Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
CINTA GILA


__ADS_3

"Pelajaran moral nomor Sembilan belas: cinta, bisa saja berbanding terbalik dengan waktu, tapi pasti berbanding lurus dengan gila." - Andrea Hirata.


Aku mengetuk pntu Kamar Bara dengan pelan, tetapi sama sekali tidak ada suara dari dalam Kamarnya. Aku menghembuskan napasku berat. "Mas Bara, ini aku Sarah." Ucapku sedikit berteriak, terdengar suara langkah yang lemah dari dalam Kamarnya, tidak lama kemudian pintu itu pun terbuka, menunjukkan sosok Laki-Laki yang dulu mempunyai tubuh yang berisi dengan beberapa otot pada tubuhnya menjadi sosok Laki-Laki yang terlihat kurus, dengan brewok yang tidak terurus, kantong matanya terlihat hitam dan wajah yang terlihat sangat berantakan.


"Sarah." Panggilnya pelan, dia ingin memelukku tetapi terhalang oleh nampan yang aku bawa di tanganku. "Aku boleh masuk Mas, kamu belum makan kan?" Tanyaku lembut, Bara pun membuka pintu Kamarnya lebih lebar lagi. Jujur dalam hatiku aku merasa terpukul melihat kondisi Bara sekarang, entah apa yang dialaminya, aku merasa sangat bersalah, karena dulu waktu sedang sedih dia selalu ada untuk mendengarkan keluh kesahku.


Sekarang aku berusaha untuk menghiburnya, setidaknya dapat membuat Bara menjadi seperti dulu lagi. Setelah aku masuk ke dalam Kamar Bara, aku meletakkan nampan yang aku bawa diatas tempat tidur Bara yang berantakan bersamaan dengan Bara yang menutup pintu Kamarnya.


Aku duduk di tepi tempat tidurnya, dia berjalan lemah mendekatiku dan duduk di sebelahku. Dia hanya menatapku dengan tatapan kosong. "Kamu belum makan kan Mas?" Tanyaku dan dijawab gelengan kepala olehnya. Aku berinsiatif untuk mengambil makanan dan menyuapi Bara.


"Kamu makan ya Mas, aku suapin." Ucapku, aku menyendokkan satu suapan nasi beserta beberapa lauknya dan mengarahkan ke mulut Bara yang pucat, dia membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang aku suapkan kepadanya dengan sangat lemah.


Dan tiba-tiba dia menangis. "Mas kamu kenapa?" Tanyaku, aku meletakkan piring tadi keatas nampan lagi dan menyentuh wajahnya yang sekarang menjadi sangat tirus. "Kamu kenapa Mas Bara? Apa sebenarnya yang terjadi sama kamu Mas? Kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanyaku khawatir.

__ADS_1


Dia memegang tanganku dengan tangannya yang dingin dan Bara seperti menghirup wangi dari tanganku yang ada di wajahnya, aku merasa risih pada awalnya tetapi aku coba untuk membiarkannya. "Kamu kenapa Mas Bara? Apa yang mengganggu pikiranmu?" Tanyaku lagi.


"Aku melakukan semuanya untukmu Sarah." Ucapnya dengan mata terpejam dan mengecup tanganku beberapa kali. "Melakukan untukku? Maksudnya?" Tanyaku tidak mengerti. "Dia tidak pantas untukmu Sarah, aku yang lebih pantas bersamamu, aku sangat menyayangimu, kamu tahu itu kan?" Ucapnya masih dengan mata terpejam.


Aku langsung menarik tanganku dan berdiri dari tempatku. "Bara, apa yang telah kamu lakukan?" Nada bicaraku mulai bergetar karena ketakutan dan sedih, dia mendekatiku tetapi kali ini dengan langkah tegap dan sorot mata yang tajam, entah sejak kapan dia mendapatkan pemulihan tenaga seperti sekarang, karena kali ini aku melihat sisi Bara yang lain, ini bukan Bara yang aku kenal.


Dia mendekatiku yang membuatku melangkah mundur sampai ke pintu Kamarnya, aku mencoba membukanya tetapi terkunci. "Kamu tahu Sar, bahkan di saat-saat terakhirnya dia masih menyebut namamu, aku mengatakan kepadanya untuk menyerah, tetapi dia sangat keras kepala membuatku berpikir bahwa seandainya dia tidak ada semuanya akan jadi lebih mudah." Ucapnya dan sekarang dia sudah berdiri di depanku menggenggam erat kedua pundakku.


"Iya, aku gila, gila karenamu Sarah." Ucapnya, dia menggenggam kedua pundakku dengan lebih erat dan mendekatkan bibirnya pada leherku, dia sedikit menggigit disana dan memebrikan tanda merah. "Bara hentikan, Rizka tolong." Aku berteriak kepadanya dan meminta tolong kepada Rizka yang mungkin dapat mendengar teriakanku.


Dia memelukku dengan sangat kasar, aku berusaha untuk melepaskan diriku tetapi tenagaku kalah darinya, dia menarikku keatas kasur membuatku jatuh diatas kasurnya yang berantakan dan berbau alkohol, dia menjatuhkan nampan yang berisi makanan tadi ke lantai. "Bara hentikan, tolong. Dia menahan tanganku diatas kepalaku dan berbisik di telingaku. "Akan aku buat kamu menjadi milikku hari ini Sarah." Dia menciumi hampir seluruh bagian leherku dan dengan kasar dia merobek kaos hitam yang aku gunakan.


Air mata sudah membasah pipiku sekarang, ternyata langkah yang aku ambil untuk menolongnya adalah langkah yang salah. "Mas Bara buka pintunya Mas, buka." Teriak Rizka dari belakang pintu, menggedor dengan sangat keras pintu itu, tetapi Bara tidak mempedulikannya dia sedang sibuk dengan daerah sensitif bagian atasku yang masih tertutup dengan bra berwarna hitamku. "Bar tolong, tolong jangan lakukan ini tolong." Ucapku dalam tangis.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak boleh Sar, aku melihat dia boleh menyentuhmu saat kalian di Private Pool, membuatku sangat bergairah saat itu, jadi biarkan aku memuaskan diriku sekarang." Ucapnya dengan senyum jahatnya, dan dengan cepat dia menurunkan bra hitamku, saat itulah aku merasa diriku dipermalukan dan dilecehkan.


Aku merasakan gigitan pada daerah sensitifku yang membuatku merintih sakit, aku masih berusaha untuk memberontak, tetapi tenagaku masih tetap kalah darinya, dia membuka resleting celana jeansku secara paksa dengan tangannya yang bebas dan memasukkan tangannya kesana. "Bar hentikan tolong." Ucapku terisak dengan tangsiku sendiri. Aku mohon cepatlah datang.


BRAK! Pintu Kamar Bara di dobrak paksa, Bara tidak menghiraukannya sampai dia di tarik paksa oleh para Polisi menjauhiku, Rizka yang ikut masuk ke dalam Kamar Bara langsung mendekatiku dan membantuku menutupi tubuhku dengan selimut yang ada di atas tempat tidur Bara.


"SARAH, AKU MENCINTAIMU, AKU LAKUKAN SEMUA INI UNTUKMU!." Teriakan Bara yang diseret keluar oleh Polisi yang datang menolongku. "Untung kamu sempat menelpon saya, kalau terlambat sedikit saja kita tidak tahu apa yang akan terjadi." Ucap Taufan Polisi yang memberikan nomor handphonenya kepadaku dan Laura waktu kami ke Kantor Polisi, aku memang sempat menekan nomor dial daruratku saat aku pertama duduk di atas tempat tidur Bara, untuk sekedar berjaga-jaga.


"Kalau begitu saya izin pamit ke Kantor Polisi dahulu, nanti kalau Dek Sarah sudah merasa baik-baik saja, mohon untuk bisa datang ke Kantor Polisi, memberikan laporan terkait kejadian hari ini." Ucap Taufan, setelah itu Taufan pergi meninggalkanku dan Rizka. "Sar, kamu tunggu disini sebentar ya, aku ambilkan bajuku dulu." Ucap Rizka, dia pun pergi ke Kamarnya sebentar dan membawa baju kaos untukku. "Terima kasih Riz." Ucapku dan langsung mengenakan baju kaos tersebut.


"Aku minta maaf Sar." Rizka menangis dan memelukku, aku yang masih shock dengan kejadian yang menimpaku tadi hanya bisa terdiam dan hanya bisa membersihkan air mata di pipiku. "Aku tidak tahu Mas Bara sampai setega itu melakukan ini kepadamu, bahkan dia bisa sampai membunuh." Ucap Rizka, aku mencoba menenangkan hatiku dan mengusap punggung Rizka yang bergetar karena tangisannya tanpa berkata apa-apa. Aku melihat sebuah buku berwarna coklat di atas meja kecil sebelah tempat tidur Bara dengan ada sedikit noda darah pada sampul depannya. Ndra, aku sudah menolongmu seperti yang kamu minta di mimpiku, akankah kamu bisa tenang disana Ndra?


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2