku merasakan sikap yang beda dari Angkasa pagi ini, apakah dia takut aku menjauhinya karena ceritanya itu. "Kassa." Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku di bawah siraman air hangat ini.


Selama waktu sarapan sampai aku diantarkan oleh Angkasa balik ke Panti, tidak ada percakapan sama sekali antara aku dan dia. Kami hanya diam bergelut dengan pikiran kami masing-masing, memikirkan hal-hal yang terjadi semalam.


Aku memikirkan kenyamanan yang aku dapatkan saat kulit putihku bersentuhan dengan kulit kecoklatan Angkasa, saat nafasnya menyapu seluruh bagian tubuhku, memberikan kecupan hangat di setiap lekuk tubuhku. Tanpa aku sadari aku menyentuh bibir bawahku, bibir yang dihisap Angkasa dengan lembut dan penuh hasrat.


Aku juga memikirkan masa lalu yang kelam dari Angkasa yang membuatnya menjadi orang yang dingin seperti ini, tidak ada yang menolongnya di saat dia benar-benar sedang membutuhkan sebuah pertolongan. Trauma masa lalunya seperti sudah menjadi salah satu dari bagian tubuhnya yang terus melekat tanpa bisa dipisahkan apabila tidak menghancurkan pemilik tubuh itu sendiri.


Aku yang sedang bergelut dengan pikiranku sampai-sampai aku tidak menyadari mobil Angkasa sudah sampai di depan Panti. Dia tidak turun dari mobilnya, seperti yang di lakukannya semalam. "Terima kasih." Ucapku kepadanya, aku melihatnya sekilas dimana dia hanya memandang jauh ke depan tanpa melihatku.

__ADS_1


Aku pun turun dari mobil tersebut dan langsung menutup pintunya, Angkasa langsung menjalankan mobilnya meninggalkanku yang masih berdiri terdiam memandang mobil itu sampai menghilang dari penglihatanku. Di dalam hatiku, aku merasakan sesuatu yang mengganjal, aku merasakan sesuatu yang aku rindukan, sesuatu yang membuatku nyaman beberapa hari ini, bau mint dari tubuh seseorang, aku merindukan itu. Tiba-tiba saja handphoneku bergetar menandakan adanya pesan yang masuk Kota Tua, 19.00, Dresscode : Baju Hitam. Hiram Club.


BERSAMBUNG.


__ADS_2