
"Kebosanan itu kejam, tetapi kesepian lebih biadab dari pada kebosanan. Kesepian adalah salah satu penderitaan manusia yang paling pedih." - Andrea Hirata.
Sang Penguasa menatapku dingin yang mendekatinya dengan luapan emosi di hati dan air mata yang membasahi kedua pipiku, aku melihat Bodyguardnya yang aku tahu bernama Rafael ingin maju di depan dirinya, tetapi ditahan oleh Sang Penguasa, Angkasa Pratama.
Aku berdiri di depannya, mencoba menantangnya, menatap mata dingin yang tanpa ekpresi itu. "Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Apa salah Indra? Kenapa harus dia yang kamu bunuh." Tanyaku dengan cepat dan luapan emosi, sementara dia masih menatapku dingin dan tanpa ekspresi. "Hati-hati dengan perkataanmu Bocah." Ucapnya dingin tatapannya berubah menjadi tatapan benci dan membunuh. "Ma...maksudnya?" Tanyaku gugup.
"Dasar Bocah, kalau aku memang ingin membunuh Kekasihmu Bocah, aku tidak perlu repot-repot untuk menculiknya." Ucapnya lagi tersenyum sinis. "Dan mungkin ini memang keberuntunganku, penyiksaan awalmu ternyata tidak perlu mengotori tanganku sama sekali." Ucapnya lagi yang membuatu terkejut dan heran.
Dia mendekatkan dirinya kepadaku, menarik daguku dengan sangat kasar. "Hei Bocah, kamu tidak mengenalku?" Tanyanya dengan tatapan tajam kepadaku. "Ha ma...maksudnya?" Tanyaku gugup, dia melepaskan tangannya dari daguku. "Kamu benar-benar tidak mengenalku Bocah jelek dan miskin." Ucapnya yang membuatku mengingat sesuatu.
“Oh jadi kamu yang mencuri Papaku, dasar anak jelek dan miskin.” Ucap seorang anak Laki-Laki di depanku. “Kamu siapa?” Tanyaku. “Aku Kassa anaknya Papa Alex.” Jawabnya.
__ADS_1
"Ka...kamu Kassa anak dari Ayah ma...maksudku Om Alex?" Tanyaku terkejut,dia menatap kearah pemakaman. "Aku hidup penuh dengan penyiksaan, dan kamu Bocah harus mengalami apa yang aku alami, kamu merenggut orang-orang terdekatku, dan kamu juga harus merasakannya agar kamu tahu bagaimana rasanya kesepian." Ucapnya dingin, aku melihat raut wajah dan matanya, terdapat kesedihan dan kesendirian disana, tetapi aku langsung mengalihkan pandanganku karena dia melihat kearahku dengan tatapan membunuh yang membuat aku meneguk ludahku kasar dengan perasaan takut, tubuhku bergetar dan kurasakan keringat dingin pada tubuhku.
Tiba-tiba dia tersenyum, tidak lebih tepatnya adalah seringai kecil pada wajahnya, membuatku dengan spontannya mundur beberapa langkah, sehingga aku terpojok pada sebuah pohon besar. Tubuhku semakin bergetar karena dia semakin dekat kearahku. Seharusnya aku melarikan diri atau berteriak, tetapi entah mengapa tubuhku seperti tidak berfungsi dengan baik karena tatapan dan aura dingin di sekitarku.
Kurasakan sebuah tangan pada leherku, mataku yang sebelumnya terpejam menjadi terbuka secara cepat dan yang kulihat adalah tatapan tajam Sang Penguasa dengan tangan kanan yang sudah di leherku. "Aku...mohon." Ucapku pelan, tetapi dia tidak melepaskan tangannya.
Cekikan pada leherku menguat secara perlahan, membuat napasku semakin lama semakin menipis, mataku terasa buram dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipiku. "Apakah kamu tidak ingin menyusul Kekasihmu itu Bocah?" Tanyanya dengan seringai yang menakutkan pada wajahnya, di pikiranku langsung terbayang senyuman Indra, aku merasakan ingin memeluk Indra dalam dekapanku dan hatiku tiba-tiba menjadi sakit kembali, dadaku terasa sesak. Dan dia melepaskan tangannya.
"Tetapi aku senang bertemu denganmu kembali, setidaknya aku bisa melihatmu mati secara perlahan, melihat satu persatu orang-orang terdekatmu meninggalkanmu, mungkin bisa aku mulai dari Panti itu." Ucapnya melihatku dengan seringai jahat pada wajahnya. Dia merapikan lagi jas hitam yang digunakannya. "Kita akan berjumpa lagi Sarah Gibran." Dia pergi masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkanku sendiri dengan perasaan takut, gelisah, dan khawatir. Apa yang harus aku lakukan.
Aku melangkahkan kakiku dengan sangat lemah ke Panti, masih ada perasaan takut dalam tubuhku akan ancaman yang dikatakan oleh Angkasa, tetapi ada satu hal yang membuatku sedikit lega dan berpikir, Angkasa mengatakan bahwa dia tidak perlu menculik Indra untuk membunuhnya, karena dia sendiri kebal akan hukum, jadi dia bisa melakukannya dimana saja apabila dia mau termasuk di depanku atau pun Keluarga Indra, itu berarti mungkin saja bukan Angkasa yang melakukan pembunuhan kepada Indra.
__ADS_1
"Sar." Suara Bara di depanku yang membuatku sedikit terkejut. "Mas Bara." Panggilku pelan, dia masih menggunakan seragam Pilotnya dengan lengkap. "Maaf aku tidak bisa menemanimu hari ini." Ucapnya. "Gak pa-pa Mas, aku permisi dulu Mas, mau istirahat." Ucapku melewatinya yang masih berdiri. Maaf Mas Bara karena ketidaksopananku. aku masuk ke dalam Kamarku, dan langsung membenamkan kepalaku pada bantal, yang ingin kulakukan sekarang hanya memenjamkan mataku dan berharap semua ini tidak pernah terjadi, aku berharap ini semua adalah salah satu mimpi buruk dalam mimpiku. Aku harap.
Suara telepon membangunkanku dari tidurku, aku melihat ke arah jam dindingku yang menunjukkan pukul delapan malam itu artinya aku tertidur kurang lebih delapan jam, aku mengangkat teleponku yang masih berdering. "Halo, Sar ini Kak Laura." Ucap Laura dari ujung telepon. "Iya Kak, kenapa Kak?" Ucapku dengan suara serak. "Kamu bisa temani Kakak ke Kantor Polisi? Tadi Kakak dapat telepon dari Kantor Polisi, katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan terkait kasus Indra." Ucapnya dan aku langsung menjawab iya, setelah itu Laura menutup sambungan teleponnya untuk segera langsung menjemputku, aku pun bersiap-siap. Kurang lebih setengah jam Laura sudah ada di depan Panti dengan mobilnya.
Aku langsung masuk ke dalam mobil Laura, dan Laura dengan cepat menjalankan mobilnya masuk ke Jalanan Ibukota menuju Kantor Polisi. "Apa yang mereka bicarakan Kak?" Tanyaku kepada Laura di dalam mobil. "Hmm mereka mengatakan kemungkinan besar hal ini tidak ada hubungannya dengan Angkasa Pratama, karena dari cara pembunuhannya berbeda, ini seperti pembunuhan terencana." Ucap Laura dengan wajah tegang.
Mobil Laura pun sudah masuk ke dalam Parkiran Kantor Kepolisian, kami bertemu dengan Polisi yang menelpon Laura di dalam Kantor itu. "Halo saya Taufan, saya yang akan menangani kasus ini." Ucap seorang Polisi yang mungkin seumuran dengan Laura kepada kami, kami pun duduk di depan meja Polisi itu saling berhadapan.
Polisi itu mulai menceritakan apa yang tadi di ceritakan oleh Laura, dia juga mengatakan bahwa motor Indra sudah ditemukan yang bisa dikatakan bahwa orang yang membunuh Indra bukanlah seorang pencuri atau begal, karena dia meninggalkan motor tersebut dan hanya menculik Indra, tetapi pihak Kepolisian belum mendapatkan informasi apapun lagi terkait pembunuh tersebut.
Polisi itu memberikan nomor teleponnya kepada kami dan meminta kami untuk membuat nomor tersebut menjadi nomor darurat, karena dia mengatakan mungkin saja orang yang melakukan ini adalah orang-orang terdekat Indra atau bahkan mungkin kami pun mengenal orang tersebut. Hal itu membuatku terkejut karena selama ini yang aku tahu Indra sama sekali tidak mempunyai musuh, kecuali orang itu tetapi apa mungkin.
__ADS_1
BERSAMBUNG.